Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Chapter 14 : Kantin


__ADS_3

WELCOME BACK READERS!!❤️❤️


Tolong kasih jejak kalian setelah membaca!! HAPPY READING ❤️


...•••••...


Kring kring kring


Bel istirahat berbunyi membuat seluruh siswa berhamburan keluar kelas masing-masing menuju kantin untuk mengisi perut yang sudah minta diisi.


"Tha kantin yuk, lapar gue". Ajak Liza.


Kepala Retha mengangguk lalu menatap Arga yang sibuk bermain handphone. Sedari pelajaran berlangsung, pemuda itu malah asik bermain game. Tapi saat ditanya guru, Arga bisa menjawab semua pertanyaannya dengan lengkap tanpa ada kekurangan ataupun kelebihan kata.


"Game milu, yuk ke kantin". Retha mengambil handphone Arga begitu saja.


"Wah gak mikir lo jadi cewek. Cowok lo lagi nge kill malah lo ambil handphonenya". Ucap seseorang membuat Retha menatap suara yang ternyata keluar dari mulut Roby sedang berdiri di samping Arga.


Retha bisa melihat wajah Liza yang bingung tapi tidak membuka suara. "Masalah buat lo, orangnya juga gak masalah. Iya gak my ice".


Cup


Tanpa ba bi bu Retha mencium pipi Arga di hadapan teman sekelasnya.


(My ice panggilan sayang Retha buat Arga, sedangkan my prince panggilan sayang buat Marvel). Alasan itu karena Retha dipanggil my princess oleh seluruh keluarganya. Maka dari itu Retha juga membuat panggilan khusus untuk kedua abang kesayangannya.


"Ck, pacaran boleh tapi gak didepan gue juga kali". Ujar Roby lalu melenggang pergi menarik Galih sambil merajuk.


Retha tertawa kecil diikuti Liza. Lalu mengangkat angkat alisnya sombong. "Gimana?". Tanya Retha kepada Liza.


"Masih sama". Jawab Liza masih tertawa ngakak.


Liza memang tahu bahwa si kembar di hadapannya selalu disangka sepasang kekasih olah orang baru.


Tentu saja si kembar itu tidak menjelaskan apapun. Mereka malah menikmati pertunjukan itu.


"Yuk ke kantin, gue juga laper". Ajak Retha menggandeng Arga sedangkan Liza menggandeng lengan Lea mengikuti Retha yang sudah berjalan terlebih dahulu.


Sesampainya di kantin.


Dua gadis itu menatap sekeliling kantin yang tidak terlihat bangku kosong sampai pandangan Retha berhenti di bangku pojok. Dimana Rey CS sedang duduk disana.


"Ikut gue".


Kaki jenjang Retha berjalan ke arah Rey CS membuat orang yang ada disana menatap kedatangan mereka bersamaan.


"Ayang duduk". Roby menepuk bangku kosong disampingnya sedangkan galih sudah Galih sudah berpindah di samping Rey.


Bukan Retha yang duduk disana melainkan Arga. Retha juga gak akan mau duduk di samping orang lain apalagi yang baru kenal.


"Ck, kulkas 1000 pintu lagi". Gerutu Roby yang membuat Dirga dan Reza tertawa.

__ADS_1


"Sabar by, Retha juga gak mau tertular virus". Seru Dirga.


"Bangsat, emang gue banyak virus".


"Mungkin".


Mengacuhkan mereka yang selalu bertengkar, Retha sibuk makan bakso yang baru datang dibawakan oleh pegawai kantin.


Pastinya hanya mereka yang diambilkan karena Arga sudah mengurusnya sendiri.


"Arga, Lo udah pikirin masalah tawaran gue waktu itu?". Ucap galih membuka suara membuat perhatian semua orang menatap pemuda yang duduk di bangku ujung.


Alis Arga terangkat pertanda bahwa dirinya tidak mengerti.


"Tawaran masuk ke ekskul basket, gue yakin lo jago basket". Lanjut Galih.


"Lo tahu dari mana Arga jago basket?". Sahut Dirga heran.


"Filing gue yakin 100 persen".


Prok prok prok


Retha bertepuk tangan lalu mengacungkan jari jempol ke depan Galih. "100 buat filing lo". Puji Retha diikuti Liza di samping.


