Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Amarah Harlan


__ADS_3

Harlan mengeluarkan ponsel dan mulai menghubungi Lupita. Berkali-kali di hubungi telponnya berada di luar jangkauan.


"Kenapa ponsel Lupi tidak aktif? apa dia marah karena aku tidak balas pesannya?! Helaan nafas kasar keluar dari bibirnya.


"Aku akan melihatnya di layar cctv." Harlan mengaktifkan laptop dan mulai mencari ruangan Desain.


"Kenapa Lupita tidak berada di dalam ruangan? Harlan menoleh pada arloji di tangannya. "Sudah hampir jam sepuluh, tapi Lupita belum juga datang."


"Tuts!


"Will, cepatlah kerungan ku!


"Baik Tuan!"


JGLEK!


"Ada apa Tuan?


"Coba kau cek, di ruangan Desain, kenapa Lupi tidak ada di ruangannya."


"Akan saya cek!


"Will, jam berapa meeting dengan kepala proyek dan Arsitek di laksanakan."


"Mereka sudah siap tuan, tinggal tunggu kesiapan Tuan."


"Oke, kita Meeting sekarang."


"Saya tidak jadi keruangan Nona?!"


"Pergilah cari istriku, hanya untuk memastikan."


Wiliam keluar dari ruangan Harlan, menuju ruangan Lupita yang berada di lantai dasar. Di dalam benaknya ia bingung pertanyaan apa buat Lupita kalau sudah berada di sana, pasti Lupi pun bingung untuk apa ia mencarinya. Akhirnya Wiliam menelpon kepala Desain untuk bertanya tentang Lupita.


"Pagi asisten Wiliam, ada yang perlu saya bantu?


"Saya hanya ingin bertanya, apa hari ini Nona Lupita masuk?


"Ohh Nona Lupita? apa tuan ada perlu dengannya?"


"Tidak! tidak, saya hanya bertanya saja."


"Kebetulan Nona Lupita sedang tidak masuk hari ini, ia sudah izin."


"Oke kalau begitu terima kasih."


"Sama-sama Tuan."


Harlan berjalan kembali kerungan Presdir.


"Tuan!


Harlan mengangkat wajahnya dan menjedah membaca berkas didepannya.


"Bagaimana?!"


"Maaf Tuan, Nona Lupita tidak masuk hari ini."


"Tidak masuk kerja? Kedua alis Harlan menaut "Ada apa dengan Lupita? apa ia benar-benar marah padaku, karena aku tidak pulang dan balas pesannya." gumamnya pelan, terlihat wajah Harlan yang sedang tidak baik, kini pikirannya sudah bercabang.


"Will, lakukan metting sekarang!

__ADS_1


"Kalau gitu, saya hubungi Pak Chandra kepala Arsitek dan pak Gumai kepala proyek. untuk datang ke ruangan meeting."


Harlan mengangguk, mengambil ponsel dan mulai menghubungi Lupita lagi, tapi tetap tidak aktif. Harlan terlihat kesal dan frustasi, dadanya naik turun, ingin sekali hatinya pergi dan berlari kerumah Lupita.


Terdengar suara ketukan di depan pintu.


"Masuk! ucap Wiliam


"Maaf tuan, saya ingin mengantarkan peninjauan laporan keuangan dari kepala keuangan."


"Kemari lah!" perintah Harlan.


Alexa berjalan mendekat dan menaruh file laporan diatas meja kerja Harlan penuh hati-hati, sebab ia melihat wajah bos nya yang sedang tidak baik, memerah menahan kesal.


"Akan aku cek nanti!" ucapnya dingin.


"Baik, Saya permisi tuan."


Alexa berjalan cepat keluar ruangan dengan langkah cepat, karena takut kena omel lagi."


"Saya sudah menghubungi mereka, sekarang sudah berada di ruangan meeting."


"Ayo Will, kita kesana!"


Harlan dan William berjalan kerungan meeting. Wiliam membuka pintu kaca, Sapaan hangat saat presdir masuk kedalam ruangan.


"Selamat siang tuan presdir." ucap mereka serempak membungkuk memberi hormat.


Di dalam ruangan sudah hadir kepala Arsitek untuk membuat gambar desain perkantoran dan swalayan untuk dikembangkan di berbagai daerah. Kepala proyek sebagai pembangunan. Ada enam orang yang hadir, Mereka Semua sudah duduk kembali. Kepala Arsitek memberikan lembaran kertas gambar yang sudah selesai ia desain. Membuat perkantoran dan swalayan yang di perintahkan Harlan.


Kepala Desain mulai menerangkan struktur bangunan yang terbuat dari bahan dasar beton dan batu kali, Harlan yang tidak bisa fokus tiba-tiba melempar gambar-gambar desain itu.


"Berapa gajih kau dibayar di perusahaan Vandeles sebagai kepala Arsitek, Hah!


