Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Pengakuan Membawa Dilema


__ADS_3

"Tadi Mas bilang Apa? meeting?


Harlan tertegun, ia keceplosan. "Iya.. maksud Mas, meeting para kurir. Meeting bukan hanya di kantoran elit saja, di kantor mas juga ada, untuk memacu kualitas kerja kurir.' ucap Harlan berdusta.


"Ohh! ya sudah, aku tunggu dirumah ya, Mas."


Telpon terputus, Harlan bernafas lega. ia kembali kerungan meeting dan duduk di tempat semula.


Jam sudah menunjukkan pukul empat lewat tiga puluh menit. Lupita sudah merapikan desain gambar. ia memasukkan flash disk kedalam tasnya. Dan berjalan keluar ruangan.


Tiba-tiba seseorang ada yang menarik tangannya, saat Lupi sudah keluar ruangan.


"Damar! pekiknya


"Ayo kita pulang bersama." menarik tangan Lupita sambil berjalan.


"Lepaskan Damar! menarik dari genggaman tangannya. "Kau tidak bisa mengajak ku semau mu, Apalagi menarik tangan ku paksa." seru Lupita kesal.


"Kau jangan salah paham Lupi, aku hanya ingin mengantar mu pulang."


"Tidak perlu mengantarkan, aku bisa pulang sendiri! celetuknya tegas, seraya berjalan pergi menuju Lobby.


Damar hanya mendengus kesal. Entah kenapa ia bisa menyukai sosok wanita seperti Lupita yang kalem dan sederhana. Tiga minggu mengenal Lupita membuat ia jatuh cinta. Padahal Damar sosok pria pintar dan memiliki stel bagus di beberapa perusahaan ternama, Ia ditarik dari anak perusahaan oleh Direktur Anton, yang bekerjasama dengan perusahaan Vandeles, untuk mengantikan posisi Yono yang sudah di pecat.


Lupita sudah berdiri di halte, setelah menyebrang menggunakan tangga penyebrangan. Dulu sebelum Harlan menikahi Lupita, hampir setiap hari Harlan menjemputnya untuk pulang. Tapi setelah Harlan menikahinya dan Mak isah, ibu asuhnya sering sakit-sakitan. Harlan jadi sulit bergerak, ia harus bisa membagi waktunya. DiSaat kondisi Mak isah sudah menua, ia semakin posesif pada Harlan. ia berharap Della bisa menjaga dan menghibur ibu asuhnya.


Jam sudah menunjukkan pukul 5.25 menit. Lupita masuk kedalam mobil angkot. Tanpa ia sadari seseorang telah mengikutinya.


🌺🌺🌺


Sementara Harlan sudah menyelesaikan kerjasama dengan Direktur Hendra. Sebelum meninggalkan ruangan Hendra berbicara pada Harlan.


"Tuan Vandeles, bisakah sekretaris anda, saya ajak kencan." ucapnya terkekeh.


Harlan mengeryitkan keningnya "Bila di dalam kantor, dia masih bertanggung jawab dengan perkejaannya sebagai seorang karyawan. Tapi bila diluar kantor, itu bukan tanggung jawab perusahaan lagi."


"Okeh, berarti tidak ada masalah bila aku deket dengannya, bukan?!


"Terserah anda! tapi jangan pernah bawa nama perusahaan ku, bila ada masalah anda dengan Alexa di kemudian hari." imbuh Harlan memperingati.


"Tentu saja tidak! anda tidak usah khawatir, saya tidak akan melibatkan perusahaan dengan urusan pribadi." Hendra melirik Harlan dengan ekor matanya, ia melihat Harlan memasukkan berkas kedalam tas kerja. tanpa ragu Hendra bertanya lagi.


"Tuan Vandeles.."


"Hemm...


"Sebelum saya pergi, bolehkah saya bertanya?


"Silakan! sergah Harlan masih sibuk memasukkan berkas kedalam tas.


"Apa anda sudah memiliki seorang istri?


Deg! seketika Harlan menghentikan tangannya, ia mulai berpikir dengan pertanyaan Herman. padahal semua karyawan, kolega, teman bisnis dan bahkan keluarganya sendiri tidak ada yang tahu kalau ia sudah menikahi karyawannya sendiri, kecuali Wiliam asisten pribadinya. Wajah Harlan berubah pias, apakah ia harus berbohong dan tidak mengakui kalau Lupita adalah istrinya?! Dilema kah Harlan? iya tentu saja ia dilema, tapi ia juga tidak ingin membohongi dirinya sendiri.

__ADS_1


"Haiii... Kenapa anda melamun tuan? tinggal di jawab saja ada atau tidak?! tanyanya seraya terkekeh.


"Iya aku sudah memiliki istri! jawabannya tegas.


Wiliam yang masih berada di dalam ruangan meeting, sangat terkejut tuannya menjawab dengan begitu gamblang tanpa berfikir dulu. Bukan masalah ia sudah menikah atau belum. Tapi semua orangpun tau statusnya yang masih lajang. Yang William khawatirkan bila beritanya sampai terdengar Pamannya Alfonso, sudah di pastikan Lupita berada dalam bahaya.


"Pantas Tuan Vandeles tidak tertarik dengan Nona Alexa, ternyata aku salah menduga. Tuan Georgie yang tampan dan gagah sudah memiliki seorang istri."


"Untuk apa saya mencari wanita yang selalu memamerkan lekuk tubuhnya."


