Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Masih Haredang (Panas)


__ADS_3

Lagi-lagi Harlan terbahak, ia benar-benar memiliki istri lugu dan polos, padahal Lupi seorang Arsitek yang cerdas. "Itu bukan darah menstruasi, sayang...tapi darah perawan." ujarnya seraya mengangkat tubuh polos isterinya dan masuk kedalam kamar mandi.


"Benar kah? mata Lupi membulat.


"Kita lanjutkan lagi di kamar mandi, junior Mas nagih lagi..."


"Huwaaaaa.... jangan sekarang!


JEDAR.....


"Mas, pliss jangan sekarang ya." rengek Lupita, saru tangannya mengusap lembut tulang rahang pipinya yang di tumbuhi bulu-bulu halus.


"Iya sayang, Mas cuma mau mandikan kamu ajah sambil melihat pemandangan danau buatan itu."


Lupita tersenyum dan mencium pipi Harlan.


"Wah, istriku sudah mulai nakal, berani cium-cium Mas."


"Kan sudah sah Mas." Lupi terkekeh.


"Jadi baru sadar sekarang? selama ini kemana saja yank.. baru ingat Mas suamimu."


"Kan kemarin masih takut, Mas." tersenyum malu-malu, dengan bibir di kulum.


"Sekarang sudah nggak takut lagi kan?! tantang Harlan dan menceburkan berdua masuk kedalam bahtub.


Byurrr...


"Mas...."


Harlan mendudukkan Lupi di depannya, dan menyabuni punggungnya penuh perasaan, kedua tangannya mulai jahil, menyentuh dua buah gunung kembar Lupi yang montok dan mer*masnya, terdengar des*han halus dari bibir Lupi. Bibir Harlan menciumi punggung dan leher Lupi dengan penuh gairah, membuat istrinya tak tahan akan godaan suaminya yang liar. Harlan terus memberikan kecupan dan gigitan kecil yang membuat Lupi meringis nikm*t. Harlan begitu pintar mencari titik lemah istrinya dan tak sabar untuk memulai hubungan asmara di dalam bahtub.


"Apa kau masih mau lagi, sayang..." bisik Harlan menggoda.


"I-ya..." ucap Lupita pasrah dengan suara tercekat. ia sudah tidak bisa menahan hasratnya lagi, karena ulah suaminya yang membuatnya terangs*ng. Nafasnya mulai terdengar kasar karena sentuhan Harlan.


Harlan membalikkan tubuh istrinya dan mendudukkan di kedua pahanya. M*luma* bibir Lupi penuh gairah, seraya memegangi gunung kembar itu. Rasa cintanya pada Lupi telah membuat Harlan mabuk asmara. N*fsu dan hasrat yang terpendam sejak menikahinya sanggup mengalahkan egonya, kini ia bisa memberikan segalanya, tubuh dan hatinya, juga junior miliknya hanya untuk Lupita. Begitupun dengan Lupita, Ia telah menyerahkan mahkota yang paling berharga dalam hidupnya untuk pria yang tepat, yaitu suaminya. Cinta telah menyatukan mereka berdua dalam ikatan suci pernikahan, walau belum resmi Negara tapi sah dimata Agama. Cinta telah memabukkan mereka berdua, karena sama-sama baru merasakan surganya dunia.


Jleb!


Mata Lupi terbelalak, saat ada sesuatu yang menancap dari bawah. "Aaaakkkk" des*h lupi. Harlan menatap wajah istrinya penuh gair*h. kedua tangannya ia kalungnya ke leher suaminya, nafasnya tersendat saat Harlan menggerakkan dari bawah, rasa sakit dan pedih yang Lupi rasakan, berubah kenikm*tan yang tiada tara, gairahnya memuncak saat kedua tangan Harlan berada di pinggang dan membantu istrinya untuk naik turun ( Astaga author kebablasan πŸ™ˆ)


Harlan benar-benar bahagia. Melihat istrinya kelelahan. ia menyudahi permainan penuh gairah selama tiga jam. Membersihkan tubuh Lupi penuh kasih sayang dan mengangkatnya keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


Mendudukkannya di sofa, mengambil handuk kecil dan mengeringkan rambutnya yang basah.


"Apa kau lelah?!


"Lupi mengangguk dengan mata sayu. Setelah memakai lingerie ia naik keatas ranjang dan tertidur lelap. Harlan memakai celana pendek bahan dan membiarkan tubuhnya bertelanj*ng dada. Merebahkan tubuhnya di samping Lupi dan mencium kening istrinya penuh kasih sayang.


"Terima kasih sayang, kau sudah memberikan mahkota mu padaku, kau adalah milikku seutuhnya." mendekap hangat tubuh Lupi.


Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, Harlan tidak bisa tidur. ia beranjak dari ranjang dan mengambil ponsel dari dalam tas. Berjalan kearah balkon dan duduk di ayunan gantung yang berada diatas balkon. Setelah mengaktifkan ponsel, banyak panggilan masuk dari Della, rekan bisnis dan William. Ada beberapa pesan masuk, Harlan membuka pesan dari Wiliam.


