Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Nafkah buat Lupita.


__ADS_3

Author mau menjawab dulu kecemasan readers, Peran tokoh Harlan mempunyai karakter yang kuat, mau 1000 wanita di hadirkan di novel ini, tetap Harlan pria setia dan tidak mudah tergoda, ia memiliki prinsip hidup. Di semua Novel Pria yang tampan, kaya dan berkuasa sudah pasti banyak di kelilingi wanita, jadi tolong lah jangan sampai Author nya terjun bebas...🙈 dengan komentar yang tidak enak. Pelakor dimana-mana pasti ada. Tolong jangan berdebat kapan Harlan harus mengungkap kan jati dirinya. biarkan cerita ini berjalan semestinya, santai saja membacanya, karena semua novel hanya hiburan. Okey....😍


Motor Harlan melaju dengan kecepatan tinggi, malam itu jalanan tampak lengang, jadi tidak ada kemacetan. Setengah jam kemudian motor Harlan, berhenti didepan rumah Lupita.


"Tok, tok, tok...


"Lupi... aku sudah pulang."


Lupita mendengar suara orang memanggil namanya, dibarengi ketukan pintu. ia mengakat kepalanya yang sedari tadi tertidur diatas meja makan dengan kedua tangan bertumpu. Lupi menatap jam yang menggantung, jam sudah menunjukkan pukul 11 lewat 10 menit. ia berjalan kedepan pintu.


"Mas?! pekiknya saat melihat sosok Harlan di depan pintu.


"Maaf aku pulang telat, banyak pekerjaan yang harus aku urus."


"Ya sudah tidak apa-apa mas, ku pikir mas nggak pulang, aku tadi ketiduran di kursi makan."


Harlan menatap iba wajah istrinya yang kelihatan sangat mengantuk.


"Aku masukkan motor dulu kedalam."


Setelah motor sudah berada diruangan tamu. Harlan berjalan mendekat ke meja makan.


"Mandi dulu mas, atau cuci muka ajah. ini sudah malam takut sakit." ujar Lupita seraya menyodorkan handuk.


Menarik kursi makan dan terduduk "Tadi Mas sudah mandi di kontrakan."


"Oiya, pakaian Mas mana?


"Maaf Lupi, tadi terburu-buru. Besok saja kalau hari libur mas bawa kesini."


"Ya sudah Mas makan dulu ya, pasti lapar setelah bekerja seharian. Aku panaskan dulu masakannya."


"Lupi, sebenarnya aku sudah makan di warteg, lebih baik untuk besok pagi saja, ya?"


Wajah Lupita terlihat muram, tapi ia menutupinya dengan senyuman samar.


Saat Lupi ingin membereskan makanan diatas meja, tangan Harlan menarik lembut.


"Apa kau marah?


Lupita menggeleng seraya tersenyum "Tidak apa-apa Mas, kalau tumis sayur ini tidak bisa di buat besok, aku memasaknya tadi jam tujuh, kalau ikan masih bisa di hangatkan."


"Biar aku makan tumis sayur nya." Karena tidak ingin Lupita kecewa, Harlan mengambil mangkok berisi tumisan dari tangannya.


"Mas bilang tadi sudah kenyang."


"Enak ko di makan kaya gini." Harlan benar benar memakan tumisan buatan Lupita hingga habis. senyuman hangat tersungging dari bibir Lupita.


"Apa kau mengantuk, tidur lah sudah jam setengah dua belas."


"Mas baru saja pulang, masa aku tinggal tidur." imbuh Lupita seraya menuang air putih kedalam gelas.

__ADS_1


"Lupi, besok aku harus berangkat pagi-pagi, tidak bisa mengantarmu ketempat kerja, begitu banyak pengiriman barang." Dustanya merasa bersalah.


"Tidak apa-apa Mas, aku memaklumi pekerjaan mas ko, aku sudah terbiasa berangkat dan pulang sendiri." Lupita bicara penuh pengertian.


["Lupi kau istri yang baik dan pengertian, ma'afkan aku belum bisa jadi suami yang sempurna."]


"Lupi, aku ingin memberikan ini." Harlan mengeluarkan dompet dari saku celana belakangnya, dan memberikan sejumlah uang pada Lupi.


"Mas duit sebanyak ini untuk apa? bukankah gajian masih lama? baru tanggal 16 kan?"


"Itu uang tabungan ku, kau belikan TV dan kulkas ya, dan kebutuhan dapur."


"Tapi Mas, ini banyak sekali? tidak usah semuanya buat aku, sebagian mas simpan saja, takut kebutuhan mas yang tak terduga."


"Ini tidak banyak kok, hanya 20 juta? kau bisa belanjakan yang penting sesuai kebutuhan rumah kita.'


"Apa?! 20 juta mas bilang nggak banyak?! Lupi membelalakkan matanya seraya gelengkan kepala.


"Nggak apa-apa Lupi, Mas masih bisa cari uang lagi, kerjakan juga buat istri."


Lupita tertunduk sedih, dengan mata berkaca-kaca.


"Kenapa kau bersedih? Harlan menatap lembut wajah istrinya.


