Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Kepanikan Seorang CEO


__ADS_3

Aku sangat khawatir, mendengar kau sakit, makanya pulang kerja aku mampir dulu kemari."


"Sebentar, aku ambilkan minum dulu." Lupita kedapur membuatkan teh manis hangat.


"Ini diminum dulu, Dam." menaruh cangkir di depan Damar.


"Terimakasih, Lupi." mengambil cangkir dan meyerumputnya karena masih panas.


"Darimana kau tahu alamat ku Dam? tanya Lupi kembali, karena belum sempat ia menjawab.


Tak! menaruh cangkir teh ke tatakannya.


"Ma'afkan aku Lupi, kau jangan marah ya? waktu kau menolak ku antar pulang, aku mengikuti mobil yang kau tumpangi." imbuh Damar tersenyum canggung.


Lupita menghela nafas dalam "Ku Pikir ada seseorang yang memberitahu mu, jangan kasih alamat rumah ku pada siapa pun ya, Dam?"


"Loh, memangnya kenapa tidak boleh?


"Itu hanya privasi ku saja, dari dulu aku memang tertutup."


Damar masih asyik ngobrol dengan Lupita, membicarakan pekerjaan di kantor, Sebenarnya Lupi masih kurang sehat, tiba-tiba tubuhnya dingin dan sedikit meriang, ia mengambil switer tebal agar angin tak tembus kulitnya. Ingin menyuruh Damar untuk cepat pulang, ia tidak enak hati, takut di bilang ngusir.


Malam yang sama, Harlan sudah berada di ruangan Mak isah, selesai memberikan makan walau tidak banyak yang di makan Mak Isah, membuat Harlan lega, ia juga mau minum obat setelah dibujuk dengannya.


"Mak, sekarang istirahat dan tidur. supaya Mak cepat sembuh, Land tidak ingin Mak sakit."


"Tapi kamu tidak akan pergi kemana-mana kan Land? tetap jaga Mak disini kan?!


Harlan terdiam, lamunannya terus tertuju pada Lupita, hatinya masih gelisah sebelum bisa menemuinya.


"Land? menyentuh tangan Harlan 'Kenapa diam."


"Mak, jangan banyak pikiran dulu ya, disini ada Della dan Wiliam yang menemani, Mak."


"Jadi kau ingin pergi dan ninggalin Mak? airmata itu menetes di wajah tuanya yang mulai keriput. "Jangan pergi kemana-mana land?" pinta Mak isah penuh permohonan.


Harlan menatap wajah tua itu dan mengangguk. "Ya sudah Mak, istirahat saja dulu, Land tunggu di luar sebentar."


Mak isah bernafas lega, Harlan menyelimuti tubuh tua itu, mencium keningnya dan beranjak pergi dari ruangan Mak isah.


"Wili! panggil Harlan, melihatnya sedang duduk di ruangan tunggu.


"Malam Tuan!


Harlan duduk di samping Wiliam, hatinya sedang tidak tenang saat ini, rasa gelisah menyeruak dalam benaknya. pandangan matanya condong ke depan.

__ADS_1


"Tuan, apa yang sedang anda pikirkan."


Harlan menarik nafas dalam, dan di hembuskannya kasar. "Malam ini aku ingin menemui istriku, Tapi aku sudah berjanji pada Mak, untuk tidak pergi dan menunggunya. Andai Mak tidak sakit, aku pasti akan pergi walau ia melarangnya. Aku sangat dilema, dan ingin melihat keadaan istriku, sudah dua malam aku tidak menemuinya, apalagi ponsel Lupi tidak aktif."


"Tuan pergilah, tidak usah khawatir kan Ibu asuh. Aku akan menunggunya."


"Tapi bagaimana kalau aku tidak ada disini, dan Mak mencariku, pasti ia akan drop lagi!"


"Tidak usah khawatir, aku yang akan menjelaskannya bila mencari tuan, percaya padaku. pergilah."


Wajah Harlan berubah cerah "Baiklah aku pergi, jaga Mak, besok pagi aku kembali."


"Tuan! apa Ingin saya antar?


"Tidak perlu, aku naik taksi saja, jika kau antar, akan mencurigakan nanti."


Harlan melangkahkan kaki menuju lobby. Mobil sudah berhenti di depan pintu gerbang. Ia masuk kedalam mobil dengan cepat.


Satu jam perjalanan, ia sudah sampai didepan gang Lupita, Harlan masih tidak menyadari kalau ia masih menggunakan pakaian kantor, setelan jas yang mahal, dan sepatu kulit yang mengkilap.


Sementara di rumah Lupita, Damar mulai berpamitan, ia melihat wajah Lupita yang terlihat pias dan lemas. Damar memutuskan untuk pulang, sebab sudah dua jam lebih ia ngobrol dengan Lupi.


"Lupi, jaga dirimu baik-baik, Sepertinya kau masih sakit, lebih baik besok jangan masuk kerja dulu."


"Kalau masih sakit jangan di paksa."


Lupita mengangguk pelan.


