
Tiba-tiba tubuh Mak Isah bergetar, jantungnya berdebar cepat. Ia memegangi dadanya yang mulai sesak dan nyeri.
"Mak, ada apa? Harlan begitu syok dan kaget. ia tak menyangka kejujuran nya membuat Mak Isah syok.
"Mak! bangun...." Ya Tuhan Mak!
"Will......!" teriak Harlan.
Semua orang yang berada di rumah besar itu terbangun dan berlari menghampiri.
Wiliam yang sudah mendengar teriakan Harlan, lantas berlari dan mendekat. "Ada apa dengan ibu asuh."
"Cepat kita bawa Mak ku, ke rumah sakit! sepertinya jantungnya kumat lagi.'
"Baiklah, aku ambil kunci mobil dulu."
"Tuan, apa perlu saya yang bawa mobil?" pinta Pak Basir.
"Tidak usah Pak, aku bersama Wiliam saja."
Wiliam sudah turun dan berjalan ke teras untuk menstsrter mobil. Harlan menggendong tubuh kurus Mak Isah yang terlihat pucat.
"Kak! boleh aku ikut menemani Bibi." Della sudah berdiri di samping Harlan.
"Tidak usah! ucap Harlan dingin dan berjalan kearah mobil.
Della mengejar sampai mobil "Tapi aku khawatir dengan keadaan Bibi, aku bisa menjaganya."
"Kau naik mobil bersama Pak Basir."
"Baik kak! Oiya.. beritahu di rumah sakit mana akan membawa Bibi."
"Biar aku kirimkan Sherlock"
Mobil melaju menuju rumah sakit, membelah jalanan raya ibu kota. Didalam mobil Harlan tampak tegang, ia tidak menyangka ibu asuhnya akan syok mendengar pengakuannya, padahal ia belum berterus terang kalau sudah menikah, ia akan merasa bersalah bila sampai terjadi apa-apa dengan ibu asuhnya.
"Tuan, apa yang sebenarnya terjadi? kenapa ibu asuh tiba-tiba pingsan."
"Aku telah jujur padanya, kalau aku sudah memiliki kekasih dan akan menikahi resmi, tapi tiba-tiba Mak langsung syok dan pingsan."
"Kenapa Tuan langsung cerita pada intinya, tanpa mempertimbangkan nya lebih dulu."
"Awalnya Emak yang meminta aku mencari seorang pendamping hidup untuk menikah, aku menjelaskan pada Mak, kalau sudah memiliki kekasih, walau aku belum jujur sepenuhnya."
"Semoga ibu asuh tidak kenapa-napa."
"Will, deket pertigaan kau belok kanan, jangan sampai terlewat."
"Oke, Tuan"
Mobil sudah masuk kedalam perataran rumah sakit "Harapan Bunda," Harlan mengangkat tubuh Mak Isah dan masuk kedalam.
***
Malam itu tiba-tiba Lupita terbangun, ia berjalan keluar kamar, mengambil air putih dalam kulkas dan meminumnya habis.
Jam sudah menunjukkan pukul dua dinihari. Lupita masuk kembali kedalam kamar dan ia mengambil ponsel di atas nakas. Membuka layar ponsel, berharap suaminya membalas pesannya. Ternyata pesannya sudah dibaca tapi Harlan tidak membalas. Luluh sudah airmata Lupita, ia mencoba untuk tidak mengais tapi ia tidak bisa menahannya.
"Mas, ada apa dengan mu? kenapa kau jadi seperti ini padaku? apa salahku? hiks...
__ADS_1
Lupi membenamkan kepalanya diatara kedua lutut, menahan rasa sakit dihatinya "Kenapa jadi begini...? Ya Tuhan..apa yang harus aku lakukan, sekarang? padahal aku sudah mulai mencintainya, tapi ia malah seperti ini padaku? Apakah hanya alasan Mas Harlan saja, mencari kesalahan ku, agar ia bisa pergi dari hidupku!" hiks.. hiks..
Lupita belum pernah jatuh cinta apalagi merasakan sesakit ini. Namun, dengan tidak pulangnya Harlan dan tidak memberikan kabar membuatnya terluka, bahkan semua pesannya tidak satupun yang di balasannya.
"Andai saja, malam itu Mas Harlan tidak datang kerumah ku, dan andai saja dirumah ku tidak mati lampu. Tidak akan pernah pernikahan dadakan itu terjadi." hiks... "Mengapa takdir membawa ku seperti ini?
Karena lelah, lupi menjatuhkan tubuhnya ke kasur, tubuhnya masih tergoncang karena tangisannya. "Kenapa mencintai seseorang sesakit ini!" gumamnya pelan, disela tangisan.
Akhirnya Lupita terlelap karena lelah. Tanpa ia sadari jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas menit. Rasa lelah ditubuhnya membuat ia malas beranjak dari ranjang. Lupi mengerjab ngerjabkan mata, terasa suhu tubuhnya panas. Semalam ia sempat merasakan demam dan meriang dengan tubuh berbalut selimut.
