
Mereka mulai berdebat, pro dan kontra saling mereka utarakan didalam ruangan, membuat dada Inez sesak. Demi menghindari kekacauan dan keributan, inez pergi meninggalkan ruangan.
Langkah Inez semakin cepat untuk meninggalkan ruangannya, ejekan yang terlontar dari mulut pedas mereka, membuat hatinya panas. suara mereka terus terngiang-ngiang di telinga inez. Suara heels terdengar nyaring di lorong menuju toilet. Menandakan si pemilik heels sedang tidak baik. Inez membuka kasar pintu toilet. Dadanya bergemuruh, sudut matanya sudah basah. Inez melihat dirinya sendiri di depan cermin.
"Apa yang salah dalam diriku? apakah salah bila merubah penampilan ku, agar mereka tidak terus mengejek ku, tapi nyatanya masih saja mulut mereka pedas dan menghancurkan mood ku." Inez mengusap butiran airmata dengan punggung tangannya. Riasan makeup mula berantakan, soalnya ia tidak membawa bedak untuk menutupi wajahnya yang sudah sembab. Inez menarik beberapa lembar tissue toilet dan membersihkan eyeliner yang berjatuhan di bawah matanya. Untung toilet tampak sepi, ia bisa melampiaskan kekesalan dengan menangis walau suara isakannya pelan. Ingin rasanya berteriak untuk menghilangkan rasa sakit dalam hatinya. Dadanya terasa sesak, tuduhan selingkuh di alamat padanya.
"Darimana mereka tahu kalau Wiliam seringkali dekat denganku, walaupun ada itu diluar jam kerja kantor, saat ia datang menyelamatkan aku dari Angga, mantanku. selama di kantor kami tetap kerja profesional dan tidak terlihat akrab." Inez terus berfikir dan mengingat kejadian bersama Wiliam akhir-akhir ini. "Padahal aku dekat, hanya terlibat proyek apartemen yang berada di Bandung. Tapi kenapa mereka bilang aku naik ranjang bos..?" Airmata Inez kembali berjatuhan, bila teringat fitnahan teman sekantornya, rasanya Inez Ingin menghilangkan saja dari mereka.
Inez menarik nafas dalam-dalam dan dihembuskan kasar "Aku harus kuat! harus kuat! gumamnya menyemangati diri sendiri.
"Disaat seperti ini aku butuh dukungan seorang teman, sahabatku sedang bahagia. Tidak mungkin aku mengganggu dan menceritakan keluhan ku pada Lupita."
KREKK!
Pintu toilet terbuka, masuk seorang cleaning servis membawa bekas pelan.
"Mbak kenapa nangis?" tegur nya, yang tentu saja ia mengenal Inez, karena setiap hari membersihkan ruangan nya.
"Nggak apa-apa Mba via, aku hanya sedang sedih ajah." ucap Inez datar, seraya mengusap lelehan air hidungnya bekas menangis.
"Oohhh kirain ada apa..?"
"Mba via, bawa bedak nggak?"
"Bawa, ada tuh didalam tas. Emangnya kenapa Mbak.."
"Boleh aku pinjam nggak?" soalnya tas ku tertinggal di laci.
"Emang Mbak Inez nggak jijik pake bedak saya, takut nanti wajah mulus Mbak inez jerawatan pake bedak saya."
"Nggak apa-apa kok! hanya untuk menutupi sembab ajah."
"Sebentar saya ambilkan dulu ya Mba."
Tak lama wanita itu kembali ke toilet membawa dompet alat kosmetik. "Ini Mbak, pake ajah semua lengkap kok."
"Terima kasih ya Mbak via."
Inez mulai merapikannya makeup di wajahnya yang sudah luntur. Ia menepuk-nepuk bedak di permukaan kulitnya yang kinclong, menambah eyeliner untuk mempertegas matanya. memberikan blush-on pink di tulang pipinya, dan lipstik warna cerah menambah cantik wajah oriental Inez. Selesai berhias, Inez kembalikan alat kosmetik via.
"Wow.. Mbak Inez cantik banget."
"Wajah sih biasa ajah, yang menunjang kosmetiknya." ujar Inez, tersenyum lembut.
"Ahh.. bisa ajah Mbak inez, tapi beneran loh, pakai makeup atau nggak tetap cantik kok!" puji via tulus.
Inez tergelak "Ya sudah aku keluar dulu ya, Maksih sekali lagi."
wanita muda itu tersenyum sambil menatap kepergian Inez.
Inez menoleh jam di pergelangan tangannya "Jam sudah masuk makan siang, lebih baik aku ke kantin baru sholat Dzuhur." gumamnya di sela langkahnya menuju pintu lift.
__ADS_1
Pintu lift terbuka, Inez melangkah pasti menuju konter makanan. Sudah ada banyak karyawan di kantin. Ia heran kenapa semua menatap kearahnya, gerak-gerik mereka seakan membuat Inez tak nyaman. "Ada apa dengan mereka? kenapa menatapku penuh selidik?' gumamnya dalam hati.
Kaki Inez berhenti di konter soto Ayam langganan nya."
"Siang Mbak Inez? duh makin cantik ajah." puji Abang soto terkekeh.
