Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Hadiah untuk Lupita


__ADS_3

"Kau tau apa jawaban Mak ku? menoleh pada Wiliam yang terlihat penasaran.


"Aku disuruh menceraikan istriku dan menikahi Della.."


"What! bagaimana bisa ibu asuh mengatakan itu, apakah tuan akan mengikuti sarannya?


"Tentu saja tidak! aku sangat mencintai istriku, ia sudah memberikan segalanya padaku, bukan saja pada Mak ku, bahkan aku akan menentang pamanku sendiri bila ia tidak setuju."


"Maaf Tuan! menurut pendapat saya. Sebagai seorang pemimpin, seharusnya anda punya pendirian yang kuat dalam bersikap dan tegas."


"Kau benar, aku setuju dengan pendapatmu! yang menjalani hidup itu aku dan Lupi, bukan orang lain. Sudah seharusnya aku punya pendirian dan prinsip dalam hidup."


Harlan duduk kembali di kursi kebesarannya dan membuka laptop "Apa saja schedule ku hari ini."


"Kita akan ada pertemuan dengan pimpinan perusahaan 'Start' jam satu di Hotel Zambrut."


"Oke, siapkan materi yang akan kita bahas nanti."


"Sekertaris Alexa sudah membuatkan materi untuk pertemuan kita dengan pimpinan 'Start."


"Bagus!


*****


Tepat pukul 12:00 siang, Jam makan siang bagi seluruh para karyawan Vandeles. Seperti biasanya Lupi tidak ke kantin karena ia sudah membawa bekal dari rumah.


"Apa kau tidak pergi ke kantin, untuk makan siang? tanya Inez.


"Aku sudah bawa bekal dari rumah, mari kita makan bersama." ajak Lupita seraya mengeluarkan kotak makanan dari dalam tasnya.


"Tidak terima kasih, aku makan di kantin saja." ucap ines dan langsung melangkah keluar ruangan.


"Wanita itu sangat lucu dan baik hati walau penampilannya sedikit agak aneh, tapi dia sangat ramah dan menghargai orang, padahal aku baru mengenalnya." gumam Lupi pelan, seraya menikmati makan siang sendiri.


Suara ketukan dari luar ruangan terdengar, di dalam ruangan masih tertinggal tiga orang karyawan yang tidak keluar termasuk Lupita.


"Masuk! perintah karyawan lainnya.


"Maaf, apa disini ada karyawan bernama Nona Lupita?"


"Iya saya sendiri.."


"Nona Lupita, ini ada kiriman paket dari Bapak Harlan."


"Bapak Harlan? Lupita mengeryitkan dahinya


"Iya, Nona! kurir itu menyerahkan paket berbentuk kotak pada Lupita.


"Terima kasih, Pak!" ucap Lupita pada seorang kurir dan ia keluar dari ruangan.


"Kotak apa ini? Mas Harlan mengirimkan aku paket? karena penasaran Lupita mulai membuka bungkus kotak itu, dan alangkah terkejutnya ia, saat tahu kotak itu berusi ponsel mahal bernilai puluhan juta.


"Ponsel...?" Lupita melihat-lihat ponsel itu '"Ya Tuhan darimana Mas Harlan memiliki uang banyak dan bisa membelikan ponsel semahal ini? Lupita terus berfikir dan bertanya-tanya sendiri.


"Aku harus menghubungi Mas Harlan." tangan Lupi menekan nomor tombol pada gagang telpon di depannya "Astaga aku lupa nomor Mas Harlan, kan nomornya ada di dalam ponsel yang ia buang ke kolam, nanti saja kalau dia pulang kerumah aku akan menanyakannya."


"Hey! kau sudah selesai makan? tanya Inez dengan senyuman ramahnya "Ini untuk mu." menyerahkan juice mangga diatas meja Lupi.


"Aduh merepotkan, Terima kasih banyak Mba. aku baru selesai makannya."


"Wow ponsel! seru Inez, melihat ponsel mahal diatas meja kerja Lupita.


"Ini pemberian suamiku." Lupita tersenyum bangga.


"What! Inez membelalakkan matanya "Apa suamimu tajir melintir? dia seorang pengusaha kah? bisa membelikan ponsel seharga puluhan juta??"

__ADS_1


Lupita terkekeh "Suamiku itu seorang kurir! tajir melintir darimana? Nggak lah, memilki suami perhatian seperti ini saja sudah buat aku bahagia."


"Nggak mungkin seorang kurir bisa belikan ponsel Staubery seperti ini, yang banyak di miliki ibu-ibu sosialita atau istri pejabat. Maaf ya Mba Lupi, bukan aku mengecilkan mata pencarian suami Mba Lupi, cuma kaget ajah." ucap Inez merasa tak enak hati, melihat Lupita terdiam dengan ekspresi bingung. Inez menyudahi obralannya dan kembali ketempat duduknya.


"Benar apa yang dikatakan Mba Inez, mana mungkin suamiku yang hanya seorang kurir bisa membelikan ponsel seharga puluhan juta." gumamnya dalam hati. Tiba-tiba lupita teringat akan sesuatu.


"Mba Inez!


"Iya! menoleh pada lupita yang berjalan mendekat kearahnya.


"Mba, tolong jaga rahasia di kantor ini ya, kalau aku sudah menikah, mereka banyak yang tidak tahu status ku." bisik Lupita


"Oke beres!


Lupita kembali ke tempat duduknya dan meneruskan pekerjaannya.


