
WELCOME BACK READERS!!❤️❤️
Tolong kasih jejak kalian setelah membaca!! HAPPY READING ❤️
...•••••...
Jam menunjukan pukul 6.30 PM dimana Retha sedang asik menonton film di bioskop yang ada di mansion seorang diri.
Tapi aktivitas nya terganggu oleh dering telepon yang masuk.
📞 My Prince is calling, ,
Melihat nama sang kakak di layar handphone membuat Retha mengecilkan suara film yang sedang diputar.
"Hello Abang sayang, why call me. you miss me?". Canda Retha dengan ceria.
"Miss you. Abang cuma mau kasih tahu kita akan dinner di luar Abang ada meeting sebentar lagi. you want to?". Ucap Marvel dari sebrang telpon.
"Ok, Retha sama Arga siap siap dulu. Abang share lok tempatnya".
"Baiklah Abang tunggu. Bye princess".
"Bye, my prince".
PIP*
Panggilan Retha matikan lalu beralih mematikan film yang belum habis. Kaki jenjangnya melangkah menuju kamar Arga dengan pintu bercat hitam.
Tok tok tok
Cklek
Belum dipersilahkan masuk Retha sudah membuka pintu. Terlihatlah Arga yang sedang duduk di depan komputer yang menampilkan game.
Setiap hari selalu main game tanpa terlewatkan bahkan Arga sudah mendapat penghasilan dari main game membuat Retha tambah memoroti uang Arga tanpa ampun.
Dor
Berniat mengejutkan Arga tapi pemuda dingin itu tidak bergeming sama sekali.
"Kagak seru ih". Ucap Retha dengan bibir ditekuk.
Tangannya terulur membuka earphone ditelinga Arga bagian kanan. "Bang El ngajak dinner diluar". Retha mengucapkan tujuannya masuk ke kamar Arga.
Tanpa menunggu jawaban terlebih dahulu, Retha melenggang pergi untuk bersiap-siap berdandan secantik mungkin padahal dirinya udah cantik walau tidak memakai riasan apapun.
Tak lama Retha selesai bersiap dengan mengunakan atasan berbahan rajut dilapisi tank top dan bawahan rok hitam diatas lutut.
Lalu Retha kembali ke kamar Arga untuk memanggil pemuda itu berangkat.
"Yuk".
Satu kata membuat Arga mematikan komputer lalu mengambil handphone serta kunci mobil yang ada diatas meja.
Pakaian yang Arga kenakan berwarna hitam membuat keduanya sangat serasi seperti sepasang kekasih.
Mobil yang dikemudikan Arga melesat ke tempat yang dituju.
15 menit sampailah mereka di depan gedung yang menjulang tinggi.
"Bukannya ini hotel?". Heran Retha menatap sekeliling.
Keduanya tidak langsung keluar, Arga memastikan terlebih dahulu kepada abangnya tentang lokasi dinner malam ini.
Baru beberapa dering sudah terdengar suara dari sebrang. "Ada apa ga?". Ucap Marvel dari sebrang telpon.
__ADS_1
"Bang El udah sampai? Kita udah di palkiran? Tapi kok hotel?". Tanya Arga berderet.
Jangan kaget, karena itulah Arga saat bersama orang yang dia sayang.
"Iya benar. Kita makan di sana kebetulan Abang ada meeting sama pemilik hotel itu. Kamu tunggu di palkiran Abang bentar lagi sampai".
Bersamaan dengan ucapan Marvel, mata tajam Arga melihat mobil yang sangat familiar masuk ke area hotel.
"Arga lihat mobil Abang".
"Em, Abang tutup dulu".
PIP*
Panggilan dimatikan. Sebelum berbicara, Retha juga sudah melihat mobil abangnya masuk membuat gadis itu membuka pintu untuk keluar.
"Retha mau peluk tapi Abang bau belum mandi". Canda Retha menutup hidung tapi tetap saja tubuhnya menempel pada Marvel.
""Katanya bau? Kok malah nempel terus".
Bukan suara abangnya yang terdengar membuat Retha menegakkan kepala. Lalu seketika matanya membulat sempurna.
"Kak Felix?". Gumam Retha gak percaya. Kalau Richard, Retha gak kaget karena kemanapun abangnya pergi dia akan ikut.
"Kenapa? Kaget?". Felix mengusak rambut Retha gemes.
"Kok bisa?".
"Kita masuk dulu, Abang gak punya waktu banyak". Marvel menggandeng Retha dengan tangan di pundak memasuki hotel menuju restoran yang ada di atap.
"Untuk dia, gak penting". Lanjut Marvel berbisik di telinga Retha membuat gadis itu terkekeh kecil.
"Apa lo? Kalian pasti ngomongin gue kan?". Tebak Felix saat mata biru retha menatap dirinya sambil tertawa kecil setelah dibisiki Marvel.
"Gak penting". Celetuk Retha langsung tertawa lagi sambil memeluk Marvel.
