
William berjalan kearah inez dengan membawa dua kaleng minuman, yang ia ambil dari kulkas samping meja kerjanya.
Wiliam duduk di samping inez dan mendekat, inez mundur dan menggeser duduknya.
"Mau apa dia...? batinnya bersamaan detak jantung nya yang terus berdebar.
Ceeesssss....
Wiliam membuka minum kaleng dingin yang bersoda dan memberikannya pada Inez.
"Minumlah Kau pasti haus." inez menerima kaleng bersoda itu dan meneguknya perlahan.
"Haaah..." helaan nafas panjang lolos begitu saja dari bibir Wiliam "Ma'afkan aku, sudah mendahului tanpa bertanya dulu padamu. Aku hanya ingin melindungimu dari orang-orang yang terus menghakimi."
"Kenapa...? tanya Inez ambigu, menatap kosong kedepan.
Wiliam menarik tangan Inez "Karena aku mencintaimu, aku sudah katakan padamu kalau aku tulus, tidak ada kebohongan disini." Wiliam menaruh tangan inez di dada bidangnya. Ada getaran aneh dalam dada pria bule tampan itu, jantungnya berdebar cepat bagai gendang yang sedang bertalu-talu. Inez menarik cepet tangannya.
"Apa kau masih tidak yakin? menatap netra Inez yang berkaca-kaca "Ma'afkan aku, sudah egois padamu. Aku tidak ingin memaksa, ku sadari kau masih terluka dengan sikap ku dulu." imbuh Wiliam merasa bersalah.
Wajah Inez tertunduk, sebenarnya ia masih menyimpan rasa pada Wiliam, namun hatinya tidak bisa di bohongi, rasa sakit itu masih ada. Airmata Inez sudah menetes berjatuhan, isakan kecil terdengar lirih.
Wiliam menarik dagu inez "Inez, tatap mataku sebentar saja." ucap Wiliam lembut, yang membuat Inez menurut tanpa penolakan. Bola mata bening itu menatap netra coklat iris abu-abu milik Wiliam. Tangan Wiliam mengusap lembut butiran bening yang terus berjatuhan di wajah cantik inez.
"Apa yang kau tangisi, hmm.."
Inez menggeleng, padahal ia sendiri juga bingung dengan perasaan dan sikapnya yang sudah berlebihan, apakah ia menangis karena ungkapan cinta Wiliam? atau sedih karena masih ada duri dalam hatinya.
"Inez, kau jangan merasa jadi beban dengan ucapan ku tadi didepan karyawan. Bila kau keberatan, aku akan menarik kembali dan meralat semua ucapan ku tadi."
Wiliam beranjak dari duduknya dan berjalan kearah meja kerjanya, ia mengambil ponsel yang berada diatas meja, raut kekecewaan terlihat jelas di wajah dingin Wiliam.
Wiliam mencari kontak seseorang dan membelakangi Inez, menatap pohon Cemara yang berada didepan kantornya. Satu tangannya menaruh benda pipih di telinganya. "Hallo Roy! kau bisa mengatur pertemuan ku dengan semua karyawan tadi, aku ingin membahas..
"Pak!" seru Inez.
Wiliam menjedah ucapannya dan memutar tubuhnya.
Belum sempat Wiliam meneruskan ucapannya, Inez sudah memotong, dan ia beranjak dari duduknya, berjalan mendekat "Tolong batalkan pertemuan dengan karyawan tadi. Aku tidak ingin Bapak mempermalukan diri Bapak sendiri."
"Tidak Inez, aku yang bersalah disini. Aku tidak ingin kau merasa terbebani dengan pengakuan ku tadi."
"Boy... tolong buat jadwal...
"Pak! aku menerima Bapak..."
"DEG!
"Ap-apa...? Wiliam membelalakkan matanya, ia masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "kau bilang apa tadi?
"Iya! aku menerima Bapak.."
Ponsel Wiliam terjatuh saking senengnya. ia berjalan mendekati Inez dan memeluk wanita yang sudah menerima dirinya.
