
"Bila benar pelakunya Della, Mas Harlan pasti akan langsung menjebloskan ke penjara. Tapi aku tidak yakin Della akan di penjara. Ibu mas Harlan pasti tidak akan setuju dan membela keponakannya. Aku akan mencari keadilan dengan caraku sendiri. Jalan satu-satunya aku akan membalas perbuatan Della, agar ia tidak terus meremehkan ku!" hatinya terus bergumam.
"Mas...!"
Hemm..."
"Apa Mas nggak merasa risih atau jijik lihat wajahku jelek begini?
"Sayang, apapun keadaan mu, aku tetap sayang dan tak akan mengurangi rasa cinta ku, banyak wanita cantik tidak alami sepertimu, operasi plastik sana-sini, belum lagi pakai skincare biar glowing, mencari kepuasan diri yang sifatnya hanya sementara."
"Tapi Mas, wajahku terlihat aneh dengan banyak bentol dan merah begini."
"Itu kan hanya sementara, besok juga kembali normal. Luvi, apapun yang ada pada dirimu Mas suka, kau tidak berlebihan, sederhana dan Natural, jadi jangan berfikir yang tidak-tidak lagi."
"Iya Mas, terima kasih ya sudah menerima aku apa adanya, bisanya laki-laki kaya apalagi punya kedudukan tinggi, ia akan mencari wanita sempurna, berpenampilan seksi dan cantik."
"Tidak semua Pria seperti itu, aku punya prinsip dalam hidupku. Menikah adalah sesuatu yang sakral, tidak ingin menjadi penghianat dalam suatu hubungan." tiba-tiba Harlan teringat rekaman vidio hubungan gelap ibu kandungnya dengan Alfonso adik kandung dari Alfredo, pria yang selama ini ia panggil Daddy. Rasa kecewa dan sakit hati menyeruak dalam dadanya. Ia menghela nafas panjang.
"Mas kenapa diam?"
Harlan menoleh dan tersenyum "Tidak apa-apa." mengusap pucuk rambutnya "Aku tahu kau wanita berbeda dari yang aku temui diluar sana, kau lembut, perhatian, tidak banyak menuntut dan pengertian. Demi apapun aku akan pertahankan kau disisiku."
"Tapi aku tidak cantik Mas dan banyak kekurangannya."
"Aku yang akan melengkapi kekuranganmu." mencium kening luvita "Cantik itu relatif sayang, bagiku kau cantik luar dalam, kecantikan mu alami."
Livuta tersipu malu-malu, Ahh.. alangkah bahagianya ia di sanjung oleh orang yang ia cintai. Semoga saja pujian itu lahir dari hati Harlan yang tulus.
"Disini saja jangan jauh dariku." ucap Luvi manja.
"Hemm, bukankah kau sendiri yang nggak mau didekati." sindir Harlan tersenyum samar.
"Iya, itukan saat aku sedang dilema dan merasa Mas nggak tulus mencintaiku, tapi sekarang sudah tahu yang sebenarnya, Cinta dan sayang Mas hanya untukku." Luvi tersenyum.
"Iya, Mas akan jagain kamu disini."
Dua kemudian. Luvita sudah di bolehkah pulang. Kondisinya sudah lebih baik dan bentol-bentol ditubuhnya sudah hilang, hanya ada bekas goresan dari kuku Luvita yang tajam saat menggaruk.
Sore itu mobil sudah berhenti didepan halaman luas mansion Harlan. Demi menunggu istri tercinta Harlan tidak masuk kantor dan tugas ia berikan pada Wiliam.
Saat memasuki ruangan tamu, Mak isah berada di sofa sedang menyulam.
"Luvi kau sudah sembuh Nak." Mak Isah menyapa "Duduk sini." menepuk sofa di sebelahnya. Untuk menghormati orang yang sudah tua, Luvi patuh dan duduk di samping Mak Isah.
"Gimana keadaan mu, maaf Ibu tidak bisa datang menjenguk, maklum sudah tua."
"Iya tidak apa-apa Bu.. lagian aku hanya dua hari saja."
"Dimana semua pelayan Mak!" tanya Harlan
"Mungkin masih sibuk di dapur." ucapnya di sela menyulam dengan benang wool.
"Pak Bedu, kemarilah! panggil Harlan saat pria paruh baya itu sedang menyiram tanaman.
"Iya Tuan!
Panggil semua pelayan dan satpam ke ruangan."