Sedangkan Marvel yang gemes mengelus kepala Retha dengan sayang.
....
Ada banyak alasan Marvel makan terlebih dahulu saat akan meeting namun itu sudah biasa baginya untuk menyempatkan makan bersama dua adiknya jika tidak sibuk bekerja.
"Abang meeting dulu. Takut lama kalian pulang duluan juga gak papa". Marvel menatap jam tangan sekilas.
"Emang meeting nya lama?".
"Tergantung, Abang juga gak tahu". Balas Retha dengan anggukan.
"Kita disini dulu bang". Balas Arga.
"Tumben nih bocah mau maen diluar biasannya depan komputer doang bisanya". Ledek Felix tapi gak ada respon.
"Ya udah Abang pergi dulu". Tak lupa juga Marvel mengusak rambut Retha dengan lembut lalu meninggalkan meja mereka menuju tempat meeting.
Sepeninggalan kakak tertuanya Retha menatap Felix yang masih ada disana.
"Nafa mau usir gue?".
"Tau diri juga". Celetuk Retha tak berdosa.
"Kalau gak ada urusan lagi gue bakal tetap disini recokin lo pada, tapi sayang alam berkehendak lain". Ucap Felix lalu melambaikan tangan meninggalkan restoran.
Jadilah mereka hanya berdua di restoran dengan Retha memesan makanan penutup lagi sedangkan menatap keindahan malam yang ada di restoran itu.
Fokus dengan perbincangan kecil tiba tiba alis mata Retha terangkat melihat beberapa orang yang baru masuk.
"Eh, yayang Retha disini juga. Boleh gabung gak?". Belum juga menjawab kelima pemuda itu sudah duduk di meja Retha dengan santai.
__ADS_1
"Sorry tha kita ganggu acara dinner date kalian". Sahut Reza.
Kening retha mengerut. Jadi ini anggapan mereka, pikir Retha.
"I'ts okay". Balas Retha santai. "But, gue juga bareng Abang gue tadi. So, kalian tumben nongki disini?". Lanjut Retha panjang lebar.
Gadis itu sudah sedikit terbuka untuk bicara panjang lebar. Sifat Retha memang cuek diawal dan akan hangat jika sudah sering berinteraksi. Apalagi jika lawan bicaranya asik seperti Roby.
"Kita sering nongkrong disini walaupun jarang, lumayan makanan gratis".
"Tujuan utama nya sih kalau kesel tinggal lembar aja". Sahut Dirga tanpa dipikir dulu.
"Boleh tuh, boleh gue coba gak?".
"Emang lo kesel sama siapa?". Tanya Reza.
"Iya,Bilang sama Abang". Roby menepuk dada.
"Nih orang dua, dah kaya tembok berjalan". Tunjuk Retha kepada galih dan Ray. Untuk galih masih sesekali bicara tapi Ray, bahkan Retha belum pernah mendengar suaranya sama sekali.
"Tuh yang disebelah gak ada niatan buat dilempar juga?". Ucap Reza menunjuk Arga yang diam dari tadi.
Retha menatap ke samping dimana Arga santai bermain ponsel tanpa merasa terganggu. "Gak bakal mempan dia mah". Celetuk Retha asal.
"Dasar bucin, bilang aja gak mau".
"Ta--, , ,".
Drrrttt drrrttt drrrttt
Suasana meja seketika hening saat terdengar suara panggilan masuk ke ponsel Arga. Retha yang ingin berbicara mengalihkan perhatiannya pada Arga.
"Ga, Abang ada lembur di kantor sepertinya gak bakal pulang malam ini. Tadinya mau pamit tapi Abang buru buru. Berteman boleh asal ingat pesan Daddy sama Abang, oke". Ucap Marvel di sebrang telpon.
"Oke".
"Abang ko telpon Arga sih telpon Retha". Retha merebut ponsel Arga tanpa izin.
"Maaf sayang, Abang ada urusannya sama Arga bukan sama kamu".
"Ish, Abang gak sayang adik perempuannya kalau gitu". Ucap Retha merajuk.
"Hehe, just kiding princess".
"Retha tahu".
"Ya udah Abang tutup dulu. Ingat, langsung pulang jangan mampir kemana mana". Ucap Marvel memperingatkan.
"Siap komandan".
"Good night princess, sweet dreams".
"Ish Abang Retha belum mau tidur". Pekik Retha pelan.
"Sekalian, bye princess".
"Bye my--, , ".
PIP*
Belum selesai menjawab panggilan sudah terputus membuat retha kebingungan.
"Jangan mikir yang aneh aneh mungkin lagi sibuk". Ucap Arga mengelus kepala Retha.
Hal itu membuat pada pemuda yang ada disana diam gak percaya. Lagi lagi mereka melihat sikap Arga yang susah ditebak.
...•••••...
TBC
__ADS_1
Jangan lupa like dan commentnya kalo kalian suka cerita ini ❤️ See u next part 🥰