Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Mencari kebenaran


__ADS_3

"Sayang, dengarkan Mas dulu. Kita bisa pulang kerumah ini seminggu sekali, Mas khawatir meninggalkanmu sendiri, bila mas lembur dan tidak pulang. Apalagi dengan kejadian seperti ini, Mas sangat takut." ucap Harlan lembut memberikan pengertian pada istrinya.


"Baiklah Mas, akan aku pikirkan lagi ya. Aku sudah sangat mengantuk dan lelah, besok pagi harus masuk kantor."


"Ya sudah, ayok! Lupita dan Harlan masuk kedalam kamar. Mereka berdua tertidur lelap diatas kasur dalam dekapan hangat.


Seperti biasa aktivitas Lupi bangun jam empat subuh, selesai mandi ia menunaikan sholat subuh. Lupita masih menatap lekat suaminya yang tertidur pulas. kecupan manis di kening untuk suaminya, ia merias tipis wajahnya dan keluar rumah untuk belanja, kebetulan masih ada kompor gas yang tidak di curi, jadi Lupita masih bisa masak untuk buat sarapan.


Lupita berjalan keluar dari gang untuk belanja sayuran. tempat yang biasa abang gerobak mangkal berjualan di pinggir jalan, depan tanah lapang. Sudah banyak Ibu-ibu berkumpul seraya bergosip ria. Lupita ikut mengambil sayuran dan ikan lele di gerobak dorong.


"Ehh, Lupi baru kelihatan, kemana saja ? ada yang mencari kamu waktu itu, cowok ganteng." kata seorang ibu yang masih tetangga Lupita.


"Bu Any tahu ajah ya cowok ganteng, inget umur bu.." celetuk bu wiwi terkekeh.


"Mata saya belum rabun bu, masih bisa lihat cowok ganteng sama nggak." hehehehe...


"Iya bu,, terima kasih, dia teman saya mau antar tugas kantor, seminggu saya gak masuk kerja karena menginap di rumah saudra saya."


"Ohh .. kirain pacarnya Mba Lupi."


"Loh kok pacarnya sih! Lupita itu kan sudah menikah dengan bule itu, waktu di gerebek malam itu, loh! masa lupa sih! sindir bu Wiwi, melirik sinis pada Lupita.


Lupita hanya tertunduk, ia tidak ingin terus berada di tukang sayur yang pagi-pagi sudah ramai orang belanja sekalian ngerumpi. Tiba-tiba datang ibu Tiwik yang dandannya menor, kebiasaan Tante gambreng itu kerjanya nagih utang keliling.


"Ehh bu Tiwik dari mana? ko pagi-pagi udah ngomel nggak jelas, sih! tanya bu Any, melihat ibu Tiwik ngomel sambil memilih sayuran.


"Itu si Surti, di tagih bayar hutang. kok tar sok, tar sok terus. kata ibu-ibu kontrakan yang lagi pada bergosip, empat hari yang lalu si Surti habis beli perabotan, Tv, kulkas, sama mesin cuci, padahal kontrakan ajah nunggak dua bulan."


"Ahh yang bener? duit darimana dia bisa beli perabotan, kerjanya ngutang sana-sini, janjinya mau di ganti tiga kali lipat. pinjamnya ngemis-ngemis, pas ditagih pura-pura lupa." celetuk ibu-ibu yang masih sibuk ngerumpi.


"Deg! Bi Surti bisa beli perabotan Tv, kulkas dan mesin cuci, sama persis perabotan ku yang hilang, apa jangan-jangan Bibi yang sudah mengambil perabotan ku?!


"Ini dia keponakan nya! kau tagih saja sama Lupita." tunjuk bu Lily.


"Ma'af bu, saya tidak tahu menahu masalah hutang bi Surti." ucap Lupi mengelak.


"Bu Tiwik, ambil saja perabotannya, keburu di jual lagi, daripada nggak dapat apa-apa, uang hilang barang juga nggak dapat." ibu Any terus mengompori.


"Iya bener tuh bu! timpal Bu Lily.


"Bener juga ya bu, ya sudah kalau begitu saya mau ambil perabotan nya saja." ujarnya seraya berjalan pergi meninggalkan gerobak sayuran.


Lupi sudah tidak ingin berlama-lama di tukang sayuran, ia menyudahi dan membayar semua belanjaannya. Setelah berpamitan pada ibu-ibu yang masih belanja, ia pulang dengan membawa tentengan.


JEGLEK


Lupita melihat Harlan sudah selesai mandi dan memakai kaos oblong dan celana jeans hitam.


"Mas sudah rapi, apa mau kerja hari ini?" tanyanya dan berjalan ke dapur membuat kan secangkir kopi hitam untuk suaminya.


"Iya yank, Mas nggak enak kalau kebanyakan libur, Bos sudah baik banget kasih kita liburan ke Bali."

__ADS_1


"Iya Mas, masuk kerja ajah, lagian kita sudah satu minggu liburnya." menaruh cangkir kopi diatas meja makan.


"Kau hari ini masuk kerja? klau masih cape istirahat saja dulu."


"Aku harus masuk kerja Mas, nggak enak sama perusahaan sudah libur seminggu, aku saja mau masuk kerja takut-takut, karena untuk menghubungi ke kantor sudah tidak bisa."


Harlan yang sedang minum kopi terbatuk, ia merasa bersalah dan kasihan pada istrinya, gara-gara kecemburuan nya melempar ponsel Lupita.


"Mas pelan-pelan minum kopi nya, kan jadi keselek gitu."


