
Suara dering telepon membuyar lamunan Lupita yang sedang duduk di kursi meja rias, setelah selesai mandi dan berpakaian kantor.
"Siapa yang sudah menelpon pagi-pagi sekali?' Lupita berjalan kearah nakas dan mengambil ponselnya yang masih berdering. Tertera nama Ricky di layar ponsel.
"Ricky? Ada perlu apa yang nelpon pagi-pagi." gumamnya lirih.
Lupita menggeser tombol warna hijau.
"Iya Rick? ada apa ya.."
"Pagi Lupita, Maaf mengganggu pagi-pagi."
"Iya ada apa Rick?
"Hmm... begini, bisakah nanti siang kita bertemu di restoran depan kantor Vandeles."
"Sepenting itukah? sebenarnya apa yang akan kau bicarakan. Kenapa tidak sekarang saja mumpung kita sedang teleponan, soalnya kalau sudah di kantor aku jarang pegang ponsel."
"Tidak Lupi, aku tidak bisa bicara ditelepon. lebih baik kita bertemu saja langsung, nanti aku jelaskan, tolong luangkan waktu sebentar untuk kita bicara."
"Oke.. jam makan siang bagaimana?"
"Baiklah aku datang langsung menunggu di restoran sebelum jam 12.00."
"Oke Rick..."
"Ya sudah aku tutup ya..."
Lupita teringat akan suaminya yang sudah dua hari tidak berada didalam memenuhi ruangannya, hatinya begitu sakit dengan perlakuan suaminya yang tak biasa. ia edarkan pandangan di seluruh ruangan kamar, dimana kebersamaan dan kemesraan bersama suaminya kerap terjadi, tiba-tiba semua kebahagiaan itu hilang bagai diterjang ombak yang membuat rumah tangganya oleng karena sikap suaminya yang sudah berubah, bahkan menatapnya saja tidak seperti dulu, tatapan penuh cinta."
"Mas, kenapa secepat itu kau berubah? kemana suamiku yang penyayang dan mencintai ku? ucapnya lirih, Lupita mengedipkan matanya, tetesan airmata berjatuhan yang sejak tadi ia tahan.
Lupita menatap layar ponsel yang gelap "Sejak kemaren aku menelpon mu, namun kau tidak mau mengangkatnya, sebenci itukah kau padaku, Mas.." tetesan airmata itu semakin berjatuhan, dadanya begitu sesak.
Tok! tok! tok...
Lupita mengusap air matanya "Siapa..."
"Saya Nur, Non sarapan sudah selesai."
"Iya Mbak Nur, sebentar lagi saya turun."
Lupita merapikan riasannya bekas airmata, agar sembabnya tersamarkan.Setelah menutup telpon dari Ricky, Lupita turun kebawah. Bii Ijah sudah menyiapkan hidangan diatas meja.
"Silakan makan dulu Non. sudah bibi siapin nasi goreng spesial kesukaan Non Lupi."
Lupita tersenyum "Terimakasih ya bik." Lupita menarik kursi untuk duduk. "Bik ayo makan bareng, panggilkan juga Mba Nur."
"Saya nanti saja makannya Non, tadi sudah minum kopi sama biskuit bareng Mba Nur."
__ADS_1
"Ya sudah saya makan duluan ya Bik." Dengan Pelan Lupita menikmati nasi goreng didepannya, walau ia kurang nafsu makan kerena pikirannya entah kemana."
Tiba-tiba suara bel berbunyi nyaring di depan teras. Menarik pikiran Lupita yang sejak tadi melayang kemana-mana.
"Biar Bibi yang bukain Non." tak lama bik Ijah masuk dengan wajah bingung.
"Non! anu_ ada seorang wanita cantik mencari Tuan Georgie."
Deg!
Lupita yang sedang mengunyah nasi goreng, menelannya cepat, untuk menajamkan pendengarannya.
"Apa tadi bibik bilang? seorang wanita mencari suamiku?
Bik ijah mengangguk.
"Aku akan menemuinya." Lupita mengambil gelas berisi air putih dan meneguk setengahnya. Ia beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah pintu. Dengan lamban Lupita menarik gagang handle dan melihat wanita sedang berdiri membelakanginya.
"Anda cari siapa..? tanya Lupita sambil menatap dari atas sampai bawah. Ia seperti mengenal wanita yang masih membelakangi nya. Wanita itu membalikkan tubuhnya dengan kedua tangan melipat di dada.
Lupita terkejut dan membelalakkan matanya "Kau???
"Kenapa? kenapa kau terkejut? bukan kah ini rumah tunangan ku? kenapa kau ada disini!" desis wanita angkuh itu pura-pura tidak tahu siapa itu Lupita.
"Darimana kau tahu rumah ini!" Lupita bingung karena tidak seorang pun tahu rumah yang ia bangun dulu, bahkan Mak Isah dan Della belum pernah suaminya beritahu.
"BERHENTI kau bilang Mas Harlan adalah calon tunanganmu! bentak Lupita geram.
"Kenapa kau itu siapa ya Georgie? kenapa tiba-tiba ada di rumah ini!"
"Pergi kau Margaret!! Jangan pernah datang lagi ke rumah SUAMIKU!
