
Harlan menggenggam jemari tangan Lupita "Tidak sayang, tidak mungkin aku meninggalkan mu, aku sangat mencintaimu, bukankah kau bilang ingin melahirkan anak-anak ku yang lucu? Harlan mengangkat sudut bibirnya.
Lupita tersipu malu-malu dengan wajah memerah seperti kepiting rebus.
"Teruslah berada disisi ku, sampai maut memisahkan kita." mencium lembut tangan Lupi dalam genggaman nya.
"Iya Mas, aku janji tidak akan pernah meninggalkan mu, aku akan terus berada di samping mu."
Esok paginya Harlan sudah di perbolehkan pulang dari klinik. Lupita membuat masakan special buat suaminya. Satu piring nasi goreng dan segelas teh hangat ia bawa kedalam kamar.
"Mas..."
Lupita berjalan masuk kedalam kamar dan duduk di tepi ranjang.
"Mas makan dulu ya...?
Tubuh Harlan bersandar pada kepala divan dan tersenyum manis bagai mentari pagi menyinari bunga mawar yang sedang bermekaran.
Lupita mengangkat sendok nya dan mengarahkan ke bibir suaminya, Harlan menerima suapan dari istrinya.
"Kau juga makan, yank."
"Aku akan makan, selesai suamiku kenyang."
Harlan begitu terharu mendengar kata-kata Lupi, ia begitu tulus padanya. Ada perasaan bersalah Harlan, pada istrinya.
Harlan mengambil sendok dari piring yang Lupi pegang, menyendok nasi dan memberikan pada Lupita.
"Mas, aku nanti saja!
"Mas nggak akan makan, bila kau tidak makan juga, ayo kita makan bersama." Lupita mengalah ia menerima suapan dari suaminya.
Kini nasi goreng satu piring sudah tandas. setelah meneguk air hangat dari gelas, Harlan menarik tangan Lupi untuk duduk di sampingnya, dan menarik lupita dalam pelukannya.
"Sayang, terimakasih sudah menjaga ku." mencium kening istrinya.
"Mas...."
"Hemmm...
"Aku ingin mengenal keluarga mu."
"DEG! darah Harlan berdesir, apa yang ia takutkan akan terjadi, sudah pasti Lupita akan menanyakan keluarganya.
Lupita mengadahkan kepalanya dan menatap netra Harlan yang terlihat canggung.
"Aku Pasti akan mengenalkan keluarga ku padamu." membalas tatapan netra istrinya "Aku minta maaf sebelumnya, karena kita menikah tanpa terencana. Menikah karena sebuah fitnahan dan mendadak. jujur, Aku belum ceritakan masalah pernikahan kita pada keluarga ku, terutama pada ibu angkatku yang telah mengasuhku sejak kecil."
"Mas, tinggal dengan ibu asuh? bukan dengan keluarga Mas..?!
"Kan pernah mas katakan, kedua orangtua mas sudah meninggal. Mas di Negara ini tidak memiliki keluarga, hanya ibu asuh keluargaku yang sudah mas anggap seperti ibu kandung."
"Lalu kapan Mas akan kenalkan aku dengan ibu asuh Mas." menatap netral Harlan.
"Mas janji, akan pertemukan kau dengan Ibu asuh, yang sudah mengasuh ku sejak kecil."
Lupita merasa senang dan tersenyum terbit bagai mentari pagi
__ADS_1
"Tapi..." Harlan tampak ragu untuk meneruskan.
"Tapi apa Mas...?" Lupita mendelikan matanya.
"Kau masih harus bersabar, aku akan berbicaranya pelan-pelan agar ibu asuhku tidak syok, sebab ia memiliki penyakit jantung. Aku takut jantungnya kumat."
"Baiklah mas, aku akan sabar menunggu, tapi..."
"Tapi apa sayang...? kini balik Harlan yang menatap penasaran.
"Siapa gadis bernama Della...? apakah ia kekasih mu? atau...." Lupi menggantung ucapannya.
Harlan menarik nafas dalam dan dihempas kannya kasar. "Kau sudah berpikir terlalu jauh Lupi, Della tidak ada hubungan dengan ku sama sekali, ia keponakan dari ibu asuhku, dulu saat aku tinggal di kampung ibu asuh ku, aku tidak memiliki teman, bahkan orang takut melihat ku."
"Why...? Lupita mengangkat alisnya "Apa yang menyebabkan mereka takut padamu mas?"
"Karena aku seorang monster pemakan manusia.., hahaha.." Harlan tergelak.
"Mas jangan bercanda, mana ada monster ganteng! sela Lupita tak percaya.
"Dulu, kulit dan rambutku sangat berbeda dengan mereka. Kulitku putih ada bintik merah, rambutku pirang, mereka selalu memanggil ku dengan sebutan bule kesasar atau monster."
"Mas sekarang kulitnya nggak ada bintik merahnya kok, kulit mas putih bersih." puji lupita
Harlan tersenyum "kulit ini lambat laut berubah mengikuti alam tropis di kampung Ibu asuhku, lima belas tahun tinggal di kampung bisa merubah kulitku dan bintik merah itu memudar."
