Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Pernyataan Wiliam


__ADS_3

Wiliam terus menggenggam pergelangan tangan Inez tanpa berniat melepaskan nya. ia membuka pintu mobil dan menyuruh inez untuk masuk. Semula inez ragu, bukan Wiliam namanya kalau tidak bisa membujuk inez.


Mobil sedan hitam, pergi menjauh meninggalkan perkantoran Vandeles.


"Ma'af, Tuan mau bawa saya kemana?


"Sudah saya bilang berkali-kali, bila kita sedang berdua jangan panggil Tuan!" ucapnya lirih, matanya masih fokus kedepan.


"Ta-pi.. Tuan kan atasan saya, tidak sopan rasanya bila hanya nama."


Wiliam menoleh "Atasan dan bawahan saat di kantor, lagi pun saya hanya seorang asisten bukan bos pemilik perusahaan."


"Ba-ik Pak!"


"Pak?! Wiliam tersenyum seraya gelengkan kepala.


Mobil Wiliam masuk kedalam sebuah Cafe.


"Ayo kita turun."


"Mau apa kita kesini pak!"


"Mau berenang.." ucap Wiliam spontan.


Inez mendelikan matanya tanda protes.


Wiliam tergelak "Tentu saja makan siang, sudah tahu ini rumah makan, pakai tanya?" Wiliam gelengkan kepala seraya membuka pintu mobil.


"Bisa konyol juga bule dingin itu!' gerutu Inez sambil membuka pintu mobil.


Inez mengikuti langkah Wiliam masuk kedalam rumah makan lesehan. Seorang pramusaji membawa mereka kesebuah pondokan yang terbuat dari bambu, dibawahnya ada kolam ikan Mas berwarna-warni. Tempat nyaman dan terkesan romantis. Setiap pondok ditumbuhi berbagai tanaman, terik panas pada siang hari tertutupi angin berhembus sepoi-sepoi.


"Kau mau pesan apa .? tanya Harlan, yang sejak tadi ia melihat inez murung.


"Saya tidak makan Pak, minum es teh manis ajah." ucap Inez dengan wajah tertunduk.


"Buat apa saya bawa kesini kalau kamu tidak mau makan? terdengar kekecewaan dari ucapan Wiliam.


"Loh kan saya tidak minta makan, Bapak yang tiba-tiba bawa saja kesini." Inez mengeles.


William menarik nafas dalam "Mbak, saya pesan beef steak dua, kentang goreng, salad buah sama roti panggang BBQ, dan dua cangkir choklat panas." pinta Wiliam tanpa persetujuan Inez.


"Hanya itu saja tuan, tidak ada tambahan lain?"


"Sudah itu saja dulu."


"Baik, terima kasih." pelayan itu berlalu dan meninggalkan dua orang terlihat tegang.


Hening.... mereka saling berkutat dengan ponsel masing-masing.


"Ehem..." deheman Wiliam membuyarkan lamunan Inez yang sebenarnya ia sedang tidak fokus.


"Kenapa kau pulang di waktu jam kantor."


"Anu... aku sedang tidak enak badan." dusta Inez, satu tangannya mengusap tengkuknya.


"Kenapa kau masih saja berbohong! aku tahu gosip hari ini tentang rekaman video kita."


Inez mengangkat wajahnya dan menatap nanar pada William.


"Kenapa...? kau takut tentang gosip itu?"


Bola mata Inez mulai memanas, sekali kedip butiran bening itu akan berjatuhan. "Bukan hanya takut, tapi hinaan mereka padaku sudah keterlaluan!" tumpah sudah airmata Inez, yang sejak tadi berusaha ia tahan.


"Aku yang akan bereskan semuanya, kau tenang saja."


Inez gelengkan kepala "Mungkin bapak bisa membuat mereka diam, tapi bila posisi saya sendiri, mereka terus memojokkan saya. jujur saya tidak konsentrasi bekerja, makanya saya memilih pulang."

__ADS_1


Tangan Wiliam mulai mencari nama di kontak yang tersimpan, lalu menaruh benda pipih itu ke telinganya.


"Hallo.. Joey, sudah kau bereskan semuanya."


"Sudah beres Tuan, akun itu palsu. Sepertinya ada yang sengaja menyebarkan Video itu, dari pihak FB sudah di hilangkan rekaman itu."


"Good-job!


"Aku ingin kau cari orang-orang di kantor yang mulai bergosip, cari si propokator. Mereka ingin bermain-main dengan ku, dan satu lagi. Besok aku akan berikan pengumuman pada seluruh Karyawan."


"Baik Tuan, akan saya selidiki sekarang!"


"Oke Joey terima kasih."


Selesai berbicara dengan orang kepercayaan Wiliam, tatapannya beralih pada Inez. Inez masih mengusap sisa airmata yang berjatuhan dengan tissue.


"Sekarang sudah tidak ada yang perlu kau takutkan lagi, aku sudah membereskannya."


Pramusaji datang membawa pesanan Wiliam dan tersaji di meja lesehan.


"Silakan Tuan, Nyonya.." ujar pramusaji sopan.


"Terima kasih mbak." ucap William.


"Inez, makanlah."


Inez mengangguk dan memotong beef di depannya. Hatinya mulai sedikit lega setelah Wiliam menghapus Vidio di akun FB, atas perintahnya. Inez mulai perhatikan prilaku William akhir-akhir ini, Wiliam sudah banyak berubah dan tidak pernah membentaknya lagi. Setiap bertemu dengannya, ia selalu terlihat manis dan sopan.


