Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Perhatian Seorang Presdir


__ADS_3

Setelah Wiliam perintahkan sekertaris Mey, ia dan Harlan menuju pintu lift.


"TING!


Pintu lift terbuka, Saat Harlan dan William sudah keluar pintu lift. Tiba-tiba ia melihat ada beberapa karyawan wanita berkerumun. Harlan menoleh dan mengamati, ia melihat Lupita pingsan di samping pintu lift khusus karyawan.


Harlan terperanjat kaget "Lupita! ia berjalan cepat menghampiri Lupita. tanpa basa-basi Harlan mengangkat tubuh Lupita untuk di bawa keruangan perawatan.


Semua karyawan menatap kaget dan tak percaya. Baru sekali ini selama mereka bekerja di perusahaan Vandeles melihat dengan mata kepala sendiri, Seorang Presiden Direktur mengangkat karyawannya sendiri. Mereka saling bersitatap satu sama lain dan bisik bisik para karyawan mulai terdengar. terbesit perasaan Iri pada Lupita. Juga rasa kagum dan simpati pada Presdir Georgie yang perhatian pada semua karyawan. Dibalik sikap dingin dan Angkuhnya tersimpan kebaikan dan ketulusan Seorang CEO tampan berkharisma itu.


"Apa yang kalian lihat! cepet bubar dan bekerja lah di ruangan masing-masing! perintah Wiliam dengan sikap tegas nya.


Semua karyawan langsung bubar. Padahal itu waktunya jam maka siang. Seluruh karyawan pergi untuk istirahat. Sudah pasti mereka ingin ke kantin yang berada di lantai dasar menaiki lift, Tapi karena kejadian Lupita pingsan di dekat pintu lift. jadi Wiliam membubarkan mereka agar tidak bergosip tentang karyawan dan Presdirnya.


Harlan terus berjalan cepat kearah ruangan perawatan khusus karyawan. di ikut Wiliam di belakangnya. Saat sudah dekat Wiliam membuka pintu perawatan. Harlan masuk dan menaruh tubuh Lupita diatas ranjang.


Dokter Arman datang mendekat.


"Tolong periksa gadis ini Dok! imbuh Harlan terlihat panik.


"Baik Tuan!


Sebenarnya Dokter Arman juga terlihat kaget, melihat seorang CEO datang sambil menggendong karyawannya, tapi rasanya kagetnya bisa ia tutupi dengan tersenyum.


Dokter Arman di bantu suster mulai periksa lupita. Suster Santi menutup gorden agar tidak terganggu saat pemeriksaan.


"Will! kau tunggu sebentar disini!


"Tuan mau kemana?


"Aku mau mengganti pakaian."


"Maksud Tuan, ingin menjadi Harlan?


Harlan mengangguk pelan. "Aku sangat khawatir dengan keadaannya. Tidak mungkin aku menjadi Georgie untuk menemuinya."


"Lalu bagaimana kalau Dokter itu tau Tuan menyamar?


"Aku yakin kau pintar menutupi."


Tak lama Dokter Arman menghampiri Harlan dan William.


"Bagaimana dengan Lupita? tanya Harlan khawatir.


"Nona Lupita mengalami Maag, Ada masalah dengan lambungnya. Bagian perutnya saat saya periksa agak keras, Sepertinya kram."


"Baik Dok, terima kasih."


"Will, kau tunggu disini. Awasi Lupita!"


William mengangguk. Harlan keluar ruangan dan masuk kedalam lift menuju ruangannya. sebelum masuk ia meminta sekertaris Anita mengantarkan teh manis hangat dan roti untuk Lupita di ruangan perawatan.


Didalam ruangan Harlan membuka jas dan kemejanya, mengganti dengan kaos biru bercelana jeans dan jaket kulit hitam. Memakai topi dan masker agar orang tidak ada yang curiga. Ia membuka pintu dan terlihat sepi, dengan cepat Harlan keluar dari ruangan menuju pintu lift. Saat ingin naik lift ia bertemu dengan Anita yang dari bawah.


"Ehh.. maaf ya Pak, jangan masuk lift itu! tidak ada yang boleh masuk kecuali Presdir dan Asistennya." imbuh Anita pada Harlan yang tentu saja sudah merubah penampilan nya.


Harlan hanya mengangguk dan pindah ke posisi lift karyawan.


Ting!


Pintu lift terbuka. Ia langsung masuk kedalam kotak berukuran 2x2 meter. Setelah keluar pintu lift la berjalan kearah perawatan.

__ADS_1


Ceklek


Harlan masuk kedalam ruangan, ia masih melihat Wiliam masih berbincang dengan Dokter Arman. Harlan mengedipkan mata pada William saat menoleh padanya.


"Ma'af anda siapa? tanya Dr Arman pada Harlan.


"Dia karyawan bagian teknisi. Masih kerabat Nona Lupita. Tadi aku menyuruh orang untuk memanggilnya. lebih baik kita minum kopi dulu di ruanganku Dok. biarkan Nona Lupita di temani kerabatnya."


"Baiklah...


"Kondisi Nona Lupita masih lemah, ia belum siuman. Tolong kalau sudah siuman berikan obat ini untuk mengobati lambungnya.


Harlan mengangguk dan menerima obat dari tangan Dr Arman.


"Suster bukankah tadi mau makan siang dulu, pergilah. Nona Lupita sudah ada kerabatnya." imbuh Dokter Arman.


