Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Menjalani Rumah Tangga


__ADS_3

"Seprai sudah aku ganti yang bersih. Mas tidur yang nyenyak, besok pagi aku bangunkan."


"Terima kasih Lupi. Kau juga harus istirahat yang banyak. Tidak usah banyak pikiran untuk hari esok. Ada aku yang selalu menemani mu." ucap Harlan lembut.


"Deg! jantung lupita berdebar cepat. Seketika darahnya berdesir. Ada perasaan yang tak biasa dalam hatinya. Lupita mengangguk pelan. Berjalan keluar kamar dan menutup pintu. Setelah mematikan lampu tengah, ia masuk kedalam kamarnya.


Teng, teng, teng,...


Terdengar seseorang mengetuk pintu besi di luar teras. Lupita yang belum bisa tidur pulas, tersentak kaget. ia melihat jam dinding yang menggantung. jam sudah pukul 2.15 menit.


"Mba Lupi!


Suara seorang Pria memanggil. Lupita beranjak dari ranjang dan membuka pintu kamar. ia membuka sedikit gorden dari ruangan tamu, melihat siapa yang memanggil namanya.


"Ada tiga orang pria didepan pintu besi. Lupi mengamati wajah tiga orang itu. Sepertinya ia mengenalnya.


"Siapa yang berada di luar?


Tiba-tiba suara Harlan mengagetkan Lupita. Ia sudah berdiri dibelakang punggungnya.


"Mas! bikin aku kaget saja?!


"Ada apa sih!


"Itu ada tiga bapak-bapak di depan pintu besi."


"Mba Lupi! kami warga yang sedang meronda." mereka terus memanggil, tapi Lupi belum berani membuka pintu.


"Kodir! udah kita pergi ajah. Nggak enak manggil mereka, pasti mereka sedang wik..wik..wik.. baru saja mereka menikah tadi." ujar bapak satunya.


"Oiya, ya...aku lupa, mereka baru menikah. Ya sudahlah biarkan saja."


"Sudah buka saja, mungkin mereka ada perlu." saran Harlan.


Ceklek!


Lupita dan Harlan keluar bersama.


"Maaf bapak-bapak ada apa ya? tanya Harlan berjalan kedepan pintu besi.


"Mas, maaf ganggu, kami bertiga sedang meronda, ini kenapa motornya tidak di masukin kedalam."


"Astaga! Harlan terkejut, ia melupakan motornya yang berada diluar pagar. Harlan mendorong pagar dan merogoh kunci motor dalam saku celananya.


"Terima kasih banyak ya Pak, sudah mengingatkan. Saya benar-benar lupa." kata Harlan sambil memasukkan motor kedalam teras.


"Hati-hati Mas, disini banyak maling, Gak boleh meleng sedikit langsung hilang, beruntung motor Mas masih ada."


"Siapa yang mau dengan motor ini Pak, dijual juga gak ada yang mau, ya beginilah motor butut, udah tua." ujar Harlan merendah.


"Masih mending Mas, punya motor. gak repot kalau mau pergi kemana mana."


"Hehehe... iya pak, sekali lagi terima kasih ya."


"Kalau begitu saya permisi dulu, Mas, masih mau keliling."


Ketiga Bapak-bapak itu pergi untuk meronda kembali. Harlan memasukkan motornya kedalam ruangan tamu. Sebenarnya bagi Harlan motor itu ilang tidak masalah, ia bisa membeli yang lebih bagus dan mahal. Tapi masalahnya, ia masih harus menutupi jati dirinya.


"Mas ko bisa lupa, motor diluar pagar."


"Iya, aku tadi gak inget motor, maklum di suruh nikah oleh warga, jadi panik."


"Ya sudah Mas tidur lagi ajah, sudah jam setengah tiga."

__ADS_1


"Kamu juga tidur."


"Tidak Mas sudah tanggung. Aku mau sholat tahajud saja, sampai bedug subuh."


Lupita berjalan ke kamar mandi untuk berwudhu. tak lama ia membuka pintu kamar dan menutupnya."


Didalam kamar Harlan sulit untuk tidur. Apalagi tadi ia membuka pesan masuk dari Wiliam, kalau Mak Isah menanyakan dirinya.


"Masih ceklis, Wiliam mungkin sudah tidur."


Membaringkan tubuhnya kembali diatas kasur busa milik Lupita "Gadis Sholeha, aku tidak menyangka Lupita gadis sederhana dan rajin ibadah, sama halnya dengan Emak, di kampung ia tidak pernah meninggalkan sholat tahajud. Dari kecil aku di didik mengikuti ajaran agama Mak, dan aku bersyukur bisa menerima dan menjalankan ibadah itu tanpa beban. Sekarang aku sudah bukan pria lajang lagi, aku sudah memiliki seorang istri dan bertanggung jawab penuh atas hidup Lupita.


#####


Jam sudah menunjukkan pukul Lima pagi, Lupita sudah selesai sholat subuh. ia keluar kamar dan memasak air. Merendam pakaian kotor, dan beberes rumah sudah kebiasaan Lupita sejak dulu. Air sudah masak, ia menaruh kedalam termos. Mengambil cangkir, dan membuat kopi hitam untuk Harlan.


Menaruh kopi diatas meja makan.


"Sudah jam setengah enam, aku mau belanja sayuran dulu."


Lupita melihat kamar Harlan masih tertutup.


"Gak apa-apa aku tinggal sebentar, nanti kalau mas Harlan bangun sudah ada kopi."


