Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Amarah yang tersimpan


__ADS_3

"Aku ingin minta penjelasan pada Mas Harlan, Kenapa tadi Alexa bilang, wanita pirang itu adalah tunangannya?


"Huh! sekertaris galak itu selalu buat orang sesak nafas, kau jangan langsung telan bulat-bulat berita itu, sebelum kau mendapat penjelasan dari suami mu."


"Kenapa pernikahan ku semakin rumit?' ucap Lupita datar, seakan ada yang mengganjal dihatinya.


"Segala persoalan jangan di buat rumit, Orang berumah tangga itu kata orang banyak ujiannya. Ya ujian itu datangnya dari mana ajah. Ingat, suami itu juga titipan. kalau nggak di ambil Tuhan ya ambil Pelakor." sejurus kemudian Inez terkekeh seraya menutup mulutnya. Lupita terbelalak dan melototi inez.


"Kalau di Ambi Tuhan itu sudah takdirnya, walau aku belum ikhlas, tapi kalau diambil Pelakor aku tidak akan tinggal diam! tangan Lupi mengepal.


"Ya sudah nanti kau tanya baik-baik saja, mungkin suamimu banyak pekerjaan yang tidak kau ketahui Lupi."


"Kalau bicara emang gampang, padahal kau sendiri punya masalah dengan Wiliam." sindir Lupita.


"Oiya kemarin kau bilang mau ceritain kenapa tiba-tiba putus sana Wiliam?"


"Huft! kenapa nggak fokus masalah kamu ajah, Luv."


"Hey kita ini sahabat, harus saling mendukung dan mencari selusinya. Mana tau setelah kita curhat akan dapat file nya.


"Rangga mengajak aku menikah!"


"What?? serius...?"


"Tiga hari yang lalu, tiba-tiba dia datang menjemput ku, katanya Ayahnya masuk rumah sakit dan ingin bertemu dengan ku. Karena orang tuanya yang meminta aku setuju ikut dengannya. Setelah bertemu dengan Ayahnya, Pak Tono meminta aku menikah dengan Rangga."


"Terus kau jawab apa..?"


"Aku menatap Rangga sinis dan mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin menyakiti Bapaknya."


"Tapi kau belum jawab iya kan?


"Tidak, aku belum memutuskan nya. Tapi, setelah aku keluar dari ruangan rawat inap pak Tono, aku meminta penjelasan padanya. Rangga memohon dan bersimpuh di kakiku untuk menerima lamarannya, dengan alasan Bapaknya mengalami sakit jantung stadion empat."


"Rangga bersimpuh?! maka dari itu kau menerimanya dan memutuskan Wiliam?


"Bukan seperti itu Luv? karena Rangga terus bersimpuh dan nggak mau berdiri sebelum aku menerimanya, aku terpaksa mengangguk karena malu orang-orang di rumah sakit menatap kearah kami, ada juga orang curi kesempatan dibuat Vidio."


"Kau sudah jelaskan semuanya ke Wiliam?


"Bagaimana aku mau jelaskan, kalau Wiliam selalu emosi dan marah-marah."


"Pasti marah karena cemburu."


"Menurut ku, Wiliam terlalu protektif dan ia seorang perfeksionis, dimatanya harus sempurna dan tidak boleh ada kesalahan."


"Kau benar, sifat Wiliam di samping tegas dia terlalu protektif. Pasti kau tidak akan nyaman menjalin hubungan seperti itu."


"Dan dia selalu mencari kesalahan aku, seperti ponsel ku lowbet, dia bilang sengaja tidak diangkat karena aku bersama Rangga. Sementara dia di cium mesra oleh si pirang, tapi tidak terima aku curigai."


"Benarkah William di cium sama wanita bule itu? Lupita melongo.


"Ini lihat lah! Inez perlihatkan foto Wiliam bersama Margaret.


"Terus saat kau tanya apa jawabannya?"


"Dia bilang, wanita itu mau jatuh karena heels runcingnya tersangkut rell pintu lift, dan katanya Margaret nggak menciumnya. Entahlah aku nggak ngerti alasannya."


"Kalau dilihat dari sudut pandang ku, Wanita itu memang sengaja dan pura-pura hak runcing nya berada di rel pintu lift, dia yakin Wiliam pasti akan menolongnya, karena Wiliam ada bersamanya. coba kalau tidak ada Wiliam mana berani dia nekad begitu."

__ADS_1


"Jadi secara halus Wiliam di jebak?


"Yupz!


"Dasar wanita licik!" ucap Inez geram.


"Aku harus waspada, sudah pasti si rambut pirang itu akan melancarkan aksinya pada suamiku Juga!


"Kau benar Luv! kau harus waspada kalau gitu. Nggak nyangka sahabat ku pinter juga, bisa menganalis sebuah foto."


"Tapi kenapa Wiliam tak menyadari dan menganggap itu musibah? Ck! Inez mendesah kasar. "Ya sudahlah, sekarang aku sudah tidak ada urusan lagi dengannya."


"Kalau kau yakin ini adalah rencana si pirang, kenapa kau masih kesal sama Wiliam? sudah sana baikan lagi."


"Ck! nggak segampang itu balikan lagi, aku ingin dia menyadari kesalahannya dan jangan buat kesimpulan buruk juga padaku!"


"Kalian berdua sebenarnya sama-sama Cinta, tapi sama-sama egois!"


