Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Saling Mengerti


__ADS_3

Menaruh tubuh Lupita keatas ranjang.


"Tidurlah, aku yang akan tidur di Sofa."


Harlan berdiri dan Ingin meninggalkan kamar. Entah kekuatan darimana tiba-tiba Lupita menarik tangan Harlan.


Harlan menoleh dan menatap wajah lupita yang terlihat gugup. Ia tersenyum terbit bagai mentari pagi.


Harlan tidak jadi meninggalkan Lupita, ia duduk di tepi ranjang seraya menatap lekat wajah Lupita yang terlihat malu-malu. Merapikan anak rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya. Ada getaran aneh dalam dadanya, ia merasa Lupita sudah memberikan lampu hijau dan membuka diri untuknya. Wajah Harlan semakin mendekat, Lupita semakin tertunduk, ia tersipu malu di tatap Harlan begitu lekat. Satu tangan Harlan mengangkat dagu Lupita, hingga keduanya saling bersitatap, perasaan canggung terlihat jelas di wajahnya. Ada debaran kencang di jantung Harlan, dan desiran mengalir dari ujung rambut sampai kaki Lupita. Lupita seakan kesetrum sengatan lebah saat bibir Harlan menempel di bibirnya.


Rasa takut menyeruak dalam dirinya, debaran jantung semakin tak beraturan, bagai lari maraton yang mengitari lapangan stadion. Ciuman yang Harlan sangat lembut dan hangat, Lupita tidak bisa membalas ciuman itu, sebab baru sekali seumur hidupnya ia merasakan sebuah ciuman. Seketika tubuhnya menegang dan kaku, keringat dingin menetes dari dahinya. Harlan melepas ciuman itu.


"Apa kau takut?! tanyanya lembut.


"Ak-aku..." nafasnya mulai terdengar kasar.


"Apa kau tidak pernah ciuman?!


Lupita menggeleng cepat.


Harlan tersenyum lebar "Aku percaya padamu, kau gadis yang baik dan tidak akan pernah menjatuhkan harga dirimu." mengusap lembut keringat Lupi yang menetes.


Tanpa ragu Harlan menjatuhkan tubuhnya keatas kasur, dan menciumi kembali bibir Lupi yang ranum. Lum*tan itu semakin dalam, lalu pindah ke leher jenjang putih istrinya. Namun, Lupi memberikan penolakan.


"Ma'afkan aku mas, Aku...." suara Lupita tercekat.


"Kenapa Lupi? apa kau belum siap? tanya Harlan menatap kecewa.


"Aku bukan menolak atau belum siap. Tapi...


"Tapi apa..? menatap bingung.


"Tadi, setelah sholat magrib, aku datang bulan."


"Ahh! Harlan menarik nafas dalam-dalam dan tersenyum masam. "Ya sudah tidak apa-apa, aku akan menunggu sampai kau selesai."


Harlan bangkit dari ranjang, lagi-lagi Lupita menarik tangan kekarnya, saat Harlan ingin beranjak pergi.


"Apa Mas, ingin meninggalkan aku sendiri di kamar?! atau kecewa karena aku tidak bisa memberikan kewajiban ku hari ini?! Lupita melepas tangan Harlan, dan tertunduk sedih.


Melihat kesedihan di mata istrinya, Harlan kembali duduk dan menarik Lupita dalam pelukannya "Apa kau ingin kita tidur bersama?


Lagi-lagi Lupita mengangguk cepat. Harlan tersenyum terbit bagai cahaya pagi yang menyinari bumi.


"Baiklah aku akan tidur dengan mu, walau aku belum mengambil hak ku, sebab kau kedatangan tamu tiba-tiba." Tutur Harlan penuh pengertian.


Lupita bernafas lega, mereka memutuskan tidur bersama. Harlan mendekap tubuh istrinya penuh kehangatan. Tubuh kekar Harlan mampu membuat Lupita terlena, ia tertidur pulas dalam dekapan hangat suaminya. Harlan tertawa kecil seraya mencium keningnya.


"Kau begitu manis saat tidur seperti ini, Kenapa aku semakin sayang padamu." gumamnya pelan.


Tidak ada kata-kata Cinta atau rayuan gombal yang terucap dari bibir Harlan. Semua mengalir begitu saja tanpa beban. Mereka sama-sama egois, tidak pernah mau mengakui perasaannya masing-masing dan mengungkapkannya. Harlan seorang CEO pemilik perusahaan Permata dan Berlian di Negaranya, memiliki jiwa pemimpin yang tegas dan dingin, ia tidak suka berbasa-basi. Baginya Perbuatan lebih baik daripada ucapan yang belum tentu sesuai dengan kenyataan.


Harlan mulai ikut terlelap Setelah lama menatap wajah istrinya yang cantik alami tanpa polesan.

__ADS_1


Lupita yang sudah terbiasa bangun pagi, terkejut saat berada dalam dekapan dari suaminya Matanya terbelalak menatap dada bidang kekar tanpa baju. Ia menelan salivanya dan mulai mengendurkan pelukannya dengan hati-hati. Terdengar suara dering ponsel Harlan berkali-kali. Lupita ingin membangunkan suaminya, Namun, wajah tampan Harlan bagai magnet yang menghipnotis matanya. Pahatan maha karya Tuhan yang sempurna, begitu kira-kira pikirnya.


