Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Godaan Wiliam


__ADS_3

"Mas, ko bibirnya manis, habis minum apa sih! sela Lupita setelah melepas ciumannya


"Habis ngerokok sama minum sirup."


"Pantas manis."


Hammppp!


Harlan mencaplok bibir ranum Lupita yang sudah menjadi candu.


Malam itu mereka melepas rindu kembali, hasrat keduanya mulai terkumpul lagi, setelah ujian kecil membuat mereka bersitegang. Banyak orang yang mengatakan, bila sehabis ribut pasti akan bersemangat lagi untuk memulai sebuah hubungan batin. Entahlah benar atau tidaknya, semua itu hanyalah mitos atau kebetulan saja.Mereka berdua harus bisa melepaskan ego masing-masing demi keharmonisan bersama, sebab ujian sampai kapanpun akan terus datang, selama kita masih bernyawa.


Kini mereka berdua sedang menikm*ti surganya dunia. Terdengar desah*n dan erang"n dari bibir Harlan dan Lupita, yang saling bersahutan. Suara merdu mereka terdengar syahdu dimalam sunyi itu. Dari kejauhan sesekali terdengar suara deburan ombak yang sedang bermain.


Dua jam telah berlalu, terdengar dengkuran halus dari nafas Lupita. Harlan menatap teduh wajah istrinya, menciumi kening dan bibirnya.


"Terimakasih sayang, kau selalu membuatku bahagia di atas ranjang, selalu memenuhi keinginan ku." Harlan tersenyum puas dan beranjak dari ranjang, mengambil bungkus rokok dari saku celananya dan berjalan kearah balkon. Menyalakan pematik api di bibirnya yang sudah tersulut ujung rokok, menghisap dalam rokok di sela-sela jarinya. kepulan asap mengitari wajahnya, ada kelegaan setelah melepaskan hasrat.


"Apa yang harus aku katakan pada Emak, kalau aku sudah menikahi Lupi." mengisap kembali batang rokok yang tinggal separuh "Lupita sudah menjadi tanggung jawabku, apalagi kami sudah melakukan hubungan intim. Tidak mungkin aku meninggalkan Lupita sendiri di rumah sederhana itu. Sudah selayaknya Lupi mendapatkan kebahagiaan sebagai seorang istri Georgie Vandeles."


Ahh! Harlan mendes*h kasar "Tapi...? apakah Mak akan merestui pernikahan ku yang di awali dengan kebohongan?! aku tidak jujur pada Mak tentang pernikahan dadakan ku, dan pada Lupi? aku juga berbohong, Kalau sebenarnya aku adalah Goergie, CEO tempatnya bekerja." rasa gusar dan takut terlintas dari benak Harlan yang terus bertanya-tanya.


"Aku takut Lupi kecewa dengan kebohongan ku, dan pada akhirnya ia malah akan pergi menjauh. Sejujurnya aku sudah sangat mencintai Lupita dan tidak ingin berpisah lagi." Harlan memejamkan matanya, berusaha menangkan pikirannya yang tegang. Batang rokok sudah habis ditangan, ia mengambil kembali batang rokok dalam bungkusnya dan menghisap kuat, begitu seterusnya hingga satu bungkus rokok habis hanya kurun waktu dua jam. Ia masuk kembali kedalam kamar. Setelah bersih-bersih sebentar, Harlan naik keatas ranjang dan memeluk erat tubuh Lupita.


*****


Dering ponsel Wiliam terdengar nyaring, ia mandi dengan terburu-buru dan menyudahi aktivitas nya. Melangkah cepat keluar kamar mandi dan mengambil ponsel di atas meja.


"Hallo Tuan..., good morning."


"Kau pikir di Belanda sudah pagi? disini baru pukul sebelas malam."


"Ah iya Maaf Tuan, saya lupa!" Wiliam terkekeh. "Maaf tuan, ada yang bisa saya bantu?!


"Tentu saja, aku ingin bicara dengan keponakan ku yang keras kepala itu, sudah berkali-kali aku menghubunginya, tapi tidak aktif!"


"Astaga, aku harus mencari alasan pada paman? Wiliam sangat bingung dan tegang. "Alasan apa yang harus ku katakan?!


"Willi!!... Kenapa diam, cepat panggilkan Georgie! ada hal penting yang harus aku bicarakan! atau kau suruh aktifkan ponselnya."


"kenapa juga tuan Goergie tidak aktifkan ponselnya, bikin pusing saja" Hah! Wiliam mendes*h kasar.


"Maaf Tuan, tuan Georgie sedang keluar."


"Kemana ia pergi! terdengar suara Alfonso yang meninggi.


"Saya juga kurang tahu tuan, tuan Goergie hanya bilang mau keluar."


"Baik, kalau begitu suruh hubungi aku secepatnya, ada hal penting yang harus aku bicarakan."


"Baik tuan!


Wiliam bernafas lega untuk sesaat "Kalau tuan tidak bisa di hubungi, aku harus menghubungi Nona Lupi. Ahh sial, aku tidak punya nomor ponselnya, Harus kekantor minta dengan bagian personalia." melempar ponsel asal di atas ranjang.


JGLEK

__ADS_1


"AAAAAAAAA....." suara teriakan bersamaan.


"Ada belalai! pekiknya sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


Saat Wiliam sedang memakai dalaman, masuk Della dan tentu saja melihat sesuatu di bagian bawah perut Wiliam. Dengan cepat Wiliam menaikan boxser nya.


