
"BRAKK!!!
"BRAKK!!
Mobil menghantam tebing dan berakhir tragis
"DUAAAARRRRR!!!!π₯π₯π₯π₯π₯
Mobil mereka hangus terbakar bersama suara ledakan yang maha dahsyat. Semua orang yang berada disekitar melihat kejadian tragis itu dan mengabadikan ponsel masing-masing.
Beberapa jam kemudian kepolisian datang untuk menginvestigasi kecelakaan itu dan mencari identitas si pemilik mobil dan orang yang berada didalamnya. Kepulan asap hitam keluar dari ledakan sedan hitam itu.
***
Mobil Harlan sudah berhenti didepan gapura. Ia menepikan mobilnya dibahu jalan. Langkah kakinya sangat panjang karena tak sabar ingin segera bertemu dengan isterinya.
"Tok! Tok! Tok!
"Lupita...."
"Lupita buka pintunya." seru Harlan masih terus mengetuk pintu.
"Apa Nona Lupi tidak ada dirumah? tidak ada penerangan didalam rumah." Wiliam berbicara sambil membenamkan wajahnya dikaca untuk melihat keadaan didalam.
"Mas sedang cari siapa..?" tanya tetangga sebelah yang terganggu dengan suara ketukan pintu.
"Lupita Istri saya.."
"Ohh Mbak Lupi? kaya nya sudah pergi siang tadi di jemput temannya."
"Di jemput temannya?" Harlan dan William saling bersitatap
"Tapi Inez sejak tadi berada di kantor." tukas Wiliam bicara pada Harlan.
"Temannya yang mana Mba? yang pernah tinggal disini juga? tanya Wiliam penasaran.
"Bukan Mas, tapi seorang Pria. Sepertinya mau pergi jauh, Mba Lupi bawa koper besar."
Harlan terbelalak "Apa ibu tidak salah lihat?! jantung Harlan bergemuruh, dadanya terasa sesak saat mendengar Lupi pergi dengan seseorang pria.
"Buat apa saya bohong atau mengada-ada, Kalau tidak percaya, mas boleh tanya sama ibu-ibu sini yang lihat Mba Lupi pergi sama seorang pria."
"Baiklah kalau begitu terima kasih." Wiliam menoleh pada Harlan dan menepuk pundaknya "Ayo tuan kita pergi, Nona Lupita sudah tidak ada."
"Dengan siapa Lupita pergi? lirihnya dengan mata berembun.
"Aku akan cari bersama orang-orang ku keberadaan Nona."
Dengan langkah gontai Harlan meninggalkan rumah Lupita.
Didalam mobil Harlan termenung, ia mengingat kembali kenangan bersama istrinya, helaan nafas berat terdengar lirih. Suara ponsel membuyarkan lamunannya.
"Emak menelpon? ahh.. sudah lama aku tidak berkunjung kerumah Emak."
Harlan menggeser tombol hijau.
"Hallo Mak..."
"Harlan..." hiks.. hiks...
"Kenapa Mak? ada apa..?
"Della... hiks..
"Kenapa dengan Della...? tolong Mak bicara yang jelas.."
"Della dan Tuan Alfonso tewas dalam kecelakaan mobil.." hiks...
"Ap-apa..? Mak tidak salahkan bicarakan! Mak tahu darimana..?"
"Tadi pihak kepolisian menelpon."
"Ya Tuhan..." airmata Harlan berjatuhan, masalah datang bertubi-tubi, tampaknya Harlan syok dan berbicara dengan suara bergetar.
"Dimana jenazah mereka, Mak?
"Di rumah sakit polri."
"Baiklah aku akan kesana."
"Mak akan datang diantar Pak Basir."
"Iya Mak, kita ketemu disana."
"Siapa yang mendapatkan musibah Tuan?"
"Paman dan Della mengalami kecelakaan dan meninggal di mobil."
"Ya Tuhan! kenapa Tuan Alfonso bisa bersama Della dalam satu mobil."
"Aku juga tidak tahu, lebih baik secepatnya kita kerumah sakit polri. Kita akan mengetahui kebenarannya."
Sedan hitam itu melaju dengan cepat menuju rumah sakit polri.