Blum!


Mata Harlan terbuka, mereka saling bersitatap. Seketika mata Lupi membesar karena kaget, ia jadi salah tingkah dan tertunduk malu, matanya sudah kepergok dengan pemiliknya. seulas senyuman, Harlan berikan padanya, seraya membelai rambut halus Lupi.


"Kenapa kau kaget begitu? tanya Harlan.


"Sejak kapan Mas membuka baju?!


"Semalam sangat gerah, Mas hampir tidak bisa tidur, terpaksa Mas membuka baju."


"Bukanya kita sudah beli kipas angin?!


"Iya, Mas juga lupa. Kau menaruhnya di mana? Harlan balik bertanya.


"Aku juga baru ingat, semalam dimana aku menaruhnya?!


"Tring, tring, tring...


"Mas, ponselnya dari tadi berdering."


Harlan langsung beranjak dari ranjang dan mengambil ponsel di atas nakas, ia berjalan keluar kamar.


"Hallo...."


"Tuan, cepatlah pulang, hari ini ada rapat penting para dewan direksi."


"Jam delapan?


"Apa? mana keburu aku sampai sana. ini saja sudah jam tujuh."


"Begini saja Tuan, saya akan coba undur setengah jam lagi, Semoga Tuan cepat sampai."


"Tunggu will..! sekarang kau sudah berada di mana? tanya Harlan gusar.


"Sudah berada di kantor Tuan."


"Baiklah, aku langsung menuju kantor. kau suruh supir antar baju ku ke kantor, aku tidak pulang kerumah, pasti akan banyak pertanyaan."


"Siap Tuan."


Harlan mematikan telpon. Saat berbalik ia terkejut, Lupita sudah berdiri didepannya. Harlan menarik nafas dalam dan di hembuskan perlahan, untuk menetralisir keterkejutannya ia tersenyum pada Lupi


"Semoga Lupita tidak mendengar percakapan ku tadi, ma'afkan suami mu ini yang menutup rapat identitasnya." Harlan membatin.


"Kau sudah mandi?"


"Belum! Mas saja yang duluan mandi."


"Iya, akupun harus secepatnya ke kantor, tadi atasan Mas telpon ada barang yang harus di kirim, ini sudah telat." ucapnya berdusta.


Harlan masuk kedalam kamar mandi, ia hanya mencuci muka dan gosok gigi untuk mengejar waktu.

__ADS_1


"Mas pergi dulu ya, nanti kalau pulang cepat, Mas kabarin." Lupi mencium punggung tangan suaminya, di sambut ciuman hangat di kening Lupita.


Motor Harlan melaju dengan cepat, menuju kantor Vandeles.


"Sepertinya ada yang aneh pada sikap Mas Harlan, sikapnya saat bicara di telpon seperti seorang Bos yang perintahkan anak buahnya. Aku jadi penasaran, ia seperti bukan Mas Harlan yang aku kenal."


Lupita menyimpan pertanyaannya sendiri, seraya berjalan masuk kedalam kamar mandi.


*****


Motor Harlan sudah sudah sampai gedung perkantoran Vandeles. Ia menaruh motornya di sebuah gudang dan berjalan kearah Pintu lift menuju lantai paling atas.


TING!


Harlan setengah berlari menuju ruangannya.


"Pagi Tuan! sapa Alexa.


Harlan tidak menghiraukan sapaan Alexa.


"Tuan tunggu!


Harlan berhenti dan menoleh sekilas.


"Di dalam ruangan ada seorang wanita, datang-datang langsung nyelonong masuk. Tidak ada sopan santun.' gerutu Alexa menahan kekesalan.


Harlan mengeryitkan keningnya "Siapa...?! tanpa menunggu jawaban dari Alexa, ia berjalan cepat dan membuka handle.


"Ceklek!


"Kakak..? tiba-tiba terdengar suara Della dan sudah berdiri di depan Harlan.


"Mau apa kau kesini...?! tanyanya sinis


"Aku disuruh Bibi mengantarkan baju kakak, Tadinya Pak Basir yang ingin membawanya sendiri. Tapi bibi takut pakaian kantor kakak lecek atau tidak rapi, jadi aku yang membawakan.


Harlan mendengus kesal "Dimana pakaian ku!


Della mengambilnya di atas sofa yang sudah terbungkus plastik dan memberikan pada Harlan. Tidak ingin membuang waktu ia masuk kedalam ruangan ganti yang berada di kantor.


Selesai mengganti pakaian ia mengambil berkas diatas meja kerja.


"Kakak, darimana saja tidak pulang. Udah dua hari Bibi nangis terus nyariin kakak!"


Harlan hanya menghela nafas kasar dan berjalan cepat keluar ruangan menuju tempat Meeting, tanpa menjawab pertanyaan Della yang sejak tadi berdiri.


🌺


🌺


🌺


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2