
WELCOME BACK READERS!!❤️❤️
Tolong kasih jejak kalian setelah membaca!! HAPPY READING ❤️
...•••••...
Tok tok tok
Kepala sekolah masuk. "Permisi bu maaf mengganggu saya mengantarkan murid baru". Jedanya sebentar. "Silahkan kalian masuk. Saya permisi bu". Setelah itu kepala sekolah melenggang pergi.
Saat keduanya masuk membuat semua yang ada di dalam kelas berteriak heboh. Mau murid cewek maupun cowok tak kalah heboh seperti sedang berlomba siapa yang berteriak paling kencang.
"Kalian perkenalkan diri". Titah guru itu a.k.a bu intan.
"Perkenalan saya Margaretha Emelin". Ucap Retha singkat.
"Arga". Sambung Arga lebih singkat.
Tentu saja membuat semua orang terdiam cengo melihat kedua teman barunya di depan. Tapi seketika kelas menjadi heboh membuat bu Intan tersadar.
Brak
Bu Intan memukul meja dengan keras. "Saya bu intan, guru matematika plus wali kelas disini. Kalian bisa duduk di bangku kosong". Ucap bu intan membuat keduanya mengangguk.
Lalu berjalan ke arah bangku yang ada di bagian belakang pojok kelas. Ada dua bangku yang kosong setiap bangku terdapat dua kursi.
Retha mengambil alih duduk pertama di pojok bangku deretan kedua dari belakang sedangkan Arga duduk di bangku paling pojok kelas dibelakang Retha.
"Baik anak anak buka buku halaman 87, kerjakan sebisa kalian nanti yang sudah mendapat jawaban bisa maju ke depan".
Pelajaran dimulai dengan tenang. Bukan tenang memperhatikan melainkan semua murid sibuk dengan pemikiran sendiri karena malas dengan pelajaran yang sangat mereka benci.
Sama halnya dengan Retha, baru masuk sudah disuguhkan dengan matematika. Jelas ia akan memilih diam membaca novel yang ditumpuk buku pelajaran.
Bukan tidak bisa melainkan Retha sangat malas. Lagian Retha yang memiliki IQ tinggi tentu saja sudah diluar otak. Namun kelemahan Retha adalah tidak bisa mengerjakan rumus jika tidak ditulis. Sedangkan Arga bisa hanya mengerjakan dalam diam.
Sedang asik membaca tiba tiba terdengar namanya dipanggil. "Retha, coba kamu kerjakan soal nomer satu". Titah bu intan.
"Ta--, , ".
"Tidak ada bantahan". Potong bu intan membuat intan menghela nafas pasrah.
Retha bangkit dari duduk dengan tangan mengambil buku Arga di tas meja tanpa bu intan tahu, tapi Retha melihat dua pemuda di bangku belakang melihat aksinya dengan pandangan heran.
Setelah mengerjakan soal 2 menit di depan kelas, Retha kembali duduk tak lupa mengembalikan buku Arga. Untuk tugas itu bisa Retha kerjakan sendiri.
Kring kring kring
Bel istirahat berbunyi. Setelah semua murid berhamburan keluar, tiba tiba seorang pemuda datang mendekati Retha.
"Lo ngerjain soal pakai buku Arga kan?".
Alis Retha terangkat menatap pemuda itu tanpa ada niatan menjawab.
"Ka--, , , ".
__ADS_1
Ucapan pemuda itu terhenti saat kerah seragamnya ditarik pemuda lain keluar kelas namun pemuda yang ditarik malah menarik lengan Retha membuat gadis itu reflek mengikuti.
Jangan tanya Arga, dia pasti akan ikut juga.
Sampailah mereka di kantin sekolah yang sangat ramai apalagi saat kedatangan most wasted sekolah ditambah dua orang baru yang digandeng salah satu most wasted yang sangat famous di SMA CEMPAKA.
Arga yang ada di belakang melepaskan tangan Retha yang dipegang pemuda itu dengan paksa.
"Lo bawa siapa by?". Tanya pemuda lain yang sedang duduk di bangku pojok kantin.
"By pala lo peang".
"Lagian pake dibawa segala, mereka siswa baru di kelas gue". Jelas pemuda yang satunya.
"Ya kan gue reflek".
Arga yang sudah mulai jengah menggandeng Retha untuk pergi tapi langkahnya terhenti saat lengannya di pegang seseorang.
Mata Arga menatap dengan tajam orang yang sedang menyentuhnya saat ini. Tentu saja membuat pemuda itu bergidik ngeri melihat tatapan Arga.
