Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Keputusan Inez


__ADS_3

Saat Inez Ingin keluar ruangan, Wiliam menutup pintu lebih dulu.


"Kenapa di tutup!


"Aku ingin bicara dengan mu!"


Terlihat wajah merah padam Wiliam dan aura dingin yang menakutkan. Jantung inez dua kali lipat berdetak lebih cepat.


Inez memundurkan langkahnya kebelakang, Wiliam terus berjalan mendekat, hingga tubuh Inez berakhir di dinding.


"Kenapa kau tidak angkat telepon ku? tanya Wiliam yang sudah mengunci tubuh inez.


Inez terdiam, bibirnya bergetar. Ia bingung harus menghadapi Wiliam yang sangat protektif, salah sedikit saja akan membuat Wiliam murka. Masalah telpon tidak diangkat, sudah menjadi bumerang.


"Kenapa Inez! kenapa!!! bentak Harlan, Inez tersentak kaget "Tatap mataku inez." meraih dagu Inez yang tertunduk. "Kau itu gadis pintar bukan? kenapa tidak jawab pertanyaan ku?


"Pon-sel ku low-bet.." ucap Inez tercekat.


"Heh! Wiliam tergelak "Kebohongan apa yang sedang kau tutupi?! kau pikir aku percaya dengan cerita mu, Inez?"


"Aku ini tidak bisa kau bodohi! dengan siapa kau pulang kemarin! jawab Inez kau itu tidak bisu kan?! kenapa kau terus permainkan perasaanku!


BUGK! Wiliam menonjok dinding di samping kepala inez.


"Aww! Inez menutup wajahnya dengan kedua tangan, jantungnya berdegup kencang.


"SIAPA PRIA ITU!!!!"


"Kenapa kau terima aku bila kau hanya untuk mempermainkan aku! apa kau balas dendam padaku, Hah!"


Inez terisak dengan wajah masih tertutup tangan.


"Apa kau semurah itu, berjalan dengan pria lain di belakang ku!"


"CUKUP TUAN WILLIAM!"


Inez sudah tidak bisa menahan lagi amarahnya saat Wiliam berkata semurah itu. "Kau selalu menuduh dan menilai ku rendah! iya aku bersalah karena sudah pergi dengan Pria lain tanpa izin denganmu!


"Sudah terpojok baru mengaku!" sungut Wiliam.


"Aku belum selesai bicara TUAN WILLIAM! bukan tadi Tuan minta penjelasan dariku?!"

__ADS_1


"Siapa Pria itu!!


"RANGGA!"


"Berarti kau menjalin hubungan di belakang ku, Hah! hebat Inez, semakin cantik semakin banyak jadi rebutan!"


"Rangga menjemput ku, karena ayahnya masuk rumah sakit, Ayahnya meminta aku untuk datang menemuinya. Aku dan kedua orangtua Rangga sangat dekat."


"Untuk apa orangtua mantan mu meminta kau datang? untuk apa Inez!"


Inez terdiam, bibirnya terkatup. ia bingung harus bagaimana menjelaskan semuanya? apalagi melihat Wiliam yang terus emosi dan marah-marah, Inez urungkan niatnya.


"Kau diam lagi kan? pasti ada sesuatu yang kau sembunyikan, iya kan! teriak Wiliam terlihat frustasi, ia mengusap kasar wajahnya berkali-kali.


"Bagaimana aku akan menjelaskan semuanya, bila kau terus marah-marah! aku juga butuh ketenangan bukan tekanan!"


Inez membuka cincin pemberian Wiliam, dan menarik tangannya lalu menaruh cincin itu di telapak tangannya, lalu ines berkata "Lebih baik akhiri semuanya sebelum terlambat, agar kita tidak selalu curiga dan saling menyakiti!" Inez melangkah pergi. Sebelum menjauh Wiliam menarik tangan Inez dan mendorong nya ke dinding.


"Apa maksud bu berkata begitu? kau ingin memutuskan hubungan kita dan kembali pada mantan mu itu! William menatap lekat bola mata inez penuh amarah.


"Aku sudah tidak tahan dengan sikap mu seperti ini Will!!! kau selalu mencari kesalahan ku, tanpa mau melihat kesalahan mu sendiri! bahkan tanpa punya rasa malu dan tidak menghargai ku sedikit pun, kau bergandengan mesra dengan wanita bule, bahkan kau diam saja saat wanita itu mencium mu!"


"Lempar baru sembunyi tangan, itulah sebutan yang pantas untuk mu, Tuan Wiliam!"


"Jangan bicara kalau tidak ada bukti!"


"Sekarang aku tanya pada Tuan Wiliam? apa benar kemarin kau pergi dengan seorang wanita?! menatap tegas kearah Wiliam


Wiliam menghempas nafas kasar, dan menatap balik wanita yang kini menyerangnya balik. "Wanita itu bernama Margaret, dia datang bersama Pamannya Tuan Georgie. kemaren memang aku mengantarkan dia ke hotel, karena baru pertama kali Nona Margaret ada disini, tidak mungkin membiarkannya pulang sendiri." imbuh Wiliam dengan suara datar. "Jadi jangan pernah kau menuduh ku yang bukan-bukan!"


