Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Sebuah Pengakuan.


__ADS_3

Ia menyalakan laptop dan mulai melihat cctv di ruangan Desain grafis. Saat layar terbuka, mata Harlan memerah, senyumannya memudar. ia mengepalkan tangannya.


"Lupi, kau tidak bisa menjaga kepercayaan ku! kenapa kau malah makan bersama Pria lain, di belakang ku!


Brakk!


kepalan tangan Harlan meninju meja di depannya.


Della yang masih bereskan bekas makan Harlan, tersentak kaget. Melihat kemarahan Harlan yang tak biasanya ia hanya bungkam dan tak berani bertanya.


Tok, tok, tok...


JEGLEK


Karena tak ada sahutan dari dalam, Alexa masuk kedalam ruangan, berjalan kearah meja Harlan. CEO yang sedang tidak baik itu sudah duduk di kursi, satu tangannya memijit keningnya yang terasa pusing. Sebab menahan amarah.


"Tuan, ini berkas yang harus di tandatangani, mengenai nominal bahan baku yang harus di keluarkan." Alexa menaruh lembaran file di depan Harlan.


Harlan memutar kursinya kedepan yang tadi duduk menyamping. Membuka lembar demi lembar berkas di depannya.


"Apa-apaan ini, Hah! melempar berkas itu kedepan wajah Alexa dan jatuh kelantai.


"Ada apa dengan laporan itu Tu-an? tanya Alexa gugup, tubuhnya sedikit gemetar, sebab baru kali ini ia melihat kemarahan seorang Goergie. Ia mengambil berkas itu di lantai.


"Kau jadi sekretaris sudah berapa lama sebelum bekerja disini?! coba kau lihat nominal itu! masih ada kesalahan. Jangan ajukan ke saya dulu, sebelum kau perbaiki!" bentak Harlan, dengan suara meninggi.


"Ba-ik Tuan!" ucap Alexa gemetar, wajahnya sudah memerah menahan tangis. ia berjalan cepat keluar dari ruangan Harlan. dan berpapasan di pintu dengan Wiliam, yang mau masuk kedalam ruangan. Ia melihat wajah Alexa merah seperti kerang rebus.


"Tuan, ada apa?! Wiliam berjalan mendekat.


"Sekertaris pilihan mu buat kesalahan! bilang padanya kalau masih ingin bekerja disini, jangan buat satu kesalahan lagi! ucap Harlan emosi.


Wiliam yang mengerti Tuan nya sedang marah melirik pada Della dan ia berjalan kearah Della.


"Della, saya sudah pesankan taxi online, mari saya antar ke lobby."


"Tapi....."


"Jangan membantah! ucap Wiliam memberi penekanan.


Dengan kesal, Della mengambil tas dan rantang. sebelum pergi ia menoleh pada Harlan yang masih duduk termenung di kursi.


"Kak, aku pulang dulu! ucapan Della tidak di gubris sama sekali. Malah terdengar helaan nafas Harlan. ia berjalan keluar bersama Wiliam.


Saat melewati meja Alexa, Della tersenyum puas. Ia melihat Alexa sedang mengusap airmatanya seraya berkutat di depan laptop.


Jam istirahat sudah usai, semua sudah kembali ke tempatnya masing-masing. Damar yang baru selesai sholat Dzuhur, membawa minuman es jeruk untuk Lupita.


"Lupi, ini buat mu." menaruh satu cap es jeruk di atas meja. "Makasih ya makan siangnya, sangat enak masakan mu." puji Damar.


"Eh-iya sama-sama Damar, Kenapa repot-repot sih bawain es jeruk."

__ADS_1


"Nggak apa-apa kok, tadi sekalian aku dari kantin sholat Dzuhur."


"Oke, makasih ya."


Damar kembali ketempat duduknya. Tiba-tiba masuk suara notif di ponsel Lupi. ia mengambil ponsel yang berada di dalam laci dan membaca pesan masuk.


"Dari Mas Harlan? gumam nya.


["Kau sudah buat satu kesalahan, ingat! aku akan menghukum mu!]


"Loh apaan sih! Mas Harlan kirim pesan ini, apa maksudnya, coba?! dahi Lupi berkerut.


["Mas, maksud nya apa ya, kirim pesan ini? kesalahan apa yang sudah aku buat?!]


Send....


"Tidak terkirim, ternyata ponselnya sudah tak aktif. Mas ada apa dengan mu? kenapa aneh begini sih! ucapannya pada diri sendiri. Lupita menghela nafas panjang dan melanjutkan kembali pekerjaan nya.


William berjalan kembali kearah ruangan Harlan, sebelum masuk kedalam. Alexa memanggilnya.


"Tuan Wiliam, maaf saya ingin menjelaskan masalah tadi, Sebenarnya tidak ada kesalahan dari nominal yang tadi saya buat, berulang kali saya sudah mengeceknya."


"Mana berkas-berkas itu, biar saya yang memberikan pada Tuan Goergie."


"Ini Tuan." memberikan berkas itu ketangan Wiliam. "Saya mohon maaf bila membuat kesalahan, tapi disini saya tidak bersalah."


