Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Pertikaian.


__ADS_3

Rangga terus menarik tangan Inez dan membawanya ke parkiran.


"Kau mau bawa aku kemana? lepaskan, aku tidak mau ikut bersama mu!"


"Ayo masuk! Rangga mendorong paksa inez untuk masuk kedalam mobil.


"Lepaskanlah dia!"


Terdengar suara lantang dari belakang mereka. Inez membalikkan tubuhnya dan terkejut saat mendapati seorang pria berdiri di depannya.


"Kau....?!"


"Siapa kau berani berteriak! tidak usah ikut urusan orang lain, aku tidak mengenal kau!"


"Aku memang tidak mengenal kau, tapi aku mengenal wanita di sampingmu!"


Rangga menatap tak percaya pada Wiliam, Pria tampan didepannya berfostur tubuh tinggi besar berbalut jas hitam, layaknya seorang Bos besar. Kini pandangannya beralih pada Inez yang terlihat tegang dan kaku, ekspresi wajahnya susah di lukiskan.


"Apa kau mengenal pria bule ini? tanyanya dengan nada tinggi, namun inez hanya diam dan masih syok akan kedatangan Wiliam yang tiba-tiba "katakan Inez!" bentak Rangga.


"Apa hak mu! memaki dan berteriak pada Nona Inez!" bentak Wiliam, dan menarik tangan Inez dari genggaman Rangga.


"Kau tidak perlu sok peduli pada Inez! Dia kekasihku, kau tak berhak ikut campur!" teriak Rangga tak mau kalah.


"Katakan Inez! Apa benar dia kekasihmu? kalau memang dia kekasihmu. Sungguh kasihan dirimu yang selalu di maki dan bentak olehnya."


"Apa bedanya dengan dirimu, tuan Wiliam? kaupun pernah memaki dan membentak ku! semua pria sama saja!" cibirnya dalam hati.


Inez menatap nelayang pada Wiliam, dia bingung harus berkata apa? bila memihak Rangga, pasti mantannya itu akan terus mendesak dan membawanya pergi. Namun, bila ia mengakui kenal dengan Wiliam, akan terbebas dari mantan yang menyebalkan, tapi hatinya masih jengkel dan sakit hati pada Pria bule yang pernah menyakitinya.


"Baguslah William, Sepertinya kau sudah masuk dalam perangkap ku. kau dulu begitu membenciku, bahkan menatapku saja begitu jijik. Tapi hari ini kau datang sebagai dewa penolongku! akan aku permainkan perasaanmu! Inez tersenyum samar.


"Ayo Inez kita pergi dari sini!" Rangga mencoba menarik tangan Inez dari genggaman tangan William.


"Sudah cukup! aku bukan barang yang bisa kalian rebut kan! pergilah kau Rangga, aku sudah tidak ada urusan denganmu lagi. kau hanyalah mantan yang menyakitkan buatku!"


"Tapi Inez..."

__ADS_1


"Cukup! menyingkirlah dari hadapanku!" ucap ines tegas, seraya melipat kedua tangannya di dada.


Rannga terbengong dengan sikap Inez yang berubah dratis, bukan hanya penampilannya yang berubah, Namun, sifat dan karakter lembutnya sudah hilang. Inez yang dulu begitu mengagungkan Cinta pada Rangga, takut kehilangan dan banyak melakukan hal bodoh untuknya atas nama Cinta. Rangga Pria yang dianggapnya baik dan setia, justru malah meninggalkan demi wanita lain. Dulu Inez gadis polos, pemalu dan rendah hati, selalu perhatian dan percaya pada Rangga. Ternyata rasa sakit hati telah merubah sifat seseorang jadi tegar dan kuat.


"Kalau kamu masih membenciku! Kenapa kau masih menerima tawaran ku untuk makan malam. kupikir kita masih bisa memperbaiki keretakan hubungan lagi."


Inez tergelak. "Kau jangan kepedean, aku mau menemui mu hanya sebatas teman, bukan ingin menjalin hubungan lagi."


"Jadi kau tidak mau kembali padaku dan memperbaiki semuanya. Aku berjanji Inez, akan menjadikan mu Ratu dihatiku! pinta Rangga memohon dan terus merayu.


"kau tahu piring kan? bila terjatuh akan pecah berantakan. Apabila disambung kembali tetap saja retaknya masih terlihat, dan tidak akan sempurna lagi. Begitupun dengan hatiku yang sudah retak dan hancur berkeping-keping!" sindir inez. Seketika wajah Wiliam terlihat tegang dan memerah, ia menelan salivanya. Seakan perkataan Inez telah menampar dirinya.


"Sekali tepuk dua pria tersindir!" tertawa jahat dalam hati.


"Baiklah, semua sudah jelas bukan? aku harus pulang! inez melangkah pergi tanpa peduli dengan dua orang pria yang menatap kepergiannya.


