
Mobil Harlan melaju membelah jalanan raya ibukota, untuk cepat sampai tujuan, mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Pukul sebelas siang mobil sudah terparkir di depan pelataran kantor Vandeles.
"Tuan, apa saya menunggu sampai tuan pulang? tanya Pak Basir, Saat Harlan membuka pintu mobil.
"Tidak perlu, kau kembalilah. Aku masih ada urusan."
"Baik Tuan."
Harlan masuk kedalam gedung perkantoran, wajah tampannya tertutup masker dan kaca mata hitam. Ia berjalan fokus ke depan tanpa menoleh ke kanan dan kiri, Beberapa karyawan yang berpapasan membungkuk memberi hormat.
kaki panjang nya masuk kedalam lift dan berakhir di lantai 15. Setelah sampai di depan pintu, ia melihat sekertaris Alexa sedang menerima telpon. Hanya menoleh sekilas dan membuka handle pintu. Ia tertegun, kedua alisnya mengeryit, saat melihat seisi ruangannya di penuhi rangkaian bunga.
"Alexa.....!" teriak Harlan.
"Ya Tuan." mendengar teriakkan CEO nya, Alexa memutuskan telpon. Ia setengah berlari dan mendekat.
"Ada apa Tuan..?!
"Siapa yang menaruh taman bunga di ruangan ku! bentak nya.
"Sa-ya Tuan." ucapnya gugup.
"Darimana kau dapatkan bunga-bunga itu!
"Ada di taman belakang gedung ini Tuan, tadi pagi saya tak sengaja lewat belakang kantor, dan melihat bunga-bunga itu, saya menyuruh tukang kebun membawanya kemari."
"Kau angkat dan buang semua bunga-bunga itu! jangan ada satu tangkai pun yang tertinggi."
"Ba-ik Tuan!
Saat ingin melangkah, Harlan berkata.
"Satu lagi!
"Iy-a Tuan?!
"Mulai besok kau tambal pakaianmu yang kurang bahan, ini kantor bukan diskotik."
Alexa terlihat biasanya saja saat mendapat teguran dari Harlan. "Baik Tuan." ucapnya datar.
"Cepat bersihkan ruangan ku!
Presdir Georgie yang sifat aslinya keras dan dingin, hanya ditunjuk pada karyawannya saja. Tapi dengan orang yang ia sayangi terlihat lembut dan perhatian.
Alexa pergi meninggalkan Harlan yang terlihat geram. Harlan berjalan ke kursi Presdirnya dan mendudukkan tubuhnya kasar.
"Aacchh... ada-ada saja wanita itu! membuat sampah dirungan ku! gumamnya kesal.
"William pasti masih berada di ruangan meeting." ia melirik Arloji di pergelangan tangannya "Meeting sudah berjalan selama tiga jam, Sepertinya aku telat, biarlah ada Wiliam yang mewakili."
Harlan mengambil ponsel dari saku celananya. "Aku harus memberikan nomor ponsel yang ini, aku tidak ingin Lupita khawatir seperti semalam, nomor yang satunya jarang aku cek."
"Ceklek!
"Tuan!
Wiliam masuk kedalam ruangan dan mengerutkan kedua alisnya, melihat banyak bunga diruangan Harlan.
"Siapa yang menaruh taman bunga di ruangan ini?" tanyanya menoleh wajah masam Harlan.
"Kau tanya saja sekertaris baru mu! imbuh Harlan seraya memijit pangkal hidungnya.
"Alexa?! Wiliam geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Suara pintu diketuk dari luar.
Masuk!
"Ma'af Tuan, Cleaning servis sudah datang, kami akan membawa semua bunga-bunga itu."
"Cepat kalian angkat semuanya! perintah William menatap sorot tajam pada Alexa.
Tiga orang cleaning servis membersihkan semua bunga dan membawanya keluar.
"Alexa..." panggil William.
"Ya Tuan?
"Lain kali jangan pernah seenaknya masuk dan menaruh apapun di ruangan Presdir!
"Baik Tuan! Alexa tertunduk.
"Sekarang pergi lah!
Alexa melangkah pergi keluar.
"Tuan! Direktur Hendra dari PT Angkasa ingin bertemu dengan anda."
"Lalu bagaimana dengan meeting nya."
"Akan dilanjutkan selesai jam makan siang, saya menunggu kedatangan Tuan, sebelum kontrak kerjasama dimulai."
"Oke! Harlan menyalakan laptop dan mulai menyelesaikan pekerjaannya.
*****
Sementara dirungan kerjanya, Lupita sudah mendesain beberapa gambar. ia menoleh pada jam dipergelangan tangannya "Sudah jam makan siang." gumamnya lirih.
"Sudah jam istirahat, semua karyawan sudah keluar ruangan. Ayo kita makan sekalian sholat bareng."
"Kau duluan saja, aku masih tanggung mendesain gambar ini." Lupita menolak dengan halus, sebab ia ingin menghindar dari tawaran Damar, ia tidak ingin Harlan salah sangka padanya. Sampai saat ini ia ajah masih bingung, kenapa Harlan bisa tahu aktivitasnya.
