
"Iya, tapi tidak ada lain kali ya Mas!
"Kok ngebalikin ucapan Mas sih! Harlan terkekeh.
"Yank!
"Heum!
"Kamu tambah cantik sekarang, Mas tambah cinta! Harlan menciumi istrinya bertubi-tubi.
"Ish gombal!"
Luvita melirik kearah pintu yang sedikit terbuka, ia lupa menutupnya dengan rapat.
["Ternyata dinding pun bisa mendengar, baiklah Della aku akan buat kau seperti cacing kepanasan.]
"Sayang..." Luvi mengurai pelukannya dan merapikan dasi suaminya yang sebenarnya sudah rapi
"Iya darling..." tersenyum terbit.
"Apa Mas tulus dan benar-benar sayang padaku?
"Jangan di ragukan lagi, kau adalah bagian dari hidupku. Kenapa Kau tanyakan itu? apa selama ini kau meragukan cinta Mas?"
Luvita menggeleng bersama senyuman termanis yang ia punya "Aku hanya takut, ada orang lain ingin mengambil suamiku, Mas tau sendiri bukan? Pelakor sekarang gatel-gatel dan minta di garuk." sindir Luvi melirik kearah pintu.
"Hahahaha... Harlan terbahak. "Untuk apa mencari diluar sana, kalau istriku saja lebih sempurna dan memiliki segalanya. Percayalah honey aku tidak akan pernah berpaling, kau cinta pertama dan terakhir ku!"
Luvi tersenyum puas, Harlan menarik dagu istrinya dan memberikan ciuman hangat penuh cinta, Luvita membalasnya dan bersorak dalam hati penuh kemenangan.
"Brengsek! kau selalu bisa menguasai kak Harlan, tidak akan aku biarkan kau menang, Luvi! Kalau aku tidak bisa memiliki kak Harlan, kaupun tidak boleh memilikinya!" Della mendengus kesel seraya berjalan menuruni anak tangga.
Puas saling mentransfer energi di pagi hari, mereka melepas ciumannya. Luvita melirik kembali kearah pintu, Namun Della sudah menghilang.
"Sayang, sekarang tolong bantu Mas, untuk membujuk Inez kerja kembali ke perusahaan Vandeles, Mas akan menaikkan gajih Inez."
"Mas, Inez itu terlalu sakit hati dengan perbuatan Wiliam, padahal ia salah satu karyawan yang pandai, rajin dan pekerja keras."
"Ahh! Harlan mendesah kasar "Masalah Wiliam biar Mas yang urus. Mas ingin pertahankan Inez bekerja di perusahaan Vandeles, Mas takut setelah Inez keluar dari perusahaan kita, banyak perusahaan lain membujuknya bekerja."
Luvita mengangkat sudut bibirnya "Baiklah, aku akan bantu Mas untuk meyakinkan Inez, tapi ada syaratnya."
Harlan mengeryitkan alisnya "Apa syaratnya?'
"Turun kan jabatan Della di perusahaan, Aku yakin dia tidak bisa apa-apa dan tidak bekerja dengan baik. Pasti karyawan senior yang kerjakan tugas kantor."
["Mas, aku hanya ingin tahu seberapa besar cintamu padaku. Kau lebih mendengarkan aku atau ibu asuh mu, dan membela Della?]
"Kenapa Mas, apa kau ragu?"
"Baiklah, posisi apa yang pantas buat Della."
Senyuman penuh cinta Luvi berikan untuk suaminya. "Della hanya lulusan SMA, menurut ku tempatkan saja di bagian gudang, sepertinya dia pantas disana."
"Apa kau yakin yank?
"Mas adalah CEO di perusahaan Vandeles, keputusan Mas adalah mutlak, tunjukkan kekuasaan mu Mas, tanpa ada bujukan dari pihak manapun. Aku sebagai seorang istri hanya memberikan masukan."
"Baiklah, Mas ikut saran mu. Akan aku jadikan karyawan biasa yang bertugas memberikan laporan pekerjaan karyawan."
"Itu terserah Mas, yang penting posisi akuntan diberikan pada orang yang berkualitas dan tepat."
"Baiklah nanti Mas rubah posisi Della, Sekarang kita ke bawah, Mas ada meeting pagi ini!
"Sebentar Mas." Luvi mengambil kopi diatas meja dan memberikan pada suaminya.
"Jangan lupa, kau harus bujuk Inez, dua hari lagi ada pertemuan para investor."
__ADS_1
"Tentu saja Mas, aku pasti akan bantu suamiku."
"Terima kasih honey." mencium lembut kening istrinya.
Mereka berdua berjalan menuju anak tangga.
Diruangan makan, Harlan menarik satu kursi.
"Land, kau bisa pulang lebih cepat?"
"Hari ini banyak pekerjaan, memangnya ada apa, Mak?
"Bisa kan nanti sore antar Mak dan Della ke rumah bu sum, dia masih saudara kita di Lampung. Sekarang ada di Jakarta di rumah anaknya."
"kan ada supir pribadi Bu.." timpal Luvi.
"Luvi! kau jangan asal nyambar Kalau ibu dan anak sedang bicara. Itu namanya nggak sopan!" bentak Mak Isah menatap sinis.
"Ma'afkan saya Bu," ucap Luvi, matanya tertuju pada Bi sumi yang melambaikan tangan kearahnya, Luvita berjalan kearah dapur dimana bi Sumi berdiri di belakang bufet.
"Mak, tolong bicaralah baik-baik pada Luvi, dia itu istriku."
"Iya Mak tahu Luvi itu istrimu, tapi tidak sopan menyela obrolan orang tua!"
"Sudahlah Mak tidak usah di perpanjang." ucap Harlan, memutar matanya malas.