"Nanti akan mas antarkan ponsel buatmu ke kantor."


"Nggak usah Mas, lagian Mas sudah tidak punya uang, aku bisa beli gajian bulan depan, cari yang murah seharga dua juta gak apa-apa, yang penting bisa komunikasi."


"Ya sudah mas berangkat dulu ya."


"Mas, ini masih jam enam loh, tunggu aku masak sebentar ya, kita sarapan dulu."


"Nggak usah yank, Mas makan di warteg saja nanti siang, Bos menyuruh buru-buru ke kantor, taksinya juga sudah nunggu di depan gang."


"Ya sudah Mas, hati-hati di jalan." Lupi mencium punggung tangan suaminya, Harlan menciumi kening, pipi dan bibirnya.


"Jaga dirimu baik-baik, kalau Mas nggak pulang berarti banyak pengiriman paket, biasanya Mas nginep di gudang, paginya bisa terusin ngantarnya, biar nggak bulak-balik."


"Iya Mas, nggak apa-apa."


"Ingat kunci rumah, besok kita ganti kunci pintunya biar tidak ada maling yang masuk."


.


"Kok perabot yang bi Surti beli, mirip dengan barang-barang ku yang hilang, apa aku selidiki ajah ya? aku mau kerumahnya dengan alasan memberikan oleh-oleh dari Bali."


Selesai memasak, la mengganti pakaian kerjanya dan merias wajahnya natural. Memasukkan nasi, ikan dan tumisan kedalam Tupperware. Tidak lupa ia membawakan oleh-oleh dari Bali untuk bibinya.


Lupi berjalan kedalam gang yang bersebelahan dengan gang rumah nya, hingga ia sampai di depan kontrakan bibinya.


"Tok, tok, tok..


"Assalamualaikum...."


Tiga kali salam, baru terdengar suara dari dalam rumah.


"Wa'alaikumsalam...."


JGLEK!


"Lupi???? mau apa kau kemari?! terlihat wajah Lolita yang baru bngun tidur terkejut dengan kedatangan Lupi. Lolita tidak menyuruh Lupi masuk, ia hanya menyembulkan kepalanya di Pintu.


"Loly! siapa diluar! teriak Surti.


"Lupita Bu!"

__ADS_1


"Apa...??? mau apa dia kerumah kita, sudah usir saja dia! teriak Surti lagi.


"Aku hanya mau ngasih kalian ini." menyodorkan Paper bag ke tangan Lolita.


"Apaan itu!"


"Ini oleh-oleh dari Bali, aku belikan kau dan Bibi baju santai buat sehari-hari."


"Nggak usah sok baik dan cari perhatian! sudah pergi sana! bentak Lolita.


"Dimana Bibi, aku ingin ketemu sebentar." tanya Lupi, matanya masih ingin melihat keadaan rumah.


"Alah, ngapain loh mau cari ibu gue!


"Kau mau ngapain kemari! tiba-tiba Surti melebarkan pintunya sedikit agar ia bisa keluar dan menutupnya kembali, seakan ada sesuatu yang di sembunyikan.


"Aku hanya ingin mengantarkan ini bi, aku belikan Bibi dan Loly baju buat sehari-hari."


Menarik kasar Paper bag dari tangan Lupi. "Hebat ya bisa jalan-jalan ke Bali, bersenang senang dan habisi uang, sementara aku yang sudah membesar kan mu dari kecil, di campakkan dan dibuang begitu saja! pergi sana aku tak sudi melihat wajah sok baikmu! Surti mendorong tubuh Lupi, hampir saja ia jatuh ketanah kalau saja tidak ada keseimbangan.


Lupi mulai tersulut emosi melihat sikap bibinya yang masih saja membencinya. "Tak ada gunanya aku berbaik hati pada bibi! dengar ya bii.. aku kesini datang baik-baik, dan Ingin menjalin silaturahmi, bagaimanapun juga Loly masih sepupuhan dengan ku!


"Pasti kau ada niat kan datang kesini!


"Iya! aku datang kesini untuk menepis keraguan ku, tadi pagi ibu-ibu di gang Mawar bergosip kalau Bibi membeli perabotan baru."


Seketika wajah Surti berubah pias dan pucat.


"Asalkan Bibi tahu, semalam aku baru pulang dari Bali, dan ternyata perabotan ku hilang semua, kipas angin, TV, kulkas dan mesin cuci. Seandainya maling yang mencuri, sudah pasti kuncinya rusak, tapi ini tidak ada jejak kerusakan pintu."


"Jadi kau menuduh Bibi, Hah! teriak Surti tak terima, tentu saja teriakan itu mengundang tetangga berdatangan.


"Aku tidak menuduh Bii, cuma yang aku tahu bibi masih memegang kunci serep di rumahku."


"Itu namanya nuduh! teriak Surti lagi tak terima.


"Hey Surti! kau selalu cari ribut terus disini, kami yang ngontrak disini sudah muak melihat mu yang berteriak-teriak bila di tagih hutang! seru seorang tetangga di samping rumahnya.


"Sudah pindah saja dari sini! teriak ibu-ibu yang ikut menyaksikan keributan di depan kontrakan.


Karena keadaan semakin panas, Lupita memilih pergi dan meninggalkan tempat itu, percuma juga berdebat dengan bibinya, yang ada selalu buat keributan.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Yuk ikuti terus kelanjutan nya, Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:


πŸ’œLike


πŸ’œVote


πŸ’œGift

__ADS_1


πŸ’œKomen


@Bersambung........πŸ’ƒπŸ’ƒ


__ADS_2