Inez gelengkan kepala tak percaya, percuma juga berdebat bila tidak ada bukti, Inez mengambil ponsel dari dalam tasnya dan mencari gambar yang ia minta dari Irfan.


"Ini! kau mau menyangkal apalagi!" inez menunjukkan foto dalam ponselnya. Wiliam menarik ponsel inez dan menatap foto itu, alisnya mengeryit dan menghempaskan nafas kasar. "Foto ini tidak benar! darimana kau dapatkan gambar ini!"


"Foto-foto itu sudah menyebar, Tuan Wiliam! aku dapatkan dari mereka dan tidak tahu siapa pertama kali yang membidik dan menyebarkan foto mesra itu! Kini Inez menatap sinis raut wajah dingin itu. "Coba kau pikir bila jadi aku? dan bagaimana seandainya kau ada di posisi aku! ingat kah kau, Will? baru tiga minggu kau menyatakan aku kekasih mu didepan karyawan, bahkan dengan mudahnya kau melamar ku? sungguh aku sangat bahagia saat itu, tapi setelah kau menuduh aku dan marah-marah, aku jadi berpikir ulang untuk menjalin hubungan ini denganmu!"


Wiliam menarik tangan Inez dan mendekatkan wajahnya "Kau jangan macam-macam inez, kau tidak bisa memutuskan hubungan yang baru saja terjalin. kau harus percaya, kalau foto aku bersama Margaret tidak ada hubungan apapun!


"Tapi foto itu sudah membuktikan semuanya!"


"Kau pikir aku serendah di foto ini! Dengarkan aku, Inez! saat ingin keluar dari pintu lift, ujung lancip hells Margaret hampir tersangkut rel pintu lift, reflek aku menarik tangannya agar tidak tersangkut, ia juga memegangi lengan ku karena takut terjatuh, tak sengaja Margaret menyenggol pipiku, dan foto ini di ambil dari posisi menyamping jadi terlihat Margaret mencium ku. Asal kau tahu Inez, Aku bukanlah type Margaret!"

__ADS_1


"Apa kau pikir aku percaya dengan cerita mu? sindir Inez membalikkan ucapan Wiliam. "Sudah lah Tuan, kita disini sudah cukup lama berdebat, tidak akan pernah ada habisnya. Aku harus bekerja, selamat siang!" Dengan tegas dan tidak goyah inez melangkah pergi meninggalkan Wiliam dengan perasaan gusar. Tidak! ia tidak ingin menangis lagi hanya untuk seorang pria. Sudah cukup hidupnya kacau karena laki-laki. Keputusannya sudah bulat dan tekatnya sudah kuat untuk tidak memilih satu dari dua pria yang sama-sama egois.


William menyugar rambutnya dan menatap cincin putih bertahtakan berlian di tangannya. "Tidak akan aku biarkan kau pergi dari ku Inez! suatu hari nanti aku yakin, cincin ini akan kembali padamu! Wiliam memasukkan cincin kedalam saku celananya. "Aku akan menemui Rangga dan mencari tahu alasan dia terus mengganggu Inez, aku tidak akan tinggal diam! batinnya kesal, seraya melangkah pergi meninggalkan ruangan itu dengan perasaan kalut.


"Inez! panggil Lupita.


Inez yang baru keluar dari pintu lift, tersenyum pada sahabatnya.


"Kau ini kemana saja sih! aku tadi cari kau keruangan desain, tapi kau nggak ada."


"Iya tadi aku sempat menata ruangan kita, kira-kira untuk menaruh meja dan kabinet itu bagusnya dimana." dusta Inez.


Lupita menatap lekat wajah Inez "Kau jangan berbohong, aku ini sahabatmu, pasti kau habis menangis kan! matamu sedikit sembah."


Inez mendesah lelah "Entahlah, sepertinya aku lelah dan kurang istirahat."


"Ck! kau ini masih saja tidak mau jujur padaku!"


"Aku pasti akan ceritakan padamu, besok saja kalau sudah satu ruangan. akan bebas ngobrol berdua."


"Baiklah, aku akan kerungan suamiku dulu."


"Oiya Nez, bagaimana kalau nanti sore kita dinerr berempat, sekalian merayakan pertunangan mu."


Inez gelengkan kepala "Maaf Lupi aku nggak bisa.."


"Kenapa...?


"Hubungan ku sudah berakhir dengan Wiliam."


"What?! aku nggak salah dengar kan?" bola mata Lupita mendelik.


💜


💜


💜


@Yuk terus dukung karya Bunda, jangan lupa untuk follow IG @bunda.eny_76


@Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2