Luvi berjalan mendekat dimana bi Sumi berdiri. "Ada apa bi.." bi Sumi berbisik di telinga Luvi. "Benarkah? mata Luvi melebar "Della mau bermain-main dengan ku lagi, dia pikir hebat!
"Sini bi! Luvi membisikan bi Sumi dan di anggukan olehnya.
Luvi kembali berjalan ke ruangan makan dan menarik satu kursi di samping suaminya.
"Kenapa kau meninggalkan meja makan?" tanya Harlan sambil memasukkan nasi goreng ke mulutnya.
"Cuci tangan Mas!
"Bukan kah ada sendok."
"Terimakasih bi.." ucap Luvi dan di anggukan oleh bi Sumi.
Luvita mulai menyendok nasi goreng seafood buatan bi Sumi.
["Mampus! makanlah Luvi, sebentar lagi kau akan memuntahkan makanan itu! ujar Della tersenyum licik.]
Hening, tidak ada yang berbicara saat makan. hanya bunyi dentingan garpu dan sendok. Beberapa menit kemudian.
"Sialan! kenapa Luvi begitu santai menikmati nasi goreng itu sih! gumamnya kesal sendiri.
Saat Della ingin menyendok nasi goreng di depannya ia menjerit.
"Aaaaaaaaa...." huek...
Della terkejut di dalam nasi goreng ada cicak mati dan ia langsung mual-mual. Mengambil air putih didepannya, dan ia menyemburkan air dalam mulutnya.
"Della, apa-apaan ini!" sungut Mak Isah.
"Air minumnya asin dan nasi goreng ku ada cicak mati, Mak!" kesal Della
Luvita tertawa jahat dan mengumpat dalam hati. "Bagus Della, kau nikmati makanan mu sendiri. untung bi Sumi menukar nasi goreng itu!"
"Bibi....! teriak Della
"Kau tidak perlu berteriak disini Della! bentak Harlan "Disini bukan hutan, ganggu selera makan saja!" sungut Harlan berdiri dan pergi meninggalkan meja makan.
Della mual-mual dan berlari ke kamar mandi.
Luvi menggeser kursinya "Aku permisi dulu Bu!" tanpa menunggu jawaban dari Mak Isah, Luvi meninggalkan wanita paruh baya itu untuk menemui suaminya.
__ADS_1
Saat berpapasan dengan Della, Luvi berhenti sejenak "Lain kali, berfikir lah dua kali bila ingin bermain-main dengan ku! kau yang menaruhkan cicak itu untuk ku, Namun, cicak itu sendiri yang loncat ke piring mu!" Luvi terkekeh geli seraya berjalan.
"Sialan! Sialan!" Della menghentak kan kakinya ke lantai.
"Sayang, Ma'afkan ucapan Mak tadi ya. Tolong jangan diambil hati."
"Tidak apa-apa kok Mas, aku memakluminya, Karena ibu sudah tua."
"Terima kasih sayang, Mas pergi dulu ya." mencium kening dan kedua pipi istrinya.
**
Mobil berhenti didepan perkantoran Vandeles. Harlan dan William masuk kedalam ruangan.
"Hari ini ada schedule apa saja will."
"Ada pertemuan dengan Tuan Haris dari PT Internusa, untuk membicarakan pembangunan real estate di kota Bandung.
"Okeh!
"Will, bagaimana kinerja Della selama di posisi akuntan."
Senarnya saya tidak ingin menjelekkan pekerjaan Nona Della, karena saya masih memandang Ibu asuh."
"katakan yang jelas, aku tidak ingin bertele-tele! jangan kau sangkut pautkan di rumah dengan pekerjaan di kantor."
"Baik Tuan, Kalau menurut saya Nona Bella kurang kompeten di bidang akuntansi. Banyak karyawan yang mengeluh pada saya dengan pekerjaan Nona Della yang banyak mengatur."
"Kalau begitu panggil Della ke mari!"
"Tapi... apa tuan akan memecatnya? saya tidak enak dengan ibu Asuh, bila Tuan memecat Nona karena pengaduan dari saya."
"kau tidak usah khawatir, aku sendiri yang akan menjelaskan pada Mak ku!"
Wiliam mengangguk dan melangkah pergi menuju ruangan Della.
Di dalam ruangan Della sedang berdebat dengan teman satu ruangannya 'kau itu kerja nggak becus! masa membuat laporan saja masih salah begini, bodoh tuh jangan dipelihara!
"Tapi itu semua sudah benar kak! aku sudah menghitungnya ulang" bela Diana merasa laporan yang ia buat sudah benar.
"Kau itu jangan nyolot ya! aku bilangin kakak ku untuk memecat mu!" bentak Della.
"Aku salah apa coba? hanya menjelaskan, tidak ada kesalahan pada laporan keuangan ini!"
Wiliam yang sudah berdiri di depan pintu, gelengkan kepala lihat kelakuan Della yang arogan dan merasa ingin menang sendiri.
"Nona Della! anda di panggil Tuan Goergie."
Della tersenyum puas "Baik kak Will!"
Setelah berbicara Wiliam pergi.
"Ingat ya Diana, kau karyawan yang merasa sok pintar! lihat saja akan aku adukan pada kakak ku! bersiaplah untuk tinggalkan perusahaan ini! ucap Della sombong sambil mengibaskan rambutnya dan berjalan pergi.
๐๐๐
Nb: Di semua novel pasti ada peran antagonis, kalau tidak ada yang jahatnya, nggak seru, jadi nikmat saja ya jalan ceritanya.๐ค
@Selamat menyantap Sahur, semoga puasa kita di terima Allah SWT. Aamiin ๐คฒ
@Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:
๐Like
๐Vote
๐Gift
__ADS_1
๐Komen
@Bersambung........