"Mas, kita baru saja tiga hari menikah, tapi mas sudah memberikan uang sebanyak ini. Apa gajih mas sebagai seorang kurir besar? ma'af, maksud ku bukan ingin ikut campur keuangan Mas, tapi aku tidak enak menerima ini."


"Lupi! menyentuh pundak Lupita "kau berhak mendapat uang nafkah dariku, tidak perlu memikirkan uang itu darimana. itu adalah tabunganku hasil kerja kerasku, dan kau adalah istriku, aku wajib memenuhi kebutuhanmu. Apalagi di rumah ini tidak ada TV dan kulkas."


Mengelus pucuk kepala Lupita "Baiklah, sekarang kau istirahat lah, sudah malam." mengusap lembut pipi mulus Lupi, Harlan ingin menciumnya tapi ia urungkan, ia tidak ingin Lupita terkejut, ia ingin Lupita tulus memberikan padanya tanpa paksaan.


"Baiklah Mas, aku tidur dulu." Lupi berjalan masuk kedalam kamar. Setelah lampu ruangan tamu padam, Harlan masuk kedalam kamar dan merebahkan tubuhnya.


"Aku tidak ingin memaksa Lupi untuk melakukan kewajibannya, apalagi pernikahan kami belum resmi secara hukum Negara, biarlah waktu yang akan menjawabnya. Yang terpenting aku bisa melindungi dirinya."


*****


Selesai shalat subuh, Lupita memasak air panas dan membuat kopi hitam kesukaan Harlan. Menaruh kopi diatas meja makan.


"Mas tumben sudah rapih, baru jam setengah enam?"


"Hari ini aku piket, harus datang lebih awal, maaf kalau aku terburu-buru."


"Padahal aku ingin membuat nasi goreng, semalam Mas tidak makan nasi."


"Tidak apa-apa, minum kopi sudah sedikit kenyang." Harlan mengambil cangkir kopi yang masih panas. Ditiup-tiupnya sebentar, lalu meyerumputnya perlahan.


"Aku berangkat dulu, ya." mengusap kepala Lupita.


"Mas...!"


"Ya..."

__ADS_1


"Tolong ponselnya di aktifkan, jadi aku bisa tahu mas pulang atau tidak."


"Baiklah, kemaren ponselnya lowbet."


Lupita menarik punggung tangan Harlan dan menciumnya.


"Hati-hati dijalan Mas." imbuh Lupita, saat Harlan sudah berada diatas motor.


"Ingat, jangan telat makan kalau lagi kerja."


"Bukankah kemaren, Mas yang mengantarkan makan siang untuk ku?"


"Mas tidak ingin kau sampai lupa makan. Apalagi sampai mengabaikan makan siang, lebih baik kau buang sisa makanan bila tidak habis, daripada makan berdua dengan orang lain."


"Deg! Seketika Lupita tersentak.


"Aku berangkat dulu ya." tanpa menunggu jawaban Lupita, Harlan langsung melajukan motornya, hingga hilang di ujung gang.


"Tunggu! darimana Mas Harlan bisa tahu, aku membagi makanan pada Damar? padahal makanan itu bnyak, daripada dibuang kan mubazir." Lupita mengingat siapa saja yang berada di ruangannya kemaren. "Siapa yang sudah memata-matai aku ya? aduh aku tidak ingin Mas Harlan salah paham.


*****


Jam enam lewat seperempat, motor Harlan sudah berhenti didepan gerbang pintu. ia menitipkan motornya di pos satpam. Sebab tidak ingin Mak isah tahu semalam ia pergi.


"Harlan, kau darimana? tanya Mak isah, yang sedang duduk di sofa.


Harlan sempat tersentak, mendapi Mak isah sudah duduk di sofa. "Mak?! Anu... tadi subuh, aku keluar sebentar untuk cari sarapan di depan komplek?"


"Tidak biasanya kau cari sarapan di luar, apalagi dipinggir jalan." ujar Mak Isah curiga.


Harlan mulai merayu dan duduk disamping Mak Isah. "Mak ini kenapa selalu saja curiga, aku ini sudah besar Mak, tidak usah khawatirkan aku, ya."


"Mak hanya tidak ingin kau kenalan dengan wanita di luar sana, dan terjebak. Kebanyakan mereka hanya mengincar hartanmu saja."


Harlan merangkul tubuh wanita renta itu "Mak, aku banyak belajar dari Mak selama tinggal di kampung, insyallah aku tidak akan terjebak. Aku bisa menilai dan memilih, mana wanita baik-baik dan tulus, dan mana wanita yang hanya mencari kesenangan pribadi."


"Baiklah, baik... Mak percaya, kau anak yang jujur. Mak sangat menyayangimu, seperti anak kandung Mak sendiri."


Harlan mencium tangan wanita paruh baya itu lembut "Mak, ma'afkan aku, sebenarnya aku sudah memiliki seorang istri, dia wanita baik dan sederhana. Hatinya secantik wajahnya." gumam Harlan dalam hati, tersungging senyuman terbit di bibirnya.


"Ya sudah, kau bersiaplah. jemput Della anak Bibimu, sebentar lagi Della sampai di terminal.


"Iya Mak, aku mandi dulu."


Harlan berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.


🌺


🌺


🌺

__ADS_1


@Bersambung......💃💃💃


__ADS_2