"Baiklah, akan saya jelaskan pada tuan Georgie."


JEGLEK


Harlan bergeming, tanpa menjawab pertanyaan Wiliam.


"Tuan!"


"Will, aku sedang pusing. Bisa kau yang lanjutkan meeting."


"Sebenarnya ada apa Tuan?! tidak seperti biasanya tuan begini."


"Aku harus menemui Lupi! tiba-tiba Harlan beranjak dari duduknya, ia sudah tidak bisa menahan emosinya.


"Untuk apa tuan menemui Nona Lupi? Wiliam berdiri di depan Harlan untuk mencegah. "Tuan, jangan permalukan diri tuan sendiri, dengan datang menemui Nona Lupi. Pikirkan baik-baik, apakah dia tidak akan syok kalau tahu suaminya adalah seorang CEO, di perusahaannya sendiri? lalu apa kata seluruh karyawan, akan menganggap CEO nya memiliki affair dengan Nona Lupi?!"


Harlan terdiam, dan duduk kembali di sofa, mengusap wajahnya berkali-kali.


"Sebenarnya, apa yang sudah membuat tuan seperti ini? tanya Wiliam pelan.


"Entahlah, aku seperti orang bodoh! hari ini. Melihat istriku makan bersama dengan laki-laki, aku begitu kecewa dan sakit hati, hal yang belum pernah aku lakukan pada siapapun, kecuali pada Lupita." imbuh Harlan jujur, berkata dari hatinya.


Diam-diam Wiliam menahan tawanya. kini ia baru tahu kalau Tuan nya sedang terbakar api cemburu, sampai Alexa kena damprat hanya karena hal bodoh.


"Berilah kepercayaan pada istri tuan, jangan mengambil tindakan ekstrim yang akhirnya akan merugikan diri tuan sendiri." imbuh Harlan bijak.

__ADS_1


Harlan berfikir sejenak, lalu mengiyakan ucapan asistennya "Baiklah, Ayo kita keruangan meeting."


William sudah bisa mencairkan hati tuanya yang panas membara. Akhirnya mereka berdua berjalan kerungan meeting.


****


Sore itu Harlan kembali pulang ke rumah besarnya. Sebab berulang kali Mak Isah menelpon. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh menit, Macet membuat Harlan terlambat satu jam sampai rumah.


"Harlan, apa kau sedang ada masalah?! tanya Mak isah, saat berdiri di depan pintu, ia paham maksud pertanyaan ibu asuhnya. Sudah pasti Della menceritakan kejadian di kantor.


"Tidak ada apa-apa, Mak."


"Ayo duduk dulu." merangkul tangan Harlan dan duduk di sofa. Harlan menurut.


"Apa yang sudah terjadi di kantor? apa sekertaris mu sudah menggoda mu, sampai kau murka padanya?!


Harlan mengerutkan keningnya menjadi lipatan kecil "Maksud Mak apa?


"Mak sudah tahu dari Della, tadi siang kau marah-marahnya dan mengusir sekertaris mu dari ruangan. Mak juga nggak setuju bila sekertaris itu menggoda dengan pakaian ketat dan seksi."


Harlan tergelak, ia tidak ingin mengklarifikasi, biarkan Ibu asuhnya berfikir begitu, selama ia tidak menggangu privasinya.


"Mak tidak usah khawatir, masalah kantor biar jadi urusan Harlan, dan tolong jangan di biasakan Della datang ke kantor, Mak. aku sedang bekerja."


"Apa disana Della membuat masalah? bukankah Della itu sangat dekat dengan mu sejak kecil. Mak yang menyuruh Della ke kantor mu, beri dia pekerjaan di kantormu, land!"


"Apa? Della ingin bekerja di kantor Harlan?"


"Iya, Della itu keponakan Mak. Beri dia pekerjaan."


"Bukankah Della datang kesini, untuk menemani Emak? Harlan tidak ingin Mak kambuh lagi sakitnya, biarlah Della menemani Mak di rumah, pasti akan aku gajih."


"Kasihan Della, dia ingin bekerja di kantor. Kau tidak usah khawatir dengan penyakit Emak."


"Bukan Harland menolak, Mak. Tapi jurusan Della berbeda, dia tamatan Aliyah sama dengan SMA. Sedangkan perusahaan membutuhkan Arsitek."


"Pokoknya kau berikan Della pekerjaan, apa saja, yang penting ia senang bisa bekerja."


Harlan hanya bisa menarik nafas dalam-dalam, dan di hembuskan kasar. "Nantilah Mak, akan Harlan pikirkan. Sekarang aku mau mandi dulu." Harlan beranjak dari duduknya dan berjalan kearah tangga.


"Land, hari ini kau tidak usah kemana-mana, ada yang mau Mak sampaikan."


Harlan hanya mengangguk pelan dan berjalan menaiki anak tangga.


❣️


❣️


❣️


BERSAMBUNG.......💃💃💃

__ADS_1


Yuk ikuti terus kisah ""TUAN JENDERAL CINTAI AKU" Gak kalah seru loh, ceritanya.



__ADS_2