
Usai menjalani prosesi ijab qobul, Wiliam dan Inez harus kembali ke Jakarta, sebab Harlan akan kembali dari luar kota hari. Ibu Inez akan kembali di pulangkan ke kampung halamannya.
"Bu, doakan inez dan Kak Wiliam menjalani pernikahan ini dengan Istiqomah."
"Tentu saja nduk, ibu selalu mendoakan yang terbaik untukmu dan juga suamimu William. Semoga kehidupan kalian mendapat bahagia, kesuksesan dunia dan akhirat."
"Terima kasih Bu, inez pasti akan merindukan ibu dan juga adik-adik. Ines janji akan pulang bersama Kak William dan mengambil cuti setelah urusan di kantor beres. Nanti Inez kabari ibu."
"Iya nduk!" ibu dan anak itu saling berpelukan. "Titip salam untuk Ira dan Indra ya bu, nanti akan Inez kirimkan uang untuk Ira masuk kuliah."
"Ira pasti senang tahun ini bisa mendaftar kuliah. jaga dirimu baik-baik dan patuhilah pada suamimu, turuti apa keinginannya, karena surga dan tanggung jawab mu terletak pada ridho suami mu."
"Iya Bu.. Inez pasti ingat nasihat ibu."
Surti melepas pelukannya dan beralih pada Wiliam "Nak Wiliam, Inez sudah menjadi tanggung jawabmu. Ibu serahkan Inez kepadamu, tolong jaga dan sayangi Inez, sebagaimana ibu menyayangi dan menjaganya dari bayi."
"Tentu saja Bu, saya berjanji akan bertanggung jawab penuh pada istri saya Inez. akan selalu melindungi dan menyayanginya."
"Terima kasih banyak Nak Wiliam. Kalau begitu Ibu pulang dulu bersama Pamanmu Toto."
"Hati-hati di jalan ya Bu." ucap Inez melepas kepergian ibu dan paman untuk pulang kembali ke kampung.
Wiliam menarik Inez kedalam pelukannya dan mencium mesra keningnya. "Aku sangat bahagia sayang, akhirnya kaulah takdirku."
"Aku yang berterima, Kak will sudah memilih aku jadi seorang istri."
Wiliam tersenyum, mengusap lembut bibir Inez dan semakin mendekatkan wajahnya.
"Ekhmm... Tuan."
Wiliam menoleh, wajahnya terlihat kesal, Alex selalu datang menganggu disaat tidak tepat.
"CK! apa kau tidak bisa lihat orang senang sebentar." gerutu Wiliam.
"Saya hanya ingin mengabari, apa tuan mau nginap di hotel satu malam, buat malam pertama? hehehehe... goda Alex sambil menaikkan satu alisnya "Atau tetap pulang?"
"Kita pulang sekarang juga, tanggung jawab ku di perusahaan sangat besar." Wiliam menoleh pada Istrinya "Tidak apa-apa kan sayang? malam pertamanya di apartemen ku." bisik Wiliam dan membuat wajah Inez merona.
"Baiklah, Ayo kita berangkat!
____________
Hanya menempuh dua jam perjalanan William dan Inez sudah sampai bandara Soekarno Hatta. Mereka naik pesawat biar lebih cepat sampai, sementara yang lainnya membawa mobil.
"Kak, apa aku pulang kerumah dulu? pakaian ku masih dirumah, lagipun aku belum ganti pakaian."
__ADS_1
"Iya kita pulang sama-sama, baru malamnya kita pulang ke apartemen."
"kenapa kita tidak menginap di rumah Lupita beberapa hari?"
"jangan sayang... pasti warga disana akan curiga dan mengaggap kita melakukan perzinahan, apalagi kita tidak ada bukti surat nikah kita."
"Iya kau benar kak! ya sudah kita pulang dulu, setelah istirahat sebentar baru ke apartemen."
Inez dan Wiliam masuk kedalam taksi menuju tempat tinggal Inez.
***
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Lupita membereskan pekerjaannya. Sebenarnya ia masih bingung, tiba-tiba Inez tidak masuk tanpa memberikan kabar. Didalam ruangan bekerja sendiri tanpa ada Inez terasa sepi dan hambar.
"kemana saja kau Nez? sudah dua hari kau tidak menampakkan batang hidungmu di kantor, apa yang terjadi denganmu. Apakah kau sakit? lalu kenapa telepon mu tidak aktif?" Lupita terus bertanya-tanya. "Apa aku harus datang kerumah? lebih baik aku kesana untuk memastikan keadaan Inez."
DREZZZ.. DREZZZ.. DREZZZ...
Ponsel Lupita bergetar, pikiran tentang Inez teralihkan saat ponselnya bergetar.
"Ricky?! tertera nama Pria yang sudah bekerjasama dengannya.
"Hallo Ky..."
"Jam berapa? kebetulan aku juga mau pulang."
"Kalau begitu sekarang saja di tempat biasa. lima belas menit lagi aku sampai."
