
diInez yang duduk di samping Wiliam, tersenyum tipis mendapat aplous dari Pak Anton, Direktur samudra yang berdiri untuknya.
"Jangan genit!" bisik Wiliam kesal, lalu menarik tangan Inez, dan menggenggam nya kuat di bawah meja. Inez terperanjat kaget walau ia tutupi dengan senyum. Tak menyangka perbuatan Wiliam yang terlihat cemburu.
Mendapat teguran seperti itu, wajah Inez berubah merah. Darahnya berdesir dan jantung nya bertalu-talu. Telapak tangannya sangat dingin saat Wiliam meremasnya. Inez tak berani menoleh wajah pria dingin di sampingnya.
"Mari kita bersulang." Direktur Anton mengangkat gelas kristal tinggi itu, diikuti yang lainnya dan berdiri. Kesempatan Inez untuk lepaskan dari jeratan tangan kekar Wiliam. ia berdiri dan mengakat gelas dengan senyuman manis di bibirnya. Melihat semua berdiri, Asisten CEO itu berdiri dan mengangkat gelas.
"TING!"
Bunyi gelas saling berdentingan.
"Saya terima kerja perusahaan Vandeles. Berkat Nona Inez yang cantik, sudah menjelaskan dengan detail program perencanaan pembangunan Apartemen di kota Bandung. Saya sangat tertarik dan menerima kerjasama ini."
"Terima kasih banyak atas kepercayaan Tuan pada perusahaan Vandeles." ucap Inez sopan membungkuk memberi hormat.
"Terima kasih Direktur Anton, saya harap kerjasama ini bukan di perioritas kan karena adanya Nona Inez, dia hanya karyawan desain yang bekerja di perusahaan Vandeles." ucap Wiliam bernada kesal.
"Oohh, tentu saja Tuan Wiliam. Saya hanya mengungkapkan rasa kagum atas kecerdasan Nona Inez, kalau cantik itu poin utama seorang wanita." hahahaha... Direktur Anton tergeletak.
Inez yang menjadi pusat perhatian Cliant. Merasa tidak enak, ia tertunduk dan duduk kembali.
"Baiklah, sekarang penandatanganan kontrak kerjasama kita mulai." Wiliam menunjuk pengacara perusahaan Vandeles yang juga hadir disana sebagai saksi kontrak kerjasama.
Dua perusahaan sedang mengadakan perjanjian kontrak kerjasama. "Baiklah, tinggal tandatangan Tuan Georgie. Besok kami yang akan antar suratnya ke perusahaan PT samudera."
"Baik Tuan Wiliam, kami tunggu." Direktur Anton berkata seraya mengedipkan mata kearah Inez. Tentu saja Inez terkejut dan salah tingkah, namun ia mengalihkan pandangannya.
"Maaf, saya ke toilet sebentar." Inez beranjak dari duduknya dan berjalan kearah pintu.
"Ahh!" Inez bernafas lega. "Akhirnya aku bisa lepas juga dari rapat yang membuatku tegang. kenapa direktur itu terlihat mesum sih! berani mengedipkan mata padaku. Mana raut muka Wiliam menyebalkan!" gerutu Inez seraya membuka pintu toilet.
Selesai membuang air kecil, Inez membasuh wajahnya dan merapikan riasannya yang hampir memudar. "Hmm.. sudah lebih segar."
Inez keluar dari toilet dan saat melewati lorong, sebuah tangan menarik tangannya.
"Aawww!"
"Inez ini aku.."
"Damar!" mata Inez melotot. "Kau bikin kaget ajah!"
"Ayo kita pulang bersama!" menarik tangan Inez.
"Tunggu Damar! aku harus bilang dulu dengan Wiliam, tak mungkin aku pergi begitu saja."
"Alaah sudahlah, kau tak perlu izin dengannya. Pria angkuh itu sudah menyakiti mu, bukan?"
__ADS_1
"Iy-a, tapi tidak sopan bila aku tidak ngomong dulu. Datangnya dengan tuan Wiliam, masa pulangnya pergi begitu ajah."
Damar tampak tak suka dengan ucapan Inez "Inez.. inez.. apa kau masih belum sadar juga, kalau kau sudah di peralat Wiliam, Pria bule yang bisanya hanya menyakiti wanita!'
"Cukup Damar! tuduhanmu sangat berlebihan!"
"Berlebihan kata mu? bukankah kau sendiri yang curhat padaku, bagaimana perlakuan Pria itu padamu!" suara Damar mulai meninggi, membuat Inez sedikit kaget.-
"Iy-a, memang dulu sikapnya seperti itu, tapi sekarang sudah sedikit membaik, tidak kasar lagi padaku. Bukankah kita harus memberi kesempatan orang untuk berubah?"
"Berubah katamu! orang angkuh seperti Wiliam itu tidak akan pernah berubah!" sampai kapan kau akan mengejar Pria bule itu, yang jelas-jelas hanya akan mempermainkan perasaan mu!"
"Cukup Damar! kau sudah keterlaluan, aku tidak pernah mengejar laki-laki, apa kau pikir aku serendah itu!" bentak Inez, dengan amarah meletup-letup. Inez begitu kesal dengan tuduhan Damar, sahabatnya yang ia anggap bisa mengerti dirinya.
Inez melangkah pergi meninggalkan Damar, namun Damar mengejarnya "Inez! menarik tangannya "Ma'afkan aku, bukan maksudku untuk merendahkan mu, aku hanya tak ingin kau dikecewakan laki-laki itu!"
