
Aaaaa...." Mas bikin kaget ajah sih!
Harlan tergelak dan membawa istrinya kedalam kamar.
"Ahhh...pagi-pagi udah mesum.." protes Lupita dan pasrah mengikuti kemauan suaminya. Kalau si bule sudah meminta tidak ada penolakan darinya.
Pagi itu dua insan manusia yang saling mencintai, memadu kasih diatas ranjang. Mereka saling menghangatkan dan membutuhkan waktu untuk bersama. kesibukan Harlan yang padat jarang memadu kasih berduaan, mereka hanya melakukan hubungan pada malam hari dengan waktu yang singkat. Hari ini suami tampannya sangat memanjakan dirinya diatas ranjang. Harlan Ingin menghabiskan waktu bersama Lupita tanpa ada orang lain mengganggu.
Selesai beraktivitas dan berolahraga diatas kasur, mereka saling berpelukan erat.
"Mas kita harus bersiap-siap untuk berangkat ke Mall, aku mau mandi dulu." saat Lupi ingin beranjak tangan Harlan menariknya.
"Nanti saja yank, Mas tak ingin momen kebersamaan kita tergganggu."
"Bukankah tadi mas bilang, ingin membeli perabotan untuk rumah kita, tinggal tiga hari lagi pernikahan kita Mas, banyak yang harus di urus."
Harlan menarik hidung mancung istrinya "kamu tenang saja, masalah perabotan rumah, sudah ada yang mengurusnya. Senen kita menikah resmi, kau tinggal duduk manis saja. Nanti sore kita ke butik untuk melihat baju pernikahan kita."
"Kenapa serba mendadak Mas? aku harus fitting baju dulu, waktunya sangat mepet." ucap Lupita sebel, mengerucutkan bibirnya.
"Cup! mencium bibir istrinya. "Kalau lagi ngambek bibirmu bikin gemes yank." Harlan terkekeh.
"Ish apaan sih!" menjauhkan bibirnya.
"William sudah menyiapkan tiga gaun untuk akad nikah, kau tinggal pilih saja yang paling terbaik." Harlan memeluk erat tubuh polos istrinya dan mencium keningnya "Nanti kita lanjut ke pesta pernikahan termewah di hotel."
"Jangan terburu-buru Mas, aku tidak terlalu suka pesta besar-besaran. kita menikah sah secara hukum agama dan Negara sudah cukup bagiku, yang terpenting Mas jangan pernah berpaling dariku, dan kita menua bersama."
"Aku janji tidak akan pernah berpaling apalagi sampai meninggalkan mu." mencium bibir istrinya "Sayang, pesta pernikahan itu sekali seumur hidup. Aku butuh pengakuan pada dunia Kalau kau adalah istri Georgie Vandeles. kita juga akan mengadakan repsesi di Negara kelahiran ku Belanda."
Lupita mendesah pelan "Ya sudah aku ikut kata suamiku, yang terpenting jangan ada penghianatan dalam hubungan kita."
"Kau berpikir terlalu jauh sayang, aku tidak akan menodai pernikahan suci kita." Harlan menarik dagu istrinya dan meraup bibirnya cepat, bibir mereka isaling bertautan, Harlan begitu candu. pada bibir istrinya. Lupita melepas ciuman suaminya dan menarik nafas dalam-dalam untuk mengambil oksigen.
"Ayo sayang kita lakukan lagi." suara Harlan sudah serak, dan terdengar seksi.
"Mas, kita sudah dua kali loh, apa masih kurang? biasa dua kali sudah selesai." gerutu Lupita.
"Tidak untuk hari ini sayang. kita akan habiskan sampai siang, masih butuh tiga ronde lagi."
__ADS_1
"Hah? Lupita terbelalak "Ta-tapi..."
"Tidak ada penolakan, kalau membatah hukuman mu semakin banyak." Harlan tersenyum licik.
Lupita menepuk jidat, ia hanya bisa pasrah dan mengikuti kemauan suami bulenya, daripada menolak dan hukuman nya semakin banyak.
*****
Mobil pak Basir sudah berhenti di depan lobby perkantoran Vandeles. Inez turun dari mobil setelah mengucapkan terima kasih. Melangkah masuk kedalam gedung yang menjulang tinggi. ia menoleh Arloji di tangannya di sela langkahnya menuju ruangan.
"Sudah jam delapan lewat lima belas menit, aku telah 45 menit, sebentar lagi meeting. Aku harus siapkan materi dulu. Ahh! andai saja tak terjebak macet, aku sudah sampai sedari tadi dan membuat materi."
Inez masuk kedalam ruangan dan tak peduli tatapan teman satu ruangan yang melihatnya tak suka.
"Enak ya jadi karyawan kesayangan Bos, masuk kerja boleh telat." sindiran itu tentu saja dituju untuk Inez, ia tak peduli dengan tatapan sinis dan iri padanya, Inez menyalakan komputer dan mulai fokus membuat materi.
Setengah jam kemudian, seorang office boy datang dan menemuinya.
"Mba Inez, segera hadiri rapat. sudah di tunggu Tuan Wiliam dan cliant!"
"Baiklah, terima kasih."
Inez yang memakai rok span di atas lutut, di padu brezer navy, terlihat seksi dan cantik dengan riasan natural. Langkahnya semakin cepat, suara high heels terdengar nyaring saat melewati lorong ruangan meeting.
"Ceklek!"