"Terima kasih sayang.. akhirnya kau menerima cintaku." mencium kening Inez lembut "Aku sedang tidak berhayalkan?" menatap kembali wajah teduh inez.
"Tidak Pak! Kau sedang tidak berhayal." Inez menyentuh rahang Wiliam lembut. Wiliam menyentuh tangan Inez yang berada di rahangnya dan menciumi tangan itu penuh perasaan.
"Kita harus merayakan hari jadi kita." Wiliam tersenyum lebar tak hentinya ia tergelak karena bahagia.
"Tapi ini jam kerja pak!
"Sssttttt...! Wiliam menaruh telunjuk di bibir Inez "Jangan pernah panggil aku Pak, bila kita sedang berdua, okey?"
"Ta-pi..."
"Panggil saja willi."
__ADS_1
"Kak Wiliam bagaimana?"
"Hmmm.. baiklah, itu lebih enak terdengarnya daripada Bapak." Wiliam terkekeh.
Mereka saling bersitatap, ada kerinduan dan kebahagiaan yang mereka rasakan saat ini. jantung keduanya saling bertalu-talu dan gelenyar dalam dada seakan membuncah.
Tangan kekar Harlan meraih dagu Inez dan bibirnya semakin mendekat, ia mendaratkan bibirnya dan mencium bibir kenyal merah delima itu. Inez menutup mata dan merasakan ciuman Wiliam begitu lembut dan hangat, diiringi debaran jantung yang berima. kedua tangan Inez mendarat di dada bidang Wiliam. Tangan kiri Wiliam menyentuh tengkuk Inez dan tangan kanannya memeluk pinggang inez.
"JGLEK!
Roy yang tiba-tiba membuka pintu ruangan William terkejut "Ma-af Tuan!" ia menutupnya kembali.
Inez juga kaget dan baru tersadar saat ada seseorang yang membuka pintu, ia melepas pagutan nya dan mendorong dada Wiliam.
"Sial! Roy mengganggu saja! maki Wiliam dalam hati.
"Ma'af..." ucap Wiliam merasa bersalah.
Wajah Inez memerah seperti kepiting rebus. Ia menundukkan wajahnya karena malu. Lalu berjalan kearah sofa dan duduk kembali.
"Masuk Roy!"
JGLEK!"
"Ma'af Tuan, kalau saya mengganggu nanti saya kembali lagi."
"Katakan ada apa..?
"Tadi Tuan menelpon saya memberikan perintah, tiba-tiba tidak ada suara lagi. Saya takut terjadi apa-apa dengan tuan."
"Ahh! itu.." Wiliam mengusap tengkuknya dan salah tingkah, ia baru tersadar telah menjatuhkan ponselnya. "Tidak jadi, kau boleh kembali ke ruangan mu, kalau ada keperluan mendesak aku kabari lagi."
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi."
Roy menutup pintu kembali dan pergi dari ruangan Wiliam.
"Tunggu Inez! menarik tangan Inez saat ingin membuka pintu "Nanti sore kita dinner, untuk merayakan hari jadi kita."
Inez tersipu malu-malu dan mengangguk. "Baik kak Wili."
Sebelum Inez pergi Wiliam menarik Inez kedalam pelukannya dan mencium keningnya lembut "Tunggu aku di lobby, selesai pulang kerja."
"Iya kak! Inez mengurai pelukannya dan membuka pintu.
Inez melangkah pergi dengan kaki ringan, hatinya berbunga-bunga, senyuman terus mengembang, ada binar kebahagiaan dimata beningnya. Semoga ia tidak salah dengan keputusannya dan menerima William dengan tulus.
*
*
Mobil sedan putih berhenti tepat di sebuah perumahan Elite. Rumah mewah berlantai tiga itu, bercat putih gading dipadu warna gold. Sepasang suami-istri keluar dari dalam mobil yang terparkir.
"Mas akhirnya kita sampai di rumah baru kita. Sangat indah bukan?"
"Kau menyukai nya?"
"Tentu saja Mas, ini desain yang aku buat."