"Ya sudah aku pulang, ya."


Motor Damar meninggalkan rumah Lupita, tanpa mereka sadari sepasang mata yang sejak tadi sudah turun dari mobil, sedang mengamati dari sebuah pohon mangga tetangga Lupi. Kebetulan malam itu gang sepi, karena jam sudah menunjukkan pukul sembilan lewat.


Lupita membereskan cangkir dan cemilan di atas piring, lalu membawanya kedapur. Suhu badannya mulai terasa panas lagi. Setelah minum obat ia berniat ingin tidur. Sebuah ketukan pintu terdengar halus di depan teras.


"Siapa lagi yang malam-malam datang bertamu." keluhannya dan berjalan lemah kearah pintu.


JEGLEK


"Mas...? Lupi terperanjat kaget, melihat Harlan sudah berdiri diambang pintu dengan sorot mata tajam. Lupi menatap Harlan dari atas sampai bawah, penampilannya sangat rapih.


"Kau... darimana Mas dengan pakaian itu? tanya Lupi gugup.


Harlan mengendus kesal dan masuk melewati Lupi, Lupi hanya menatap heran dan bertanya-tanya dengan penampilan suaminya yang tak biasa, seperti bos besar pikirnya.


Lupi menutup pintu dan berjalan kearah meja makan, melihat Harlan sudah duduk di kursi seraya melipat kedua tangannya, sorot matanya terlihat dingin dan intimidasi.

__ADS_1


"Mas, apa mau aku buatkan kopi? ucapnya pelan.


"Siapa laki-laki yang bertamu itu?! tanya Harlan mengabaikan tawaran Lupi.


"Dia--, Lupita menelan salivanya "Temanku satu kantor, tadi datang ingin memberikan tugas karena aku tadi tidak masuk kerja." wajah Lupi tertunduk, ia grogi melihat tatapan liar Harlan yang tak biasa, seakan sedang berhadapan dengan seorang presdir.


Layaknya seorang Bos yang sedang memarahi bawahannya, Harlan terus memojokkan istrinya. "Hebat! jadi selama aku tidak pulang, kau sudah berani menerima tamu laki-laki?!


"Bu-kan begitu? mengangkat kepalanya dan menatap takut wajah amarah suaminya yang sudah memerah. "Aku-tidak masuk kerja karena....


"Ingin mengundang laki-laki kerumah! Harlan memotong ucapan Lupi.


Lupi tersentak kaget dengan tuduhan suaminya itu, ia tidak berani meneruskan kata-katanya, hanya airmata yang mulai menetes dan isakan yang terdengar lirih, sebab Harlan telah menuduhnya.


"Apa maksud semua ini Lupi? bahkan kau tidak mengaktifkan ponsel mu! apa kau sengaja? agar kau bisa bebas tanpa ada aku, iya kan?! suara Harlan mulai meninggi.


"Cukup Mas! tuduhan mu tidak beralasan, kau tidak bisa menuduh tanpa bukti! kalau kau tidak percaya pada istrimu, kemana saja kau semalam? tidak mengabari ku, bahkan tidak membalas satupun pesan dariku, sekarang kau datang dengan tuduhan yang bukan-bukan. Aku tidak yakin kalau yang berdiri di hadapanku adalah suamiku, Mas Harlan! pria lembut dan penuh kasih sayang, Tapi yang berdiri didepan ku, seorang pria Egois dan arogan! ucap Lupi kesal.


Lupita sudah tidak bisa menahan kekesalannya atas tuduhan suaminya yang tak beralasan. Belum sempat Ia menceritakan semuanya, Harlan sudah memotong ucapannya.


Harlan tidak dapat menjawab pertanyaan Lupi, ia pun merasa bersalah. Lupi yang terlihat semakin pucat dan lelah, berjalan masuk kedalam kamar tanpa menghiraukan suaminya yang terpaku dalam diam.


BRUKK!


Seketika Lupita jatuh sebelum sampai ranjang.


"LUPI!


Pekik Harlan terperanjat kaget, ia menghampiri Lupita dan mengangkat tubuhnya ke atas ranjang.


"Suhu badan Lupi sangat pantas? Ya Tuhan! apakah ia sakit?! terlihat wajah panik Harlan yang merasa bersalah.


"Lupi! bangun..." menepuk-nepuk pelan pipi istrinya. "Ia pingsan. Ma'afkan aku Lupi sudah salah paham padamu." ujarnya dengan mata sendu dan perasaan gusar.


"Aku harus segera membawanya kerumah sakit." Harlan mengambil ponsel dan memesan taksi online.


Sepenuh menit kemudian, ponsel Harlan berdering, taksi sudah menunggu di depan gang. Ia mengangkat tubuh Lupi ala bridal style. Setelah pintu di kunci, ia berjalan cepat kearah gang. Supir taksi membukakan pintu untuk Harlan masuk di belakang kemudi.


❣️


❣️


❣️


BERSAMBUNG..... Cinta 💜

__ADS_1


__ADS_2