
WELCOME BACK READERS!!❤️❤️
Tolong kasih jejak kalian setelah membaca!! HAPPY READING ❤️
...•••••...
Jam semakin malam dan acara makan malam sudah selesai beberapa menit yang lalu. Kini beberapa orang sudah masuk ke dalam villa satu persatu.
"Ekhm".
Seorang pemuda yang sedang duduk menatap keindahan laut di balkon didatangi seorang gadis cantik memakai gaun hitam.
Pemuda itu Roby, dia tidak berkata apapun karena tidak tahu akan mulai dari mana.
"Gue kira cuma marga doang yang sama". Ucap Retha mulai membuka obrolan.
"Maksud lo?".
Seperti bukan Roby yang dia kenal biasanya. Saat ini Roby yang ada di hadapannya lebih pendiam.
"Kusuma".
Kepala Roby mengangguk paham. Lalu pandangannya menatap ke arah belakang dimana ada Arga datang sambil membawa mangkuk berisi salad buah.
Mangkuk itu langsung diambil alih Retha dan mulai memakannya secara perlahan sambil duduk di bangku yang ada di teras.
"Kalau ada yang mau ditanyakan gue persilahkan apapun itu".
Diam tidak ada ucapan yang keluar. Tapi gak lama mulut Roby terbuka.
"Apa liza juga ada disini?".
Kening Retha mengerut dengan pertanyaan apa yang keluar dari mulut Roby. Bodoh, pikir Roby mengerutuki apa yang dia tanyakan.
Tidak ada jawaban apapun. Namun terlihat dengan sedang menelpon seseorang.
Sampai gak lama terdengar suara langkah kaki dua orang mendekat. Roby menatap ke arah pintu dan terlihat Liza bersama seorang pemuda yang cukup familiar.
Gadis itu memakai dress seksi berwarna hitam tak lupa dengan high heels tinggi senada. Sedangkan pemuda disampingnya menggunakan jas formal masih sangat rapih padahal acara sudah selesai.
Mungkin.
Lagi lagi Roby tidak berkata apapun.
"Hai".
Tidak ada jawaban apapun dari siapapun. Liza bergabung dengan Retha sedangkan pemuda yang digandengnya bergabung dengan Arga.
Dia Felix, kakak Liza tapi Roby tidak tahu itu.
"Abang lo mana?". Tanya Felix menghilangkan keheningan.
Arga hanya mengangkat bahu nya tidak tahu sebagai jawaban.
"Ck, sama aja. Za, gue ke dalam dulu". Pamit Felix kepada sang adik.
"Iya, gue bilang juga kagak usah di anterin". Omel Liza sambil mengangkat ujung bibirnya kesal.
Felix tidak menanggapi. Pemuda itu pergi meninggalkan para gadis dan pemuda yang umurnya di bawahnya beberapa tahun.
Lalu Liza menatap ke arah Roby dengan pandangan sulit diartikan.
"Tha, lo yakin dia bisa tutup mulut". Ucap Liza ragu.
"Why?".
"Ck, jangan remehin gue ya. Gini gini gue cowok yang suka pegang omongan". Sahut Roby tak terima.
__ADS_1
"Inti Neovaros yang lain?". Sindir Liza.
"Gue bisa jamin mereka gak bakal tahu dari mulut gue. Walaupun mereka sahabat gue". Ucap Roby sungguh sungguh.
"Apa jaminan lo?".
"Gue kagak ngomong juga kalian pasti tahu". Sarkas Roby membuat semuanya paham.
"Gimana? Percaya kan lo sekarang". Ujar Liza lagi.
"Kenapa nggak? Penjelasan dari Tante gue dan jelas di hadapan gue".
"Tante?". Heran Liza.
"Tante Felicia". Sahut Retha yang sedari tadi diam makan salad.
Terlihat raut wajah Liza kebingungan yang dapat Roby tangkap. "Kusuma, marga gue".
Kepala Liza mengangguk angguk paham. "Baru ngeh gue kalau marga lo sama Tante Feli sama".
"Tapi kok gue baru lihat sekarang?".
"Ini pertama kalinya gue datang karena barang Tante gue ketinggalan". Jawab Roby.
"Em, ternyata membawa berkah".
"Jadi, apa ada pertanyaan?". Ucap Retha dengan senyum misterius.
Terdengar helaan nafas dari mulut roby sepertinya pemuda itu banyak pertanyaan di otaknya namun tidak tahu mulai darimana.
"Gak lah sepertinya gue paham. Lebih banyak gue tahu lebih tertekan jiwa gue".
Ucapan Roby membuat kedua gadis itu tertawa ngakak sedangkan Arga hanya menyunggingkan senyum kecil.
