
"Aaaaa..." Luvi terkejut "Mas mau ngapain?"
"Mas mau mandi, temenin mas mandi." terlihat seringai licik di bibir tipis suaminya.
"Aku sudah mandi Mas!"
"Tidak ada penolakan untuk suamimu, kalau menolak akan Mas beri hukuman yang lebih berat!" Luvi hanya bisa pasrah saat suaminya membawa masuk kedalam kamar mandi.
Selesai beraktivitas di dalam kamar mandi mereka berdua membalut baju kimono. Luvita mengeringkan rambut basahnya dengan hairdryer. Harlan menyugar surai coklatnya ke belakang dengan lima jarinya. Terlihat macho dengan garis tegas wajah tampannya.
Harlan berjalan mendekat dan mencium pipi istrinya yang terduduk didepan meja rias. Mengambil hairdryer dan membantu mengeringkan surai hitam mengkilap.
"Rambut mu sangat indah, tebal, hitam dan bercahaya. Seperti model iklan shampo." puji Harlan, membuat Luvi tersipu malu-malu.
"Sejak kecil ibu merawat rambut ku dengan lidah buaya yang sengaja ibu tanam, kadang juga dengan minyak kemiri."
"Pantas rambut mu sangat bagus." mencium pucuk kepala istrinya "Kau pintar merawat diri, Mas suka semua apa yang ada pada dirimu, alami dan tidak ada perubahan."
"Kebanyakan Kaum wanita ingin terlihat lebih cantik dan awet muda dengan merubah bentuk yang sudah Tuhan berikan, kalau aku ingin terlihat cantik alami hanya untuk suamiku dengan perawatan mandiri."
"Kalau orang sudah merubah penampilan dengan operasi plastik, berarti dia tidak percaya diri. Mas bangga padamu karena sudah cantik dari sananya, apalagi sekarang kau pintar bersolek, Mas tambah sayang. Ingin rasanya Mas makan sehari tiga kali." menciumi punggung putih mulus istrinya.
"Sudah Mas geli." kekeh luvita manja.
JEDER!
Pintu kamar terbuka lebar, berdiri sosok wanita tinggi semampai berkulit hitam manis dan menatap misterius kearah Harlan dan Luvita.
"Kak! di panggil Bibi, untuk makan malam."
Luvita beranjak dari duduknya dan berjalan mendekat "Apakah kau tidak punya sopan santun! untuk masuk ke dalam kamar orang!"
"Aku hanya disuruh bibi untuk menyuruh kak Harlan makan malam. Bibi sejak tadi menunggu kakak, tapi tidak turun-turun!"
"Kalau kami tidak turun berarti sedang ada di dalam kamar, kau itu hanya mengganggu saja!"
"lagian siapa suruh lama di dalam kamar! Siapa juga mau mengganggu kalian? kau saja pencemburu!" sungut Della mencabik.
"Ckckck... Ini anak mulutnya ya!"
"Della! pergi kau! jangan buat masalah disini, kami pasti akan turun." gertak Harlan.
"Tapi kak! aku hanya...
"Kau masih tidak mengerti juga Della! apa telinga mu sudah tuli! handik Luvi kesal.
__ADS_1
"Awas kau Luvi! aku bersumpah akan menghancurkan hidupmu!" janji Della dalam hati dengan kedua tangan mengepal. Menatap kesal dua orang di depannya dan melangkah pergi.
Harlan mendesah panjang "Kenapa sikap wanita itu semakin menjengkelkan."
"Itu karena Ibu terlalu membela dia dan Mas juga tidak tegas terhadap Della!"
"Sayang... Aku tidak tegas dalam hal apa?! kau lihat sendiri bukan? aku bahkan pecat Della dengan alasan pindah posisi kerja sebagai office girl."
"Ohh! jadi benar kata Della! Tiba-tiba Mak isah sudah berdiri didepan mereka. "Istrimu itu pengaruh buruk untuk perusahaan mu! Mak dengar sendiri percakapan kalian berdua. kalau Della di pecat atas perintah dia!" menunjuk wajah Luvi.
"Mak apa-apaan sih! Della ku keluarkan dari kantor adalah mutlak keputusanku! jadi jangan pernah salahkan istriku!"
"Kenapa kamu jadi berubah begitu, Land? sekarang kau sudah tidak pernah menghormati orangtua!" wajah keriput itu meneteskan airmata
Harlan terdiam, terdengar suara nafasnya yang kasar "Bukan seperti itu maksud ku, Mak?"
"Kau selalu saja membela istrimu, mana Harlan yang Emak kenal dulu? dulu kau tidak pernah membangkang Land! dan selalu mendengar nasihat Mak! tapi setelah kau menikahi wanita ini! melirik sinis kearah Luvi "Kau banyak berubah! kalau tau akan seperti ini, lebih baik Mak pergi saja dari rumah ini, dan kau tidak usah mencari Mak lagi!" pekik Mak Isah menangis histeris dan memundurkan langkahnya ke belakang.
"Mak, jangan mundur, nanti jatuh! Harlan berjalan mendekat.
"Jangan mendekat! kau bela saja terus wanita itu! dan kau Luvi!" menunjuk ke wajah Luvi "Kau telah merebut Harlan dariku, aku yang membesarkan dan selalu ada untuknya, sebelum kau hadir dalam hidup Harlan! teganya kau terus menghasut anakku!
Harlan merasa bersalah, sungguh ia tidak ingin menyakiti ibu asuhnya yang sudah membesarkan selama delapan belas tahun. Luvi pun tak menyangka masalahnya akan serumit ini, iapun merasa bersalah dan tak berdaya dengan sikap Mak Isah.