"Oke..oke..."
Setelah sambungan telepon terputus, dengan cepat Lupita membereskan semua berkas yang ia susun diatas meja. lalu berjalan keluar dari ruangannya menuju pintu lift.
Hanya menempuh perjalanan 10 menit Lupita sudah sampai ditempat tujuan. Tak lama ia melihat sosok Pria bertubuh tegap masuk dari pintu utama.
"Sorry, apa kau sudah menunggu lama?
"Baru 10 menit saja sampai."
Ricky memanggil pelayan dan memesan minuman dan cemilan.
"Langsung saja pada intinya." Ricky membuka laptop yang ia bawa dari kantor dan menunjuk kan desain yang Lupita buat. Lalu Lupita menjelaskan secara detail dan matang dari segi laba bersih dan kotor dengan budget rendah. Selama tiga jam mereka membahas proyek yang rencananya akan secepatnya di bangun. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 7.30 menit.
"Oke aku harus pulang." Lupita menyedot habis oranye juice didepannya
"Aku antarkan!"
__ADS_1
"Tidak usah, aku bisa naik taksi."
"Tapi__
"Aku tidak ingin merepotkan orang. Ya sudah aku pulang duluan ya. Bey.." ucapnya di sela langkahnya berjalan menjauh.
Ricky hanya menatap punggung Lupita hingga hilang dari pandangan "Kau masih seperti dulu luv, tidak pernah mau merepotkan orang. Hatimu sangat baik dan tulus, menyesal dulu aku tidak menembak nya."
Satu jam perjalanan taksi berhenti tepat di depan gerbang perumahan elite. Tadinya Lupita berniat menemui Inez dirumahnya, karena sudah malam dan rasa lelah ditubuhnya karena sering tidur malam, akhirnya ia urungkan untuk bertemu dengan Inez. sejak Harlan pergi keluar kota Lupita jarang bisa tidur dengan nyenyak, pikirannya selalu tidak tenang dengan perubahan sikap suaminya yang berubah dratis.
"Malam Nyah. Apa mau makan malam? biar Bibi siapkan."
"Tidak usah bii, tadi aku sudah makan bersama temanku di cafe." Lupita berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Rasa lelah telah membuatnya sedikit stres, untungnya ia bisa menyalurkan sebuah desainnya pada orang yang tepat dan dapat menghibur diri dari kejenuhan. Lupita membuka seluruh pakaiannya dan berjalan masuk kedalam kamar mandi. Menyalakan air hangat dalam bahtub, lalu berendam untuk merilekskan tubuh dan pikirannya. Setengah jam kemudian ia selesai bersih-bersih dan memakai kimono.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Inez yang kelelahan berbaring diatas ranjang dan tertidur pulas. Detak jam terus memutar pada porosnya. Suara pintu terbuka dari arah luar. Seseorang masuk kedalam kamar dan membuka pakaian, melemparkan pakaian kelantai.
Suara gemericik air membangun kan tidur Lupita, ia mengerjakan dan mendudukkan tubuhnya yang masih terasa letih. Matanya menyoroti pakaian yang tergeletak dilantai dan koper yang berada di depan pintu kamar.
Ceklek! suara pintu kamar mandi terbuka.
"Mas kau sudah pulang? tanya Lupita saat melihat sosok suaminya yang baru keluar dari kamar mandi.
"Hmm..." tanpa menoleh pada Istrinya yang sedang merindukan dirinya. Harlan membuka lemari, lalu mengambil kaos dan celana pendek sendiri. "Mas biar aku ambilkan." biasanya Lupita yang melakukan semua itu, Namun ia merasa tidak dibutuhkan suaminya lagi. Lupita berjalan mendekati suaminya.
"Mas, Kenapa tidak bilang atau menghubungi aku kalau kamu pulang hari ini!"
Harlan menghempaskan nafas kasar dan mengindar dari tatapan istrinya, entah apa yang berada dalam pikirannya. ia ingin beranjak dari kamar, dengan cepat Lupita menarik tangannya
"Mas! ada apa dengan dirimu! kenapa sikap mu begitu dingin padaku? bahkan kau tidak pamitan dulu padaku saat pergi keluar kota. Apa salahku Mas?!
Harlan menarik kasar dari genggaman tangan Lupita. "Sudahlah aku sangat lelah mengurus proyek di Kalimantan, tolong kau jangan ganggu aku dulu. Aku cape ingin istirahat!" bentak Harlan, lalu berjalan kearah pintu, meninggalkan Lupita sendiri didalam kamar.
Bola matanya memanas, tanpa bisa ia tahan lagi, airmatanya menetes berjatuhan.
"Mas ada apa dengan dirimu? ucapnya lirih, bersama ribuan pertanyaan dalam benaknya.
"Hatiku lelah Mas, sanggupkah aku bertahan?"
💜💜💜
@Yuk terus dukung karya Bunda, jangan lupa untuk follow IG @bunda.eny_76
@Bersambung....😍
__ADS_1