
"Terserah kalau bibi anggap aku ikut campur, Aku hanya ingin membantu Lupi saja! karena aku peduli!"
"Alah! nggak usah pakai belaian si Lupi! kamu emangnya siapanya Lupi! teriak Surti dengan wajah bengis nya.
"Bibi! tidak perlu berteriak seperti itu! Mas Harlan hanya bertanya baik-baik, kenapa harus marah marah!"
Surti tidak terima, ia terus mengoceh tak karuan. Di saat keadaan rumah sedang kacau, Lolita mengambil kesempatan. Ia membawa seorang pria keluar dari kamarnya lewat pintu belakang. Lupita ingin memergokinya tapi ia urungkan, ia takut bibinya bertambah murka.
"Sekarang begini saja Bi.."
Surti memotong ucapan Harlan "Kau panggil aku Bibi? sejak kapan aku nikah sama paman mu! jawab Surti cetus.
"Oke baiklah ibu Surti, tolong perlihatkan surat Hiba yang diberikan pada Pamannya Lupita, adik dari ayah Lupita. Biar jelas duduk persoalannya." kata Harlan mencari solusi.
"kau kan hanya orang luar. nggak pantas ikut campur dalam urusan keluarga kami. Apalagi ingin melihat surat asli hibah itu."
"Baiklah bila ibu tidak percaya denganku, dan tidak ada penyelesaiannya. Biar Lupita panggil ketua Rt dan Rw untuk menyaksikan surat hibah asli itu."
"Tidak bisa! kau tidak bisa seenaknya mengatur Keluarga kami! bentak Surti ketakutan.
"Tidak ada cara lain, Karena ibu Surti sudah menzolimi Lupita dengan cara memberikan surat hibah palsu ini!
"Berani kau bilang itu palsu, Hah! Surti langsung mengambil sapu yang bersandar di dinding. Saat tangannya ingin memukul tubuh Harlan, dengan cepat ia menariknya.
"Lupi! sekarang kau panggil ketua RT dan tiga orang warga setempat, untuk menyelesaikan masalah ini! perintah Harlan pada Lupita.
"Tidak Lupita! jangan kau kesana, bikin malu saja, kita bisa menyelesaikannya secara kekeluargaan! pinta Surti dengan wajah pucat.
"Orang sepertimu sudah tidak bisa dikasih hati! bentak Harlan kesal. "Untuk apa masalah ini berlarut-larut, kasihan Lupita yang memiliki hak atas rumah ini!
Lupita berjalan keluar rumah untuk memanggil Pak RT dan warga setempat untuk menjadi saksi.
Tiba-tiba terdengar suara Bejo yang masuk kedalam rumah sambil berteriak-teriak.
"Mana orangnya kak! yang sudah datang kerumah kita bikin rusuh!
"Bejo! panggil Surti
"Tadi si Loly nyari aku di tempat tongkrongan. katanya ada perusuh di rumah kita!
Dengan santai Harlan meyerumput kopi yang hampir dingin. "Takk! menaruhnya kembali.
"Hey! pasti loe ya yang udah buat rusuh! mau cari ribut sama kakak gue! bentak Bejo sambil berkacak pinggang.
Harlan hanya tersenyum tipis tanpa merubah tempat duduknya.
"Loe belum tau gue kan? Preman pasar loak! bentak Bejo sambil menunjukkan Tatto yang bergambar kepala 'Buaya' pada Harlan.
__ADS_1
"Sabar bang! tenang dulu, jangan marah-marah begitu. nanti darah tinggi Abang kumat."
"Hey! enak ajah luh! siapa yang punya darah tinggi!
Assalamualaikum....
Terdengar suara memberi salam dari depan teras. Lupita, ketua Rt dan tiga orang warga masuk kedalam ruangan tamu.
"Wa'alaikumsalam... sahut Harlan.
"Ini ada apa ya? rame-rame disini! ujar Bejo bingung.
Setelah semua duduk, ada sebagian yang duduk di kursi plastik karena tidak muat disofa. Harlan mulai rembukan.
"Sebelumnya saya minta maaf, sudah mengundang Bapak ketua RT setempat beserta tiga warga. Perkenalkan nama saya Harlan, teman dari Lupita. jadi tadi pagi Lupita cerita pada saya tentang surat kuasa atas rumah kedua orangtuanya yang sudah almarhum, kata bibinya sudah di hibahkan atas nama bapak Imron, selaku paman Lupita."
Terlihat wajah kesal dan amarah Surti pada Harlan. Akhirnya Pak Rt ikut berbicara karena sudah di panggil.
"Bisa ibu Surti perlihatkan surat kuasa atau surat hibah aslinya. Tolong jangan mengambil keuntungan dari seorang anak yatim piatu bu! itu tidak baik, apalagi kedua orang tua lupita panutan warga sini saat masih hidup." terang Pak RT tegas.
"Ba-ik Pak,.." ucap Surti gugup.
Surti masuk kedalam kamar, tak lama ia kembali dengan membawa sebuah map dan memberikannya pada Ketua RT. Setelah berada di tangan pak Rt, ia membuka map coklat itu dan membaca isi suratnya. Pak RT mengeryitkan keningnya dan sedikit curiga pada tulisan tangan itu.
"Boleh saya bertanya, bu surti? tanya Pak RT.