"Jangan pernah menunda untuk makan siang nanti kau sakit Lupi? ujar Damar perhatian.
"Tidak apa-apa, sebentar lagi aku makan kok!
"Ceklek!
"Mbak Lupi ada pesanan lagi." seorang office boy berjalan ke arah Lupita dan memberikan tote bag.
"Terima kasih ya bang." ucap Lupita sopan.
Office boy itu pamit keluar ruangan.
Ia tersenyum dengan wajah berseri-seri "Pasti ini Mas Harlan, Ternyata ia tidak marah." gumamnya dengan senyum di kulum.
"Ya sudah Lupi, aku ke kantin sendiri. Setiap hari sudah ada yang memberikanmu makan siang!" ucap Damar kecewa.
"Oiya Damar, maaf ya. Lain kali kita bisa ke kantin bareng." imbuh Lupita menghibur.
Dengan wajah masam Damar keluar dari ruangan itu.
"Maafkan aku Damar, aku tidak berani makan bersama mu dan berbagi makanan lagi, sepertinya ada mata-mata dikantor ini."
Lupita menikmati makanan pemberian Harlan sendirian. Selesai makan ia termenung. "Tunggu! sudah hampir seminggu ini mas Harlan mengirimkan aku makan siang, dan ini makanan mahal menurutku. Darimana ia mendapatkan uang banyak untuk membelikan aku makan setiap hari? Nanti aku akan menanyakan nya.
Selesai makan siang Lupi menunaikan salat dzuhur dan kembali lagi ke ruangannya.
__ADS_1
"Aku mau telpon mas Harlan, ia suami yang baik dan perhatian. Beruntung aku menjadi istrinya. Tapi... kenapa Mas Harlan tidak bisa romantis padaku dan tidak berani menunaikan kewajiban nya? mungkin hubungan kami belum jelas dan aku juga belum siap melakukannya. Padahal pernikahan kami sudah berjalan dua minggu.
Ponsel sudah berada ditangan, Lupi melihat ada pesan masuk. "Mas Harlan memberikan nomor baru, aku mau menghubunginya, besok hari minggu, bukankah aku ingin membeli perabot?'
Di dalam ruangan meeting, Harlan sudah duduk di kursi bersama Direktur Hendra untuk membicarakan kerjasama yang sempat tertunda. William memberikan berkas pada Harlan. Pembicaraan dua orang itu terlihat serius. Alexa datang membawa nampan berisi kopi, dan menaruhnya diatas meja. Dua kancing atas sengaja ia buka, terlihat belahan dadanya yang mempesona. Direktur Hendra berulang kali menelan salivanya, hingga ia gagal fokus. Harlan yang sudah tahu gelagat Alexa ingin menggoda, hanya membuang wajahnya kesamping.
Tring, tring, tring, tring....
Bunyi suara ponsel Harlan terdengar nyaring. ia mengambil dari saku celananya.
"Lupita?!
"Sebentar, aku menerima telpon dulu."
Harlan beranjak dari duduknya dan berjalan agak menjauh.
"Hallo...."
"Mas.." terdengar suara lembut Lupita di ujung telpon.
"Kau sudah makan?"
"Sudah Mas. Ini nomor Mas yang baru?!
"Iya Lupi, kalau nomor yang satunya tidak aktif, kau bisa memakai nomor ini."
"Oke Mas! terus Kenapa setiap hari, Mas kirimkan aku makan siang?
"Tidak apa-apa Lupi, Mas tidak ingin kau telat makan."
"Tapikan itu makanan restoran Mas."
"Sudah tidak usah dipikirkan, Mas dapat bonus dari rumah makan itu, karena Mas banyak mengirimkan makanan untuk pelanggan.'
"Ohh dapat dari bonus? baik banget restoran itu ya Mas. ku pikir Mas beli setiap hari. Oiya Mas, nanti pulang kan? besok kan hari minggu, kita akan belanja perabotan kan?"
"Iya Mas pulang, tapi agak malam. kau tidak usah masak ya, Mas sudah makan dijalan."
"Iya Mas, aku tidak masak. Tapi mas janjikan akan pulang?! terdengar suara manja Lupita.
Harlan tersenyum cerah "Iya Mas janji akan pulang. Ya sudah, Mas mau lanjut meeting ya."
Saat obrolan mau ditutup, Lupita memanggil lagi."
"Mas tunggu!
"Iya..?
"Tadi Mas bilang Apa? meeting?
Harlan tertegun, ia keceplosan. "Iya.. maksud Mas, meeting para kurir. Meeting bukan hanya di kantoran elit saja, di kantor mas juga ada, untuk memacu kualitas kerja kurir.' ucap Harlan berdusta.
"Ohh! ya sudah, aku tunggu dirumah ya, Mas."
Telpon terputus, Harlan bernafas lega. ia kembali kerungan meeting dan duduk di tempat semula.
🌺
🌺
🌺
@Bersambung......💃💃💃
__ADS_1