Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Bonus Chapter II


__ADS_3

...Happy Reading...


...*...


...----------...


Jam sudah menunjukan pukul 12 siang dimana waktunya karyawan untuk beristirahat mengisi energi sebelum melanjutkan pekerjaannya kembali.


Berbeda dengan marvel, pemuda cilik yang sudah terjun di dunia bisnis masih sibuk dengan laptop dan beberapa berkas melupakan makanan yang tersaji di atas meja.


Marvel berada di ruangan daddynya seorang diri karena dia ditinggal meeting di luar beberapa jam yang lalu.


Jam makan siang lewat pun pemuda itu tidak menyentuh makannya sama sekali sampai, ,


Ceklek


Pintu terbuka dengan pelan tanpa diketuk.


Pemuda yang satu tahun lagi akan masuk kepala 4 mengerutkan kening menatap makanan yang masih utuh di atas meja.


"El".


Tidak mendapat jawaban dari sang anak, Rafael berjalan mendekat dan langsung mengambil laptop tersebut.


"Makan dulu baru lanjut". Ujar Rafael sedangkan Marvel menatap daddynya dengan kaget.


Marvel menatap makanannya dan langsung memakan satu persatu tanpa ada bantahan. Makanan itu sudah dingin karena memang sudah hampir 1 jam tersaji disana.


Rafael hanya menghela nafas berat melihat sang anak sudah belajar tentang bisnis.


Diusianya yang sekarang harusnya dia sedang senang senangnya bermain bersama anak seusianya di sekolah tapi Marvel. Dia mengorbankan masa kecil dari usianya menginjak umur 3 tahun.


Dimana dia tahu bahwa ia akan mempunyai dua adik sekaligus.


Jika dikatakan sedih?? Ya, Rafael sangat sedih.


Almarhum istrinya dulu pernah bilang untuk merawat Marvel dan menjauhkannya dari hal seperti ini terlebih dahulu tapi Rafael gagal, gagal total.


Tanpa Marvel sadari sang Daddy sudah pergi masuk ke dalam kamar pribadi yang ada di ruangan tersebut.


Pemuda yang sudah memilki 3 anak itu duduk di sisi tempat tidur sambil memeluk photo sang istri yang telah meninggal.


Air matanya terus mengalir tanpa henti. Dia sangat merindukan istrinya setiap saat.


"Sayang maafin aku, aku gak bisa penuhin keinginan kamu. Aku , , ".


", , Aku sudah menghilangkan masa kecil marvel sejak lama. Tapi aku janji, aku akan berusaha mewujudkannya kepada Retha dan Arga. Mereka gak akan merasakan apa yang telah kita dan Marvel alami. . ".


"Aku sangat merindukan kamu".


...******...


Di dalam ruangan, Marvel yang selesai makan dan membereskan semua nya menatap sekeliling ruangan tidak mendapatkan daddynya di sana padahal tadi dia duduk disampingnya.


Matanya menatap ke arah kamar pribadi. Tanpa mau mengganggu, Marvel kembali mengambil laptop untuk melanjutkan apa yang tadi telah ia kerjaan.


Marvel tahu, jika daddynya masuk ke kamar dia gak akan mau masuk karena daddynya membutuhkan waktu sendiri dan akan menemui nya jika sudah lama.


Drrrttt


Drrrttt


Drrrttt


Ponsel Marvel yang ada di atas meja berdering dengan nama sang adik perempuan yang memanggil.


Tanpa menunggu lama, Marvel mengambil dan menerima panggilan tersebut.


"Hello".


"Abangggg, , , ". Teriak Retha dari sebrang telpon membuat Marvel menjauhkan ponselnya dari telinga.


"Retha, abang bilang jangan teriak kalau lagi telpon". Ucap Marvel memperingati.


"Sorry bang El,,".


"Ada apa telpon abang??".


"Retha bosan di mansion". Keluh Retha.


"Arga kenapa emangnya??".

__ADS_1


"Bang Arga di kamar lagi main game, Retha diusir.. abang masih lama di sana??".


"Abang juga kurang tahu, makanya jangan nakal jadinya diusir kan".


"Ish, malah belain bang kutub es".


"....". Kening Marvel mengerut mendengar panggilan Retha.


Laki laki di keluarga nya memang sangat dingin dan datar tapi Retha tidak pernah memberi julukan, ini pertama kalinya Marvel dengar.


"Udah ah, bang El juga gak seru. Retha mau ajak papi marchel buat jalan ke mall aja.. bye abang".


"Eh tunggu,". Cegah Marvel dengan cepat sebelum panggilan itu dimatikan.


"Why??".


"Izin dulu sama Daddy".


"Abang aja yang bilang ya, Retha takut gak diizinin, ya ya ya". Bujuk Retha.


"Enggak, kamu izin sendiri. Abang tutup, bye".


Pip*


Panggilan dimatikan oleh Marvel.


Sedangkan Retha menggerutu di sebrang telpon karena ini hal yang paling susah dilakukan. Sedari dulu mereka jarang pergi keluar rumah dengan siapapun.


Apalagi pergi ke tempat umum, Rafael selalu melarangnya dengan berbagai alasan.


"Gimana ya cara izinnya??". Pikir Retha.


Akan tetapi tidak ada ide sama sekali sampai dia melihat Arga menuruni anak tangga dengan pakaian yang sudah rapih.