"Iya silakan Pak!
"Dari kampung Pak! sebelum suami saya Imron meninggal, saya sempat pulang kampung satu bulan. dan saya mendapatkan surat ini dari keluarga suami saya di kampung."
Pak Rt mulai menemukan keganjalan. "Bukankah kedua orangtua Lupita meninggal lima belas tahun yang lalu. Saat Lupi berusia tujuh tahun. Seharusnya tanggal hiba dibuat sebelum Ayah Lupita, Bapak Arman meninggal. Bukan surat yang dibuat sesudahnya! ujar pak RT geleng-geleng kepala.
"Mana mungkin keluarga suami saya bohong Pak! surat itu kan dari mereka, Jadi mana aku tahu! ucap Surti menyangkal.
"Benar Pak! kakak saya tidak mungkin bohong! bela Bejo.
"Surat hiba ini tidak sah Bu! karena tidak ada tandatangan dari notaris."
"Tapi kan itu ada tandatangan di atas materai ayah nya Lupita."
"Tetap tidak kuat bu, dan tandatangannya ada keganjalan juga Bu!
"Jadi bapak RT nuduh saya memalsukan tanda tangan itu! Surti berdiri sambil marah marah.
"Ibu yang sopan kalau bicara pada Pak RT! sela warga yang ikut rembukan.
"Boleh saya bicara? Harlan menunjuk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Luh siapa, mau ikut campur! bentak Bejo.
"Silakan Mas, disini kita bebas berpendapat." kata Pak RT ramah
"Terima kasih, Pak RT." ujar Harlan tersenyum.
Sekarang begini saja Pak, seandainya tidak menemukan jalan tengahnya. Dan Bu Surti merasa surat hiba itu benar dibuat oleh Ayahnya Lupita, padahal jelas dari tanggal dan tahunnya saja sudah berbeda. Lebih baik kita libatkan kepolisian dan mereka akan tahu surat hiba itu palsu atau Asli."
Seketika Surti terkejut dan mulutku menganga, matanya membulat, ekspresi wajahnya berubah merah seperti kerang rebus. Terlihat kebohongan Surti. wajahnya tertunduk malu.
"Benar kata Mas ini, lebih baik bawa surat itu ke kantor polisi, jadi bisa ketahuan palsu apa Asli. Berdebat dengan Bu Surti pun percuma dia membela diri terus! ujar salah satu warga kesal.
Surti melirik Bejo seakan memberi kode.
"Tidak usah! tidak perlu di bawa ke kantor polisi! tiba-tiba Bejo berbicara gugup dengan wajah pucatnya.
"Berarti surat ini palsu kan Bi! Lupita beranjak dari duduknya dan menatap tajam Surti yang sudah tertunduk.
"Ehh! Lupi! luh jangan songong sama Bibimu. surat itu kami dapat dari keluarga Ayahmu! sungut Bejo masih membela diri.
"kalau seperti itu, berarti surat yang berada sama bibi tidak jelas! lihat tandatangan Ayah saja beda." kata Lupita setelah melihat surat tulisan tangan itu. "Berarti ini surat palsu! Untung saja aku membawa Pak RT kemari, jadi aku tidak terusir dirumah ini."
Siapa yang ingin mengusirmu Lupi? tanya Pak RT kaget.
"Bibi Surti ingin mengusir kut tadi pagi, karena dia bilang rumah ini sudah dihibahkan untuk pamanku."
"Kenapa Ibu Surti begitu jahat pada ponakannya Pak Imron. ini rumah pak Arman. Lupita pewaris tunggal rumah ini Bu. Apa ibu tega mengusir anak yatim piatu dari rumahnya sendiri?! ucapan pak RT terlihat marah.
Surti terdiam dengan wajah menekuk, ia sudah tidak bisa berkutik lagi. Apalagi dia kaget Lupita berani mengungkapkan semuanya pada Pak RT dan warga yang menjadi saksi.
"Kau jangan terus menjelekkan kakaku di depan warga dan Pak RT! seru Bejo, terus membela Surti.
"Sekarang mau mu bagaimana Lupi, terhadap Bibi mu ini? tanya Pak RT lagi.
"Sudah bertahun-tahun Bibi dan Lolita tinggal di rumah ini, dari usia saya tujuh tahun, sampai sekarang menginjak umur saya 22 tahun. Saya sudah bisa mengurus diri saya sendiri. Sekarang saya pinta, bibi Surti, Lolita dan bang Bejo meninggalkan rumah saya!
"Apa..?!! pekik mereka berdua, terkejut.
Bejo dan Surti membelalakkan matanya. "Apa apaan kamu Lupi! tidak bisa! ini rumah kami juga! kau sejak jadi yatim piatu aku dan Imron yang urus! apa kau lupa jasa-jasa kami! maki Surti emosi.
"Yang saudara dengan ku itu Paman Imron. sekarang Paman sudah meninggal. saya sudah tidak ada urusan lagi dengan bibi! ucap Lupita tegas.
"Benar bu, ibu sudah tak berhak tinggal disini. karena ibu sudah tidak ada urusan lagi dengan Lupita. hanyalah Lolita yang masih berhubungan darah dengan Lupita." ujar Pak RT lagi membela Lupita.
'
'
__ADS_1
'
@Bersambung.......