"Apa kau bilang? suamimu?! Sejak kapan Georgie jadi SUAMIMU!! kau tidak ngaca siapa dirimu? wanita rendahan dan miskin masuk kedalam hidup tunangan ku!" teriak Margaret.
"PLAKK! PLAKK!!
Dua kali tamparan keras melayang di pipi mulus Margaret.
"Wanita yang telah kau rendahkan adalah istri seorang Goergie Vandeles. kau hanya Pelakor murahan yang selalu merusak hidup orang lain! pergilah kau dari sini dan jangan pernah tampakkan wajahmu lagi di hadapan ku dan suamiku! bentak Lupita dengan amarah meletup-letup.
Margaret memegangi pipinya yang panas dan memerah bekas tamparan Lupita. "Ingat! aku tidak akan pernah menyerah untuk merebut tunangan ku Goergie darimu SIALAN!
"Kau bilang apa? ingin merebut suamiku! sungguh murah sekali harga dirimu, padahal kau wanita cantik dan terhormat, tapi mau dengan suami orang yang jelas-jelas sudah memolakmu berkali-kali!!"
Mata Margaret menatap tajam kearah Lupita. ia berpikir pasti Goergie sudah menceritakan pada istrinya Kalau ia sudah sering di tolak berkali-kali. Namun otak licik Margaret tetap tidak mau menyerah dan yakin suatu saat Goergie akan melepaskan istrinya dan menikahinya.
"Cihh! kita lihat saja nanti! kau pasti akan menyesal telah berhadapan dengan ku! maki Margaret dan pergi meninggalkan Lupita.
Lupita menarik nafas dalam-dalam dan dihempaskan kasar. Dadanya yang sejak tadi bergemuruh, berangsur redam, tangannya masih mengepal menahan emosi.
__ADS_1
"Tidak akan aku biarkan kau merebut kebahagiaanku, apalagi Ingin merebut suamiku yang sudah setahun lebih hidup bersama ku! aku tidak akan tinggal diam Margaret!! kini dia sudah tahu kalau aku istri Mas Harlan, Siapa yang sudah memberitahukan Margaret. Della kah? atau Mak Isah? aku harus waspada pada mereka semua."
"Non tidak apa-apa?"
"Tidak bii.. ya sudah aku mau berangkat kerja dulu bii.."
"Ini tas nya Non. Hati-hati dijalan ya Non."
"Bii.. seandainya wanita tadi datang lagi saat aku tidak ada, jangan di Bukakan pintu, apalagi sampai masuk kedalam. Karena wanita tadi sangat nekad!"
"Iya Non, bibi nggak bukakan pintu."
Lupita meninggalkan kediamannya menuju kantor Vandeles, satu jam setengah ia baru sampai kantor.
Ceklek!
"Sorry aku telat..." Lupita duduk di kursi kerjanya.
"Kau adalah pemiliknya, untuk apa merasa bersalah begitu." Inez gelengkan kepala seraya meneruskan pekerjaannya.
'Tidak! ini milik Tuan Georgie, aku disini bekerja untuk membantunya."
"Kenapa kau selalu berpikir begitu, Tuan Georgie itu kan suamimu, kau ini aneh Luv!
"Aku harus bisa membedakannya Nez! saat di kantor dia Tuan Georgie atasan ku, saat di rumah ia Mas Harlan suamiku."
"Ya sudah terserah kau saja! terus kapan suami mu pulang dari luar kota? apa kau sudah menghubunginya? dan hubungan kalian baik-baik saja kan?"
Lupita terdiam, pikirannya terus menerawang keberadaan suaminya yang tidak mengabarinya sampai hari ini.
"Hey kenapa kau bengong?! aku tahu kau pasti masih ada masalah. Ma'afkan aku Luv, kalau pertanyaan ku membuat mu bersedih!"
Lupita tersenyum getir "Suamiku tidak mengangkat telponku dari kemarin, bahkan tadi Margret datang kerumah ku!"
"Apa-apa...?! Margaret datang kerumah mu! Inez menghentikan kegiatannya dan berjalan ke meja kerja Lupita.
"Luv! apa kau baik-baik saja? apa tujuan Pelakor itu datang kerumah mu? dan darimana wanita ular itu tahu rumahmu?"
"Entahlah aku juga tidak tahu! tapi tentang saja aku sudah menamparnya dia kali, agar dia ingat kalau aku bukan wanita lemah seperti yang ia pikirkan!"
"Wah bagus itu! aku suka dengan caramu Luv. kau jangan terlihat lemah atau mudah menyerah didepan ular busuk'itu. Kau isteri sah Tuan Georgie, harus tunjukkan kalau kau itu kuat dan tidak mudah di tindas!" ucapan Inez adalah sebuah semangat buat sahabatnya.
"Tentu saja! ular busuk itu selalu mengeluarkan racunnya di mana-mana. Aku tidak akan tinggal diam, kali ini aku harus bangkit dan tunjukkan siapa itu istri Georgie Vandeles."
💜💜💜
@Yuk terus dukung karya Bunda, jangan lupa untuk follow IG @bunda.eny_76
@Bersambung....
__ADS_1