Jam sudah menunjukkan pukul empat lewat Lima belas menit, Lupita baru saja selesaikan desainnya. "Akhirnya selesai juga, semoga desain ku di minati petinggi perusahaan." Lupita tergelak sendiri. Lupi beranjak dari duduknya untuk ke toilet, saat melewati meja Inez, tak sengaja ia melihat Inez sedang termenung dan menatap sebuah gambar di ponselnya. Lupita yang penasaran berjalan mendekat dan berdiri di belakangnya.


"Hah! Lupita menarik nafas dalam "Wiliam! gumamnya terkejut, Inez memutar kepalanya kebelakang dan kaget melihat Lupita yang menatap kearah ponselnya. Dengan cepat ia sembunyikan ponselnya.


"Ssstttttt...." Inez menaruh telunjuknya di bibir, agar Lupita tidak berisik. Dan menarik tangan Lupita keluar dari ruangan.


"Lupita, apa yang kau lihat tadi, bukan lah apa-apa, aku hanya mengagumi sosok asisten Wiliam."


Lupita tersenyum "Memangnya yang mau marah padamu siapa? kalau kau suka dengan asisten Wiliam, aku rasa tidak masalah, wajar saja kok, berarti kau normal kan?


"Kau mau kemana?


"Ke toilet."


"Ayo bareng."


Mereka berdua berjalan menuju toilet.


"Lupita! teriak Inez di depan lobby dengan menaiki sepeda motornya.


"Hey! kau mau pulang kemana? tanya Lupi.


"Kerumah lah, kebetulan aku ada janji sama temen ku di sebuah cafe, kau temani aku ya."


"Sepertinya tidak bisa deh!


"Sebentar saja, nanti pulang nya akan aku antar, oke? sebagai pertemanan kita, kau akan aku traktir, mau ya..." bujuk Inez terus meyakinkan Lupita.


"Baiklah, tapi hanya sebentar saja ya?


"Iya, Ayo naik!


Lupita naik keatas motor bebek Inez, menuju sebuah Cafe tempat pertemuan dengan temannya.


Setengah jam kemudian mereka sampai di tempat tujuan, Inez memarkirkan motornya dan mereka masuk kedalam cafe mencari tempat duduk di posisi dekat kaca tembus ke taman buatan. Seorang pelayan datang dan menyapa dengan sopan.


"Selamat sore, silakan di lihat dulu menunya." ucapnya ramah.


"Kau ingin pesan apa? tanya inez menyodorkan menu kedepan Lupita.


"Aku es jeruk saja."


"Mau makan apa?


"Aku tidak makan, masih kenyang."


"Atau cemilan lain, salad buah atau pudding."


"Pudding saja boleh."

__ADS_1


Inez memesan cemilan dan minuman pada sang pelayan, sambil menunggu pesanan, mereka mengobrol dan bahas masalah pekerjaan di kantor.


"Lupita!


"Hemm..."


"Apa kau pernah bertemu dengan Pimpinan perusahaan Vandeles?"


"Selama aku bekerja disana, belum pernah sekalipun aku melihat tuan Goergie Vandeles pemilik perusahaan itu, hanya dulu pernah sekali aku diundang keruangan nya, tapi wajahnya tertutup masker." imbuh Lupita mengingat kejadian waktu itu.


"Ooohhh..."


"Kau sendiri pernah bertemu atau melihatnya? tanya Lupita balik.


"Pernah!


"Oiya? dimana...?


"Saat Tuan Georgie datang ke perusahaan cabang kami dan ia datang di acara seminar, tidak lama hanya satu jam lalu pergi lagi."


"Kau beruntung bisa melihatnya, aku yang sudah tujuh bulan bekerja disana belum pernah bertatap muka langsung."


"Ahh itu hanya kebetulan saja! ucapnya seraya menyedot es jeruk didepannya yang sudah diantar oleh pelayan.


"Seperti apa wajah seorang Vandeles."


"Sangat tampan, asli orang bule. Siapapun yang melihatnya pasti jatuh cinta, tapi aku tidak ada getaran saat melihat presdir Vandeles itu." Inez terkekeh menunjukkan giginya yang ginsul, namun, wajahnya terlihat manis. "Justru aku menyukai asisten Wiliam, dia begitu macho dan menggoda."


"Sepertinya kau pengagum rahasia."


"Bisa dikatakan seperti itu." imbuhnya, memasukkan potongan pudding kedalam mulutnya.


"Aku ingin ke toilet sebentar."


"Disebelah sana!


"Oke!


Lupita berjalan kearah yang ditunjuk Inez, tak sengaja tas seseorang terjauh tepat di kakinya. Lupita membungkuk dan mengambilkan tasnya dilantai.


"Ini Bu tas nya."


"Terima kasih banyak, Nak! maaf tadi tas ibu kesenggol sikut." ucap wanita paruh baya itu, tersenyum pada Lupita.


"Iya tidak apa-apa Bu, saya permisi dulu."


Lupita berpamitan dan melangkahkan kakinya.


"Bii! kata kak Harlan ia masih menghadiri rapat penting, jadi agak terlambat datang kemarinya."


Deg! seketika Lupita menghentikan langkahnya, ia membalikkan tubuhnya "Tadi dia sebut nama Mas Harlan, suamiku?"


πŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Yuk ikuti terus kelanjutan nya, Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:


πŸ’œLike


πŸ’œVote


πŸ’œGift


πŸ’œKomen


@Bersambung........πŸ’ƒπŸ’ƒ

__ADS_1


__ADS_2