Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Istri Sah


__ADS_3

Lupita mencubit pinggang suaminya "Apaan sih Mas!"


"Aww! sakit sayang.." Harlan terkekeh.


Mereka bertiga bercengkrama dan tertawa bersama. Tanpa mereka sadari, sepasang mata tajam sedang mengamati dan mengepalkan kedua tangannya "Aku tidak akan biarkan kau hidup bahagia Lupi!" ucapnya geram.


Mereka berdua berjalan menuju anak tangga. Harlan membuka pintu kamar dan duduk di tepi ranjang. Menarik tangan Lupita dan terjatuh di atas ranjang. Dengan cepat Harlan mencium bibir istrinya. Mata Lupi terbelalak saat mendapat serangan mendadak. Ia berusaha mendorong tubuh kekar Harlan yang berada di atasnya. pagutan suami bule nya tak juga terlepas. Lupita terlihat kesal walau menikmati ciuman itu.


"Aaaawwww...!!" Harlan terpekik saat bibirnya seperti ada yang gigit


"Yank, kamu tega banget sih gigit bibirku."


"Habisnya Mas main serang. Badanku lengket mau mandi dulu."


"Ya sudah ayo kita mandi bareng." terlihat seringai licik di bibir suaminya.


"Ap-apa? tidak..! aku bisa mandi sendiri!" Lupita menolak, sebab ia tahu kemauan suaminya. sudah pasti ia akan dikerjai habis-habisan di kamar mandi."


"Kata Pak ustadz, menolak suami itu dosa hukumnya."


"Aish! pakai dalil segala. kalau sudah seperti itu aku tidak bisa menolaknya." gumamnya dalam hati.


"Aku lelah Mas, mas apa nggak capek? lagian ini sudah malam juga kan."


"Yang bilang siang siapa...?"


"Ck! susah banget mau ngelesnya!" gumamnya pelan.


Harlan melempar seluruh pakaiannya ke sembarang arah, kini tangannya mulai melepas satu persatu pakaian Lupita. Tak ada penolakan selain pasrah dan ikhlas mengikuti kemauan suami bulenya, sebab itu sudah menjadi kewajibannya bukan? Lupita memasang senyuman palsu di bibirnya Walau hatinya sedikit kesel.


Harlan mengangkat tubuh Lupita dan berjalan kedalam kamar mandi "Kau harus siap menerima serangan suami tampan mu, biar tabungan ku semakin penuh." Harlan terkekeh, Lupita mendelikan matanya dan berharap tidak berlangsung lama, mengingat senjata suaminya yang membuatnya menjerit.


Hari yang di nantikanpun tiba. Seorang perias sudah selesai memberikan sentuhan yang berbeda di wajah cantik istri seorang CEO. Wajah Lupita tampak bersinar dan berseri, pancaran aura nya terlihat berbeda ditangan MUA.( Perias pengantin) Lupita bak seorang putri raja, cantik dan jelita bagai boneka Barbie.


"Nona biar aku bantu pakaikan kebaya nya."


Lupita mengangguk. Perias itu memakaikan kain batik tulis dan kebaya brokat putih. Tak lupa mahkota diatas kepala sebagai sentuhan terakhir.


"Tok! tok! tok! ketukan pintu di luar kamar.


"Masuk!"


Ceklek!


"Lupi..."


"Hey Inez..."


Inez terkejut dan menatap tak percaya, melihat wajah Lupita yang berbeda dari biasanya. "Woww... Amazing, cantik banget!" seru Inez berjalan mendekat dan memeluk sahabatnya.


"kenapa baru datang? Aku sudah cemas dari tadi. Ku pikir kau tidak akan datang di pernikahan resmi ku."


"Maaf, tadi macet banget. Tidak mungkin aku tidak hadir di acara saklar ini. Bisa-bisa di pecat sama istri CEO."


"Tidak mungkin aku pecat kau tanpa sebab. kecuali saat kau menikah dengan pangeran William."

__ADS_1


"Huustzz pelankan suaramu! nanti kalau kedengaran dia, dipikir aku yang berharap banget sama dia.."


"Nona sudah selesai semua, saya pamit dulu."


"Iya, terima kasih ya Mba." Dua orang wanita itu keluar dari kamar.


"Lupi, aku tak percaya ini kau?


"Kau juga cantik, memakai kebaya pink, Wiliam pasti akan terpesona melihat kecantikan mu, Nez."


"Jangan terus menggoda, aku tidak ada apa-apa dengan William. kau tahu sendiri bukan, aku begitu membenci dirinya!


"Kau yakin?" sini aku bisikin."


"Apaan sih!" inez penasaran dan ia mendekat kan telinga nya.


"Kau akan puas bila menikah dengan Wiliam." Lupita terkikik. "Kau pasti mengerti bukan?


"Hah...?! maksud mu apa sih...? tanya Inez polos.


"Ahh, kau ini! masih pura-pura polos "Yang ku maksud anu nya itu..." Lupita membekap mulutnya dan menahan tawa.


"Anu nya itu apa??!


"Astaga Inez.... masih nggak paham juga sih! kau tahu kan orang bule itu anu nya..." Lupita menggantung ucapannya.


Inez yang sudah paham membekap mulutnya sendiri "Dasar otak mesum, bisa-bisa kau masih mikir gituan, mentang-mentang udah ngerasain." gerutu Inez geleng-geleng kepala.


Lupita terkekeh geli.




wajah Inez


JGLEK!"


"Sayang...."