"Selama pagi! Sapa nya ramah. "Maaf saya terlambat." ia melihat hanya ada kursi kosong di samping Wiliam. Jantungnya berdebar tak karuan saat menghempaskan bokongnya di samping Wiliam. Pria dingin tanpa ekspresi itu hanya diam tanpa menoleh. Mungkin saja Wiliam gugup melihat kecantikan dan pesona Inez yang berbeda dari biasanya. Aroma parfum Inez sangat menyejukkan di hidung Pria tampan itu, tanpa sadar ia menghirupnya kuat.
"Ahh.. Inez, kenapa tubuhmu sangat harum. kau begitu menggodaku hari ini, penampilan mu sangat seksi dan cantik." batinnya masih terus menghirup udara di sampingnya.
"Bisa kita mulai Tuan Wiliam?"
Wiliam tersentak dari lamunannya, hidungnya terlihat kembang kempis, membuatnya malu saat semua menatap aneh padanya.
"Si-lakan." ucapnya gugup.
Meeting mulai berjalan dengan khidmat, Inez presentasi di depan Cliant dengan percaya diri. Mengajak beberapa PT yang hadir untuk bekerja sama di perusahaan Vandeles. Menunjukkan desain grafis yang ia tunjukkan di layar monitor, dan memberikan poin-poin keuntungan. Inez yang cerdas sangat mudah menarik perhatian Cliant, di tambah penampilannya yang meyakinkan. Wiliam terus mencuri pandang wajah cantik wanita di sampingnya. Debaran jantungnya mulai meloncat-loncat, sungguh ia tak fokus saat harus melihat senyuman Inez yang sangat manis di depan cliant, rasa tak tenang dan cemburu tiba-tiba menyeruak dalam hatinya.
"Bagaimana Tuan Wiliam, apa adalagi tambahan untuk materi meeting hari ini? bila tidak ada, berita acaranya akan saya tutup." ujar Alexa, sekertaris seksi yang selalu menggoda itu.
__ADS_1
Lagi-lagi Wiliam di buat terkejut dan gugup, saat mendapat pertanyaan dari Alexa. Dari awal sampai akhir ia hanya fokus pada Inez, tanpa peduli tatapan orang yang melihatnya aneh.
"Ya, ya.. kita akhiri saja meeting hari ini, kita akan lanjutkan kembali setelah Tuan Georgie masuk kantor, nanti sekertaris kami yang akan menghubungi PT kalian masing-masing. Saya permisi dulu." Wiliam terlihat wajahnya tegang dan memerah, ia beranjak dan pergi meninggalkan ruangan.
"Ada apa dengan nya? apa dia sakit?' Ahh, bukan urusan ku!" gumamnya pelan, sambil merapikan berkas desain diatas meja.
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, Inez sudah bersiap-siap untuk pulang. Ia merias dirinya di dalam toilet, karena hari ini ia ada janjian bertemu dengan teman kuliahnya. Tepatnya mantan kekasihnya. Sebenarnya ia malas bertemu Rangga, Pria yang pernah mengisi hatinya selama dua tahun. Namun Rangga memutuskan untuk berpisah, dengan alasan ingin fokus kuliah. Tapi kenyataannya ia malah pacaran dengan Rani sahabatnya sendiri, wanita cantik itu telah merebut kekasihnya dengan pesona body nya yang seksi dan tak terbantahkan lagi.
Kini Inez Ingin menunjukkan pada Rangga, kalau dia salah telah memutuskannya dan memilih wanita penggoda itu yang isi otaknya kosong.
Sore itu Lupita dan Harlan sudah berada di swohroom mebel mewah dan terbesar di bilangan Jakarta. untuk memilih perabotan yang di butuhkan di rumah besar mereka. Harlan membebaskan istinya untuk memilih semua keinginannya. Wajah tampan suaminya selalu jadi tatapan para wanita yang berada di sekitar tempatnya berbelanja. Lupita seakan tak rela ketampanan suamimu menjadi bahan gibahan bagi sales-sales mebel yang rata-rata wanita dengan fostur tubuh sintal. Ada juga pengunjung yang terus mencuri pandang dan pura-pura bertanya pada suaminya.
"Mas, toilet di sebelah mana ya? tanya seorang wanita, tersenyum pada Harlan.
"Maaf ya Mba, suami saya bukan penjaga toko disini! tanyakan saja sama karyawan memakai seragam itu!" sungut Lupi dan menarik tangan suaminya.
"Sudah lah kita pulang ajah! ucapnya kesal.
"Sudah semua belanjanya? coba dicek lagi apa ajah yang masih harus di beli."
"Sudah kita cari tempat lain ajah Mas, aku kesal mereka menatapmu terus, aku nggak fokus belanja, apalagi karyawannya pada genit-genit!"
Harlan terkekeh melihat istrinya cemburu. "Mereka kan punya mata, sudah biarin saja!"
"Ya sudah Kalau Mas masih mau tetap di sini, aku pulang saja!" Lupita mencabik kesal.
Melihat istrinya cemburu dan merajuk. Harlan menuruti kemauan istrinya, daripada nggak dapat jatah. Ia membayar tagihan di kasir dan pergi meninggalkan showroom itu dengan perasaan dongkol. Siapa yang tidak akan cemburu dan takut kehilangan, bila berjalan dengan suami tampannya, berkharisma, tajir melintir dan seorang CEO.
💜💜
@Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:
💜Like
💜Vote
💜Gift
💜Komen
__ADS_1
@Bersambung