
WELCOME BACK READERS!!❤️❤️
Tolong kasih jejak kalian setelah membaca!! HAPPY READING ❤️
...•••••...
Matahari muncul menyinari bumi dari arah timur. Cuaca pagi ini sangat dingin membuat siapapun yang membuka selimut sangat malas beranjak dari kenyamanan itu.
Namun.
Bugh
Sebuah bantal mendarat di kepala pemuda tampan dengan sangat keras.
"ABANG!!!".
"ABANG, WAKE UP".
suara cempreng memasuki gendang telinga pemuda tampan itu tanpa penghalang membuat telinga sedikit berdengung.
Pasalnya gadis kecil itu berteriak pas di telinga kanan yang membuat kantuknya seketika hilang ntah kemana.
"Jika tidak ingin telingamu rusak mending kamu bangun son". Ucap seorang pemuda lain yang sudah berkepala 4 tapi masih sangat muda.
Saking mudanya banyak yang mengira dia adalah kakak si sulung.
"BANG E~~hmmmpp".
Sebelum teriak kembali, pemuda itu membungkam adik perempuannya yang sangat berisik sampai terus meronta minta dilepaskan.
"AAAKKHHH~".
"Sukurin". Gadis kecil itu menjulurkan lidahnya dengan kesal lalu meninggalkan kamar diikuti sang Daddy.
"DASAR KANIBAL".
"BANG EL JELEK".
Gadis yang sedang berteriak mengganggu kakak sulungnya adalah Margaretha Emelin Zee, Anak perempuan satu satunya di keluarga grizelle dan Smith. Margaretha atau yang sering disapa retha memiliki kakak kembar bernama Margantara Emanuel Zee atau yang sering disapa Arga. Namun, Retha tidak pernah mau memanggil Arga dengan sebutan kakak karena cuma berdua 5 menit.
Sedangkan pemuda tampan yang diganggu Retha adalah kakak sulungnya yang berumur 3 tahun lebih tua.
Dia Marvel Grizelle Damian Smith. Awalnya Rafael, sang Daddy ingin mengganti nama anak sulungnya seperti si kembar tapi Marvel menolak karena nama itu pemberian sang mommy yang kini sudah hidup tenang di dunia berbeda.
__ADS_1
..
Tak tak tak
Suara sepatu menggema di apartemen mewah membuat Retha yang sedang sarapan menatap ke arah suara dengan tatapan tajam.
"Gak usah gitu, sampai mata kamu keluar juga Abang gak bakal takut". Marvel mengusuk rambut Retha dengan gemas melihat wajah sang adik yang sedang kesal.
Tidak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut mungil Retha. Rafael dan ketiga anaknya sarapan dengan khidmat.
Setelah selesai, ketiga pemuda dan satu gadis cantik itu pergi meninggalkan apartemen menuju suatu tempat.
Tiga mobil melaju dengan kecepatan tinggi membelah kota Prancis yang tidak terlalu padat kendaraan.
Untuk Retha, gadis itu merasa di mobil bagian kedua dengan sang Daddy yang mengemudi. Retha memang tidak terlalu diizinkan mengendari mobil atau motor oleh ketiga pemuda posesifnya karena takut terjadi apa apa.
Retha akan diizinkan mengemudi saat di waktu tertentu. Tapi dengan banyak syarat.
Alasan Rafael berada di bagian tengah karena kedua anak laki lakinya akan menjaga princess mereka dengan sangat hati hati.
Walaupun diperlakukan spesial tapi Retha tidak memiliki sifat besar kepala. sifat yang dimiliki Maureen dulu sangat menurun kepada anak gadisnya membuat Rafael tidak takut jika gadisnya itu ditinggalkan dua abangnya menikah nanti.
Bertepatan dengan ulang tahun si kembar hari ini yang ke 17 tahun, mereka selalu datang ke makam mommy-nya setiap acara ulang tahun.
Marvel dan Arga sudah membawa bunga mawar kesukaan mommy-nya dengan sangat cantik. Mereka jongkok dihadapan batu nisan yang sangat bersih terawat.
Tidak ada air mata yang menetes hanya ada senyuman manis yang mereka berikan. Karena Rafael mengingatkan ketiga anaknya jika mereka sedih maka mommy-nya juga akan sedih di atas sana.
"Mom, Retha sama Arga udah besar loh, Kita udah berumur 17 tahun. kata Daddy, Retha sangat mirip sama mommy. Tapi Retha yakin mommy lebih cantik dari Retha kan. Abang sama Arga suka bicara seperti itu tapi gak papa kok mom. Oh ya mom, Retha bawain bunga buat mommy. Bunga mawar kesukaan mommy".