["Tuan, apa anda sudah sampai?]


["Tuan, ada beberapa Cliant yang tidak mau di tangani olehku. Mereka menunggu anda pulang untuk meneruskan kerjasama dengan Tuan Goergie.]


["Tuan tidak usah khawatir, biar pekerjaan kantor saya yang menangani]


["Semua dalam keadaan baik dan lancar, Semoga Tuan dan Nyonya Lupita bahagia."]


Harlan tersenyum sumringah "Terima kasih Will, kau memang Asisten yang bisa di andalkan." gumamnya pelan.


Selanjutnya ia membuka pesan dari Della.


"Kakak Dimana?????


"Kak! pliss, angkat donk panggilan telponnya, kenapa nggak aktif sih!


"Kakak tega ya tidak jawab panggilan telpon dari bibi, ingat kak! bibi lah yang selalu ada buat kakak, jangan abaikan bibi yang sudah mengasuh kakak!


"Hah! Harlan mendes*h kasar. "Tidak usah mengajari aku tentang kebaikan Mak padaku, tanpa kau pinta aku akan membalasnya!" kesal Harlan pada chatan Della.


Masih banyak chatan Della yang tidak Harlan baca, ia menghapus dan mengabaikannya.


Aku ingin menelpon Wiliam dan bertanya keadaan Emak, tapi ini sudah pukul dua malam. pasti ia sudah tidur, Lebih baik besok saja aku menghubunginya."


Malam begitu indah, Harlan menatap bintang yang berkelap-kelip di langit-langit. Hatinya begitu bahagia, Ketulusan dan kemurnian cita Lupita dapat ia rasakan. Harlan menghirup udara dalam-dalam dan terasa segar. Angin malam berhembus sepoi-sepoi, menembus tubuh putih tel*njang Harlan. Deburan ombak terdengar syahdu bagai nyanyian malam yang indah. Lama ia terpaku dalam diam dan menyaksikan keindahan alam yang sempurna.


Tubuhnya terasa dingin, Harlan masuk kedalam kamar, ia terkejut melihat ranjangnya kosong, Lupita tidak ada diatas kasur,


"Sayang... kau dimana? Harlan berjalan kearah kamar mandi dan membukanya, tapi Lupi tidak ada disana, ia keluar kamar dan mencarinya di ruangan tamu dan meja makan. Ruangan itu tidak tersekat. wajah Harlan terlihat gusar.


"Lupi! seru Harlan, ia membuka pintu utama dan keluar menuju teras. Berjalan kearah taman yang berada di samping Resort.


"Lupi kau dimana?! Harlan kembali berseru, ia sangat khawatir dan masih terus mencari dan berjalan kearah kolam renang. Namun, ia tidak menemukan sosok istrinya disana.

__ADS_1


Prankk!


Terdengar suara barang pecah belah di dalam rumah, Harlan berlari dan membuka pintu kasar.


JEDAR!


Ia mencari asal suara yang mengarah kedapur.


"Lupi..? apa yang kau lakukan disini?! tanya Harlan dan berjalan mendekat.


"Mas! maaf, Gelas terlepas dari tanganku karena kaget, tadi kau berteriak sangat kencang."


"Sejak tadi aku mencarimu, Kau darimana saja?! ucapnya panik.


"Aku haus mas, tadi saat terbagun Mas tidak ada di ranjang, aku panggil tapi tidak ada jawaban, aku keluar kamar dan menuju dapur, baru selesai minum Mas berteriak, aku kaget karena masih mengantuk."


"Iya maaf ya, Mas ninggalin kamu sendiri." memeluk tubuh Lupita yang terlihat seksi dengan lingerie merah maroon "Tadi Mas lagi di balkon, Ya sudah yuk, kita Bobo panas lagi." Harlan tersenyum nakal.


"Apa..? Nggak mau, aku capek mas! gerutu Lupi seraya mendorong tubuh kekar Harlan.


"Ya sudah, besok saja kita lanjutkan, sekarang kita bobo lagi, untuk tenaga besok."


Lupita mengangguk sambil menguap, rasa kantuk masih menguasai dirinya. Mereka berdua naik keatas ranjang. Sebelum tertidur Harlan menciumi, kening, pipi dan bibir istrinya.


"Good night, honey.."


Mata Lupi terpejam, Harlan mendekap erat tubuhnya seakan tidak ingin terpisahkan, Dan keduanya hanyut dalam mimpi yang indah.


πŸ’œπŸ’œ


@Masih unsur dewasa, tolong bijak dalam menyikapi, Makasih πŸ™ (hayo dosa berjamaah, πŸ€­πŸ˜„ Author gak tanggung jawab lohπŸƒπŸƒ)


Jangan lupa untuk


πŸ’œLike


πŸ’œVote


πŸ’œGift


πŸ’œKomen


@Bersambung........πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒ

__ADS_1


__ADS_2