Lupita berjalan kearah pintu, dan menutupnya dari luar. ia membuka mendorong pintu besi. Berjalan kedepan jalan raya untuk membeli sayuran, yang biasa Abang-abang suka mangkal pakai gerobak.


"Bang sayur kangkung nya ada." tanya Lupita yang ikut menyerbu bersama para ibu ibu.


"Ada neng butuh berapa iket?


"Dua iket ajah bang."


"Eehhh, ada pengantin baru. Enak ya yang habis di gerebek semalam."


"Bi Surti!


"Kenapa? mau marah ya.. dasar wanita murahan! pantas saja mengusir kami bertiga. Rupanya mau mesum di rumah sendiri! dasar otak mesum, nggak punya malu! berzinah ko di rumah sendiri? tuh cowok miskin banget gak mau modal, main tuh di hotel bukan di rumah!


"Astaghfirullah..." Lupita mengelus dadanya.


Lupita sangat dongkol, ia ingin sekali memaki dan meludahi wajah bibinya yang, selalu saja bikin provokator, di depan ibu-ibu sedang belanja sayuran.


"Bibi jangan fitnah! itu hanya salah paham! apa jangan-jangan semua itu perbuatan Bejo dan bibi kan! Sengaja bikin malu dan memfitnah aku didepan para warga! seru Lupita.


"Ehh enak ajah luh! jangan asal main tuduh! Surti ingin menampar wajah Lupita, dengan cepat ia menahannya "Jangan sembarangan mau main nampar! seharusnya yang di tampar itu anak bibi! suatu saat akan tahu kelakuan anaknya!


"Hey! jangan bawa-bawa nama anak gue ya! dengan reflek Surti menarik rambut Lupita.


Keributan tidak bisa dihindari.


"Sudah! sudah jangan ribut! pekik tukang sayur. "Kalau mau ribut jangan disini! sono di lapangan bola!


Lupita berhasil melepas tangan Surti dari rambutnya. "Disini orang pada mau belanja Bi! jangan cari ribut! sindir Lupita, menjauh.


"Ini juga perempuan udah tua kok nggak punya malu! pagi-pagi bikin ribut! ujar ibu ibu yang sedang belanja, menyindir Surti.


"Bang berapa semuanya." Lupita dengan cepat mengambil cabe, bawang, tomat, dua ikat kangkung dan satu ikan tongkol.


"Tiga puluh dua ribu neng!


"Ini bang uang nya." menyerahkan uang lima puluh ribuan.


"Ini ya neng kembaliannya."

__ADS_1


"Terima kasih ya bang!


Lupita berjalan cepat meninggalkan kerumunan orang-orang yang sedang belanja sayuran. masih terdengar di telinganya ocehan Surti yang terus menghinanya. Tapi Lupita sudah tidak pernah mau peduli dengan gunjingan orang-orang disekitar.


KREKK....


Pintu ruangan tamu terbuka, Lupita melihat Harlan sudah duduk di kursi makan sedang meyerumput kopi."


"Mas sudah bangun?


"Iya baru saja."


"Aku masak dulu ya mas, soalnya jam setengah tujuh aku berangkat kerja."


"Kenapa tidak minta ijin libur lagi, sama Wiliam."


"Loh ko Mas bisa tau nama Wiliam? dia itu kan asisten Presdir Georgie."


Harlan tersenyum samar saat namanya di sebut. ia menelan salivanya dan keceplosan. "Mas kan udah kenal, waktu kamu pingsan, Mas kan ketemu dengan pria yang bernama Wiliam." akhirnya Harlan bisa bernafas lega.


"Oh iya!


Setengah jam kemudian Lupita selesai memasak dan menaruh hidangan diatas meja makan. Lupita mengambil dua piring dan menaruh satu piring didepan Harlan.


"Biar aku yang ambilkan Mas." tawar Lupita


Menaruh nasi, ikan dan sayur kedalam piring."


"Di makan Mas, kalau kurang tambah lagi."


Memasukkan nasi kedalam mulut "Enak ko masakan kamu."


Lupita tersipu malu, mendapat pujian.


"Oiya Lupi, Mas harus pulang sekarang, soalnya belum buat laporan ke kantor, lagi juga mas belum bawa ganti baju."


"Tapi nanti, Mas pulang kan?


"Mas usahain ya, soalnya banyak pekerjaan kantor yang harus di urus."


"Mas kaya orang penting ajah, padahal kan cuma kurir." hehehehe... Lupita terkekeh.


"Iya, banyak pengiriman barang hari ini."


Harlan sudah menghabiskan makannya.


"Mas, kalau nanti pulang, jangan lupa bawa baju semuanya kesini, baju kotor mas bawa ajah biar aku yang cuci."


"Iya Lupi, nanti kalau mas kesini lagi, bawa baju dari kosan. ya sudah Mas mau mandi dulu."


Lupita masuk kedalam kamar, dan kembali dengan membawa handuk bersih dan kaos.


"Ini mas handuknya, Dan kaos ini masih baru. dulu aku membelikan buat paman, tapi dia keburu sakit dan meninggal, jadi tidak sempet di pakai."


"Ya sudah, aku pakai."


Harlan masuk kedalam kamar mandi, Lupita mencuci piring bekas ia makan. Selesai beberes ia masuk kedalam kamar untuk mengganti pakaian.


'


'


'

__ADS_1


@Bersambung.....💃💃💃


__ADS_2