"kenapa sih semua orang pada liatin aku kaya gitu? tanya Inez pada tulang soto.
"Mereka iri karena Mbak inez tambah cantik, perubahan Mba yang dulu dan sekarang sangat jauh berbeda."
"Masa sih! menurut ku biasa ajah kok, ya ada perubahan sedikit. Ya sudah antarkan soto sama es jeruknya ke meja pojok sana ya."
"Siap Mbak!"
Inez berjalan melewati bangku-bangku yang sudah terisi. "Ehh lihat deh, wajahnya kaya di operasi kan, tuh lihat wajah lama sama wajah sekarang, beda banget kan? ujar tiga orang wanita yang sedang bergosip sambil menunjukkan ponsel pada kawannya. Inez hanya melirik, entah foto apa yang sedang mereka ghibahkan. Inez tak peduli ia melangkah ke kursi dekat tiang.
"Wahh.. bener wajahnya mirip wanita itu. Dia kan yang sedang di gendong asisten Wiliam."
"Iya bener itu dia! menunjuk kearah Inez duduk.
"Ya ampun drama banget sih hujan-hujanan di gendong, udah kaya film India ajah." mereka semua terbahak melihat adegan yang berada di ponsel mereka.
"Wanita itu di bagian apa sih!" tanya teman satu ghibah nya.
"Dia di devisi Advertising dan desain grafis."
"Oohhhh..."
"Inez, ternyata kau disini!"
"Irfan..."
Pria itu duduk di depan Inez dengan wajah tegang dan menyedot es jeruk milik Inez yang berada di depannya.
"Sorry Nez aku haus, nanti aku pesankan lagi."
"Iya nggak apa-apa kok!"
Irfan mendekatkan wajahnya seakan berbisik "Nez! kamu merasa aneh nggak sih hari ini?"
"Maksud nya aneh bagaimna? ucapnya di sela ia menyendok nasi kedalam mulutnya.
"Maksud aku, apa kau tidak sadar sejak tadi mereka menatap dan membicarakan mu?
Inez mendesah kasar "Baru aku injak kan kaki ke kantin, mereka sudah bergosip ria, tapi aku tidak peduli mereka ingin gibahin ku!" Sekarang yang inez lakukan adalah mode cuek.
Irfan mengutak-atik ponselnya dan memperlihatkan sebuah vidio pada Inez "Apa benar ini kau dan asisten Wiliam?"
Mata Inez membulat sempurna, tiba-tiba ia tersedak, dengan cepat Inez minum air jeruk sisa setengah yang Irfan minum.
"Darimana Vidio itu?
__ADS_1
"Ada yang menggugah nya di akun FB, sepertinya ada yang sengaja ingin menjatuhkan mu dengan cara licik."
Inez terdiam beberapa saat, tiba-tiba keluar satu nama pada bibirnya "Rangga!"
"Siapa Rangga...?" tanya Irfan.
"Dia mantan kekasih ku, kami sudah putus dua tahun lalu. Akhirnya inez menceraikan kejadian di Cafe itu dan tiba-tiba Wiliam datang menolong nya."
"Bisa jadi dia yang merekam nya, pasti dia terbakar api cemburu, makannya ingin menjatuhkan mu."
"Biarkan saja, ini sudah terjadi. kau bantu aku hapuskan rekaman video itu. yang aku khawatir kan sekarang Tuan Wiliam, aku takut dia juga menghujat ku!"
"Ini kan bukan salahmu, kau hadapi saja bila tuan Wiliam menegur mu." Irfan menggaruk alisnya yang tidak gatal "Dan sangat sulit untuk menghapus rekaman ini, kalau bukan si pengunggah ini sendiri yang hapus, pasti Vidio ini sudah menyebar kemana-mana."
"Fan, tolong ambilkan tas ku ya, sepertinya aku izin pulang hari ini, kepala ku sakit. Aku butuh ketenangan."
"Oke akan aku ambilkan, kau tunggu di pintu samping ya."
"Oke, terimakasih fan!"
Setelah Inez membayar soto, ia keluar dari kantin bersama Irfan.
Irfan keluar pintu samping dan memberikan tas Inez dan beberapa berkas pekerjaannya yang tertunda.
"Terima kasih ya Fan, kalau ada yang tanya, aku tidak enak badan."
"Iya Nez, pulang dan istirahat lah"
Inez berjalan menyusuri gedung perkantoran Vandeles menuju halte. Sebelum sampai tujuan, sebuah tangan kekar menariknya.
"Ayo ikut aku! Sontak Inez terpekik karena kaget.
"Tuan Wiliam...!" mata Inez membulat. "Tuan tolong lepaskan tangan mu, nanti dilihat karyawan lain, aku tidak ingin gosip tentang kita semakin meluas.
Wiliam terus menggenggam pergelangan tangan Inez tanpa berniat melepaskan nya. ia membuka pintu mobil dan menyuruh inez untuk masuk. Semula inez ragu, bukan Wiliam namanya kalau tidak bisa membujuk inez.
Mobil sedan hitam, pergi menjauh meninggalkan perkantoran Vandeles.
๐๐๐
@Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:
๐Like
๐Vote
๐Gift
๐Komen
@Bersambung........
__ADS_1