"Itu tidak benar Bu, aku minta maaf bila bersalah, tidak ada niat sedikitpun untuk menghasut Mas Harlan? apa yang mas Harlan putuskan untuk Della, itu sudah ia pertimbangkan sebelumnya."
"Sekarang kau putuskan Harlan! wanita itu atau Mak! Mak yang selalu ada untukmu dalam suka maupun duka! wanita itu hadir saat kau sudah menjadi seorang Goergie Vandeles, CEO perusahaan real estate dan property bahkan pemilik perusahaan Permata dan Berlian.
Luvita tercengang, ia menggeleng kuat. Dadanya terasa sesak, ia sudah tidak bisa menahan tangisannya lagi, Luvi telah di tuduh mengincar harta suaminya, dan ingin memisahkan hubungan antara ibu dan anak hingga terjadi kesalahpahaman. Butiran bening lolos begitu saja dari sudut matanya.
"kumohon jangan pernah buat pilihan yang sulit, aku tidak akan pernah bisa melakukannya! Aku sangat mencintai kalian berdua, Mak adalah ibu yang sudah mengasuhku dan Luvita istri yang akan melahirkan anak-anak ku!"
'Hidup adalah pilihan Land! bila kau memilih wanita itu, Mak akan pergi untuk selamanya dan sampai matipun tidak akan pernah mau melihatmu!" teriak Mak isah terus memundurkan langkahnya.
"Mak ku mohon! ucap Harlan putus asa, dia di hadapkan pada pilihan membingungkan.
Luvita melihat ekspresi wajah Harlan yang tertekan dan kalut. Ada kesedihan di manik coklatnya, perasaan bersalah, sedih dan bingung bercampur menjadi satu.
"Aku yang akan mundur dari hidupmu, Mas!"
"Ap-apa..? Harlan terkejut dan menoleh kearah Luvita yang masih berdiri. "Tidak sayang, aku tidak ingin berpisah!"
"Itu berarti kau memilih wanita itu Land!"
"Mak, mengertilah! jangan buat aku tambah stres dan bingung!" Netra coklat itu berembun, rahang nya mengeras menahan emosi yang tersembunyi.
__ADS_1
"Ma'afkan aku Mas! mungkin ini yang terbaik untukmu, aku tidak ingin dituduh sebagai wanita materialistis yang mengenalmu sebagai Georgie Vandeles, padahal itu tidak benar, justru aku baru mengetahui mu seorang CEO setelah menjadi istrimu!" tetesan airmata terus mengalir deras, Luvi mengusap kasar kristal bening itu. Melangkah masuk kedalam kamar lalu menutup pintu.
"Ma'afkan Mak, Land! tapi keputusan Mak sudah bulat! tolong hargai keputusan Mak!" Mak isah memutar tubuhnya dan berjalan pelan menuruni anak tangga.
"Aarggh!!
Harlan mengacak rambutnya karena frustasi. "Kenapa semua jadi kacau!" Harlan melangkah masuk kedalam kamar, setelah membuka handle pintu yang tak terkunci. Melihat Luvita tertidur diatas ranjang dengan membelakangi dirinya, tubuhnya masih terguncang hebat karena tangisan. Harlan naik keatas kasur dan memeluk istrinya dari belakang.
"Sayang ma'afkan Mas ya, jangan pernah bilang ingin pergi dariku! mencium punggung istrinya.
Hiks.. hiks.. "Aku menyerah Mas, aku tidak ingin tinggal disini lagi, aku ingin pulang kembali ke rumahku!'
"Kau jangan berkata begitu sayang, ini juga rumahmu."
"kau lihat sendiri bukan? bagaimana ibu membenciku, kau harus memilih antara aku atau ibu asuh mu!"
"Tidak mungkin aku memilih kalian berdua, kalian adalah bagian dalam hidupku. Mak sudah tua, ia hanya emosi sesaat."
"Maaf mas, tapi aku tidak bisa hidup bersama dengan ibu dan Della!"
Harlan menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan kasar "Jadi maumu apa sekarang? Mas akan menurutimu, asal kau tidak meminta berpisah."
Luvi membalikkan tubuhnya, netra mereka saling bertemu "Aku ingin kita mandiri, kita keluar dari rumah ini, tanpa ibu dan Della. Biarkan ibu dan Della tinggal di rumah ini, tanpa mengaggu rumah tangga kita. Aku ingin tenang seperti saat tinggal di rumahku."
Tangan kekar itu mengusap lembut airmata istrinya "Baiklah bila itu keputusan mu, kita akan pindah setelah menikah resmi di kantor KUA."
Wajah Luvita berbinar cerah "Terima kasih Mas. akhirnya kita akan pindah ke rumah ku?"
"Tidak di rumah mu sayang. Kau pikir Mas mu ini tidak mampu memberikanmu rumah. kita akan tinggal di villa. Desain yang pernah kau buat, akan aku maharkan sebagai Mas kawin untuk pernikahan kita.
Luvita membekap mulutnya tak percaya, cairan bening kebahagiaan menetes kembali. "Benarkah Mas? apakah itu tidak berlebihan. Aku tidak ingin di tuduh wanita materialistis."
"Sayang, Mas yang lebih tahu siapa dirimu, jangan pernah pedulikan omongan siapapun termasuk Emak ya?" mencubit hidung mancung istrinya. Luvita tersenyum. Sebuah ciuman hangat Harlan sematkan di bibir istrinya.
💜💜
@Bab nya lebih panjang, Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:
💜Like
💜Vote
💜Gift
💜Komen
__ADS_1
@Bersambung........