Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Mp Yang Menegangkan


__ADS_3

"Wow, banyak sekali hidangan ini, ada makanan seafood, beef steak, lobster panggang. Mana dulu yang harus aku makan Mas."


"Terserah kau mau makan apa,dulu?! makanlah yang banyak, agar kau kuat saat bertempur dengan Mas! seloroh Harlan sambil membuka kulit lobster, dan dagingnya ia taruh keatas piring Lupi.


Mata Lupi membulat "Apaan sih Mas! bibirnya mengerucut sambil komat-kamit, Harlan malah terkekeh.


Mereka berdua menikmati makan sore, Harlan begitu romantis memperlakukan istrinya, memanjakan dengan perlakuan yang manis. Memaksa menyuapi istrinya dengan alasan baru sembuh dari sakit. Lupita tidak menolak lagi keinginan suaminya yang mulai menunjukkan cinta dan sayangnya.


Selesai makan, mereka berdua duduk di teras sambil menatap pemandangan di depannya, Resort di tepi pantai sangat indah dan pikiran bisa traveling kemana-mana. jam sudah menunjukkan pukul enam lewat seperempat. Lupi tak pernah lupa untuk menunaikan ibadah magrib, di ikuti Harlan yang juga mengikuti ajaran Mak Isah saat di kampung, tanpa paksaan ia mengikuti agama Mak Isah, bahkan Harlan juga pintar membaca Alquran.


Selama empat tahun tinggal di Belanda, ia tidak pernah meminum khamar dan main judi seperti kebanyakan para pembisnis, ia justru menjauh dari hal itu, Pamannya Alfonso selalu menganggap Georgie sudah di cuci otak nya oleh ibu asuhnya dan mengikuti ajarannya. Alfonso seringkali berdebat dengan Goergie masalah ibu Asuhnya. Tapi Harlan selalu membelanya, sebab ia sangat menyayangi Mak Isah yang sudah 15 tahun mengasuh dan mendidiknya.


Lupita berjalan kearah balkon dan berdiri. ia mengadahkan wajah keatas, menatap bintang yang bertebaran langit. Deburan ombak terdengar riang, angin bertiup sepoi-sepoi menerbangkan sebagai rambut panjangnya. terlihat pohon kepala dan Palem bergoyang ke kanan dan ke kiri. Lupita tersenyum melihat keindahan alam di depannya, hal yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Dulu saat ia masih kecil, kedua orang tuanya setiap akhir pekan selalu mengajak pergi ke Ancol, tempat wisata yang ada pantainya.


Saat Lupi mengenang masa kecilnya, Sebuah tangan besar memeluk pinggangnya dari belakang dan menciumi tengkuk Lupi, ia tercekat dan merinding saat bibir itu terus menciuminya.


"Mas! desahnya pelan, Lupi sudah tak bisa menolak lagi. tangan kekar itu semakin erat mendekapnya. "Sudah waktunya sayang." bisik Harlan lembut. Lupita hanya terdiam, tubuhnya menegang dan merespon setiap sentuhan tangan suaminya. Harlan mengangkat tubuh Lupita, tidak ada penolakan darinya, Harlan tersenyum menatap istrinya seraya membawa Lupi masuk kedalam kamar.


Merebahkan tubuhnya ke atas ranjang, mata keduanya saling bersitatap saat posisi Harlan berada diatas Lupi, tatapan mata Harlan mengisyaratkan keinginan yang tak ingin di bantahkan, ia melepas jubah handuk yang melekat di tubuh istrinya. terlihat lingerie pink yang transfaran, selulit nya terlihat indah walau masih berbalut baju tipis halus. bra motif bunga terlihat jelas menyembul keatas, Harlan menelan salivanya saat gunung kembar itu terekspos, dan celana pink tak luput dari mata liarnya. Tubuh Lupi yang putih mulus tanpa cela terlihat jelas saat Harlan membuka lingerienya.


Harlan bangkit dan melepaskan seluruh pakaiannya, dan masih tertinggal boxser. Tubuh berotot dan terlihat bugar itu langsung menyergap bibir Lupita. Gadis polos yang belum mengerti sama sekali tentang percintaan dan ciuman, tidak bisa mengikuti permainan Harlan yang liar, sesekali ia menjedah ciumannya dan meneruskan kembali.


"Mas! seru Lupita saat ciuman itu terhenti


"Ada apa sayang..?


"Aku takut! ucapnya lirih.


"Kau tidak usah takut, Mas juga belum pernah melakukan ini, kita sama-sama belajar ya."


"Benarkah? mata Lupi membulat.


"Emangnya selama ini, kau pikirkan apa tentang aku? menatap wajah istrinya yang memerah seperti tomat.


"Ku pikir orang bule... udah." mata Lupi menerawang ke langit-langit.


"Sudah apa..? sergah Harlan menunggu jawaban istrinya.


'Anu...Eeggghhh..." Lupita m*ndes*h saat Harlan menciumi ceruk lehernya dan membuat stempel bulatan kecil. Harlan tidak memberi kesempatan istrinya bicara, hanya des*han dan erangan halus yang terdengar indah di telinganya, dua gunung kembar besar itu mulai ia Raup dan di lum*tnya, dimainkan dengan bibirnya yang bervolume.