"Baik Tuan!"
"Nyonya anda sudah pulang?" Santi datang seraya membawa minuman dingin untuk Luvita.
"Terima kasih Sus." ucap Luvi, saat ia akan minumannya Harlan berseru.
__ADS_1
"Kau jangan asal minum atau makan dulu, aku tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi, aku harus tahu pelakunya." perkataan Harlan terlihat menyindir seseorang. Suster Santi yang selama ini sebagai perawat Luvi merasa ucapan itu dialamatkan untuknya, ia hanya tertunduk dan tak enak hati.
"Tidak apa-apa, aku yakin kau tidak salah." Luvita mengusap tangan suster Santi.
Jam sudah menunjukkan pukul Lima. Hari itu tiga pelayan, tiga orang satpam, supir pribadi dan pak Bedu tukang kebun berdiri di depan Harlan, mereka terlihat gusar dan tak mengerti mengapa harus di sidang sore itu.
Tak, tok, tak, tok...
Suara high heels memasuki ruangan, ia terlihat terkejut saat banyak pelayan berdiri dan berkumpul.
"Ada apa ini?! Della tiba-tiba bertanya dan menoleh pada Luvita yang tersenyum kepadanya, membuat Della gugup dan terlihat gusar.
"Kak Luvi sudah pulang?" tanyanya mencairkan suasana yang gugup. ia berjalan mendekat.
"Suster Santi dan kau Della. Berdiri lah bergabung dengan mereka!" perintah Harlan.
"Apa? aku?" menunjuk dirinya sendiri "Apa maksud Kaka? aku salah apa memang di suruh berdiri bersama mereka." ucapnya kesal, sambil menatap Mak Isah, minta pertolongan.
"Kau akan tahu nanti, cepatlah jangan membantah!"
"Harlan, jangan bawa-bawa Della, diakan baru saja pulang dan kenapa kau panggil mereka semua." Mak Isah ikut bicara
Harlan menatap tajam wajah Della, dengan kesal ia beranjak dari duduknya dan berkumpul bersama mereka.
"Saya ingin tanya pada kalian. Apa ada diantara kalian yang memasukkan sesuatu kedalam minuman atau makanan yang di konsumsi istriku?" Lebih baik jujur dari sekarang atau aku akan selidiki sendiri dan bila ketahuan orangnya, tidak akan segan aku jebloskan ke penjara! karena perbuatan ini termasuk sadis telah melukai kondisi istriku!"
Mereka semua saling bersitatap dan gelengkan kepala, Wajah Della terlihat pias.
"Pelakunya adalah keponakan ibu asuh mu, Mas, percuma ia tidak akan mengakui karena tidak ada bukti!" batin Luvi lirih.
"Tenang Della, kau tidak usah takut, bila kak Harlan mencari bukti tidak akan ada. Cctv tidak ada di dapur." batinnya tersenyum licik.
"Suster! kau yang memberikan istriku obat, makan dan minuman, apa ada yang salah dalam memberikan obat?" menatap lekat suster Santi.
"Demi Tuhan, Tuan aku tidak salah dalam memberikan obat, makanan dan minuman pada Nyonya Luvi, Tuan bisa lihat obat-obatan yang diberikan oleh Dokter Ilyas."
"Bisa saja kau berbohong! maling mana ada yang mengaku! cetus Della.
"Untuk apa aku melakukan itu pada Nyonya Luvi, aku sudah disumpah sebagai seorang suster tidak boleh melanggar hukum, apalagi sampai melukai pasien. Apa untungnya aku melukai Nyonya Luvi!" Suster Santi membela diri dan menatap kesal pada Della.
"Ya mana kita tahu kalau kau ada niat buruk pada Luvita, aku sering perhatikan kau curi-curi pandang pada kakakku! pasti kau suka kan dan berniat menggoda suaminya!"
"Cukup, kau sudah memfitnah aku!"
"Sudah diam! jangan berdebat lagi! bentak Harlan.
"Mas! Luvita akhirnya bangun dari duduknya "Untuk mencari kebenaran itu agak sulit karena buktinya sudah tidak ada. kalau seperti ini pasti saling tuduh dan memfitnah!" Luvi menoleh kearah Della. Yang terpenting aku sudah sehat, suatu saat orang itu akan mendapat karma atas perbuatannya."
"Tapi sayang..."