Harlan tersenyum "Iya sayang, Ayo kita masuk kedalam." Harlan menggandeng tangan istrinya dan berjalan masuk kerumah yang sudah Harlan bangun, untuk mahar istrinya.
"Selamat sore Tuan, Nyonya." sapa Asisten rumah tangga sopan, menyambut kedatangan Harlan day Lupita. Mereka membungkuk memberi hormat.
"Terima kasih atas penyambutannya." ucap Lupita ramah.
"Apa Tuan dan Nyonya ingin makan? kami sudah menyiapkan hidangan untuk menyambut kedatangan Tuan dan Nyonya." jawab salah satu asisten rumah tangga.
"Saya ingin istirahat dan mandi dulu Mbak, nanti malam saja kami makannya."
__ADS_1
"Baik Nyonya."
"Oiya siapa nama kalian? tanya Lupita untuk perkenalan.
"Nama saya Nursiah Nyah, panggil saja Nur dan ini Bi Ijah."
"Oke, selamat bekerja." ucap Lupita lembut "Ayo Mas kita ke kamar" Harlan mengangguk dan berjalan menaiki anak tangga bersama Lupita.
Malam itu udara berhembus sepoi-sepoi, bintang di langit tampak cerah. Lupita berdiri diatas balkon seraya menelpon seseorang.
"Hallo sayang..."
"Lupita.... seneng banget denger suara kamu lagi, aku kangen banget..." terdengar suara cempreng Inez dari ujung telepon.
"Ya sudah kerumah ya, aku sudah pulang."
"Sekarang..?"
"Iya sekarang! tadi sore aku baru pulang dari honeymoon." Lupita terkekeh.
"Ko cuma sebentar di Hawaii."
"Tadinya aku mau ke Hawaii, tapi Mas Harlan banyak pekerjaan yang tertunda, akhirnya cuma seminggu di Bali."
"Syukurlah kau pulang dengan selamat, sepertinya aku datang besok ajah ya, hari ini aku sedang diluar."
"Diluar dengan siapa Nez..." tanya Lupi penasaran.
"Anu-itu... lagi diluar sama temen ku."
"Nez! kau itu tidak bakat untuk berbohong. Ayolah siapa yang sedang bersama mu."
"Hemm.. Tu-an Wili-am.." ucap Inez terbata.
"Wow amazing... apa kalian sudah jadian? tanya Lupita tak sabar, karena ia sangat mendukung Inez dan Wiliam.
"Kasih tahu nggak ya....?" inez terus buat sahabatnya itu penasaran. suara gelakan tawa terdengar diujung sana.
"Kasih tahu donk..." kesal Lupi.
"Siapa yang sedang kau telpon sayang..." tanya Harlan, yang tiba-tiba memeluk erat tubuh istrinya dari belakang.
"Mas...! Lupita terpekik. "Jangan nakal tangannya." protes Lupita, karena suaminya malah mengigit kecil daun telinga Lupi dan menyentuh area sensitifnya, membuat tubuh Lupita bergidik.
"Siapa yang nakal Lup?" tanya inez polos.
"Tidak ada!" dusta Lupita karena ia tak ingin mendes*h didepan sahabatnya. "kau tidak mau berterus-terang sekarang? ya sudah aku tutup telponnya ya."
"Okeh, besok kita sambung lagi."
"Aneh! kenapa Lupita terburu-buru menutup telponnya?" gumam inez.
Wiliam yang berada di depan inez terkekeh "Tentu saja, suami bucin-nya tidak akan biarkan Istrinya bebas begitu saja."
"Maksudnya...?" alis Inez mengeryit.
"Sudahlah, nanti kalau kita sudah menikah, kau akan merasakan seperti Nona Lupita."
"What..?! Inez membelalakkan matanya.
🔥
🔥
🔥
@Maaf ya Up nya telat, beberapa hari ini Bunda sibuk di real, bulak-balik ke rumah sakit jagain kakak yang rawat inap.
__ADS_1
@Bersambung......