"Abang mau kemana??".


Dengan cepat Retha berlari mendekati Arga sambil tersenyum lebar.


Sebelah alis Arga terangkat, dia bisa melihat retha datang karena ada maunya dan dia tidak menjawab sama sekali.


"Abang". Rengek Retha.


Arga menghela nafas berat. "Ambil buku tugas". Jawab Arga.


Arga dan Retha memang anak kembar yang pastinya umurnya sama. Tapi berbeda jika sekolah. Arga yang lahir 5 menit lebih awal satu tingkat di atas Retha.


Hal ini sudah didiskusikan bersama Daddy dan abangnya sebelum masuk sekolah dengan berbagai alasan yang timbul.


Saat itu Retha juga setuju lebih dulu karena dia tidak ingin didekati semua orang untuk berkenalan dengan abang tampannya.


Bukan hanya itu mereka berdua bahkan turun dari mobil di titik yang berbeda saat sampai di sekolah. Itu pun tidak ada yang tahu.


"Nggak, kamu dirumah aja. Abang cuma sebentar".


"Gak, pengen ikut". Kekeh Retha malah memegang lengan Arga.


"Yaudah ayok".


"Yey". Dengan ceria mereka berdua berangkat dengan diantar supir menuju rumah teman sekelas Arga untuk mengambil buku yang temannya ambil.


Sejujurnya dia bukan teman Arga tapi mereka selalu melakukan cara apapun agar Arga mau berteman dengan mereka berdua.


Diperjalanan terus diam memikirkan cara agar lama diluar rumah tapi ntah kenapa otaknya sangat lemot saat sedang dibutuhkan.


"Abang udah izin sama Daddy??". Tanya Retha.


"Udah".


Retha menganggukkan kepala diam kembali sampai mobil berhenti di depan rumah yang sangat besar.


"Biar saya yang keluar pak". Ujar Arga saat supirnya akan keluar dari mobil.


"Baik tuan muda".


"Kamu tunggu disini jangan keluar". Ucap Arga kepada Retha lalu keluar dari mobil menghampiri pos satpam.


Terlihat dua satpam menatap ke arah Arga yang berjalan dengan sangat cool.


"Ada yang bisa saya bantu den??". Tanya satpam itu.


"Saya mau ketemu bara, apa dia ada??".

__ADS_1


"Tunggu sebentar, nama Aden siapa??". Tanya pak satpam.


"Arga".


Satpam itu pergi dan terlihat menelpon seseorang lalu kembali mendekati Arga.


"Silahkan masuk den arga, den bara menunggu di dalam".


Arga menganggukkan kepala dan masuk lagi kedalam mobil. Setelah pintu gerbang dibuka, mobil masuk menuju rumah bara karena jarak dari gerbang ke rumah bara lumayan jauh.


Jika jalan kaki bakalan lama.


"Bang, Retha ikut keluar". Ucap Retha memegang tangan abangnya saat ingin keluar.


"Kamu diam disini, abang cuma sebentar".


Lagi dan lagi, retha harus menunggu di mobil. Dia mempoutkan bibirnya sambil menganggukkan kepala.


Arga masuk ke dalam rumah seorang diri. Lalu menekan bel yang ada di dekat pintu.


Ting


Tong


Ceklek


Seorang maid membuka pintu.


"Den Arga ya??".


"Iya bi".


"Silahkan masuk". Maid itu membuka pintu sedikit lebar an Arga masuk ke dalam.


"Hei bro".


Pemuda seumuran Arga datang dengan ceria lalu meletakan tangannya ke atas pundak Arga.


Dia tahunya arga seumuran dengan mereka padahal Arga lebih muda satu tahun dari teman teman sekelasnya.


"Gue mau ambil buku tugas". Ujar Arga melepaskan tangan bara dari pundaknya.


"Duduk dulu lah, mau minum apa??".


"Buku".


"Aish, , ayolah, ini pertama kalinya lo datang ke rumah gue".


"Gue sibuk". Ucap Arga singkat. Tapi dia duduk di sofa karena gak enak jika berdiri terus.


"Dasar manusia kulkas". Gerutu bara yang pasti Arga dengar. "Tunggu dulu gue ambil di kamar". Bara langsung pergi masuk ke dalam lift yang ada dirumahnya.


"Permisi den mau minum apa??".


"Gak usah bi, saya cuma sebentar". Tolak Arga dengan sopan.


"Tap-, , ".


"ARGAAAA, , ". Teriak pemuda yang lain masuk ke dalam rumah tanpa permisi.


Pemuda itu langsung memeluk Arga.


Namun, Arga menghindar membuat pemuda itu tersungkur di sofa.


Pemuda yang bernama Daffa menatap Arga dengan tajam sambil memegang kepalanya yang terasa sakit.


"Lo kenapa daff??". Tanya bara datang dengan membawa buku milik Arga.


"Gak papa".


Bara memberikan buku itu kepada Arga yang diambil. Lalu berdiri untuk pamit pulang.


"Ets, , nanti dulu".


Daffa menarik tangan Arga sampai terduduk kembali.


Tapi bukan Arga namanya jika kalah sama mereka.


"Gue balik". Arga pergi meninggalkan rumah bara membuat kedua pemuda itu diam menatap punggung arah yang mulai menghilang.


To be continued, , , ,

__ADS_1


Next, ,


__ADS_2