Sudah dulu ngobrol nya, kita selesaikan dulu desain nya, Nggak akan ada habisnya." Inez memutuskan obrolan.


Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Lupita menunggu kabar dari suaminya, Namun tidak ada kabar juga. ia menelpon Harlan tapi tidak di angkat juga."


"Gimana Luv?


"Tidak diangkat juga! ucap Lupita kecewa.


"Coba kau telpon Wiliam."


Lupita mencari kontak Wiliam dan menghubungi nya.


"Hallo Will?


"Ada apa Nona?


"Maaf Non, kami masih meeting di luar kantor, sepertinya masih lama, Nona bisa pulang dengan supir kantor, nanti saya telpon supirnya."


"Huh! Lupi menghempaskan nafas kasar "Tidak usah, aku naik taksi ajah! cetusnya dan mematikan telpon sepihak.


"Ayo kita pulang Nez!"


"Ku antarkan pakai motor ya?


"Tidak usah, jaraknya jauh dan berlawanan arah dengan mu, aku naik taksi ajah."


"Kau yakin?'


"Iya! dua sahabat itu melangkah pergi meninggalkan ruangannya.


***


Sesampainya di rumah Lupi bersiap untuk mandi. Suara pintu diketuk dari luar.


"Siapa...?


"KREKK..


"Saya bu..."


"Iya kenapa Mbak?

__ADS_1


"Mau saya siapkan makan sekarang Bu?


"Nanti saja tunggu suami ku."


"Baik Bu.."


Lupita masuk kedalam kamar mandi. Setengah jam kemudian ia keluar berbalut kimono. Lupi membaringkan tubuhnya sambil menunggu suaminya pulang. Rasa gelisah membuatnya tidak bisa tidur.


"Sudah jam sembilan kenapa Mas Harlan belum pulang? telponnya sekarang malah tidak aktif, kenapa aku merasa ada perubahan pada suamiku? Ahh.. aku tidak boleh overthingking." Karena lelah menunggu, akhirnya Lupita ketiduran.


Suara gemericik air terdengar di telinga Lupi. Ia membuka matanya yang terasa berat. Satu tangannya mengucek-ngucek matanya seraya terduduk di ranjang. Sosok pria yang sejak tadi di tunggunya sudah berdiri didepan Lupi dengan handuk melilit di pinggang.


"Sayang Kenapa bangun?"


"Kenapa jam segini baru pulang Mas?' tanya Lupi, lalu berjalan ke lemari mengambil kimono dan memberikan pada Harlan.


"Baru selesai meeting, ada proyek baru yang rencana akan dibuat di Kalimantan."


Lupi duduk di tepi ranjang "Seharusnya Mas kabari aku dulu, biar aku nggak khawatir."


"Sudahlah sayang, aku benar-benar sibuk banget, seharusnya kau paham pekerjaan ku banyak menyita waktu."


"Mas! tolong lah hargai aku sebagai istrimu, aku hanya minta kau kabari aku walau hanya melalui pesan singkat! Tadi aku menunggumu ke ruanganku, tapi kau tidak datang. Saat mau pulang kantor, tidak ada kabar juga darimu."


"Bukankah tadi kau menghubungi Wiliam? pasti kau sudah tahu kalau aku sedang meeting di luar kantor."


Lupita menarik nafas dalam-dalam dan di hempaskan nafas kasar, terasa sesak di ulu hatinya "Aku paham Mas sedang meeting, tapi tolong kabari aku?


"Aku baru pulang dan lelah, kenapa kau tidak bisa mengerti suamimu ini! Aku tahu kau masih kesal dengan kejadian siang tadi!"


Lupita beranjak dari duduknya dan menatap nanar suaminya yang terduduk di Sofa. "Iya! aku memang kesal! apa pantas Mas makan berdua dengan wanita ular busuk itu? sementara aku menunggu suamiku makan siang bersama!"


"Kenapa Mas! dan si pirang itu ternyata tunangan mu! kau bilang hanya di jodohkan, bukan bertunangan!"


"Ck! siapa yang bicara seperti itu!"


"Alexa, sekertaris mu yang genit itu!"


"Itulah sifat kamu yang mudah terprovokasi orang! belajar lah untuk tidak mudah terhasut!"


"Kenapa kau bisa makan dengan si pirang itu!"


"Huft! Harlan meniup kuat "Dia datang saat aku sedang di ruangan Wiliam, aku buka pintu ruangan, Margaret sudah menyediakan makanan diatas meja."


"Kenapa tidak mas cegah! justru ikut makan bersama kan?


Harlan beranjak dari duduknya "Aku juga sudah melarangnya Lupi! tapi dia memaksa! aku hanya makan dua sandwich. Tak lama kau datang, kalau tadi aku kerungan mu sudah pasti kita ribut lagi, aku menghindar dari keributan! Aku hanya ingin kamu berpikiran positif, jangan terus-terusan menyalahkan ku! bentak Harlan, wajahnya terlihat memerah menahan emosi. Lalu ia berjalan kearah pintu dan membuka handle.


"Buang rasa cemburu mu yang berlebihan! kau tidak pernah percaya pada suamimu sendiri!"


BRAKK!!


Harlan keluar dari kamar dengan membanting pintu. Lupita bergeming sambil meremas dadanya yang terasa nyeri.


🔥


🔥


🔥

__ADS_1


@Yuk terus dukung karya Bunda, jangan lupa untuk follow IG @bunda.eny_76


@Bersambung....


__ADS_2