Eeegghhh.....

__ADS_1


"Terus sayang, keluarkan suara mu yang merdu, aku begitu menikm*ti suaramu." desisnya pelan.


Hasrat Harlan sudah tak bisa ditahan lagi, juniornya sudah hampir meledak di bawah sana. Setelah melepas bra bagian atas, kini satu tangannya melepas Cd pink yang melekat indah dibawah pusar. Ciumannya turun ke bawah hingga menyentuh goa sakit milik sang junior.


Lagi dan lagi, Lupita mengerang nikm*t


"Eeeeggghhh... nafasnya tersengal-sengal menahan gejolak atas permainan suaminya dibawah sana. Dan senjata pamungkas itu masuk kedalam goa terlarang 😄


"Aaaaaaaaakkkkkk....


Lupi menjerit saat junior itu menjebol gawang (kwkwk, bola kali ahh..😄)


Gerakan yang Harlan lakukan pelan-pelan agar tidak menyakiti istrinya, menciumi kening, mata dan bibirnya agar Lupi tidak tegang. Lambat-laun Lupita ikut terbawa permainan suaminya yang menggairahkan. Membuatnya tidak bisa berkutik dan tidak bisa melupakan betapa hebat dan jantannya suaminya. Gerakan itu semakin cepat saat hampir mencapai puncaknya.


Keduanya mendes*h dan melenguh panjang saat mendapat pelepasan pertama. Permainan terhenti saat sudah mencapai klim*ks. Keringat Harlan di sekujur tubuhnya berjatuhan ke tubuh Lupi, ia menatap lembut wajah Lupita yang leleh, terdengar nafasnya yang tersengal.


Mencium lembut kening istrinya "Terima kasih sayang, kau telah menjaga kesucian mu yang paling berharga. Aku tambah yakin kau lah cinta terakhir ku." ucapnya lembut dan menjatuhkan tubuhnya di samping Lupi.


Harlan memiringkan tubuhnya dan memeluk erat tubuh polos Lupita tanpa sehelai benangpun.


"Tidurlah sayang, kau pasti lelah. Nanti kita lanjutkan lagi."


"Aku nggak betah Mas, ingin mandi, badan keringanan begini dan lengket."


"Ya sudah Mas isi air hangat di bathtub ya."


Tubuh kekar polos itu berjalan kearah kamar mandi. Lupi meregang kan semua ototnya yang terasa sakit semua. Ia bangun dan terduduk, saat itu bola matanya melihat ada bercak darah di sepray putih, ia terus meneliti di pangkal pahanya ada bekas darah.


'Ya Allah, Aku masih menstruasi, padahal sudah berhenti lima hari yang lalu, tapi kenapa keluar lagi ya, aduh aku jadi malu sama Mas Harlan." gumam nya.


"Sayang, airnya sudah ku isi, ayo kita mandi."


Lupi buru-buru menutup darah yang ia pikir itu darah menstruasi.


"Ada apa sayang, Kenapa kau tegang?


"Tidak ada apa-apa kok, Mas." tersenyum samar.


"Biar Mas gendong."


"Tidak usah biar aku jalan sendiri ajah."

__ADS_1


"Kau yakin? katanya tadi bilang sakit."


"Iya sekarang sudah tidak apa-apa." Lupi mencoba turun dari ranjang, ia mengambil handuk putih yang berada di tepi ranjang dan melilitkan tubuhnya, baru beberapa langkah ia berjalan, sudah meringis dan memekik.


"Aaccchhh..." Lupi terjongkok menahan perih.


"Masih sakit kan? ma'af kalau Mas terlalu cepat gerakannya, terlalu m*nikm*ti permainannya. Makanya jangan ngeyel, biar mas gendong.


Harlan melepas handuk yang melekat, dengan reflek Lupi menutupi bagian bawahnya dengan kedua tangan."


"Kenapa ditutupi? Mas sudah melihat semuanya, dari atas sampai bawah tidak ada yang tertutup satu inci pun."


"Bukan itu Mas, aku minta maaf. kalau tadi aku keluar darah menstruasi, padahal sudah selesai dari Lima hari yang lalu, apakah aku berdosa ya? wajah Lupi tertunduk malu.


Lagi-lagi Harlan terbahak, ia benar-benar memiliki istri lugu dan polos, padahal Lupi seorang Arsitek yang cerdas. "Itu bukan darah menstruasi, sayang...tapi darah perawan." ujarnya seraya mengangkat tubuh polos isterinya dan masuk kedalam kamar mandi.


"Benar kah? mata Lupi membulat.


"Kita lanjutkan lagi di kamar mandi, junior Mas nagih lagi..."


"Huwaaaaa.... jangan sekarang!


JEDAR.....


@lagu buat reader ...Haredang... haredang... panas... panas....🤣🤣


💜


💜


Ayo sekarang


💜Like!


💜Vote!


💜Gift!


💜Rate bintang 5


💜Komentar

__ADS_1


__ADS_2