
Lupita masuk kedalam kamar, dan kembali dengan membawa handuk bersih dan kaos.
"Ini mas handuknya, Dan kaos ini masih baru. dulu aku membelikan buat paman, tapi dia keburu sakit dan meninggal, jadi tidak sempet di pakai."
"Ya sudah, aku pakai."
Harlan masuk kedalam kamar mandi, Lupita mencuci piring bekas ia makan. Selesai beberes ia masuk kedalam kamar untuk mengganti pakaian.
Setengah jam kemudian, Harlan sudah selesai mandi dan berpakaian. ia menyugar rambut basah nya kebelakang. Terlihat tampan dan cool. Lupita tak sadar terus menatap wajah tampan suaminya, seraya tersenyum samar.
"Apa kau sudah siap? Harlan menatap Lupita yang terlihat melamun seraya menatap dirinya.
["Ya Tuhan! apakah benar dia suamiku? benarkan aku tidak sedang bermimpi?]
"Teck, teck.. petikan jari Harlan didepan wajah Lupita. Seketika Lupita tersentak kaget, ia mengalihkan pandangannya.
"Apa yang kau lamun kan?
"Tidak ada! tersenyum kikuk.
"Lupi, sebelum berangkat kerja, aku akan mengantarmu dulu?"
"Tidak usah Mas, nanti Mas terlambat, aku naik angkot saja."
Harlan menoleh Arloji ditangannya "Ya sudah, gak apa-apa kan naik angkot? atau mas pesankan taksi online."
"Nggak apa-apa Mas, aku dari dulu terbiasa naik angkot."
"Ya sudah kita bareng sampai depan, kalau nanti sore mas nggak sibuk, pulangnya mas jemput."
"Iya Mas!
Setelah Lupita mengunci pintu, ia naik keatas motor Harlan.
Didepan gang, Lupita turun menunggu angkot lewat, ia mencium punggung tangan suaminya. motor Harlan pergi menghilang dari pandangannya.
Harlan melajukan motornya dengan cepat, ia berencana pulang kerumahnya dulu untuk mengganti pakaian, dan membawa mobil untuk menjemput Mak isah pulang.
Kurang dari satu jam Harlan sampai didepan rumah, Setelah gerbang terbuka ia memarkirkan motornya asal. bergegas masuk kedalam kamar. Mengganti dengan pakaian kantor, satu setel jas biru letro dipadu kemeja crem, menambah wibawa Seorang Vandeles. Selesai memakai sepatu kulit, ia turun kebawah menggunakan lift.
"Pagi Tuan? sapa kepala ART sopan.
Harlan mengangguk, sebelum pergi Harlan berkata "Kau suruh pelayan untuk membereskan kamar Emak ku, hari ini ia akan pulang dan jangan lupa masak jangan terlalu pedas."
"Baik, Tuan."
Harlan berjalan keteras dan masuk kedalam mobil, Pak Toyib sudah duduk di depan kemudi.
"Kerumah sakit, Pak!
"Baik, Tuan!
Mobil berjalan menuju rumah sakit. Harlan duduk di kursi belakang, matanya menoleh pada Arloji dipergelangan tangannya.
"Lupita sudah sampai kantor, atau belum ya? kasihan aku tidak sempat mengantarnya." gumamnya pelan.
"Sekilas ia mengingat kejadian tadi malam. Di nikahkan oleh warga karena kesalahan pahaman "Dulu aku hampir dinikahkan oleh Nadine, sekarang dengan Lupita. Ada apa dengan takdirku? Harlan mengeryit "Aku dan Lupita mempunyai kesamaan, sama-sama anak yatim piatu, orang tua Lupita meninggal karena kecelakaan. Sedang kedua orang tuaku mati di tembak seseorang, adanya sebuah pengkhianatan. Suatu saat aku akan mencari pembunuh orangtuaku!"
"Ahh...! Harlan mendesah kasar, menyandarkan punggungnya kebelakang sandaran mobil.
Setengah jam kemudian, mobil berhenti di pelataran rumah sakit. Harlan turun dari mobil dan berjalan masuk menuju ruangan Mak isah.
__ADS_1
Ceklek!
"Pagi, Tuan Georgie! sapa Wiliam saat melihat sosok Harlan membuka pintu.
"Bagaimana keadaan Mak!
"Semalaman tidak bisa tidur, terus mencari dan bertanya keberadaan Tuan, pagi ini baru bisa terlelap setelah meminum obat."
Harlan menatap wanita paruh baya sedang tertidur pulas diatas ranjang pasien.
"Tuan kemana saja? aku di buat linglung dengan pertanyaan ibu asuh."
"Kemaren Dokter Arman mengatakan, siang ini Mak sudah bisa pulang." mengalihkan pembicaraan.
"Siapa yang akan mengantarkan ibu asuh pulang? Wiliam bertanya penuh keraguan. Jam sepuluh kita sudah harus sampai kantor, ada pertemuan dengan investor dari Jepang."
"Apa kau tidak bisa mengundurkan sampai jam makan siang?"
"Sepertinya tidak mungkin tuan, tuan Haruka masih banyak jadwal setelah berkunjung ke perusahaan kita."
"Sudah jam setengah sepuluh."
"Baiklah, kalau begitu kita ke kantor dulu, selesai meeting. kita kembali lagi kerumah sakit untuk mengurus kepulangan Mak."
"Oke!
Harlan berbicara pada pelayan yang ditugaskan menunggu Mak Isah, selama di rumah sakit. Selesai bicara, ia dan Wiliam masuk kedalam lift menuju lobby utama.
Selama diperjalanan Harlan tidak lepas dengan laptopnya, matanya terus menatap layar monitor didepan.
"Tuan!
"Hmm..."
"Income perusahaan kenapa turun dratis? Harlan mengeryitkan keningnya.