"DUARRR...." terdengar suara petir menyambar memekik telinga. Langit tampak pekat, tanda-tanda hujan akan turun.


"Inez tunggu! aku yang akan mengantar mu pulang. Ayo ikut aku!" Rangga menarik kembali tangan Inez, dan memaksanya untuk ikut dengannya.


Tanpa banyak bicara, Wiliam memberikan pukulan pada Rangga, tepat mengenai wajahnya.


"BRENGSEK! berani sekali kau memukulku! hardik Rangga, mengusap ujung bibirnya yang berdarah. Rangga mencoba memukul balik dan menyerang Wiliam. Perkelahian dua pria beda Negara itu tak terhindari. Inez bingung siapa yang harus dia bela. Membiarkan mereka berkelahi lalu pergi menjauh, rasanya tidak enak. Apalagi ia akan sering bertemu dengan Wiliam di kantor.


"Sudah cukup berhenti! teriakin Inez pada dua orang yang sama-sama egois. Seharusnya ia bersyukur William datang untuk menolongnya. Namun ia tidak ingin menunjukkan empati pada pria bule yang pernah ia kagumi. Bisa besar kepala dia! begitu kata hati Inez, Sekarang ia tak mudah memaafkan orang yang telah membuatnya tak percaya diri dan menjatuhkan harga dirinya.


Pertengkaran masih terus berlanjut, sepertinya mereka lawan seimbang. Walau fostur tubuh Rangga tak sekekar Wiliam, Namun ia masih bisa mengimbanginya. Karena Rangga memiliki ilmu bela diri taekwondo.


Rintik-rintik hujan mulai turun berjatuhan. Mereka masih belum juga berhenti berkelahi, Inez semakin kesal. Sontak ia layangkan tas kerjanya ke tubuh keduanya bergantian.


"Berhenti kalian! teriak Inez, "Apa kalian tidak merasa ini sudah turun hujan! tetap tidak di gubris "Apa kalian mau mati di sambar petir!" teriakan Inez tak berguna, sebab hujan sudah semakin deras. Pengunjung cafe melihat pertengkaran mereka di depan lobby dan tidak ada satupun yang melerainya.


Karena kesabaran inez sudah habis, Inez meninggalkan mereka berdua dalam tubuh basah, begitupun dirinya sudah basah kuyup. Lebih baik ia keluar dari Cafe dan mencari taksi. Rasa malu sudah tak ia pikirkan lagi, melihat orang-orang menertawakan kebodohan mereka dan mengabadikan momen gratis di parkiran. Untung saja malam dan hujan, jadi wajah mereka tidak dikenal.


"BUGH!


"BUGH!

__ADS_1


Dua tonjokan telak mampir ke wajah Rangga, ia jatuh tersungkur di depan mobilnya. Melihat Inez tidak ada, Wiliam berlari keluar cafe dan mengejarnya. Ia melihat tubuh Inez berjalan di guyuran hujan deras sambil menaruh tas diatas kepalanya.


"Inez ayo kuantar pulang! ini hujan deras, nanti kau sakit!" Inez berhenti dan menatap wajah Wiliam. Apa dia tak salah dengar? Wiliam menunjukkan perhatiannya.


"Apalagi yang kau pikirkan?" Ayo kita pulang!" Wiliam menggandeng tangan Inez, namun Inez menepisnya.


"Tidak usah! Aku bukan selera mu, aku menjijikkan bagimu bukan?"


"Inez, jangan keras kepala! ini hujan lebat, bukan saatnya kita berdebat!" seru Wiliam tampak kesal melihat inez yang kekeuh tidak mau ikut dengannya.


"Terserah aku bisa pulang sendiri!" Inez terus berjalan meninggalkan Wiliam di sela derasnya hujan.


Tiba-tiba Wiliam berjalan dan mengangkat tubuh Inez.


"Aaaaaaaaa...." turunkan Will..!" Inez terus berontak minta diturunkan.


"Apa tadi dia bilang? memanggil nama Wiliam tanpa embel-embel tuan? apakah William menyadari, kalau ia sudah tak sopan.


"Diam! nanti kita jatuh ke aspal, ini sangat licik aku pake pantofel." seru Wiliam. Inez akhirnya mengalah dan diam, membiarkan tubuhnya di bawa masuk kedalam mobil.


Dari jarak yang tak terlalu jauh, Rangga melihat Wiliam mengendong Inez dan mendudukkan di jok depan. Hatinya terasa panas dan terbakar.


"Aku tidak akan melepaskan mu Nez! kau harus ku dapatkan kembali, hari ini aku kalah dari pria bule itu, tapi nanti dialah yang akan ku remukakan tulang-tulangnya!" Rangga berdecih sambil mengepalkan tangannya.


💜💜


@Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:


💜Like


💜Vote


💜Gift


💜Komen


@Bersambung

__ADS_1


__ADS_2