Retha meletakan bunga itu lalu mengecup batu nisan. Setelah itu mundur agar kedua kakaknya bisa mendekat.
"Ini arga mom. Arga cuma mau mommy datang ke mimpi Arga. Arga ingin memeluk mommy. Arga gak nakal mom Arga anak yang baik, Arga gak bikin mommy kecewa kan. Cuma itu yang arga mau".
Cup
Arga juga mencium batu nisan sang mommy lalu beranjak kebelakang. Rafael yang mendengar ucapan Arga meneteskan air matanya dibalik kacamata hitam. Dia tahu bahwa cuma Arga belum didatangi Maureen dalam mimpi. Maka dari itu Rafael meminta retha dan Marvel untuk tidak membahas mommy-nya jika mereka didatangi dalam mimpi karena itu akan membuat Arga sedih.
"Mommy!! Ini El". Jeda Marvel sejenak. " El cuma mau kasih tahu mommy bawa Daddy, El sama si kembar mau pamit pulang ke Indonesia malam ini. Bukan kita mau ninggalin mommy, ini juga keinginan mommy dulu. Mommy jangan sedih, dimanapun kita berada kami sayang sama mommy. Kita akan menjalankan kehidupan yang baru walaupun didepan sana banyak rintangan menghadang. Kita akan kuat dan selalu saling melindungi".
Cup
__ADS_1
Marvel mewakili keluarganya untuk berpamitan pergi. Bertepatan dengan usia si kembar yang ke 17 tahun, mereka akan pindah ke Indonesia. Negara kelahiran orang tuanya dan akan menjalani kehidupan yang baru.
"Kita tunggu di mobil dad".
Rafael menganggukkan kepala. Ketiga anaknya selalu meninggalkan dirinya karena menjaga privasi. Padahal Marvel hanya ingin daddynya leluasa untuk berbicara dengan mommy-nya dan tidak memikirkan bahwa disana ada anak anaknya.
....
Di pinggir jalan ketiganya menunggu sambil bermain ponsel. Retha yang duduk di dasbor mobil menatap sekeliling dan melihat beberapa penjual makanan disana.
"Bang minta duit". Retha menengadahkan tangan di hadapan Marvel.
Marvel meraba saku celana dan hoodie tidak menemukan apa yang dia cari. "Minta sama Arga".
"Dih, kere". Ledek Retha lalu beralih kepada Arga yang duduk di trotoar jalan sambil bermain ponsel miring.
Tapi Retha tak kunjung bicara. Gadis itu tahu jika Arga sedang seperti itu ia tidak bisa diganggu. Malas untuk bicara jika tidak akan ada respon.
Marvel menatap adik perempuannya yang terus diam padahal Arga sudah beranjak ke arah pedagang tersebut dengan pandangan fokus ke handphone.
"Kenapa kisah disini? Noh ikut". Tunjuk Marvel dengan dagu ke arah Arga.
Senyum Retha terukir lebar melihat Arga lalu berlari menyusul kembarannya menghiraukan abangnya yang gemes melihat kelakuan adik perempuan satu satunya itu.
Sepeninggalan si kembar gak lama Rafael datang mendekati Marvel. "Kok sendiri?". Tanya Rafael kepada Marvel yang tidak melihat keberadaan si kembar.
"Jajan".
Rafael menatap ke arah pandang Marvel lalu tersenyum melihat Arga yang sedang menemani Retha membeli makanan pinggir jalan.
Pemuda yang kini sudah memiliki butut tiga menyandarkan tubuhnya di dasbor mobil di samping Marvel.
"Gak kerasa ya El mereka udah besar aja. Padahal Daddy rasa baru kemarin kamu jaga Arga saat Daddy nemenin mommy berjuang demi Retha". Kata Rafael menerawang jauh ke belakang
Ucapan sang Daddy mengingatkan Marvel saat kejadian di LV saat mommy-nya melahirkan si kembar. Walau umur Marvel masih 3 tahun tapi memori itu masih membekas di ingatannya sampai kapan pun. Apalagi jika itu bersangkutan dengan mommy-nya, Maureen.
Marvel hanya tersenyum menatap sang Daddy sebagai jawaban.
"El tahu Daddy kangen banget sama mommy. Kita juga sama Dadd apalagi si kembar yang tidak tahu wajah cantik mommy secara langsung".
...•••••...
TBC
__ADS_1
Jangan lupa like dan commentnya kalo kalian suka cerita ini ❤️ See u next part 🥰