Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Cerita Duka Lupita


__ADS_3

"Bang nggak boleh bicara begitu sama tamu! Lupita memperingati


"Lupi tidak apa-apa biarkan saja, kalau gitu kita bicara diluar saja ya, sepertinya disini tidak nyaman.


Lupita mengangguk "Ya sudah ayo Mas."


Mereka berdua berjalan kearah motor yang terparkir.


"Ehh Lupi, malam malam mau pergi kemana? tanya Bejo.


Tapi Lupita tak menggubris pertanyaan Bejo, ia naik motor bersama Harlan.


"Ehh Lupi loe tuh cewek, jangan asal pergi ajah dengan orang lain!


"Udah bang diem, aku juga sudah dewasa dan bisa jaga diri. jangan berfikir yang macam macam."


"Ehh... dikasih tahu malah nyolot luh! menarik kasar tangan lupita.


"Aaaaawww.. apaan sih bang narik tangan sampai sakit begini."


"Jangan kasar bang sama perempuan! bentak Harlan.


"Apa luh jangan ikut campur! bentak Bejo gak mau kalah.


"Sudah.. sudah.., Ayo mas kita pergi ajah, gak usah ladenin nanti makin panjang."


Harlan terlihat geram, wajahnya memerah menahan amarah. Lupita sudah duduk diatas Moge.


"Sudah!


"Sudah Mas!


Motor melaju keluar dari gang sempit itu. Harlan menyusuri jalanan raya mencari tempat yang pas untuk ngobrol.


Lima belas menit kemudian ia berhenti di sebuah Cafe dan memarkir kan Moge nya di lobby utama. Lupita mengikuti langkah Harlan masuk kedalam Cafe.


Seorang Pelayan menyapa dengan sopan.


"Silakan Tuan, Nona kami antar."


Harlan meminta bangku di pojokan agar lebih nyaman dan santai.


"Silakan Tuan, anda ingin pesan apa? memberikan katalog makanan ke atas meja.


"Lupita kau ingin pesan apa?


"Aku juice jeruk ajah."


"Mau makan apa? tanya Harlan lagi


"Aku sudah kenyang, banyak makan kue hari ini, jadi pesan minum ajah."


"Aku pesankan pudding ya, ini tidak mengenyangkan."


Lupita mengangguk.


"Mba, juice jeruk dua dan pudding nya dua."


"Itu saja Tuan?


"Boleh tambahan salat buahnya ya."


"Baik Tuan, bisa ditunggu sebentar."


Setelah pelayan itu pergi, Harlan memulai obrolannya.

__ADS_1


"Aku turun berdukacita atas meninggalnya Paman mu."


"Iya Mas, Terimakasih."


"Oiya Lupi pasti kau bingung dengan kedatangan ku secara tiba-tiba."


"Iya Mas, sudah hampir dua bulan tidak ada kabar, aku pikir Mas sudah berhenti bekerja jadi kurir, aku pernah datang ke gedung perkantoran mas disebelah kantor ku."


"Apa? Harlan terlihat kaget. "Kau mencariku kesana?


"Iya, tapi tidak ada yang mengenal mas Harlan, Karena gedung itu banyak perkantoran nya. kata repsesionis harus tau nama PT nya dulu baru nanti bisa ketemu nama karyawan nya."


"Ahh, syukurlah." Harlan bernafas lega.


"Syukur apanya Mas?


"Hah? maksud ku syukur aku bisa kembali lagi dan bisa ngobrol dengan mu." hehehehe... ujar Harlan berbohong.


"Emang Mas habis dari mana?


"Pulang kampung, paman ku juga sedang sakit disana. Jadi aku berhenti kerja karena tidak bisa cuti sebulan. Sementara aku harus mengurus Paman yang sedang sakit."


"Lalu bagaimana kondisi Paman mu mas?


"Alhamdulillah sudah lebih baik."


"Syukurlah, lalu kalau sudah berhenti bekerja, Mas mau kerja dimana? sekarang sangat sulit mas cari kerjaan."


"kebetulan aku punya sahabat disini, sama sama dari kampung. Ia memiliki usaha garmen, jadi aku bekerja dengan nya."


"Syukurlah kalau Mas sudah dapat kerja lagi."


Lima menit kemudian datang pelayan menaruh pesanan mereka diatas meja.


"Oiya Lupi, Pamanmu meninggal sakit apa? tanya Harlan sambil menyedot juice jeruk di depannya.


"Lupita kalau kau ingin cerita untuk menghilangkan beban mu, katakanlah. Aku siap mendengarkannya."


Lupita mengangkat wajahnya, dan tersenyum getir. "Sebenarnya Paman meninggal karena depresi. Saat aku pulang kerja. Mendengar cerita orang-orang di angkot, katanya ada kebakaran sebuah warung. Aku tidak tahu kalau ternyata yang kebakaran itu adalah warung pamanku. Aku begitu sedih melihat Pamanku yang menangis histeris. Sejak kejadian itu Paman sakit dan mengalami depresi berat. warung itu mata pencarian Paman mengais rezeki. Ia stroke seminggu, sebelum akhirnya meninggal. Bersamaan dengan itu aku dipecat dari pekerjaan ku." mata Lupita sudah berkaca-kaca.


Harlan begitu sedih mendengar cerita lupita. hatinya ikut pedih merasakan penderitaannya. Saat ini Harlan mengutuk perbuatan orang yang telah membakar warung Pamannya dan juga Direktur yang telah memecat Lupita.