"Sudah tidak apa-apa Mas, kasihan mereka yang tidak salah kena batunya. Aku yakin suster Santi tidak akan melakukan hal yang akan merugikan orang lain. Selama ini kerjanya sangat bagus." bela Luvi, melirik pada Della dan mata mereka saling bersitatap. Della tersenyum canggung.
"Kita lihat Della, siapa yang paling unggul diantara kita. Hari ini permainan akan kita mulai." Luvi tersenyum sinis.
'"Baiklah, untuk kali ini kalian saya ma'afkan karena toleransi dari istriku, bila ini terjadi lagi tidak akan aku beri ampun!" hardik Harlan penuh penekanan.
Selesai berbicara mereka semua bubar, Harlan dan Luvita masuk kedalam kamar. Malam itu Luvi sudah mencuci wajah dan gosok gigi. Mengganti pakaian dengan piama, ia naik keatas ranjang karena lelah.
"Sayang." Harlan mematikan laptop dan berjalan kearah ranjang. Merebahkan tubuhnya disamping istrinya "Mas kangen banget." senyuman nya begitu menggoda sambil mengedipkan mata. Luvita mengerti keinginan suaminya. sejak ia keguguran hampir sebulan lebih mereka belum berhubungan. Nifas setelah keguguran hanya dua mingguan. Sekarang ia sudah bersih total.
"Boleh kah hari ini..."
Luvita mengangguk bersama senyuman di bibirnya.
__ADS_1
Harlan langsung menyergapnya, tak ada alasan bagi Luvi menolaknya, karena itu sudah hak suaminya. Kini mereka telah menyatu dalam indahnya bercinta. Pusaka Harlan terbenam dalam sangkar milik istrinya. Harlan begitu perkasa, selalu memberikan kepuasan pada sang istri. Lenguhan panjang keluar bersamaan dari bibir keduanya, setelah pencapaian mereka tertuntaskan.
Paginya seperti biasa Harlan berangkat kerja bersama Wiliam.
Waktu terus berlalu, sudah lima hari Inez tidak ada kabar. Luvi begitu khawatir dengan sahabatnya itu. Bahkan Ponselnya tidak aktif lagi. ia lupa bertanya pada suaminya.
Luvi mendesah "Nanti saja setelah pulang kerja aku tanya Mas Harlan."
"Aku haus banget, tumben hari ini panas! Luvi turun kebawah dan menuju dapur. Di dapur ia melihat Della.
"Eh' Kak Luvi. Baru saja aku mau antarkan susu keatas buat kakak."
"Wah tidak usah repot-repot. aku bisa buat sendiri." Luvi menarik kursi dan duduk.
"Tidak apa-apa kok!" Della menaruh susu yang sudah ia buat di depannya.
"Terima kasih Dell," Luvi mengangkat gelas itu untuk di minum.
"Ayo cepat minum. Setelah ini kau akan merasakan mules-mules dan kejang-kejang" Della terkekeh dalam hati.
"Hemm.. Sepertinya aku mau minum teh manis ajah, gantian ya kau yang minum susu ini."
Mata Della mendelik. Luvi mengambil teh manis milik Della, dan menukar susu didepan Della.
"Sialan, malah menukarnya!" umpat Della dalam hati.
"Ayo di minum!" pinta Luvi.
"Kak! aku buatkan teh manis yang baru ya. Yang itu tidak usah diminum biar aku yang minum."
"Oh gitu, jadi kamu nggak mau minum susunya?" Luvi menggeser gelas itu ketempat asalnya.
"Nggak ahh, aku nggak begitu suka susu."
Della membuatkan teh manis yang baru, tanpa sepengetahuan Luvi, ia memasukkan tiga tetes cairan dari dalam botol ke gelas teh manis yang baru ia buat.
"Ini kak teh manisnya." Della menaruhnya di depan luvi, dan senyuman sumringah terbit di bibir Della.
"Aww! ponsel ku jatuh. Dell.. tolong ambilkan ponsel Kaka!"
"Ohh! iya kak!
Dengan cepat Luvi menukar gelas berisi teh manis itu."
"Ini kak!"
"Ahh iya terima kasih Dell!"
"Ayo habiskan Della dan rasakan senjata makan tuannya." Lupita tertawa jahat dalam hati.
๐๐๐
@Bab nya lebih panjang, Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:
๐Like
๐Vote
๐Gift
๐Komen
@Bersambung........
__ADS_1
.