Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Curhatan Harlan


__ADS_3

Harlan menarik Lupita dalam pelukannya "Aku tahu, kau masih belum bisa memaafkan ku. Ayo kita mulai dari awal dan jadikan pernikahan ini untuk selamanya."


Airmata Lupi sudah membasahi baju Harlan di pundaknya. "Menangis lah sepuasnya, aku yang akan membalut lukamu." Harlan mengusap lembut kepala istrinya.


Luvita melepas pelukannya.


"Apa kau sudah lebih baik?" Harlan mengusap lembut jejak sisa airmata istrinya.


Luvita mengangguk pelan di sela guncangan tubuhnya bekas tangisan.


"Beristirahatlah, aku akan ke ruangan kerja. karena masih banyak pekerjaan kantor yang terbengkalai, kau tidak apa-apa kan aku tinggalkan?"


Luvita mengangguk cepat.


"Apa kau sudah minum obat?"


"Sudah! ucapnya pelan


Harlan menarik tangan Luvi dan membawanya keatas ranjang "Tidurlah kau perlu istirahat." Harlan menarik selimut hingga batas dada. tangan kekar Harlan mengusap lembut pucuk kepala istrinya. Tak berapa lama Luvita tertidur pulas. kecupan manis ia berikan untuk istrinya.


JEGLK!


Setelah membuka pintu dan menutupnya kembali. Ia berjalan keruangan kerja yang berada di ujung ruangan, Wiliam sudah lebih dulu berada di dalam ruangan.


"Bagaimana keadaan Nona?" tanyanya di sela mengetik diatas laptop.


Harlan mendesah pelan "Masih belum sembuh total, tapi masih agak lebih baik."


"Semoga Nona kembali sehat, begitu banyak cobaan yang ia alami saat Tuan tidak ada di sisinya."


"Kadang aku menyesal telah membawanya masuk kedalam kehidupanku, andai aku tidak lebih dulu datang padanya, dan menjadikan Luvita teman." Harlan duduk di kursi tunggal dengan tatapan menerawang jauh kedepan. 'Awalnya aku hanya iba pada kehidupannya. Dan Tuhan selalu pertemuan kami di tempat yang tak terduga, hingga kejadian yang memalukan itu harus terjadi, Menikah didepan warga karena di difitnah melakukan mesum." Harlan menelan ludah. "Mungkin ia tidak akan pernah menikah denganku seandainya aku tidak ingin tahu kehidupannya." ucapnya merasa bersalah.


"Deg! seseorang sedang mendengarkan percakapan mereka berdua didepan pintu ruangan kerja. Hampir saja ia jatuh kelantai kalau saja tangannya tidak berpegangan pada dingin. "Ternyata Mas Harlan menyesal menikah denganku? gumamnya pelan, dengan lelehan airmata yang menetes begitu saja. "Ternyata kebaikan yang ia tunjukkan padaku hanya pura-pura saja." Luvi mengusap kasar airmatanya. Tak ingin mendengarkan lebih bnyak lagi, yang akan membuat hatinya tambah terluka. Luvi berjalan pelan dengan langkah gontai, ia meninggalkan ruangan kerja suaminya dengan perasaan hancur.


"Kenapa Tuan menyesal? bukankah itu takdir yang harus Tuan dan Nona jalani?"


"Maksud ku bukan menyesal menikahinya, tapi menyesal telah membawanya dalam penderitaan."


"Seandainya takdir tidak pertemukan Tuan pada Nona Luvita, bagaimana nasib Nona bila harus hidup bersama Bibi dan sepupunya yang jahat. Bisa jadi Tuhan menjadikan Tuan pelindung untuk Nona Luvita."


Harlan berpikir dan menoleh kearah Wiliam. "Kau benar Will, bila aku tidak ada dalam kehidupan Luvita, sudah pasti ia akan menderita berada dalam jeratan Bibi nya, bahkan saat ini Luvi sudah menikah dengan juragan Karyo bukan denganku."


"Apa Tuan tulus mencintai Nona Luvi?


"Tentu saja aku sangat mencintainya. Bahkan aku sangat terpukul dengan kehilangan calon anakku, pewaris tunggal Vandeles."


Suara ketukan pintu menghentikan obrolan mereka berdua.


"Masuk! perintah Harlan.

__ADS_1


Pak Toto, pelayan yang bekerja di rumah Harlan masuk kedalam ruangan dengan membawakan dua cangkir kopi dan cemilan, atas permintaan Wiliam.


Jam sudah menunjukkan pukul dua dinihari. Malam itu mereka berdua bekerja lembur dan masih sibuk dan berkutat didepan laptop. Dua bulan lebih Harlan meninggalkan perusahaannya, banyak tugas dan pekerjaan yang terbengkalai, meskipun Wiliam sudah berkerja dengan keras.


"Huft! Harlan meniup kuat. Meregangkan otot-ototnya dan mengambil cangkir kopi, meyerumputnya dengan cepat, sebab kopi sudah hampir dingin.


"Apa anda perlu kopi lagi Tuan?"


"Tidak perlu, sudah dua cangkir aku habiskan. laporannya sudah selesai? besok sudah harus siap didepan Tuan Haruka."


"Sedikit lagi hampir selesai."


"Maaf, sudah membuatmu repot dengan mengerjakan semua tugasku selama aku tidak berada disini."


"Itu sudah tugasku, Tuan."


Harlan mengusap berkali-kali, dengan mata memerah.


"Lebih baik Tuan istirahat saja, biar saya saja yang meneruskannya."


"Tidak usah, aku bisa meneruskannya sampai tuntas, tinggal sedikit lagi." Harlan kembali mengetik tanpa berbicara lagi, ruangan tampak hening, hingga tugas selesai di jam tiga dinihari.