"kau tahu siapa yang membakar warung itu?


"Sampai sekarang pun belum ada yang tahu, apa motif orang itu ingin membakar warung Paman. Tapi sebelum Paman meninggal ia mengatakan padaku, pembakaran warung itu adalah anak buah juragan Karyo. Tapi sampai sekarang belum ada bukti untuk menjerat mereka." ucap Lupita sedih.


"kurang ajar sekali juragan Karyo! itu menindas kaum yang lemah, hanya karena kesalahan satu orang. Tapi Ia membuat kerusakan satu keluarga. kau tenang saja aku akan membantumu."


"Tidak Mas! jangan mengambil resiko. Aku tidak ingin menambah beban orang lain, biarkan mereka akan mendapatkan karma atas perbuatan mereka!


"Lupi, makanlah pudingnya dulu, jagan di anggurin begitu." Harlan menyela ucapan Lupita.


"Iya Mas!


"Aku menyesalkan orang orang yang telah memfitnah mu dikantor, sampai kau mendapat pemecatan, bahkan uang bonus mu hilang."


Melati menghentikan makan puddingnya. Iya menatap Harlan bingung "Dari mana Mas tahu kalau aku kehilangan uang? sedangkan aku belum cerita." tanya Lupita sedikit curiga.


Harlan sempat terdiam dan mulai berpikir "Apakah kau lupa, kalau teman satu kosan ku bekerja di kantor yang sama denganmu, aku tahu dari temanku."


Lupita mendesah pelan "Jadi berita tentang kehilangan uang itu sudah tersebar kemana-mana? aku jadi malu, apalagi di pecat karena tuduhan mencuri desain Pak Yono."


"Lupi, semua akan mendapatkan balasannya. Siapa yang menabur dia sendiri yang akan menuai hasilnya. kau tidak perlu khawatir, semua akan baik-baik saja." ujar Harlan tersenyum.


Lupita mengangguk pelan,

__ADS_1


"Oiya sebelumnya aku minta maaf atas kesalahpahaman ku waktu itu. Aku tidak berniat untuk merendahkanmu dengan memberikan uang sepuluh juta. Aku hanya berniat membantumu. jujur aku merasa bersalah."


"Tidak masalah. Tidak perlu minta maaf Mas, kau tidak bersalah, Aku yang terlalu egois dan aku baru menyadari kalau perbuatan ku itu sangat menyinggungmu. Justru aku ingin minta maaf dan mencarimu di kantor. karena tiba tiba kau tidak pernah ada kabar. Sungguh aku merasa bersalah Mas."


"Tidak Lupi, kau tidak bersalah sama sekali. kau berhak marah padaku. Sekarang masalah itu tidak usah kita ingat lagi ya? memberikan tissue pada Lupita.


"Iya Mas! Lupita tersenyum canggung.


"Untuk membantu keluarga Paman mu yang sudah tiada, aku hanya bisa memberikan ini sebagai bentuk bela sungkawa." menyerahkan amplop putih tebal pada Lupita. Lupita hanya terdiam.


"Ambillah kau tidak usah sungkan. Aku hanya sekedar membantu."


Menerima amplop itu "Terimakasih Mas atas kebaikan mu."


"Oh iya Lupi, apa kau masih ingin bekerja di kantor Vandeles."


"Tentu saja Mas, karena aku merasa nyaman bekerja disana, Desain interior adalah bidang ku. Tapi... rasanya mustahil bila aku akan kembali bekerja disana."


Harlan tersenyum "Semoga saja kau di panggil kembali bekerja disana."


"Entahlah mas, tapi aku tidak yakin!


"Kau harus yakin!


Lupita menarik nafas dalam-dalam "Semoga saja mas!


Harlan menoleh Arloji ditangannya. "Lupi sebaiknya kita pulang, ini sudah malam."


"Iya Mas! menyedot minuman terakhir.


"kau masih haus? bisa kita pesan lagi."


"Tidak usah Mas, cuma tadi mubazir kalau tidak dihabis kan."


Mereka berdua berjalan meninggalkan tempat itu setelah Harlan membayar tagihannya.


Lima belas menit kemudian, mereka sampai di depan rumah Lupita. Setelah Lupita turun Harlan berkata.


"Lupi! aku sangat khawatir dengan keadaanmu sekarang, sepertinya pria itu ada maksud yang tidak baik denganmu."


"Maksudmu bang Bejo?


"Iya Lupi, ia terlihat tidak baik, kau harus berhati-hati dengannya!


"Aku sudah tahu sifat mereka Mas. orang seperti Bi Surti, Lolita dan bang Bejo."


"Ini rumahmu sendiri bukan?


"Iya Mas, Ini rumah almarhum kedua orang tuaku."


"Kau berhak mengusir mereka semua, mereka tak pantas tinggal denganmu karena mereka sudah tidak ada hubungan apapun, kecuali dengan Lolita anak dari pamanmu."


Sebenarnya aku kasihan pada bibi karena tidak memiliki rumah dan pekerjaan. tapi melihat bibi dan loly ditambah lagi bang Bejo yang sering menyakitiku. aku jadi mulai berpikir untuk mengusir mereka dari rumahku."


"Lakukan sesuai kata hatimu! Ya sudah kalau begitu aku pulang dulu ya, Jaga dirimu baik-baik."


"Iya Kak! terimakasih."


'


'


'


'

__ADS_1


'


@Bersambung......💃💃💃


__ADS_2