Inez terdiam dengan ekspresi datar "Aku sangat peduli padamu." menggenggam kuat jemari Inez "Kau sahabatku, sudah seharusnya aku melindungi mu."
Inez menatap Damar dalam-dalam, dan menelisik apa yang sedang ia pikirkan sekarang. "Seberapa besar kepedulianmu padaku?" tanya Inez kemudian.
Wajah tampan Damar terlihat pias, mata teduh itu penuh sebuah harapan "Aku sangat peduli denganmu, karena aku men...."
"Nona Inez!"
Ucapan Damar menggantung, bersama suara Wiliam menggema di lorong yang menuju keluar toilet.
"Sudah seharusnya Nona kembali!" ucap Wiliam tegas.
Inez menatap Damar, penuh permohonan "Aku harus kembali kedalam ruangan, kapan-kapan kita bertemu lagi." Inez melangkah dan berjalan kearah rooms, meninggalkan Damar dalam kekecewaan.
Usai menjalin kerjasama dengan PT Samudera. Inez dan Wiliam menuju parkiran. Wiliam membuka pintu mobil untuk Inez.
"Inez!
Suara Damar menghentikan langkahnya masuk kedalam mobil. Inez membalikkan tubuhnya.
"Ayo ikut denganku, ada yang harus aku bicarakan"
Suara helaan nafas panjang terdengar lirih. Inez terdiam, detik kemudian menatap pada Wiliam. "Tuan Wiliam, ma'afkan aku. Aku akan ikut pulang bersama Damar." ucapnya gugup tak enak hati.
Ekspresi kekecewaan terlihat jelas di wajah Wiliam. "Kau adalah bawahan ku, aku bertanggung jawab pada seluruh karyawan Vandeles. Naiklah! perintah Wiliam yang tidak terbantahkan.
"Inez! menarik tangan inez dan menoleh kearah Wiliam. "Kau tidak berhak atas diri Inez! dia Sudah melakukan tugasnya sebagai karyawan Vandeles. Sekarang Inez ikut bersama ku!"
"Ayo Inez!
"Kau tidak bisa seenaknya membawa Inez pergi! bentak Wiliam seraya satu tangannya menarik tangan Inez.
__ADS_1
Inez menjadi rebutan dua pria egois, Keduanya saling tarik menarik dan membuat Inez marah.
"HENTIKAN! teriak Inez seraya menghempas kasar kedua tangannya, dari dua orang pria yang saling tarik menarik. "AKU BUKAN BARANG YANG KALIAN PEREBUTKAN!"
Mereka berdua terdiam dengan emosi tertahan dan wajah memerah semu. "Kenapa kelakuan kalian seperti anak kecil! apa kalian tidak malu dengan dasi dan jas keren kalian?!"
"Ayo Inez, kita pulang saja! kau jangan pergi dengan Pria manapun, apalagi pada pria penghianat ini!" menunjuk wajah Damar.
"Apa-apaan kau ini? menuduhku penghianat! aku sudah bekerja keras di perusahaan Vandeles, tapi perusahaan kalian payah, menghakimi ku tanpa jelas!"
Karena emosi Wiliam menarik kerah baju Damar "Dasar pecundang! kau laki-laki Pembinor dan ingin merusak rumah tangga Nona Lupita dan Tuan Georgie, makanya kau kami pecat! lalu kau jadi penghianat dengan menjual Desain yang sudah menjadi hak paten perusahaan Vandeles!"
"Ap-apa kau bilang? mata Damar melotot "Lupita dengan tuan Goergie? pemilik Perusahaan Vandeles."
"Iya kenapa?" kau baru mengetahuinya sekarang!" bukankah kau begitu mencintai Nona Lupita!" melepaskannya kasar kerah baju Damar.
Damar menoleh kearah Inez dan meminta penjelasan dari sorot matanya "Apa itu benar, Lupita bersama Tuan Georgie."
"Iya! bahkan Lupita sudah menikah dengan Tuan Goergie, saat kau masih mengejarnya."
"Dulu aku memang mencintai Lupita, Namun setelah dia mengatakan sudah menikah, aku mulai menjauhinya. Tapi dia tidak pernah bilang kalau suaminya itu adalah Tuan Goergie!"
"Sekarang kau sudah tahu bukan?"
"Iya! Aku berharap Lupita hidup bahagia bersama pilihannya, dan Tuan Georgie menjadi suami dan imam yang baik untuk Lupita."
"Ayo Inez, masuklah. Kita masih banyak pekerjaan."
Inez mengangguk kecil.
"Inez! apa kau masih tidak ingin pulang bersama ku!" tanya Damar lagi, tidak ingin menyerah.
"Ma'af, Damar. ini masih jam kerjaku. Masih banyak pekerjaan yang harus ku urus."
Damar hanya menghela nafas panjang dan membiarkan Inez masuk kedalam mobil Wiliam. Setelah menutup pintu Inez, Wiliam memutar dan duduk di kemudi.
Mobil berjalan keluar dari parkiran hotel Horizon.
"Kau sudah tidak apa-apa, hmm.." tanya Wiliam lembut, netra mereka bertemu. Inez salah tingkah melihat mata teduh dan senyuman itu. ia memalingkan wajahnya kedepan.
"I'm okay already!' ucap Inez sopan.
💜
💜
💜
__ADS_1
@Bersambung.......