"Hey! bisa diem nggak! melilitkan handuk di pinggang nya dengan roti sobek yang menantang. Wiliam berjalan kearah Della yang masih berdiri diambang pintu. Menarik kasar tangan. "Cepat keluar! apa yang kau lihat tadi jangan sampai bocor kemana-mana, mengerti! ancam Wiliam dengan sorot mata tajam.


"Tunggu sebentar kak! jangan asal main tarik-tarik gini donk! protes Della sambil menelan salivanya melihat tubuh kekar dan roti sobek milik Wiliam.


"Ada apalagi? makanya kalau mau masuk kamar orang ketuk pintu dulu, jadikan pagi-pagi nggak liat yang aneh-aneh! cetus Wiliam kesal


"Sudah kok! kakak saja yang tidak dengar aku mengetuk pintu!"


"Pintar sekali mengelak! Kau mau apa mencariku!


"Di panggil Bibi, katanya bibi nggak mau makan sebelum bicara dengan Kak Harlan."


"Ya ampun! kenapa pagi-pagi aku di buat stress oleh paman Alfonso dan Ibu asuh! gumamnya pelan.


"Apa yang sedang kamu liatin, Dell! sudah sana pergi dari kamarku, nanti aku temui ibu asuh."


Sambil merucutkan bibirnya Della keluar dari kamar. Baru saja Wiliam bernafas lega, tiba-tiba kepala Della menyembul dari balik pintu.


"Kak boleh tanya?!


"Tanya apa lagi?! suara Wiliam sudah sangat kesal.


"Ehh, itu anu..Kalau belalai gajah kan dimana-mana panjang, ko itu pendek!


DELLAAAAAAA....."


BRAKKK!!


Della mencari aman dengan cepat menutup pintu sebelum kena damprat panjang lebar dari Wiliam.


"Sial! pagi-pagi aku sudah dibuat emosi. Dia bilang belalai ku pendek, coba ajah kalau sudah keras, kau tidak akan tahan lihat rudal orang bule." decak Wiliam geram.


Della berlari menuruni anak tangga "Dasar Bule! selalu buat orang tegang, pagi-pagi mata polos ku sudah ternoda."


"Della...."


"Iya Bii...."


"Dimana Wiliam?!


"Lagi pakai baju Bii!


"Itu kamu kenapa, berlari dari tangga sambil ngos-ngosan gitu!


"Ehh, itu anu... Wiliam.."


"Kenapa dengan Wiliam..? tanya Mak Isah mengeryitkan dahinya.


"Della kaget setelah lihat burung perkutut! di dalam kamar!" sela Wiliam seraya menuruni anak tangga dan duduk di samping Mak Isah.

__ADS_1


"Sejak kapan kau pelihara burung perkutut di dalam kamar? Mak isah bertanya pada Wiliam dengan ekspresi bingung.


Della mendelikan matanya menatap kesal pada Wiliam. "Kau kak...!"


"Della, cepat sediakan sarapan untuk Wiliam, sebentar lagi ia akan berangkat ke kantor."


"Iya Bii! Della menurut walau hatinya kesal dengan sikap william yang selalu kasar padanya.


"Will! coba kau hubungi kembali Harlan, sudah empat hari Nggak ada kabar?!


"Baik Bu, nanti saya usahakan menelponnya, tadi juga tuan Alfonso menelpon ingin bicara dengan tuan Goergie."


****


Siang itu Harlan dan Lupita sedang berada di lautan lepas. Mereka bermain banana boat dan menyelam di kedalaman laut, Lupita begitu senang melihat ikan-ikan berwarna-warni bertebaran disekitarnya dan bebatuan karang yang unik dan indah. Harlan dengan setia selalu menggenggam tangan istrinya agar tidak terlepas. Puas bermain di dasar laut mereka naik kembali keatas. Selesai menyelam Lupita menepi di laut, sementara Harlan melanjutkan berselancar bebas diatas laut, membuat Lupita berdecak kagum melihat keahlian suaminya dalam berselancar.


Selesai berselancar, Harlan mendekati Lupi yang duduk di bawah payung besar.


"Mas! ponselmu sejak tadi berdering?!


"Bukankah ponselku lowbet?!


"Tadi, selagi mas main selancar, aku cash pakai baterei yang aku bawa."


Harlan sedikit kaget, karena ia takut Lupita mengetahui rahasianya, ia belum siap untuk membuka jati dirinya.


Ponsel berdering kembali, dengan cepat Harlan mengambilnya sebelum keduluan Lupita. ia berjalan menjauh setelah tahu itu dari Della.


"Hallo Del...


"Kakak! akhirnya telpon diangkat juga."


"Ada apa kau menghubungi aku terus!" serunya, yang terdengar tidak suka Della menelpon


"Kakak sayang... jangan marah gitu donk, aku dan Bibi sudah kangen tahu, cepatlah pulang."


"Apa hak mu menyuruh aku pulang?


"Kenapa kak Harlan selalu bicara kasar padaku? dulu kakak selalu bicara lembut padaku? hiks... terdengar suara isakan tangisan Della di ujung telpon.


Harlan menghela nafas dalam " Kau mau apa hubungi aku Dell? bilang pada Mak, tiga hari lagi aku pulang." kini suara Harlan sudah melembut.


"Siapa Della... Mas!


Harlan tersentak kaget dan membalikkan tubuhnya, ia terkejut melihat Lupita sudah berdiri di belakangnya.


πŸ’œπŸ’œ


Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:


πŸ’œLike


πŸ’œVote


πŸ’œGift

__ADS_1


πŸ’œKomen


@Bersambung........πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒ


__ADS_2