"Ya Tuhan, kepala ku pusing, tubuhku panas." Lupi menoleh pada jam yang menggantung "Sudah jam setengah delapan, aku belum mandi dan siap-siap, sepertinya aku izin kerja hari ini, tubuh ku terasa lemas."
Lupi mengambil ponsel dan mulai menghubungi seseorang, Beberapa kali panggilan telpon tidak juga diangkat. Tak berapa lama telpon Lupi berdering. Dengan cepat ia mengangkatnya.
"Hallo.. Damar."
"Haii... Lupi, ada apa? tumben telpon."
"Maaf damar kalau aku mengganggu."
"Tidak apa-apa, katakan saja?!
"kau sedang berada di mana sekarang?"
"Aku masih di jalan, lima menit lagi sampai kantor."
"Aku mau minta tolong."
"Iya katakan saja."
"Tolong izinkan aku tidak masuk kerja hari ini, karena sakit. Aku sedang tidak enak badan dan badanku panas sejak semalam."
"Terima kasih ya, Dam..."
"Sama-sama, jngan lupa minum obat dan segeralah bertobat."
"Iya Dam..."
"Ya sudah, aku matikan ponselnya ya, aku mau jalan lagi."
"Okeh!
"Damar begitu baik dan perhatian, tapi aku hanya menganggap sebatas teman."
"Mas Harlan kau dimana? sampai hari ini kau belum menelpon atau membalas pesan ku." ratap Lupi sedih. ia melempar ponselnya ke atas kasur dan beranjak dari ranjang untuk membeli obat warung.
"Aku coba beli obat panas dan pusing di warung, kalau demamnya nggak turun, aku akan berobat ke Dokter."
***
Sementara di dalam ruangan rawat inap, Mak Isah sudah di tangani Dokter spesialis jantung. ia sudah mulai tersadar.
"Dimana aku?! tanyanya lemah.
"Mak berada di rumah sakit." jawab Harlan pelan seraya mengelus lembut tangannya.
"kenapa Mak bisa berada di rumah sakit, Land? ucapnya lirih.
"Semalam Mak pingsan lagi, aku membawanya ke rumah sakit. Harlan mohon Mak, tidak usah banyak pikiran dulu."
__ADS_1
Mak Isah hanya diam, seraya menatap Harlan sendu. "Jangan tinggalkan Mak, sendri land. Emak takut kehilanganmu."
"Mak nggak usah khawatir, Harlan tidak akan pernah meninggalkan Mak." mengusap lembut kepala wanita paruh baya itu "Mak sudah seperti ibu sendiri, mana tega Land meninggalkan, Emak."
Senyuman samar terukir di bibir Mak isah.
"Bi... bagaimna keadaan Bibi..? Della berjalan mendekat dan duduk di kursi samping ranjang.
"Della, kau disini juga?"
"Iya Bii... Della akan jaga bibi disini."
"Kau memang anak yang baik Dell, Bibi senang punya keponakan yang perhatian." mendapat pujian Della tersenyum.
"Will, apa ada jadwal hari ini?"
"Ada tuan, pertemuan dengan kepala Arsitek dan kepala pengembang proyek"
Harlan mengangguk.
"Mak, Land ke kantor dulu ya. Selesai mengadakan pertemuan, Land datang kesini."
Mak isah mengangguk pelan.
"Dell, Tolong jaga Mak, kalau ada apa-apa, cepat hubungi aku."
"Baik kak!
Setelah berpamitan Harlan dan William keluar dari ruangan dan kembali pulang.
"Kita pulang dulu, aku ingin mandi dan ganti baju dulu, Will"
"Oke Tuan."
Sejam kemudian, Mobil Harlan sudah sampai di depan teras, ia masuk dan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Dua puluh menit selesai mandi, ia mengambil pakaian setelan jas dan membalut tubuh kekarnya.
Mobil berjalan kembali menuju perkantoran Vandeles. Satu setengah jam kemudian, mobil berhenti didepan lobby. Harlan keluar dari mobil setelah bodyguard membukakan pintu. Ia berjalan menuju lift di ikuti Wiliam dan dua orang bodyguard di belakang.
TING!
Setelah pintu lift terbuka ia berjalan ke ruangan nya.
"Pagi Tuan Georgie.." sapa Alexa ramah.
Harlan mengangguk dan berjalan masuk. Ia mendudukkan tubuhnya di kursi kebesarannya.
"Ya Tuhan, aku lupa mau membalas pesan istriku, semalam keadaan Mak yang tiba-tiba pingsan."
Harlan mengeluarkan ponsel dan mulai menghubungi Lupita. Berkali-kali di hubungi telponnya berada di luar jangkauan.
"Kenapa ponsel Lupi tidak aktif? apa dia marah karena aku tidak balas pesannya?! Helaan nafas kasar keluar dari bibirnya.
"Aku akan melihatnya di layar cctv." Harlan mengaktifkan laptop dan mulai mencari ruangan Desain.
❣️
❣️
❣️
__ADS_1
BERSAMBUNG....