
Harlan menarik kasar dari genggaman tangan Lupita. "Sudahlah aku sangat lelah mengurus proyek di Kalimantan, tolong kau jangan ganggu aku dulu. Aku cape ingin istirahat!" bentak Harlan, lalu berjalan kearah pintu, meninggalkan Lupita sendiri didalam kamar.
Bola matanya memanas, tanpa bisa ia tahan lagi, airmatanya menetes berjatuhan.
"Mas ada apa dengan dirimu? ucapnya lirih, bersama ribuan pertanyaan dalam benaknya.
"Hatiku lelah Mas, sanggupkah aku bertahan?"
Pagi begitu cerah, alam semesta menampakan pesonanya dengan menyinari matahari berwarna keemasan. Lupita terbangun saat sinarnya masuk melalui celah jendela. Ia membuka matanya perlahan dan mencari sosok pria yang sudah lima hari mengilang tanpa memberikan kabar kedatangannya, Namun Lupi harus menelan pil pahit kembali, tidak ada lagi sosok suaminya berada di atas pembaringan. Lupita mendesah panjang mengingat kejadian semalam dengan perubahan sikap suaminya yang tak biasanya.
"Ada apa sebenarnya dengan dirimu mas? segitu mudahnya kau melupakan diriku padahal aku berada dekat di depanmu. kau seakan jijik melihatku! apa salahku Mas? pagi itu butiran bening menetes kembali di pipi mulus Lupita. Lupita sudah pasrah dengan nasibnya dan memutuskan untuk tidak berada di kantor suaminya lagi. keputusannya sudah tepat dan tidak ingin mengganggu Harlan di kantornya yang hanya di anggap sebagai mata-mata suaminya.
"Tapi aku harus menemui ines dulu hari ini, dan menanyakan keberadaannya yang tidak masuk kantor selama dua hari. Semoga hari ini Inez masuk kantor."
Lupita turun Dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi. setelah membersihkan diri Ia keluar dan memakai pakaian kantor. Riasan natural terlihat cantik menambah modis penampilan seorang istri Goergie. Sayangnya Harlan tidak bisa melihat kecantikan istrinya sendiri, mata hatinya masih dibutakan oleh pengaruh sihir yang Margaret berikan, tentu saja berkat bantuan Della.
Lupita berjalan menuruni anak tangga dan berakhir di ruangan makan, Ia dikejutkan oleh suaminya yang sudah rapih dengan balutan jas biru letro, membuat penampilannya cool dan berwibawa walau wajahnya terlihat dingin.
Lupita menarik satu kursi disebrang Harlan. Tidak ada sapaan dari bibir Harlan saat melihat istrinya duduk. Tidak ada kecupan atau kata-kata mesra yang selalu Harlan berikan pada istrinya setiap sarapan bersama. Mereka berdua diam seribu bahasa, hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu. mereka masih berputar pada pikiran masing-masing.
"Tek! Harlan menaruh sendok dan garpu diatas piring yang hanya tersisa setengah nasi goreng buatan Bii Ijah. Lalu mengambil gelas berisi air putih didepannya dan meminumnya hingga tandas. Harlan mendorong kursi dan meninggalkan ruangan makan.
"Prank! Lupita menjatuhkan sendok dengan keras ke atas piring, ia sengaja melakukan itu agar Harlan menegurnya, Namun ia seperti tidak perduli dan terus berjalan.
Lupita mendengus kesal, ia tidak meneruskan makannya, nasi goreng didepannya seperti krikil tajam yang menggores tenggorokannya. "Baiklah Mas bila ini maumu, rasanya aku tidak sanggup lagi harus didiamkan seperti ini!
Dengan gerak cepat Lupita mengejar suaminya yang sudah berada di depan mobil yang sudah di panaskan oleh pak Basir.
"MAS TUNGGU!!! pekik Lupita berjalan mendekat.
"Ada apa lagi? apa kau tidak lihat aku harus berangkat ke kantor?!
"Siapa bilang kau akan ke-pasar, dengan balutan jas mahal itu! celetuk Lupita dengan ekspresi kesal.
"Lalu ada apa lagi? bila hanya ingin bicara hal yang tidak penting, lebih baik tidak usah dibicarakan, buang-buang waktu ku!"
"Heh' Lupita tergelak "Tuan Georgie yang terhormat bisa kita bicarakan sebentar? ada hal penting yang harus aku sampaikan."
"CK! bisa tidak jangan buat aku tambah pusing!' sentak Harlan dan membuka pintu mobil.
"Jadi menurutmu aku adalah benalu dalam hidup mu Mas! belum juga genap setahun kita mengarungi bahtera rumah tangga kau sudah bersikap seperti ini! seakan aku adalah beban buatmu!!"
__ADS_1
"CUKUP! AKU BILANG CUKUP! kenapa kau masih saja terus bicara! kepalaku pusing mendengar ocehanmu yang tak penting!!
"BRAKKK!!
Harlan membanting pintu setelah masuk kedalam kursi penumpang.
Tangan Lupita mengepal, nafasnya begitu sesak setelah mendengar bentakan suaminya, hal yang tidak pernah Harlan lakukan dari dulu.
"BILA KAU SUDAH TIDAK MENGINGINKAN AKU LAGI!! BAIKLAH AKU KAN PERGI DARI HIDUPMU!! teriak Lupita, lalu berjalan cepat meninggalkan Harlan untuk masuk kedalam rumah.