Suasana menjadi hening dengan pikiran masing-masing. Sampai Roby seketika menatap Retha dan Arga bergantian dengan kening mengkerut.
Sebelah alis Retha terangkat. "Emang gue pernah bilang pacaran!".
Kepala Roby menggeleng. "Ya nggak sih tapi interaksi kalian kaya orang pacaran".
"Itu pikiran kalian doang". Seru Liza.
"Iya juga sih". Pikir Roby.
....
Brak
Stik PS di banting begitu saja saking kesalnya. Empat pemuda yang kini sedang berada di markas merasa kesal karena satu sahabatnya tidak bisa dihubungi sedari siang.
"Tuh anak kemana sih, bilangnya cuma sebentar, sampai tengah malam gini kagak kelihatan batang hidungnya sama sekali". Omel Dirga.
"Lo bisa diem gak sih bangsat".
Seketika suasana menjadi hening saat bos mereka sudah buka suara dengan nada yang berbeda.
Tidak tahu kenapa emosi Ray meningkat Sedati sore dan pemuda itu selalu menatap laptop tidak tahu sedang mengerjakan apa.
"Kayanya pak bos lagi PMS". Bisik Dirga di sisi Reza.
"Mendingan lo diem daripada diamuk".
Dengan cepat Dirga memberi gerakan menutup mulut dengan rapat membuat suasana ruangan menjadi hening.
.
.
.
__ADS_1
Di tempat lain.
Terlihat seorang gadis dan tiga pemuda tampan sedang duduk berkumpul tapi sibuk dengan beda masing masing.
Ada yang memegang laptop, handphone dan makanan.
"Sha lo udah tahu identitas mereka?". Tanya lintang membuka suara.
"Walaupun gue cari tahu gak bakal nemu". Jawab Shasha apa adanya.
"Kenapa?". Sambung Ferdian yang sedang asik dengan cemilan yang ada di pangkuannya.
"Mereka bukan tandingan kita". Jeda Shasha membuat ketiganya bingung. "Gue yakin mereka memiliki tahta diatas kita". Lanjutnya.
"Di atas langit masih ada langit". Sahut Galang yang sedari tadi diam.
Shasha mengangguk setuju. Maka dari itu ia harus berhati-hati saat melangkah jika tidak ingin mati sia sia.
"Kembali ke tujuan awal. Gimana rencana lo buat memulai balas dendam?". Tanya lintang dengan nada serius.
"Gue ragu kalau harus melibatkan Retha dalam masalah gue".
Kening lintang mengerut heran. "Kenapa? Bukannya abangnya setuju bantuin kita?".
"Abangnya iya, tapi tidak adiknya. Sebisa mungkin Marvel gak pernah mau melibatkan kedua adiknya jika itu sudah tidak bisa terkendali baru semua orang turun".
"Itu yang marvel pernah jelaskan". Lanjutnya agar mereka tidak mempertanyakan jawaban itu.
Ketiga pemuda itu terdiam paham sambil memikirkan sesuatu.
"Gimana kalau lo sendiri yang masuk ke sekolahan itu?". Usul Ferdian bodoh.
Bugh
Bantal melayang pas mendarat di wajah pemuda itu membuat orangnya mendelik kesal.
"Kalau bicara dipikir dulu bego. Shasha kan donatur di sana, masa iya tiba tiba datang jadi siswa. Otak lo makanya jangan diisi sama makanan terus". Kata lintang panjang lebar dengan wajah menjengkelkan menatap ferdian.
"Ya sorry gue lupa". Seru Ferdian dengan nada melas.
"Jyjyk anjeng!".
Sekali lagi bantal mendarat di wajah Ferdian membuat pemuda itu kesal dan melempar kembali bantal yang ada disekitarnya.
Maka, terjadilah perang bantal di hadapan Shasha membuat gadis itu menghela nafas pasrah dan memutuskan berjalan masuk ke dalam kamar pribadinya yang ada di dalam markas.
"Terserah kalian, gue capek". Batin Shasha jengah melihat kelakuan inti AOD yang banyak tingkah.
.......
.......
.......
Note
Haii guys, sebagai catatan dan lebih tepatnya author minta bantuannya sedikit untuk kalian memberikan idenya di komentar tentang konflik apa lagi yang bisa author tulis.
Hehehe, jujur otak author agak mentok ditambah beberapa cerita yang harus author tulis. Ditambah genre yang berbeda beda. Berasa pecah otak author. 😂😂
Ok ****** lupa tinggalkan saran di setiap bab.
Babay, happy Reading ❤️
...•••••...
TBC
Jangan lupa like dan commentnya kalo kalian suka cerita ini ❤️ See u next part 🥰
__ADS_1