Lupi masih bersandar di dada Harlan yang berotot tanpa sehelai kaos, ia memainkan bulu-bulu halus yang tumbuh di dadanya."
"Lalu apa hubungan mas dengan Della!
"Aaaawww..." Harlan terpekik dan kaget saat Lupita berbuat konyol dengan mencabut dua helai bulu dadanya. "Sayang Kenapa di cabut bulu dada, Mas?
"Mas sudah jelaskan, kalau Della itu keponakan dari ibu asuh. Dulu saat Mas tidak memiliki teman, Della lah yang sudi berteman dengan mas, menemani berkebun, ke sawah dan main ke hutan."
"Mas menyukai nya..?
Harlan mengeryitkan keningnya dan tertawa kecil "Mas hanya cinta sama istri mas ajah." menarik hidung mancung Lupita.
"Mas, jangan bercanda, jujurlah pada hati mas sendiri! Lupi mengangkat kepalanya dari dada suaminya dan menegakkan duduknya.
"Sayang, dari dulu hingga sekarang, Mas hanya menganggap Della adik angkat, sekarang Della tinggal bersama ibu asuh untuk menjaganya."
"Jangan cemburu gitu donk." Harlan menarik kembali istrinya dalam pelukan dan menciumi Wajahnya.
"Bukan masalah cemburu Mas, tapi kejujuran mas, aku tidak ingin mas bohongi. Mas harus perkenalkan aku sama keluarga mas, dan aku ingin mengenal lebih jauh ibu asuh Mas, yang sudah menjaga dan membesarkan suamiku."
"Iya...Mas janji. Sekarang kita bobok yuk, Mas udah kangen banget pengen kelonan."
"Ish mas, sabar dulu donk, jangan terburu-buru. Pelan-pelan ajah."
Harlan tergelak seraya ******* bibir Lupita yang sudah menjadi candu.
πππ
Esoknya Lupita sudah membereskan pakaian dan memasukkannya kedalam koper. Siang ini mereka akan pulang ke Jakarta. Selesai beres-beres Lupita berniat mandi pagi. Dari atas balkon ia melihat Harlan sedang berenang.
Tring.. tring.. tring..
__ADS_1
Ponsel Lupi berdering, ia berjalan kearah nakas dan mengambil ponsel yang sedang di cash.
"Damar..? sudah berapa hari ini Damar selalu menelpon aku, dan aku selalu mengabaikannya. Bagaimana ini? aku angkat apa tidak? kalau aku angkat, takut Mas Harlan marah, bila nggak di angkat takut berita penting dari perusahaan." Lupita terus memikirkannya, ia sangat dilema dan bingung.
Akhirnya Lupita memutuskan untuk menerima panggilan telpon dari Damar.
"Hallo..."
"Lupi...? kau kemana saja? hampir seminggu kau tidak masuk kantor. Aku sangat khawatir padamu, aku pulang meninggalkan mu dalam keadaan demam."
"Iya ma'af, aku sempat masuk rumah sakit, dan sekarang sedang beristirahat."
"Kau beristirahat dimana? sudah tiga kali aku datangi kerumah mu, tapi rumah mu selalu gelap. Aku tanya pada tetangga sebelah rumah mu, mereka tidak ada yang tahu."
"Buat apa kau kerumah ku?!
"Aku hanya ingin melihat keadaanmu, Lupi."
"Aku sudah baikan, besok aku akan masuk kerja kembali."
"Kau sekarang berada dimana?
"Aku tinggal dirumah saudara ku, karena aku tidak ada teman saat sakit."
"Kalau begitu, aku bisa berkunjung kerumah saudara mu, kebetulan ini hari minggu."
"Jangan!
JGLEK
Tiba-tiba Harlan muncul dari balik pintu dan menatap tajam wajah Lupi.
"Lupi... Lupi! aku ingin mengunjungi mu, kau tidak usah takut aku hanya sebentar menemui mu.."
Harlan terus berjalan mendekati, seraya menyoroti wajah Lupita yang terlihat pias dan tegang. Ekspresi wajah Harlan terlihat kesal dan marah, sepertinya ia sudah mendengarkan percakapan Lupita dan Damar.
"Lupi, kenapa kau diam?!
Lupita menelan salivanya, ada ketakutan dari gesture tubuhnya yang serba salah. Saat Lupi akan mematikan telepon, tangan Harlan lebih cepat menarik ponsel dari tangan Lupita. ia melihat foto wajah Damar di layar ponsel, Harlan mengangkat sudut bibirnya, dan tersenyum pada Lupita, ia tidak mengerti arti senyuman suaminya. Lupita sedikit gemetaran, ia takut suaminya salah paham dan bicara kasar pada Damar.
Harlan berjalan kearah balkon dan melempar ponsel Lupita ke kolam renang yang berada di bawah balkon.
Lupita terkejut dan membekap mulutnya tak percaya, dengan perbuatan suaminya.
"Mas! kenapa kau tega membuang ponselku!
"Sayang..., ponselmu sudah tak layak pakai, nanti Mas belikan yang baru, oke..." ucap Harlan santai, seraya berjalan masuk kedalam kamar mandi.
πππ
Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:
πLike
πVote
πGift
__ADS_1
πKomen
@Bersambung........πππ