"Apa ada masalah dengan desain yang saya buat tuan?! tanya pak Chandra tegang


"Kau itu kepala Arsitektur dan memiliki banyak anak buah, tapi menurutku satupun desain mu tidak ada yang sesuai dengan keinginan ku, juga untuk pemasaran! bentak Harlan, mendengus kesel.


"Ma'afkan saya Tuan, bila tidak sesuai dengan tuan presdir dan tidak layak untuk di pasarkan, saya dan tim akan perbaiki lagi."


Wiliam yang tak menyangka dengan sikap Harlan, tidak seperti biasanya ia di buat bingung, semua di semprot hanya gara-gara hal pribadinya dengan Lupita, dada Harlan turun naik seakan ingin meledak dan memaki siapa saja yang berada di dekatnya.


"Tuan, silakan minum air ini.dulu" William sengaja memberikan air minum dingin untuk menenangkan hati Harlan, dengan penuh hati-hati ia menyodorkan didepannya. Untuk meredakan emosinya sendiri, Harlan mengambil gelas itu dan meminum habis.


Presdir yang sedang emosi itu, bangkit dari duduknya dan sebelum pergi Harlan berkata "Jangan pernah kau perlihatkan desain itu padaku, sebelum semuanya kau perbaiki!


Dengan kaki panjang Harlan pergi melangkah meninggalkan ruangan meeting.


"Untuk sementara meeting di tunda, sampai ada keputusan dari Tuan Georgie, Silakan sekarang kalian bubar." ucap Wiliam sebagai sambutan penutup. Mereka semua hanya bisa menghela nafas panjang dan kecewa dengan sikap Presdirnya, yang belum selesai Pak Chandra menerangkan, tapi sudah di bantah bahkan di lemparkan semua kertas desain itu.


William membuka pintu ruangan Harlan dan masuk kedalam, ia melihat Harlan sedang menerima telpon.


"Kau bujuk lah agar Mak mau makan dan minum obatnya."


"Sudah kak, tapi bibi tidak mau makan dan kondisinya semakin melemah."


"Dimana para Dokter dan suster! bentaknya.


"Sudah di bujuk suster, tapi bibi tetap tidak mau. Dokter yang menangani Bibi, tadi bilang kakak harus menemuinya."


Harlan mendesah kasar "Baiklah, aku akan kesana!"

__ADS_1


Harlan mematikan ponselnya dan menoleh pada Wiliam yang sejak tadi berdiri.


"Will, hari ini sudah tidak ada pekerjaan lagi, bukan?!


"Sebenarnya masih ada Tuan, Pak Angkasa di jadwalkan akan berkunjung kemari."


"Kalau begitu kau saja yang temui, aku harus ke rumah sakit, kondisi Mak makin parah, nggak mau makan dan minum obat."


"Baik, Tuan!


Harlan beranjak dari duduknya dan berjalan kearah pintu.


"Tuan! panggil William


"Iya! menoleh kearah Wiliam.


"Apa tuan tidak apa-apa pergi sendiri? sepertinya Tuan sedang banyak masalah, biar saya antarkan saja ke rumah sakit.


"Tidak usah, kau urus saja perusahaan. aku masih bisa mengatasinya sendiri! sehabis menemui cliant, datanglah kerumah sakit, malamnya aku akan pulang ke rumah istriku!


"Baik, Tuan!"


Harlan membuka pintu dan berjalan keluar.


****


Sore itu Lupi belum bisa masak, karena ia baru saja mendingan setelah meminum obat demam. ia membeli sayur dan lauk pauk matang yang Mba keliling setiap sore.


Jam sudah menunjukkan pukul enam sore, selesai menunaikan sholat magrib, ia makan sendiri, Lupi benar-benar melupakan sosok Harlan, bahkan ponselnya ia biarkan lowbet begitu saja.


Di depan teras ada suara motor dan mengetuk pintu. Lupita tertegun dan mendengarkan tegas suara ketukan itu, karena nyaru dengan suara tv. "Apa Mas Harlan sudah pulang di jam segini? hati Lupi mulai tenang dan ia berjalan kearah pintu.


JGLEK


"Assalamualaikum, Lupi...?


"Kau..? Lupi terperanjat kaget.


"Wa'alaikumsalam..."


"Damar? darimana kau tau tempat tinggal ku? tanyanya masih tercengang.


"Apa aku tidak di persilahkan masuk?


Lupita melebarkan pintunya "Eh-iya Silakan masuk, Dam.."


"Ini, maaf aku tidak bisa membawa apa-apa." memberikan parcel buah ketangan Lupita.


"Terima kasih Dam.. kenapa meski repot-repot, aku juga sudah tidak apa-apa kok."


"Aku sangat khawatir, mendengar kau sakit, makanya pulang kerja aku mampir dulu kemari."


"Sebentar, aku ambilkan minum dulu." Lupita kedapur membuatkan teh manis hangat.


"Ini diminum dulu, Dam." menaruh cangkir di depan Damar.


"Terimakasih, Lupi." mengambil cangkir dan meyerumputnya karena masih panas.


❣️


❣️

__ADS_1


❣️


Bersambung......💃💃💃


__ADS_2