Suara isakan tangis Mak Isah begitu pilu kala mendapati keponakannya meninggal dengan tragis dan mati mengenaskan bersama Alfonso yang hangus terbakar, hanya tinggal tulang dan sebagian daging yang masih tersisa. Setelah di otopsi tim medis, mayat itu ternyata benar milik Della dan Alfonso, bahkan di terangkan Dokter forensik Kalau wanitanya sedang mengandung. Mak isah syok dan pingsan. Beruntung Harlan menangkap tubuh wanita paruh baya itu.
__ADS_1
"Della....! kenapa kau pergi secepat itu." hiks.. tangis Mak Isah saat terbagun dari pingsannya. Harlan juga terpukul dengan tragedi yang menimpa paman sekaligus Ayah biologisnya.
Harlan merangkul ibu asuhnya "Sabar ya Mak, ini sudah takdir Della dan Paman, kita harus ikhlas menerimanya.
Esok paginya..
"Maaf Tuan, jenazah akan segera di makamkan." Seorang perawat masuk kedalam ruangan rawat inap Mak isah.
"Baik Sus..."
Harlan, Wiliam dan Mak Isah pergi ke pemakaman. Dua peti jenazah di turunkan dari ambulans dan mulai di kuburkan. Sosok wanita berpakaian serba hitam datang dan menangis di pusara Della dan Alfonso. Tangan Harlan mengepal, ingin rasanya ia menarik wanita itu, namun Wiliam menahannya.
"Jangan sekarang Tuan, kita harus cari waktu yang tepat untuk dia mengakui perbuatannya."
"Kau harus terus pantau Margaret, jangan sampai dia kabur dari negara ini. Kalau perlu kita buat dia masuk perangkap kita!"
"Baik Tuan!"
Dua hari kemudian.
Ceklek!
"Sayang...." Margaret masuk kedalam ruangan Harlan dan berjalan mendekat.
"Hay honey.." Harlan menyambut kedatangan Margaret dan tersenyum.
Margaret langsung peluk Harlan "Sayang, aku sangat bersedih dengan kehilangan Paman, aku harap kita kembali ke Belanda dan menikah di Belanda, sesuai keinginan Paman Alfonso."
"Really...? kenapa harus di Belanda? kita bisa menikah disini.." Harlan tersenyum misterius.
"Tapi, Papa ku menginginkan kita disana Geo. Kedua orang tua ku sudah menyiapkan pernikahan kita disana, hari ini kita pulang ke Belanda." Margaret tersenyum puas seraya mencium pipi Harlan. Margaret beranggapan Harlan akan patuh padanya karena guna-guna itu masih berpengaruh.
"Okay.. tapi aku ada kejutan untuk mu sebelum pulang ke Belanda."
"Ohya? kejutan apa sayang..." Margaret tampak senang.
"Silakan masuk!"
Pintu terbuka, masuk beberapa pria berpakaian coklat lengkap dengan atributnya.
"Polisi...?! apa maksud mu Geo? marah Margaret, menatap tajam Harlan
"Ayo ikut kami kekantor polisi dan jangan melawan!" Dua orang polisi menarik tangan Margaret.
"Lepaskan! mau apa kalian! aku tidak mau ikuti kalian!! seru Margaret berontak
"GEORGIE!!! APA-APAAN INI, KENAPA POLISI MENANGKAP KU!!" teriak Margaret tak terima.
"Karena kau sudah buat kejahatan dengan menghancurkan hubungan ku dengan Lupita, melalui media ghoib, yaitu guna-guna dan pelet."
"Will...! tunjukkan buktinya."
Wiliam mengeluarkan rekaman Margaret, perlihatkan benda yang Wiliam temukan dalam kantor Harlan dan melacak dukun yang sudah bekerjasama dengan Margaret. Semua bukti sudah jelas dan Margaret tidak bila mengelak lagi.
"GEO ma'afkan aku? please tolong lepaskan aku, biarkan aku pulang ke Belanda. Aku janji tidak akan mengusik mu lagi.."
Harlan bergeming dan membiarkan polisi membawa Margaret pergi untuk di proses.
***
Sebulan telah berlalu, Harian terus mencari keberadaan Lupita, Namun belum juga ada tanda-tanda dimana Lupita berada.
