
...Happy Reading...
...*...
...-----------...
...1 tahun kemudian...
9AM, New York
Setahun sudah kepergian Maureen yang menaruh luka mendalam bagi orang orang yang dia sayangi.
Setelah berjuang melawan orang yang tersulut dendam masa lalu yang tidak kian tuntas. Kini gadis cantik yang memiliki 3 orang anak menyerah dengan penyakit kanker otak yang dialaminya tanpa sepengetahuan siapapun.
Gadis itu tidak pernah berpikir bahwa rasa pusingnya yang selalu datang tiba tiba akan menjadi seperti ini.
1 tahun itu juga tidak bisa membuat semua orang menghilangkan rasa sakit kehilangan wanita yang mereka cintai khususnya suami dan 3 anaknya.
*****
"BANG ARGAAAAAA, , , ". Teriak seorang anak perempuan berusia 8 tahun bergema di dalam mansion.
Beberapa orang yang mendengar itu menutup telinganya rapat rapat termasuk Daddy dan abang pertamanya yang baru keluar dari ruang kerja.
"Adik kamu kenapa pagi pagi sudah teriak kaya gitu". Ucap Rafael kepada anak sulungnya.
"Gak tahu".
"BANG AR---, , , ,
Pranggg
, , --gaaaa".
Gadis yang bernama Retha terdiam menatap pajangan dari alumunium jatuh nyaring di lantai tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Dia menatap ke lantai atas dimana ada abang/saudara kembarnya berdiri dengan tatapan membunuh.
"Heheh, vist". Ujar Retha mengacungkan dua jari ke atas.
"Retha ada apa?? Kenapa pagi pagi udah teriak kaya gitu hm??". Tanya sang Daddy berjalan mendekat diikuti abang satunya.
"Gak papa". Ucap Retha sambil nyengir tanpa dosa.
Tap
Tap
Tap
Suara langkah kaki menuruni anak tangga membuat semua orang tertuju pada satu titik.
"Kenapa baru turun??".
"Abis ngerjain tugas". Jawab lelaki yang bernama Arga.
"Kebiasaan, emangnya semalam kamu ngapain ngerjain tugas jam segini hm".
Bukannya menjawab Arga malah menatap ke arah Retha membuat gadis itu menatap ke arah lain.
"Ah, , dad, abang. Mending kita sarapan aja ya nanti Retha sama bang Arga telat. Bukannya Daddy juga mau ke kantor??". Ucap Retha.
Rafael menganggukkan kepala, mereka berempat berjalan menuju meja makan untuk sarapan yang sudah maid siapkan.
__ADS_1
Maid dan bodyguard yang berkerja disana sudah terjamin dan sudah Rafael percaya. Dia harus menjaga ketat ketiga anaknya walaupun mereka bertiga sudah jago dalam berbagai bela diri serta menggunakan berbagai jenis senjata.
Ketiga anaknya diajarkan langsung oleh Lucifer, ketua mafia yang ditakutkan semua orang di seluruh dunia.
Kemampuan mereka bertiga hanya digunakan untuk melindungi orang orang yang mereka sayang tanpa digunakan sesuka hati.
"Hello epribadeee, , , ". Teriakan lagi menggema di seluruh mansion.
Rafael yang mendengarnya hanya bisa mendengus tanpa bisa berbuat apa apa.
"Sebentar lagi mension ini bakal disamakan dengan hutan belantara". Batin Rafael dengan asik makan sarapannya yang belum selesai.
"Papi ngapain kesini??".
"Oww,, jahadnya anak perempuan papi. Emangnya papi gak boleh gitu datang ke sini?.". Marchel duduk di kursi kosong samping Retha.
"Cih bukannya cari ibu baru buat Leo". Celetuk Marvel pelan.
"Hei soon, papi dengar ya. lagian apa kabar dengan duda anak tiga". Mata Marchel menatap Rafael menggunakan ekor mata.
"Ada apa??". Kini Rafael yang bertanya. Duda tiga anak itu meletakan gelas yang telah ia minum tadi dan ternyata sudah menyelesaikan sarapannya terlebih dahulu.
"Ekham". Dehem marchel sebelum menjawab. "Marvel bakal ikut ke kantor kan??".
Alis Rafael terangkat penuh pertanyaan kenapa sepupu almarhum istrinya bertanya seperti itu.
"Tahu dari mana lo??".
Ya memang benar.
Marvel, anak pertamanya yang masih berumur 14 tahun sudah akan melanjutkan S2 nya di umur yang masih muda. Dia gak menyangka anaknya melakukan itu untuk membantunya berkerja di perusahaan.
Dia juga tidak mau Daddy dan papi nya sibuk bekerja bahkan lupa beristirahat.
"Hey, , gue marchel Grizele. Jangan pernah remehkan kemampuan seorang Grizele. Tuan Smith". Ucap marchel dengan suara tegas.
Tapi ada rasa kesal juga melihat marchel yang seperti itu.
Apalagi bisa 5 sampai 10 kali dia akan bulak balik ke mansion Smith untuk bertemu 3 anaknya bersama anak kandungnya untuk bermain.
"Gue kesini cuma mau ajak Marvel ke perusahaan. Gimana El mau ya??".