"Si kutub es emang paling jago, jago apapun". Sambung Liza ikut memuji. "Kecuali jago ngomong". Lanjutnya.


Bukan Liza namanya kalau tidak menjatuhkan harga diri Arga. Mulut gadis itu tidak pernah bisa dijaga. Selain keluarga Smith, hanya Liza yang berani seperti itu kepada Arga.


"Tul". Liza mengacungkan jempol kehadapan Roby.


"Ck, gue lagi serius nih. Beberapa hari lagi turnamen basket". Ujar Galih memotong percakapan mereka. "Gimana ga?". Tanyanya lagi untuk memastikan.


"Ok".


"Nah bagus, gimana pa bos?". Kini Galih bertanya kepada Rey, selaku ketua basket SMA CEMPAKA.


"Ok, seperti biasa".


Walaupun singkat tapi mereka yang ada disana mengerti arah bicara Rey.


"Gue juga ikut ekskul basket".


"Ayang Retha, gue kan udah bilang. Ekskul basket tidak ada untuk cewek". Ucap Roby membuat Retha sudut bibir Retha terangkat.


"Gue bisa bikin team. Gue, Liza sama Lea. Dua orang lagi gampang buat dicari. Masa gak ada yang minat". Ucap Retha tidak mau dibantah.


"Gimana gal, boleh ya gue bikin team basket. Tahun kemarin juga kan ada". Retha menatap Galih dengan tatapan memohon.


Memang benar, team basket cewek ditiadakan karena kekurangan pemain karena pemain sebelumnya sudah pada lulus.


"Tanya ketua ekskul lah, kok ke gue". Galih memberi kode dengan mata.

__ADS_1


Retha menatap pemuda di hadapannya yang sedari tadi diam menyimak. Posisi Rey dan Retha memang berhadapan tapi Retha selalu menyerong kanan kalau gak kiri. Baru kali ini duduk pas ke depan.


Bukan takut, Retha menatap heran wajah kakak kelasnya yang selalu diam padahal para sahabatnya banyak bacot.


"Gimana? Boleh kan pak ketu".


Tidak ada jawaban yang keluar, Rey malah sibuk menatap wajah Retha tanpa kedip. Pemuda itu memang sedari tadi terus mencuri pandang gadis dihadapannya tanpa mereka sadari.


Perlahan Arga menggeser bangku yang diduduki lalu.


Cup


Tidak ada yang menyangka Arga akan melakukan itu di depan semua orang.


Mencium pipi Retha di tempat umum.


"Wah pawangnya cembukur".


"Lagian pa bos natap Retha terang terangan". Sahut Dirga tak percaya dengan kelakuan ketua serta sahabatnya itu.


Retha yang dicium juga sedikit kaget. Gadis itu memberi pertanyaan lewat tatapan mata tapi dibalas dengan mengangkat kedua bahunya acuh.


"Gimana?". Retha mengalihkan perhatian kembali menatap Rey.


Pemuda dihadapannya terlihat bertambah dingin dengan wajah memerah.


"Hm".


Rey hanya berdeham lalu beranjak meninggalkan kantin begitu saja.


"Kalian gak ikut? Kayanya bos kalian lagi marah".


Empat pemuda disana menatap Liza tajam sedangkan yang ditatap menampilkan wajah polos tanpa dosa.


Malah diperjelas, dasar Fauliza.


"Nanti gue tanya Tiara sama Laura, mereka mantan team basket sebelumnya". Ucap Dirga mengalihkan perhatian agar tidak membahas itu lagi.


Tanpa Arga dan para cewek tahu. Rey memang sudah mengakui bahwa dia menyukai Retha dalam pandangan pertama. Tapi keempat sahabatnya memastikan untuk ketua mereka tidak merusak hubungan orang lain.


Dan tanpa mereka sadari juga Arga susah bisa menebaknya sendiri setiap Rey menatap Retha mengandung arti tertentu.


Arga tidak bodoh tentang adiknya tapi dia bodoh tentang percintaan dirinya.


Tanpa siapapun yang tahu ada seseorang yang selalu memendam rasa suka dan cinta dalam diam. Gadis itu cuma mengikuti takdir hidup tanpa mau melakukan apapun.


...•••••...


TBC


Jangan lupa like dan commentnya kalo kalian suka cerita ini ❤️ See u next part 🥰

__ADS_1


__ADS_2