"Aku istirahat dulu Will, kau juga harus rehat. Besok pagi kita sudah harus bertemu cliant."


"Silakan Tuan, saya yang akan bereskan berkas-berkas itu."


Harlan beranjak dari duduknya dan meninggalkan ruangan kerja. Ia masuk kedalam kamar namun, tidak menemukan sosok istrinya diatas ranjang.


Kakinya melangkah ke kamar mandi, namun tidak ada. "Kemana Luvita? bukankah tadi ia sedang tidur?" Harlan terlihat cemas dan gusar. ia berjalan kearah balkon, tetap tidak ada sosok istrinya. Ia berjalan keluar kamar menuruni anak tangga, ruangan kelurga dan tamu tampak kosong.


"Arrgh! kau berada dimana Luvi?" Harlan mendengus kesal. Ia berjalan kearah dapur dan melihat pintu dapur sedikit terbuka.


"Apa jangan-jangan Luvi?"


Dengan cepat ia membuka pintu dan berjalan keluar yang tembus ke halaman belakang dan kolam renang. Ayunan gantung terlihat bergoyang, suara isak tangis terdengar lirih. Harlan berjalan semakin dekat.


"Luvi? kenapa kau berada disini? apa yang sedang kau lakukan?"


Luvita terkejut tiba-tiba Harlan sudah berdiri didepannya, ia mengusap kasar airmatanya.


"Ayo masuk, ini sudah hampir subuh." menarik tangan istrinya. Luvita tidak menolak atau berontak, ia masih harus menata hatinya yang terluka. Luvi mengikuti langkah kaki suaminya menuju anak tangga dan masuk kedalam kamar.


"Ada apa? saat Harlan ingin mengelus kepala istrinya, Luvi menghindar dan berjalan masuk kedalam kamar mandi.


"Ada apa dengannya? alis Harlan mengeryit. Karena lelah ia naik keatas ranjang dan memejamkan matanya.


Selesai membasuh wajahnya, Luvi tidak naik keatas ranjang, ia berjalan ke sofa dan menumpuk dua bantalan sofa, lalu tertidur disana.


Pagi hari Harlan mendapati istrinya tertidur di Sofa. ia tak tega membagunkan Luvi yang tertidur pulas. Mengambil selimut dan menyelimuti tubuh istrinya, ciuman hangat ia kecupkan di keningnya.

__ADS_1


Selesai mandi Harlan mengambil kemeja dan jas di dalam lemari. Ia turun kebawah untuk berangkat kekantor.


"Land, dimana istrimu?" tanya Mak Isah yang sudah berada di meja makan.


"Semalam ia tidak bisa tidur, jam setengah empat baru tidur, biarkan saja ia belum bangun."


"Jangan dibiasakan Land istrimu bangun siang, ia belum bangun di saat suaminya mau pergi kerja."


"Tolong Mak maklumi istriku, ia masih sakit. Kondisinya belum pulih benar!" ucap Harlan kesal, Pagi itu Harlan terlihat banyak beban dengan suasana hati yang tidak baik. Belum lagi semalam ia hanya tidur sebentar untuk menyelesaikan pekerjaannya. Harlan meyerumput kopi dan beranjak dari duduknya.


"Aku berangkat kerja dulu!" Harlan berjalan meninggalkan ruangan makan di ikuti Wiliam yang juga hanya meyerumput kopi.


"Land, Kenapa terburu-buru, kau belum sarapan Nak?" ucap Mak Isah seraya berjalan mengikuti langkah Harlan menuju teras.


"Nanti saja di kantor, aku harus buru-buru." Harlan masuk kedalam mobil setelah Wiliam membuka pintu untuk Tuan nya.


"Kak Harlan, tunggu! aku ingin bareng kekantor." seru Della berlari kearah mobil.


"Naik taksi saja! ucapnya seraya menutup pintu dengan keras.


Della menghentak kan kakinya setelah mobil jauh meninggalkan mansion.


"Kenapa dengan kak Harlan sih bii, wajahnya nekuk gitu!"


"Entahlah, mungkin ia banyak beban."


"Setelah wanita itu datang dalam kehidupan kak Harlan, banyak perubahan pada dirinya!" gerutu Della dengan ekspresi kesal.


Mak isah tidak menimpali ocehan keponakannya seperti biasanya. Justru ia masuk kedalam meninggalkan Della.


Didalam kamar, Luvita terbangun dan mengerjab-ngerjabkan matanya. Pantulan cahaya menembus kulit dan wajahnya. ia menyoroti seluruh ruangan. Tidak ada sosok suaminya lagi diatas ranjang


"Mas Harlan sudah berangkat kerja. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" untuk apa aku bertahan dirumah ini, bila dia saja menyesal menikah denganku!" Luvi mengingat obrolan suaminya semalam dengan Wiliam. Ternyata ia tidak bisa tidur dan mengikuti langkah Harlan menuju ruangan kerja, niat ingin menemani suaminya yang sedang lembur, Namun, tak sengaja ia mendengar curhatan suaminya.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œ


@Maaf ya untuk beberapa reader yang tidak suka dengan karya ini, lebih baik di skip ajah daripada komen bikin penulis bad mood. Harus berapa kali Othor bilang, ini Novel bukan CERPEN!!. Kalau cerita tokoh utamanya harus langsung bahagia dan tidak mau bertele-tele, baca ajah Cerpen langsung tuntas.


Makasih readers yang masih setiap menunggu cerita ini sampai selesai πŸ™πŸ˜˜


@Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:


πŸ’œLike


πŸ’œVote


πŸ’œGift


πŸ’œKomen

__ADS_1


@Bersambung........πŸ’ƒπŸ’ƒ


.


__ADS_2