Baik Dok!


Setelah mereka pergi keluar. Harlan berjalan mendekat ke ranjang Lupita yang masih tertidur lemas diatas kasur. Di atas nakas ada segelas teh manis yang masih hangat dan Roti sobek. Tadi Harlan sudah menyuruh sekretarisnya untuk memberikan untuk Lupita.


Harlan terus mengamati wajah pucat Lupita, tangannya mengusap lembut kepalanya. Tiba tiba Lupi membuka matanya perlahan dan menatap seorang pria yang berdiri di depannya. Seketika Lupita terperanjat kaget dan ingin bangun. Harlan melarangnya.


"Kau tidak usah bangun. Istirahat saja."


"Siapa kau? Lupita mengernyitkan dahinya "Aku berada dimana? ucapnya sambil memegangi perutnya yang terasa sakit.


Harlan membuka maskernya dan tersenyum pada Lupita.


"Mas Harlan? kenapa tiba-tiba kau berada disini? ada apa dengan ku?


"Kau berada di ruangan perawatan, tadi kau pingsan di dekat pintu lift. Kebetulan tadi aku sedang mengantar pesanan untuk tuan Georgie dan melihatmu pingsan."


"Lupi kalau kau masih sakit, aku antarkan ke rumah sakit biar di periksa bagian lambungnya."


"Sekarang minumlah teh manis ini untuk menghangatkan perutmu."


Lupita menerima gelas berisi teh manis yang masih hangat dan meminumnya perlahan.


"Sebelum minum obat makanlah roti ini, tadi Dokter menyarankan untuk makan dulu, setelah itu baru kita makan nasi."


"Ya Tuhan, Kenapa Mas Harlan begitu perhatian padaku, bahkan bisa tiba tiba ada disini saat aku pingsan." gumam Lupi dalam hati merasa heran.


"Haii.. kenapa melamun? ayo dimakan rotinya."


Lupita mengangguk pelan dan memakan roti itu sampai setengah.


"Ma'af sudah merepotkan Mas Harlan. Lebih baik Mas bekerja lagi, aku sudah tidak apa-apa."


"Tidak Lupi, aku akan menemani mu, tadi Asisten Wiliam kesini melihat mu dan berkata padaku kalau kau boleh pulang untuk istirahat."


"Apa? Asisten Wiliam datang kemari?


"Iya hanya sebentar.


"Apa tuan Wiliam tidak marah, kau menemuiku?


"Aku mengatakan masih kerabat mu yang kebetulan mengantar pesanan buat atasannya, jadi dia menitipkanmu padaku."


"Aku sangat malu, baru masuk kerja sudah buat masalah." ujar Lupita tertunduk sedih.


"Hey buat apa bersedih? sakit itu bukan dari kemauan mu, sudah minum obatnya dulu." Harlan memberikan tiga butir obat pada Lupita.

__ADS_1


Setelah meminumnya Lupita turun dari ranjang.


"Kau mau kemana?


"Ke toilet."


Saat Harlan mau mengantar Lupita menolak.


"Sudah Mas tidak apa-apa, aku bisa jalan sendiri nggak usah diantar."


"Tapi bukan perutmu masih kram, aku takut kau pingsan lagi."


Lupita tersenyum tipis "Tidak usah khawatir mas, ini sudah baikan."


Lupita berjalan pelan masuk kedalam kamar mandi. Lima menit kemudian ia sudah keluar.


"Sekarang kita pulang? kuantan sampai rumah."


"Tidak Mas, masih banyak pekerjaan belum selesai, aku tidak bisa pulang sampai jam lima sore."


"Tapi Asisten presdir sendiri yang bilng kau harus pulang dan istirahat."


Lupita tetap Keukeh dan menggeleng "Aku memiliki tanggung jawab di perusahaan ini."


Harlan langsung berbalik badan dan mengirimkan pesan pada Wiliam untuk datang ke ruangan perawatan.


"Lupi kau habiskan dulu teh manis dan rotinya, perutmu tidak boleh kosong.


"Tidak Mas, perutku perih. Aku ingin lanjut kerja keruangan ku. Aku tidak ingin merepotkan Mas Harlan yang sedang bekerja."


"Lupi kau jangan keras kepala, kesehatan mu lebih penting."


"Ceklek!


William masuk kedalam ruangan, Harlan menyoroti matanya untuk berbicara pada Lupita.


"Nona Lupita, saya sangat prihatin dengan keadaan Nona, untuk penyembuhan Nona, lebih baik pulang lah dulu, kau boleh istirahat di rumah selama tiga hari."


"Tapi aku sudah tidak apa-apa, Tuan?


"Nona Lupita, tolong hargai keputusan perusahaan demi kebaikan Nona."


Lupita mengangguk "Terima kasih tuan, sudah memberikan keringanan, bila besok sudah baikan aku akan masuk kembali."


"Baiklah, aku permisi!


Setelah melirik pada Harlan, Wiliam pergi dari ruangan perawatan.


"Ayo ambil tas mu, aku antarkan pulang."


Melati menatap Harlan dan tersenyum.


"Aku tunggu di lobby. pelan pelan saja jalannya bila masih sakit." ujar Harlan cemas.


Lupita dan Harlan keluar dari ruangan, sebelum keluar Harlan memasang maskernya kembali agar tidak ada yang mengenalinya.


.


.


.

__ADS_1


.


@Bersambung....💃💃💃


__ADS_2