"Wah hebat! tuan Vandeles sangat pemerhati seorang wanita, saya salut. pasti anda seorang suami yang setia, bukan?"


"Tentu saja! karena saya punya prinsip, tidak ingin bermain kotor, entah itu hal pribadi atau bisnis sekalipun!" sindiran Harlan membuat Hendra terdiam. karena Harlan tau, Hendra menyukai wanita malam yang berkelas.


"Ehemm...


"Maaf tuan, sudah waktunya pulang, sudah jam setengah enam." Wiliam berdehem seraya memberi peringatan agar Herman tidak terus memberikan pertanyaan pada Harlan.


"Baik Tuan Hendra. Cukup sampai disini pertemuan kita." Harlan dan Hendra berjabat tangan, lalu pergi meninggalkan ruangan meeting.


Didalam mobil, Harlan merebahkan punggung nya kesandaran jok.


"Kenapa hari ini aku sangat lelah." ucapnya seraya membuka layar ponsel.


"Tuan, kita langsung pulang kan?!


"Iya antar aku pulang dulu, malam aku akan pulang kerumah istriku."


"Kapan Tuan akan memberitahu pada ibu Asuh, mengenai pernikahan dadakan Tuan? Harlan terdiam, ia memindai pandangan nya keluar jendela. "Tadi tuan sudah terlalu jujur pada tuan Hendra tentang pernikahan tuan, bagaimana bila sampai terdengar Paman Alfonso."


"Bukan aku tak ingin jujur pada ibu asuh, ia sedang sakit dan sakitnya sangat memprihatikan. Aku tidak ingin Mak kaget dan jantungan. Biarlah seperti ini dulu, aku pun belum menjamah Lupita. Bila hubungan itu sudah terjadi aku pasti akan berterus-terang pada Mak."


"What?!


Ciiiiiiiitttttttt...


Wiliam tiba-tiba rem mendadak.


"Will......!" bentak Harlan kaget.


"Ma'af Tuan, saya hanya terkejut! untung tidak ada mobil di belakang, jika ada pasti terjadi kecelakaan. "Tuan sudah hampir tiga minggu belum sama sekali berhubungan layaknya suami-istri? pertanyaan Wiliam tentu saja mempengaruhi perasaan Harlan.


"Entahlah apakah aku naif atau bodoh! tapi aku tidak bisa memaksa Lupita untuk melakukan kewajibannya." Harlan mulai memijit pangkal hidungnya.


"Apa Tuan mencintai Nona?! menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, penuh hati-hati.


"Entahlah, aku sendiri belum yakin dengan perasaan ku. Tapi aku menyayangi dan ingin melindunginya."


"Semoga kedepannya ada kejelasan pada hubungan tuan."


"Will! tolong kau jaga rahasia ini dulu dari Paman Alfonso. kalau ibu asuh masih bisa bicara baik-baik, seandainya ia tahu aku sudah memiliki istri. Tapi Paman sangat keras dan sulit untuk di mengerti."


"Pasti Tuan, saya akan menjaga Nona, sebagaimana saya menjaga Tuan."

__ADS_1


"Terimakasih Will, hanya kau yang bisa aku percayai."


Mobil sudah berhenti didepan gerbang, satpam membuka pintu seraya menyapa Wiliam. Mobil sudah masuk kedalam garasi.


"Harlan kau sudah pulang? sapa Mak isah tersenyum sumringah.


"Bagaimana keadaan Mak? sudah minum obatnya?" tanya Harlan seraya duduk di samping Mak Isah.


"Sudah! sekarang sudah baikan, jantung Mak tidak sakit lagi."


"Syukurlah Mak, aku senang mendengarnya."


"Kak, aku buatkan kopi hitam." menaruh kopi didepan Harlan, dan duduk di sampingnya.


"Terima kasih Dell."


"Harlan, besok hari minggu. kau ajak Della jalan-jalan. kasihan Della, dikampung tidak ada Mall seperti di Jakarta."


"Jangan besok Mak, aku tidak bisa."


"Kenapa akhir-akhir ini kau sering pergi tanpa sepengetahuan Mak! wanita paruh baya yang mulai keriput itu, menatap curiga pada Harlan.


"Mak,! meraih tangan Mak isah yang sudah tak kuat seperti dulu. "Perusahaan ku sedang berkembang, banyak pekerjaan yang harus aku urus, mengertilah. Sekarang ada Della untuk menemani Mak, jadi Mak tidak kesepian."


"Kau memang banyak alasan, Lan!" Mak Isah mendengus kesel.


"Kakak pasti lapar, aku siapkan makan ya? imbuh Della mulai mencari perhatian.


"Tidak Dell, aku sudah makan diluar tadi dengan Wiliam."


"Percuma juga kamu masak Dell, kalau Harlan tidak mau makan! cetus Mak Isah, merengut.


"Mak jangan bicara begitu donk? baiklah aku makan. Tapi aku mandi dulu."


Harlan mengusap lembut punggung Mak isah, untuk memberikan ketenangan. kemudian ia beranjak dari duduknya melangkah naik ke lantai atas.


Saat melangkah terdengar bunyi notif dari ponselnya. Ia membuka pesan.


["Mas... jadi pulangkan? aku sudah mengganti seprai baru."]


Harlan tersenyum tipis, dan ia membalas.


["Aku pasti pulang. Besok akan mengantarmu belanja."]


Send.....


["Terima kasih Mas, aku tunggu!]


🌺


🌺


🌺

__ADS_1


BERSAMBUNG......


__ADS_2