Mobil sedan hitam berjalan keluar dari pintu gerbang perumahan Elite. Memikirkan ucapan Lupita tadi, membuat kepala Harlan semakin sakit dan dadanya berdenyut pedih.
"Aaggrrh! kenapa kepalaku sangat sakit! Harlan mengerang sambil memegangi kepalanya yang terus berdenyut-denyut.
"Ciiiiittt! pak Basir menghentikan mobilnya secara tiba-tiba karena melihat Tuan nya yang kesakitan.
"Tuan! apa ada masalah dengan kepala Tuan? Pak Basir menoleh kebelakang dan menatap wajah Harlan yang terlihat pucat pasi, dari keningnya keluar keringat dingin.
"Apa lebih baik kita ke dokter saja Tuan? saya khawatir dengan kondisi Tuan."
"Tidak usah, kita lanjut kekantor saja. Hari ini aku ada pertemuan dengan tuan Haruka dari Jepang. Aku tidak ingin kerjasama kita batal hanya karena aku tidak tepat waktu dan tidak konsisten.
"Baiklah Pak! pak Basir tidak berbuat apa-apa, ia hanya menurut perintah atasannya.
Mobil Harlan sudah memasuki area perkantoran Vandeles. Saat didepan lobby, Bodyguard membukakan pintu untuk Harlan. Selang waktu 10 menit Lupita turun dari taksi online. Ia berjalan masuk kedalam gedung menuju pintu lift.
"Ting!
Pintu lift terbuka tepat dilantai tiga, Lupita berjalan dengan perasaan kalut dan pikiran yang sudah bercabang. Rasanya sangat malas berada di kantor suaminya.
JEGLEK!!
"INEZ! WILLIAM...?'
Seketika wajah Lupita memerah saat melihat sahabatnya lagi berciuman dengan Wiliam di ruangan kerjanya. Wiliam yang sedang memangku Inez terkejut mendengar suara Lupita.
"LUPITA!!! seru Inez saat melihat kedatangan sahabatnya, dan turun dari pangkuan Wiliam.
"Apa-apaan sih kalian? pagi-pagi sudah sarapan bibir! Lupita mencabik lalu berjalan kearah mejanya.
Wajah Inez memerah seperti kepiting rebus, saat kepergok dengan sahabatnya. Melihat sahabatnya sedang tidak baik-baik saja, Inez berjalan mendekat.
__ADS_1
"Sudah dua hari menghilang, dan tidak masuk kantor. Tiba-tiba kalian beradegan mesra disini. sampai otakku sakit memikirkanmu Nez!
"Saya bisa menjelaskannya Nona Lupita! ucap William, ia sudah berdiri didepan Lupita.
Inez tersenyum dan menatap suaminya "Sayang..., biarkan aku sendiri yang akan menjelaskannya pada Lupita. kau ke ruangan mu saja." Inez mengusap rahang tegas suaminya.
"Oke my wife..." Wiliam mengecup kening dan bibir istrinya.
Lupita mendongakkan kepalanya yang sejak tadi menunduk, ia sedang membuka email masuk. Tentu saja ia terkejut mendengar ucapan Wiliam pada Inez.
"Ap-apa kau bilang? Inez istrimu?" tanya Lupita tak percaya, karena ia tahu Inez dan Wiliam sudah berpisah. Wiliam mengangguk sebagai respon, atensi Lupita beralih menatap Inez.
"Benar Lupita kami sudah menikah dua hari yang lalu, aku tidak masuk kerja karena menikah di Surabaya."
Luvita berdiri dari duduknya "Teganya kau Inez! kenapa kau tidak memberitahu ku? Kenapa Inez?! ucap Lupita kecewa. "kau merahasiakan pernikahanmu dariku! Apa semua orang benar-benar sudah meninggalkan aku!! hiks..
"Kak pergilah, aku akan bicara dengan Lupita." perintah Inez, Wiliam melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.
"Ini tidak seperti yang kau bayangkan Lupi? kau harus dengarkanlah ceritaku biar tidak ada kesalahpahaman." Inez menuntun Lupita untuk duduk di Sofa.
"Kau tahu? saat aku berpamitan untuk prestasi kekantor MK? malamnya aku di culik oleh Rangga
"Apa...?" Inez menatap lekat wajah sahabatnya. lalu kenapa kau bisa menikah dengan Wiliam?
Inez mulai menceritakan semuanya, mulai ia diculik dan dibawa ke Surabaya untuk di nikahkan secara paksa, ibu dan adiknya mendapat ancaman, hingga Wiliam datang menolong dan akhirnya mereka menikah.
"Seperti itulah kisahku bersama William, hingga akhirnya kami menikah siri. Tapi dalam waktu dekat ini, kami akan meresmikan di KUA."
Lupita tersenyum dan memeluk sahabatnya. "Ma'afkan aku Inez, sudah salah sangka. Selamat ya akhirnya kalian hidup bersama."
inez mengurai pelukannya "Itulah takdir? karena kita tidak pernah tahu pada siapa akhirnya berlabuh."
Lupita terdiam dengan tatapan kosong kedepan, sambil mengigit bibir bawahnya.
Kenapa Lupi..? tanya inez melihat sahabatnya murung.
"Aku akan berpisah dengan Mas Harlan?!
"Ap-apa....?! Inez membekap mulutnya tak percaya.
💜💜💜
__ADS_1
@Yuk terus dukung karya Bunda, jangan lupa untuk follow IG @bunda.eny_76
@Bersambung....😍