"Cepat kerahkan semua orang-orang mu Will!! aku tidak bisa membiarkan isteri diluar sana, Kalau perlu kau bayar dektetif untuk melacak keberadaan Istriku!
"Siap Tuan!"
Sementara itu Lupita baru saja selesai mengadakan diskusi dengan beberapa anggota yang bergabung dalam perencanaan dan pengembangan perumahan di wilayah Samarinda.
"Bagaimana prestasi nya? tanya Ricky yang tiba-tiba sudah duduk di samping Lupita.
"Alhamdulillah... berjalan lancar. Ric! Kau selalu saja mengagetkan aku dan datang tiba-tiba."
"Aku akan selalu buat suprise untuk mu."
Hari itu Ricky datang ke Samarinda hanya untuk menengok Lupita. Ricky juga mengajak Lupita pergi setelah mengadakan pertemuan dengan sesama rekannya.
Disebuah Cafe tempat yang biasa mereka berdua kunjungi, kini mereka sedang duduk di atas balkon seraya melihat pemandangan indah dari atas.
"Lupi..."
"Hmm..."
"Apa aku boleh bertanya?
"Tanya apa Ric?"
Ricky menarik nafas dalam-dalam untuk menetralisir perasaannya "Apa kau tidak akan kembali lagi pada suamimu? hmm.. maaf bila pertanyaan ku menyinggung."
Lupita terdiam, entah kenapa ia sangat sensitif bila teringat Harlan suaminya, Lupita gelengkan kepala "Entahlah aku tidak tahu, sampai sekarang suamiku tidak pernah mencari ku dan aku juga tidak ingin di gantung."
"Bila kau mau, aku ada seorang pengacara, dan akan membantumu untuk menyelesaikan masalah pernikahan mu dengan mengugut suamimu."
Lupita terkejut dengan rencana Ricky "Aku belum berfikir kearah sana Ric! biarkan rumah tangga ku menjadi urusanku, aku tidak ingin melibatkan orang lain."
"Apa kau masih mencintai suamimu?"
__ADS_1
"Tentu saja, Mas Harlan adalah cinta pertamaku, tidak mudah melupakan sosok Pria yang sudah menemaniku setahun lebih." ucapnya dengan mata berembun.
Ricky menghela nafas panjang "Sampai kapan kau akan menggantung status mu? bila kau berpisah dengan Tuan Goergie, aku akan menikahi mu." ucap Ricky terus terang. Lupita yang sedang menyedot es lemon tea karena sesak menahan tangis, tiba-tiba tersedak. Dan parahnya lagi Perutnya merasa mual saat mencium aroma spaghetti yang baru saja pelayan taruh diatas meja.
"Huek...!" Lupita menutup mulutnya dan berlari menuju toilet.
"Lupi, Kau kenapa?" tanya Ricky mengikuti Lupi ke toilet.
"Huek.. huek... huek..." Lupita mengeluarkan cairan kuning dan tubuhnya terasa lemas, yang terus menerus muntah.
"Lupi, kau tidak apa-apa?!
"Kenapa kau masuk kedalam? ini toilet wanita." omel Lupita.
"Aku tidak peduli, aku sangat khawatir padamu, lihat wajahmu pucat. Apa aku antarkan kerumah Sakit."
"Tidak usah, aku mau pulang saja!" Lupita berjalan perlahan sambil memijit keningnya yang terasa pusing. Tiba-tiba tubuhnya lunglai, beruntung Ricky cepat menangkap tubuh Lupita tidak sampai jatuh.
"Dokter! seru Ricky sambil menggendong tubuh Lupita "Tolong periksa keadaannya, tiba-tiba ia pingsan setelah muntah-muntah."
"Baiklah Pak! tolong tunggu diluar kami akan periksa keadaannya."
Setengah jam Ricky menunggu, Dokter keluar dari ruangan UGD.
"Bagaimana keadaannya Dok!
"Selamat, istri anda hamil dan sudah berjalan tiga bulan."
"Hah?! Hamil ..?"
"Apa anda tidak senang?
"Ahh.. tentu saja saya senang, Dok! terimakasih banyak Dok."
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu, istri anda akan di pindahkan kerungan rawat inap."
Ceklek!