"Tunggu, , perusahaan mana yang lo maksud??". Tanya Rafael mengintimidasi.
Rafael tahu perusahaan yang marchel maksud bisa perusahaan yang mana aja karena pemuda itu memang berkerja di 3 perusahaan berbeda. Itu pun milik dia dan keluarga besarnya. Itu pun di berbagai negara.
"....". Marchel hanya diam seperti memikirkan sesuatu.
"Jawab marchel". Tekan Rafael agar pemuda itu berbicara.
"Ekhmm, , , ". Dehem suara wanita membuat semua lelaki menuju ke arah wanita itu.
Siapa lagi kalau bukan Margaretha atau yang sering disama Retha itu. Hanya dia wanita yang ada di keluarga Grizele dan Smith.
Mommy Marchel sudah tidak dihitung lagi. Hehe canda.
"Kalau kalian mau bicara silahkan, tapi Retha sama bang Arga pengen pamit berangkat sekolah". Pamit Retha lalu mencium tangan semua pemuda yang menatap nya dengan cengo.
Termasuk Arga.
Arga yang melihat kembaran nya mencium tangan mengusap kepala nya lembut. "ngapain lo, gue juga pergi satu mobil". Ujar Arga.
"Hehe iya lupa". Cengir Retha. "Bye, ,Retha pergi dulu".
__ADS_1
"Hati hati dijalan". Ucap Marvel.
"Iya, bukan Retha juga yang nyetir". Gumam Retha meninggalkan meja makan diikuti Arga untuk berangkat ke sekolah.
Tinggallah Rafael, Marvel dan marchel di meja makan. Sebenarnya mereka sudah selesai makan tapi masih asik duduk disana.
"Gimana rel boleh ya please".
"Apa??".
"Ck, duda. Otak lo usah pikun ya. Belum juga 50 tahun udah ilang tuh otak". Cibir marchel kesal.
"Marvel pergi ke perusahaan gue, gak ada ikut sama lo. Yang ada diracuni pikiran anak gue".
Setelah berucap seperti itu, Rafael berdiri dan merapihkan jas kerjanya berjalan untuk berangkat ke perusahaan diikuti Marvel.
Marchel yang ditinggal hanya diam mematung tanpa ada kata yang keluar dari mulut.
Sangat susah untuk membujuk Rafael dalam hal apapun. Dia mendingan perang melawan musuh daripada harus berurusan dengan tu duda anak tiga.
***
Di perjalanan menuju perusahaan. Marvel hanya diam dengan laptop di pangkuannya sedangkan sang Daddy menyetir mobil.
Mereka akan pergi ke Smith corp yang perusahaan pusatnya sudah dipindah ke new York dulu.
Sedangkan perusahaan milik mendiang sang istri dikelola oleh abang kandungannya yaitu Kelvian. Yang sama sama berada di new York.
Untuk perusahaan di LV di pegang oleh marchel dengan dibantu Lucas dan Ken.
Perusahaan itu akan di ambil alih oleh Marvel juga anak itu sudah siap dan berniat menggabungkannya dengan Smith corp.
"Oh ya dad, papi Vian kapan pulang??". Tanya Marvel.
"Lusa, Vian kabarin Daddy semalam dan meminta kamu untuk datang ke perusahaannya untuk belajar. Kamu bisa??".
"Bisa dad, papi juga sudah bilang sama marvel kok".
Rafael menganggukkan kepala dan suasana kembali hening.
Mobil memasuki gedung pencakar langit yang sangat indah. Dari gudang itu juga mereka bisa melihat gedung lainnya yang ada di sebelah kanan letaknya tidak terlalu jauh.
Gedung itu sama namun berbeda nama. Bahkan semua orang menamainya dengan gedung kembar.
Di bagian atas terlihat nama G Crop tertera dengan jelas.
Rafael yang memandang gedung itu teringat akan Maureen. Sampai tidak terasa air matanya mulai menetes.
Dengan cepat Rafael menghapus nya agar tidak dilihat oleh sang anak.
Daddy and soon masuk ke dalam perusahaan dengan tampang datar dan tegas. Semua karyawan menyapa mereka dengan sopan saat Presdir berjalan melawati.
Marvel berjalan dengan pandangan menatap notebook yang dia pegang tanpa menyusahkan jalan. Toh disampingnya juga ada Rafael yang menjaga.
"Soon, lihat jalan". Tegur Rafael.
Tanpa menjawab, Marvel menurunkan tangannya dan memandang ke depan menuju lift khusus.
Kedatangan anak pewaris utama perusahaan Smith corp membuat semua karyawan heboh. Gak jarang juga karyawan disana mengambil photo dan video untuk disebarkan di media sosial.
Mereka tahu Presdir Smith corp memiliki 3 anak tapi hanya Marvel yang diketahui publik sedangkan dua lainnya tidak ada yang tahu.
Mereka hanya tahu dua laginya anak kembar tapi tidak ada yang tahu jenis kelamin mereka. Rafael dan beberapa keluarganya sangat menjaga mereka bertiga termasuk Marvel yang kini memang sudah manjadi incaran sedari kecil.
__ADS_1
To be continued, , , .
Next, ,