"Sorry". Mengangkat kedua tangan. "Kalian gabung aja disini lagian kursi disini udah penuh".
Retha yang ada dibelakang mengedarkan pandangannya memang benar. Hanya tersisa bangku di meja mereka yang kosong.
"Ok lah". Retha duduk di kursi membuat Arga mengangkat alis dan mau tidak mau Arga menuruti kemauan Retha tanpa bisa dibantah.
"Ah, gue kenalin. Dia Arga dan yang cewek Retha, mereka baru pindah tadi pagi. Oh ya kenalin gue Roby Wirawan Kusuma". Ucap pemuda a.k.a Roby yang tadi menarik Retha.
"Galih Mahendra". Pemuda yang menarik kerah baju Roby.
"Reza Ardiyansyah".
Retha yang menatap mereka satu persatu berhenti di satu pemuda yang diam tidak memperkenalkan diri.
"Ah, dia pa bos kita. Gilbert Ray Abraham. Ingat paling kaya diantara kita". Ucap Roby dengan antusias menyebutkan marga pemuda itu.
Namun berbeda dengan Retha yang malah tersenyum smirik. "Ck, sekaya apa sih dia". Celetuk Retha sinis.
Semua orang yang ada disana tertegun kecuali Arga dan Ray lalu tertawa ngakak. Hanya dua orang tapi membuat meja mereka tambah menjadi pusat perhatian.
"Kekayaan Ray Abraham dipertanyakan". Roby ngakak paling keras sambil memukul meja.
"Girl, sebagai awalan ya takut kaget. Sekolah ini milik keluarga Abraham". Sahut Dirga dengan tangan menunjuk ke arah Ray.
"Oh".
Setelah mengatakan itu, Retha bangun dari tempat duduknya melenggang pergi membuat semua orang tersentak kaget.
Kecuali Arga tentunya.
Arga tahu kemana Retha pergi maka dari itu ia tidak ikut.
Sepeninggalan Retha suasana di meja menjadi hening, mereka tak percaya dengan apa yang Retha katakan tapi. Apa gadis itu acuh tentang seorang Rey Abraham yang digilai banyak wanita di sekolah itu maupun sekolah lain.
Gak lama Retha kembali dengan membawa nampan berisi dua mangkok bakso dan satu air mineral.
Arga membantu meletakkan mangkuk itu lalu menuangkan satu sendok sambal ke mangkuk yang ada didepan Retha.
__ADS_1
Pergerakan Arga menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di kantin.
"Thanks". Ucap Retha lalu melahap bakso dengan perlahan.
Keduanya acuh gak terganggu. Hal ini memang sudah biasa tapi tidak untuk yang lain.
"Menurut lo mereka ada hubungan apa? Gak mungkin Arga yang sebelas dua belas sama si bos memperlakukan cewek kayak gitu". Bisik Roby kepada galih tapi masih bisa didengar oleh Arga.
Drrrttt drrrttt drrrttt
Bunyi notifikasi panggilan masuk mengalihkan perhatian mereka lalu menatap Arga yang memegang ponsel.
📞 Bang Marvel is calling, ,
Arga langsung menggeser tombol hijau dan meletakkan handphonenya di telinga.
"Hello Arga, Abang tidak bisa jemput Retha. Jadi, dia pulang sama kamu karena Abang ada meeting". Ucap Marvel dari sebrang telpon.
"Ok".
PIP*
Panggilan dimatikan membuat Arga meletakan ponselnya di atas meja.
...Lock screen Arga...
Wallpaper yang tertera di lock screen handphone Arga membuat semua pemuda yang ada disana lebih berpikir yang tidak-tidak. Sebenarnya photo itu dipasang oleh Retha sendiri sebagai wallpaper.
Tidak mungkin kan Arga memiliki sifat seperti itu bisa tersenyum merangkul Retha.
"Ada udang dibalik bakwan". Batin Roby.
"Gue jadi --, , , ".
Ting
Notifikasi masuk ke dalam handphone lain yang ada di atas meja.
Itu milik Retha. Gadis itu tidak melihatnya hanya fokus pada bakso kesukaannya yang sudah lama tidak ia cicipi.
"Wah bener ini mah". Batin Roby lagi.
Sedangkan yang lain tidak tahu isi pikirannya apa.
...Lock screen Retha...
Note : Anggap aja photo setiap photo wajahnya sana karena author belum nemu visual yang pas and setiap photo hanya ilusi.
...•••••...
TBC
Jangan lupa like dan commentnya kalo kalian suka cerita ini ❤️ See u next part 🥰
__ADS_1