Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Kesabaran seorang Istri


__ADS_3

Harlan berjalan kearah balkon dan melempar ponsel Lupita ke kolam renang yang berada di bawah balkon.


Lupita terkejut dan membekap mulutnya tak percaya, dengan perbuatan suaminya.


"Mas! kenapa kau tega membuang ponselku!


"Sayang..., ponselmu sudah tak layak pakai, nanti Mas belikan yang baru, oke..." ucap Harlan santai, seraya berjalan masuk kedalam kamar mandi.


Siang itu mereka sudah bersiap-siap untuk pulang ke jakarta, Selesai sarapan Lupita dan Harlan keluar dari penginapan dan masuk kedalam mobil yang sudah terparkir di depan resort.


Didalam mobil, selama dalam perjalanan menuju bandara Gusti Ngurah Rai, Lupita hanya terdiam tanpa satu katapun berbicara pada suaminya. Ia masih begitu kesal dengan sikap Harlan yang sok kaya dan menggampangkan uang, Bukan hanya masalah ponselnya saja, namun, banyak nomor penting di dalam ponsel itu. Begitu kira-kira gerutu Lupita dalam hati kecilnya.


Harlan yang sedang mengetik pesan, ekor matanya melirik pada Lupita yang membuang tatapannya ke samping jendela. Selesai mengirimkan pesan pada Wiliam, Harlan masukan ponsel kedalam saku celananya dan mulai menghibur Lupita.


"Sayang..." menyentuh tangan Lupita yang berada diatas pangkuannya.


"Ma'afkan Mas ya." Lupita tertunduk dan hanya terdiam mengunci bibirnya, seraya menarik nafas dalam.


"Kau tidak mau memaafkan, Mas? kau tidak usah khawatir, Mas berjanji akan mengganti ponselmu yang mas buang dan lebih bagus."


Lupita masih terdiam, karena iba, iapun membuka suara "Sudah Mas, tidak usah diganti. Aku tahu Mas tidak memiliki uang untuk membeli ponsel, bahkan kita ke Bali saja hadiah dari Bos Mas, Aku tidak akan tega menuntut suamiku untuk membelikan ponsel itu, ku akui mungkin aku bersalah padamu, Mas! karena telah menerima telepon dari seorang pria." ucap Lupita pelan, seraya menoleh wajah Harlan yang terus merasa bersalah.


Ahh, Lupi? kenapa kau selalu membuat aku merasa bersalah dengan kata-katamu yang tulus. kau meremehkan suamimu, kau pikir aku tidak sanggup membelikan ponsel, bahkan pabriknya saja aku sanggup membeli untukmu. Kau kecewa padaku, bukan? aku sudah melemparkan ponselmu ke kolam renang? aku yang bodoh, kecemburuan telah membuat ku kehilangan akal sehat." gumamnya dalam hati.


"Tidak sayang, Mas tetap akan menggantinya, itu adalah kesalahan Mas. Tidak peduli harus pinjam uang sana-sini yang terpenting kau harus memiliki ponsel lagi, Nanti bagaimana bila kau bekerja tidak ada ponsel? sekali lagi ma'afkan Mas ya." sesal Harlan menciumi kedua jemarinya.


"Aku bisa membelinya bulan depan, saat gajian. Aku tidak mau Mas mencari uang pinjaman hanya untuk membeli ponselku."


Harlan menarik nafas dalam-dalam, dadanya terasa sesak, Lupita telah mengalahkan egonya, dan tidak ingin merepotkan suaminya. Padahal itu adalah Kesalahannya, ia merasakan ketulusan dari seorang istri yang tidak menganggap harta dan uang adalah segalanya, bahkan Lupi sama sekali tidak menuntut pada suaminya untuk meminta ganti, justru Lupi merasa bersalah karena telah mengecewakan suaminya.


"Ya Tuhan, suami macam apakah aku ini? yang sudah kecewakan dan menyakiti hati istriku? Lupi, aku berjanji akan perjuangkan Cinta kita dan bertahan bersamamu, kini aku telah menemukan batu permata yang sesungguhnya dalam dirimu." batinnya lirih.


Harlan menarik Lupita dalam pelukannya, dan airmatanya jatuh ke pundak Lupi yang merembes ke kulitnya.


"Mas menangis?! Lupita mengurai pelukannya dan menatap lembut netra coklat Harlan.

__ADS_1


"Mas jangan bersedih ya, aku sudah tidak apa-apa kok! tersenyum terbit, membuat Harlan tidak merasa bersalah lagi.


Harlan membalas tatapan lupita penuh kehangatan "Apa kau tidak akan marah? bila suatu saat ada sebuah rahasia dan ternyata suamimu telah berbohong padamu?!


"Berbohong?! apa maksud Mas? mencari kebenaran dalam mata Harlan, namun, Lupita tidak menemukan keganjalan, hanya ada sedikit keraguan. "Berbohong tentang apa, Mas? tanya Lupi penuh selidik


"Sudahlah nanti kita bahas lagi, aku hanya ingin kau memaafkan aku dan jangan pernah meninggalkan ku." merangkul pundak Lupita dan bersandar pada jok mobil.


Harlan sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia sedang berfikir bagaimna caranya berbicara dan berkata jujur pada Lupita, siapa dirinya sebenarnya. tanpa Lupita merasa kecewa dan telah di bohongi.