"Mungkin ada kesalahan, Tuan?
"Tidak mungkin! Nanti selepas meeting kau panggil direktur keuangan kerungan kerja ku!
"Baik, Tuan!
"Ahh! begitu banyak urusan ku hari ini!" Harlan mimijit keningnya.
"Tuan, bagaimna dengan sekertaris pengganti Nona Nita? Wiliam bertanya penuh hati-hati, sebab ia melihat ekspresi wajah Harlan yang tegang menahan kesal.
"Apa Nita, benar-benar sudah resign?
"Sudah Tuan, ia akan menikah dan ikut suaminya luar kota."
"Kau urus saja sekertaris itu!
Mobil sudah memasuki gedung perkantoran Vandeles. Setelah keluar dari mobil, Harlan berjalan kearah lift, saat melewati ruangan Lupita ia sempet berhenti sejenak, tersenyum samar dan berjalan kembali.
Didalam ruangan kerjanya, Lupita masih sibuk mendesain, ia melupakan sesuatu dan berjalan keluar ruangan untuk menemui seorang fotografer dilantai lima. Saat berjalan kearah lift, ia melihat dua orang pria berjas berdiri di depan lift, walau dari samping terlihat samar, tapi wajah itu sangat familiar.
"Tuan Wiliam dengan siapa? apakah itu Tuan Vandeles? aku belum pernah sekalipun melihat wajah presdir perusahaan ini, walau sudah pernah bertemu sekali atas undangannya untuk makan di ruangannya, tapi wajahnya tertutup masker."
Saat berjalan semakin dekat, Harlan dan William sudah masuk kedalam lift.
Tarikan nafas Lupita sedikit kuat, ia menekan tombol naik.
__ADS_1
Dilantai Lima belas, harlah dan William keluar dari pintu lift, berjalan menuju kerungannya. saat melewati meja kerja sekertaris.
"Selamat pagi Tuan Presdir, Tuan Wiliam." Sapa Seorang wanita cantik, seraya tersenyum manis. Harlan mengeryitkan keningnya melihat wanita cantik dan seksi dengan pakaian super ketat, terlihat bentuk body dan tonjolannya yang begitu menggoda.
"Siapa dia?! Harlan menoleh pada Wiliam.
"Sekertaris baru Tuan, Nona Alexa."
"Dia mau kerja, atau mau jual diri! ucapnya pelan, terdengar hanya ditelinga Wiliam, Harlan meneruskan langkahnya masuk kedalam ruangan sambil gelengkan kepala.
"Apa Tuan Haruka sudah datang?
"Biar saya cek sebentar!" Wiliam menghubungi asistennya.
"Masih berada dijalan, Tuan! biasa Jakarta selalu macet."
"Wiil!
"Ya Tuan!
"Darimana kau dapatkan wanita itu."
"Tuan pasti akan terkagum-kagum dengan Nona Alexa, selain cantik dan cerdas, dia juga berprestasi, banyak perusahaan maju di tangannya."
"Darimana kau tahu? Sepertinya kau sangat yakin, padahal Ia baru saja masuk kerja hari ini."
"Selama tuan mengurus ibu asuh, lima hari tidak berada di kantor. Alexa sudah magang selama empat hari. Dan hasilnya memuaskan, dengan adanya Alexa aku bisa terbantu, ia bisa membujuk cliant untuk bekerja sama dengan perusahaan kita."
"Buktinya income perusahaan menurun." melempar file diatas meja. "Aku curiga ada yang bekerjasama dengan Andreas, ia terus mengancam ku saat ku pecat tidak hormat!
"Tuan harus selidiki secara mendetail, jangan sampai ada orang dalam yang berkhianat. Dan tidak ada salahnya Nona Alexa diberi kesempatan, siapa tahu dia membawa keberuntungan."
"Baiklah, asal dia tidak mengganggu ku dengan penampilannya yang kurang bahan."
Wiliam tergelak "Tuan ini masih lajang, ayolah! tidak perlu munafik, mana mungkin tidak tertarik dengan wanita cantik, cerdas sekelas Alexa "
Kau pikir aku mudah tergoda dengan wanita seperti itu! jangan terus membujukku, aku sudah memiliki seorang Istri." ucap Harlan santai seraya melipat kedua tangannya didada.
"What?! kau sudah menikah? jangan bercanda, Tuan." tanya Wiliam tak percaya.
"Semalam aku di gerebek warga, saat sedang di rumah Lupita. Dan akhirnya kami menikah dadakan."
William bukan hanya terkejut, tapi matanya membulat sempurna. "Saya tidak salah dengar kan? Menikahi Lupita?! anak magang itu?
"Bicaralah yang sopan? dia sekarang istriku! apa kau pikir aku seorang pembohong? menatap sinis mata Wiliam."
"Ma-af, tuan.. maksud ku Nona Lupita." wajah Wiliam terlihat pucat, Karena masih kaget.
"kau harus rahasiakan pernikahanku dari ibu asuh dan Paman ku! jangan sampai mereka tahu dulu!"
"Ba-ik Tuan, aku pasti akan merahasiakan nya, sesuai perintah Tuan, tapi...." Wiliam berhenti sejenak
"Tapi apa, Will?"
"Bagaimana kalau sampai tuan Alfonso mengetahui pernikahan Tuan? Nona Lupita pasti akan mendapatkan masalah."
Harlan menarik nafas dalam-dalam dan di hembuskan kasar. "Aku akan berusaha untuk menutupinya. Paman jangan sampai tahu dulu, bila perusahaan batu Permata dan Berlian sudah paman serahkan padaku, baru aku akan mengatakannya dan menikahi Lupita resmi."
🌺
🌺
__ADS_1
🌺
Bersambung.......💃💃💃