"Lupi..." Ricky berjalan mendekat "Kenapa kau menangis? seharusnya kau bahagia, ada janin di dalam rahimmu."
"Entahlah aku tidak tahu, apa harus senang atau tidak! Bahkan kehamilan ku sudah berjalan tiga bulan, dan bodohnya aku tidak mengetahui ada nyawa didalam sini." hiks... "Aku sedih karena tidak ada suamiku disini."
"Apa kau merindukan suamimu..?" tanya Ricky dengan tatapan nanar. Lupita mengangguk sambil mengusap airmatanya.
Sebenarnya Ricky tahu kalau Harlan sedang mencari isterinya dan egois nya Ricky masih merahasiakan keberadaan Lupita. Sebenarnya Ricky sangat mencintai Lupi sejak kuliah dulu, Namun mereka sempat terpisah, karena Ricky meneruskan kuliah di Singapura.
Ricky keluar dari ruangan Lupi dan menelpon seseorang.
"Sampaikan pada Tuan Goergie, istrinya berada di Samarinda!"
klik! selesai berbicara Ricky mematikan sambungan telepon "Tidak seharusnya aku memisahkan kau dengan suamimu, ada kehidupan baru yang akan melengkapi kebahagiaan mu." Ricky tersenyum dan bernafas lega. ia tidak ingin menjadi duri dalam rumah tangga Lupita.
Esoknya....
Suara langkah kaki berjalan dengan cepat dan menyusuri lorong rumah sakit.
Ceklek!
"Lupita...."
Tiba-tiba Harlan berlari dan berhambur memeluk Lupita yang masih berbaring diatas ranjang "Sayang ma'afkan Mas, aku mencarimu sebulan lebih, kenapa kau pergi meninggalkan aku..." ucap Harlan penuh penyesalan
"Bukankah Mas yang lebih dulu menjauhi ku dan tidak menganggap aku ada! cetus Lupita membuang wajahnya.
"Nona! maaf bukan saya ikut campur, tapi semua itu adalah perbuatan Margaret dan Della." Wiliam menceritakan semuanya.
"Apa..? Della dan Tuan Alfonso meninggal dalam kecelakaan?! Lupita membekap mulutnya tak percaya.
"Margaret juga sudah di penjara dan mendapat vonis lima tahun penjara."
"Semua sudah berlalu Sayang.. sekarang kita pulang." Harlan mengusap dan mencium perut Lupita yang mulai berisi "Aku berjanji akan menjaga mu dari anak kita."
"Jadi kau sudah tahu aku hamil Mas?"
"Iya sayang..."
Lupita bangkit dan memeluk suaminya "Mas.. aku sangat merindukanmu." hiks... "Aku butuh seorang ayah untuk anakku."
"Iya sayang... Mas juga sangat rindu setengah mati dan berjanji akan mencintaimu seumur hidupku. Apa kau sudah memaafkan Mas?
Lupita mengangguk dan tersenyum.
"Selamat tinggal Lupi, semoga kalian bahagia." Ricky hanya menyaksikan kebahagiaan wanita yang ia cintai bersama suaminya dari luar jendela kaca. Cinta tidak selamanya harus di miliki bukan? Ricky berjalan dan meninggalkan ruangan Lupita dengan perasaan hampa.
Seminggu kemudian Lupita sudah kembali pulang dan Kini mereka sedang berbahagia merayakan pesta pernikahan di sebuah Hotel berbintang. Harlan dengan lupita dan Wiliam dengan Inez, mereka berdiri menyambut para tamu undangan yang hadir. Kedua pasangan pengantin sudah resmi menikah secara agama dan Negara.
Setelah pesta usai, Harlan menggendong Lupita, dan Wiliam mengangkat tubuh inez ala bridal style. Mereka berjalan bersama dan masuk kedalam kamar masing-masing.
_________TAMAT________
@Wow bab nya sangat panjang.. 1900. Terima kasih banyak para readers yang sudah setia dan terus mendukung karya receh BUNDA.. Maaf bila ada salah dalam komentar Bunda yang kurang berkenanππ
@Sampa berjumpa di novel terbaru, yang berjudul "TERJERAT CINTA BODYGUARD KU"
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...ππ
__ADS_1