Perjalanan menempuh Bandara, hanya menempuh satu jam perjalanan. Mereka sudah sampai dan masuk kedalam jet pribadi, yang Harlan bilang masih milik bos-nya yang baik hati, Bos-nya sudah memberikan bulan madu gratis tanpa biaya apapun yang hanya di anggukan oleh Lupita demi menyenangkan hati suaminya.


Tiga jam di dalam pesawat, mereka sampai di Bandara internasional Jakarta. Mobil taksi membawa mereka kerumah Lupita yang berada di Jakarta Selatan. Selama di dalam mobil, Harlan tidak melepaskan genggaman tangannya pada Lupita.


Setelah membayar taksi, mereka turun dari mobil, dan berjalan ke gang sempit menuju rumah Lupita, kebetulan jam sudah menunjukkan pukul enam sore. Menjelang magrib biasanya para ibu-ibu yang ngerumpi dan suka bergosip didepan salah satu rumah tetangganya, akan bubar dan masuk kedalam rumah masing-masing diikut anak-anak mereka.


Lupita mengambil kunci dari dalam tasnya dan membukanya.


JEGLEK ... JEGLEK...


Pintu rumah terbuka lebar, Harlan membawa masuk dua koper yang berada di tangannya, dan masuk ke dalam kamar. ia merebahkan tubuhnya karena lelah seharian didalam perjalanan. Tiba-tiba Harlan dikejutkan oleh suara pekikan Lupita, Sontak saja Harlan kaget dan berlari keluar dari kamar.


"Mas lihat Tv, kipas angin, kulkas dan mesin cuci kita hilang!


Harlan melihat barang-barang itu sudah tidak ada di tempatnya. "Siapa orang yang sudah berani masuk kedalam rumah dan mengambil semua barang yang belum sebulan kita beli."


Harlan berjalan ke arah pintu, dan ia melihat pintu dan kunci dalam keadaan baik. "Tidak mungkin maling masuk tanpa merusak kunci pintu, lihatlah pintu ini tidak rusak masih dalam keadaan semula, kurasa ada yang masuk melalui kunci duplikat. Lupi, apa kau memiliki dua kunci?


"Rasanya kunci rumah hanya ada satu, Mas."


"Cobalah kau ingat kembali, mungkin kau lupa memiliki dua kunci?


"Tapi... kalau pun ada, kunci itu sudah pasti dipegang Bi Surti, sebab selama ini dia yang sering memegang kunci rumah." Lupi terus berfikir, atau jangan-jangan mereka yang sudah masuk ke dalam rumah kita? tapi aku tidak berani menuduhnya karena belum ada bukti."


"Mau bukti apa lagi? Mas bukan menuduh mereka, pintu ini adalah bukti kalau ada yang masuk melalui kunci duplikat."

__ADS_1


"Ya sudah Mas, besok aku akan laporkan ke Pak RT, sekalian selidiki siapa yang masuk kedalam rumah ku?"


"Ya sudah kau istirahat saja, Mas mau mandi dulu, badan sudah lengket."


Lupi mengangguk dengan wajah sendu. Selesai Harlan mandi kini gantian Lupita yang masuk kedalam kamar mandi.


Di ruangan tamu.


"Yank, Nggak usah sedih ya? kalau barang-barang itu sudah hilang dan tak mungkin kembali lagi, sudah kita ikhlaskan saja, nanti Mas belikan lagi."


"Mas, mudah sekali bicara begitu, seakan memiliki banyak uang pohon! gerutu Lupi, kesal pada sikap suaminya yang seakan gampang mendapatkan uang.


"Bukan begitu yank, Mas hanya tidak ingin kau merasa terbebani, Mas banyak bersalah padamu, Mas janji akan kembalikan keadaan lebih baik lagi dan membawa mu pergi dari sini, tapi... beri Mas waktu ya."


"Mas mau bawa aku pergi? pergi kemana lagi, Mas? Lupi mengerutkan keningnya "Sudah waktunya kita banyak bekerja Mas, untuk apalagi pergi jalan-jalan?


"Bukan pergi jalan-jalan,sayang.." merapikan anak rambut Lupi yang berantakan "Tapi.. kita akan pergi kerumah Mas, rumah kita bersama yang lebih besar dan nyaman." Harlan tersenyum terbit.


"Jadi Mas Nggak suka tinggal disini? apa rumahku tidak layak dan nyaman untuk kita tempati bersama? tidak Mas, bagiku rumahku ini sangat nyaman, walau tidak besar tapi aku bahagia."


"Sayang, dengarkan Mas dulu. Kita bisa pulang kerumah ini seminggu sekali, Mas khawatir meninggalkanmu sendiri, bila mas lembur dan tidak pulang. Apalagi dengan kejadian seperti ini, Mas sangat takut." ucap Harlan lembut memberikan pengertian pada istrinya.


"Baiklah Mas, akan aku pikirkan lagi ya. Aku sudah sangat mengantuk dan lelah, besok pagi harus masuk kantor."


"Ya sudah, ayok! Lupita dan Harlan masuk kedalam kamar. Mereka berdua tertidur lelap diatas kasur dalam dekapan hangat.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Yuk ikuti terus kelanjutan nya, Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:


πŸ’œLike


πŸ’œVote


πŸ’œGift

__ADS_1


πŸ’œKomen


@Bersambung........πŸ’ƒπŸ’ƒ


__ADS_2