Harlan tercengang saat melihat wajah istrinya yang berbeda dari biasanya. Ia menelan salivanya dan terkagum-kagum seraya berjalan mendekat.


"Aku keluar dulu ya." bisik Inez dan membungkuk pada Harlan saat melewatinya. Inez menutup pintu kamar dan berdiri di depan pintu.


"Akhirnya mereka menikah resmi. Semoga secepatnya Lupita hamil lagi." Inez bernafas lega. Tanpa ia sadari sepasang mata elang menatapnya penuh kekaguman. Hari ini Inez terlihat cantik dan anggun. Bahkan balutan kebaya brokat warna pink melekat indah di tubuhnya, terlihat seksi dan padat berisi. Siapa yang tak akan terpesona melihat kecantikan dan kemolekan tubuh sintal Inez.


Inez berjalan menuruti anak tangga. Saat pijakan kedua terdengar suara deheman dari belakang punggungnya.


"Ehem!"


Sontak Inez memutar tubuhnya dan ia terkejut saat sudah berdiri Wiliam di belakangnya, Inez yang memakai shoes hampir terpeleset karena tak ada keseimbangan. Dengan cepat tangan Wiliam menarik tangan inez dan mereka berdua jatuh bersamaan dengan posisi Inez diatas Wiliam.


"BRUGH!


"Aaaawwww......!!

__ADS_1


Mereka sama-sama kaget. Tanpa sadar kedua tangan Wiliam memeluk tubuh sintal Inez. Mata keduanya saling bersitatap, ada desiran dan aliran darah menjalar di tubuh mereka. Detak jantung keduanya saling bertalu-talu. Wiliam merasakan debarannya sudah tak karuan, saat buah dada Inez yang montok menindih tubuhnya dibawah. Mereka seakan menikmati momen langka itu, tidak ada yang ingin mengakhiri posisi mereka, seakan nyaman buat keduanya.


JGLEK!_


Harlan dan Lupita yang baru keluar dari kamar membelalakkan matanya dengan sempurna. Lupita tercengang, bibirnya menganga lebar dan tak percaya melihat keduanya dalam posisi yang tak sewajarnya. Harlan dan Lupita saling bersitatap. Anehnya mereka berdua tidak menyadari kehadiran Harlan dan Lupita.


"Ehem! apa yang sedang kalian lakukan! tiba-tiba suara Harlan menyadarkan mereka berdua.


BLUSS!


Seketika mereka terkejut dan baru menyadari apa yang sudah mereka lakukan.


"Kau! teriak Inez melototi mata Wiliam penuh amarah. "Apa-apan ini pegang-pegang, lepaskan!" bentak Inez dan berontak.


Wiliam melepas pelukannya, dengan cepat Inez bangkit dan tertunduk. wajahnya memerah seperti kepiting rebus, menahan malu di depan atasan dan sahabatnya.


Wiliam berdiri dan menoleh kearah Harlan. "Maaf Tuan, ini tidak seperti yang anda pikirkan. Tadi Nona Inez hampir jatuh terpeleset dari anak tangga, dengan cepat saya menarik tangannya dan terjadilah peristiwa yang tak terduga."


"Tuan William awalnya membuat Aku kaget! ucap Inez tak mau kalah.


"Ya sudah tidak usah berdebat. sekarang kita berangkat, tadi pihak KUA sudah menghubungi untuk segera datang."


Harlan dan Lupita berjalan bergandengan menuruni anak tangga. William mempersilahkan Inez jalan didepannya. Baru setelah itu Wiliam di belakang Inez sambil terus menelan salivanya mengingat kejadian tadi.


Wiliam membuka pintu mobil untuk Tuan dan Nyonya nya di posisi belakang. Sementara Inez masih berdiri tanpa ikut naik kedalam mobil.


"Inez! kenapa kau diam saja. Ayo masuk." perintah Lupita berbicara dari dalam mobil.


"Aku menyusul naik taksi, sudah aku pesan. sebentar lagi juga sampai."


"Tidak ada naik taksi! batalkan dan cepat masuk! duduklah di samping Wiliam." perintah Lupita sama saja dengan perintah atasannya yang tak boleh di bantah.


Padahal Inez ingin menghindari Wiliam karena malu dengan kejadian tadi, Namun nasib selalu mendekatkan dirinya dengan pria dingin tanpa ekspresi itu.


Kaki panjang inez berjalan kearah mobil sedan putih. Ia membuka pintu mobil, bersamaan debaran jantungnya yang bertalu-talu. Inez masih terlihat gugup dan berusaha untuk tersenyum, ia duduk di samping Wiliam dengan elegan.


"Hey! apa-apaan, Pria dingin itu ikut tersenyum padaku? Cih! menyebalkan.. padahal aku tersenyum agar wajahku tidak terlihat kaku dan tegang. Apalagi ini hari spesial sahabatku tapi sudah seperti saudara." umpatnya dalam hati.


"Will, tunggu apalagi, cepat jalan. jangan sampai terlambat. Permaisuri ku sudah tak sabar untuk malam pertama."


"Ish! apa-apaan sih Mas! Lupita mencubit pinggang suaminya karena kesal.


"Sakit sayang..." ucap Harlan manja di iringi kekehan.


Wiliam melajukan mobilnya seraya tersenyum melihat kebahagiaan Tuan dan Nyonya nya.


💜💜


@Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:


💜Like


💜Vote


💜Gift

__ADS_1


💜Komen


@Bersambung


__ADS_2