Tidak ada obrolan lagi dari keduanya. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanya terdengar suara dentingan garpu dan pisau untuk mengiris beef.


"Sekarang masih jam dua, apa kau masih mau ke kantor, atau istirahat di rumah."


Inez menyeruput coklat yang sudah hangat dan mengelap bibirnya dengan tissue. "Kalau boleh saya istirahat dulu di rumah, tugas saya kerjakan di rumah saja, besok pagi-pagi saya sudah di kantor."


"Baiklah, kau boleh istirahat. Lain kali kalau ada masalah jangan di masukkan kedalam hati. kalau kau tidak berasa melakukan kesalahan, kau balas orang itu, Setahu aku kau wanita yang tegar dan tidak rapuh."


"Baiklah, sekarang kita pulang."


Wiliam melambaikan tangannya pada pelayan dan memberikan kartu kredit sebagai pembayaran.


Mereka berdua berjalan ke parkiran.


"Terima kasih banyak Pak, atas makan siangnya. Saya permisi dulu."


"Inez, biar aku antarkan pulang."


"Tidak usah Pak, saya bisa naik taksi."


"Tidak! aku akan antarkan!' perintah Pria dingin itu yang tak ingin di bantah.


Sebuah mobil sport merah berhenti tepat di samping mobil William. Turun seorang wanita cantik dan seksi dari dalam mobil.


"Tuan Wiliam? kau masih kenal aku..?" wanita cantik itu melepaskan kacamata hitamnya.


"Nona Sherly...?'


"Benar sekali.." wanita itu berjalan mendekat dan cipika-cipiki ke pipi pria tampan dengan aura dingin itu. Wiliam tersenyum tipis dan berdehem agar wanita itu melepas pelukannya.


Inez yang melihat perbuatan mereka di depan matanya, memalingkan wajahnya. Dadanya seakan sesak, detak jantungnya bergemuruh. ia bingung dengan dirinya, Kenapa ada perasaan sakit saat melihat kemesraan mereka berdua. Tak ingin melihat dan akan merusak hatinya, ia membalikkan tubuhnya, bersandar pada badan mobil.


"Kau bukannya sekertaris Tuan Atmadja..?


"Benar sekali, Sayangnya kerjasama kita batal karena konsep yang di tawarkan tidak sesuai dengan budget."


"Hmm.. tidak masalah, kita bisa bekerjasama di lain waktu."


"Kalau begitu saya permisi dulu.."

__ADS_1


"Tuan Wiliam!" Wiliam yang akan masuk kedalam mobilnya tertahan oleh panggilan Sherly.


"Ya!"


"kalau ada waktu bisa kita ngopi bareng."


"Tentu saja.."


Sementara Inez sudah mulai bete. "Untuk apa aku berdiri disini kaya orang cengo! lebih baik aku naik taksi ajah. Nggak perlu juga ganggu mereka. Inez mulai berjalan menjauhi mobil Wiliam.


Selesai ia bicara dengan Sherly, ia masuk kedalam mobil, Namun, Wiliam tidak melihat keberadaan Inez, padahal tadi Inez berdiri di samping mobil. Wiliam keluar dari mobil dan berlari keluar Cafe, mencari Inez.


"INEZ!!!"


"Inez tunggu!! menarik tangan Inez.


"Untuk apa Bapak mengejar saya?!"


"Bukankah tadi ku bilang, akan mengantar mu pulang."


"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri!" terlihat raut wajah kekesalan Inez.


"Kenapa wajahmu terlihat kesal?"


"Ap-apa..? tidak ada.." Inez tergagap.


"Kau jangan berbohong Inez, wajahmu terlihat merah dan kesal, aku tidak bisa kau bohongi."


"MAU BAPAK APA SIH! KENAPA SELALU MENYUDUTKAN AKU!" teriak Inez yang lepas kontrol, nafasnya tersengal menahan tangis. "Kenapa bapak selalu mengikuti saya? saya bisa pulang sendiri...!"


"Kau mau tahu jawaban nya?


Netra Inez menyiratkan penasaran, menunggu ucapan dari Pria dingin di depannya.


"KARENA SAYA MENCINTAI MU!"


"GLEK!


Tenggorokan inez tercekat, terasa sulit menelan salivanya.


kena-pa Pak? kenapa Bap-ak bila-ng mencintai-ku? bukankah Bapak sangat jijik dan membenciku?" tanya Inez marah, dan menelisik wajah tampan Wiliam.


"Sejujurnya, aku dari dulu juga sudah mulai mencintaimu, hanya saja..." Wiliam menggantung ucapannya.


"Hanya saja.. aku jelek, gendut dan tak modis. iyakan..?!" sambung Inez penuh penekanan.


Wiliam gelengkan kepala "Bukan karena itu!"


Inez berdecak "Semua orang selalu saja mengelak bila sudah tercium akal bulusnya." umpat Inez dan melangkah pergi meninggalkan Wiliam.


"Kenapa kau tidak memberikan aku kesempatan untuk menjelaskannya, Inez?"


Inez menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya "Apa lagi yang perlu dijelaskan, Tuan Wiliam..? aku kira sudah cukup sandiwara mu itu, tidak usah main drama lagi, aku sudah lelah, biarkan aku hidup dengan tenang."


๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ


@Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:


๐Ÿ’œLike


๐Ÿ’œVote


๐Ÿ’œGift


๐Ÿ’œKomen


@Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2