Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Komitmen


__ADS_3

Wiliam yang berada di depan inez terkekeh "Tentu saja, suami bucin-nya tidak akan biarkan Istrinya bebas begitu saja."


"Maksudnya...?" alis Inez mengeryit.


"Sudahlah, nanti kalau kita sudah menikah, kau akan merasakan seperti Nona Lupita."


"What..?! Inez membelalakkan matanya.


Mereka berdua menikmati dinner malam itu, untuk acara peresmian menyatunya dua hati yang sudah terikat Cinta.


"Apa kau suka dengan dinner sederhana ini? tanya Wiliam seraya memasukkan stik beef kedalam mulutnya.


"Sangat suka kak will, bagi ku ini sudah sangat mewah, berbagai hidangan diatas meja yang belum tentu kita bisa menghabiskannya."


"Ini adalah acara special kita berdua, aku ingin memanjakan mu malam ini, dan menikmati semua hidangan."


Inez tersipu malu-malu "Apa kak will tidak takut aku kembali jadi bengkak lagi? aku takut kakak malu mengandeng ku dan itu akan menjadi beban buat kak will." sindir Inez yang tentu saja ia tidak ingin kembali gempal seperti semula, ia hanya ingin mengetes Wiliam, sejauh mana cintanya.


Wiliam menarik tangan Inez dan menciumnya lembut "I promise I will never leave you. ( aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan mu) Menurutku itu akan tambah seksi."


"Apa yang kau katakan adalah pujian atau hanya sekedar membuat ku senang?"


"Apa kau masih tidak percaya? menatap lekat netra coklat itu "Apa kau minta sebuah pembuktian?"


"Aku hanya ingin...


Tiba-tiba Wiliam menjentikkan jarinya. Seketika ruangan menjadi gelap. Inez terperanjat dan menoleh ke kanan dan ke kiri, hening.. tidak ada suara orang-orang disekitarnya, padahal tadi masih ada beberapa orang yang masih makan dan menempati sebuah meja, walau Cafe yang Wiliam pilih tidak terlalu banyak pengunjung.


"Kak Will..." Inez mencari kekasih yang baru saja ia terima cintanya.


"Kak! jangan becanda, Kenapa aku di tinggalin sendiri. Aku takut kegelapan, plis Kak!" sungguh inez phobia dengan kegelapan, ia akan sesak nafas bila dalam keadaan gelap. Di rumahnya ia selalu sedia lampu khusus bila mati lampu. Inez mulai ketakutan, pori-pori kulitnya sudah keluar keringat dingin, dadanya turun-naik menahan tangisannya.


"Kak! aku benci kakak! apa maksud dari semua ini! bila kau hanya ingin mempermainkan aku, lebih baik aku pulang!!" teriak Inez yang sudah tidak bisa menahan emosinya.


"Handphone... ya aku harus nyalakan lampu ponsel, dimana tas ku!" Inez baru teringat lampu senter dari ponsel. ia meraba-raba meja didepannya, namun tidak menemukan tas nya.


"Ya Tuhan! dimana tas ku?! Inez sungguh ketakutan setengah mati, ia beranjak dari duduknya dan mulai berjalan sambil tangannya terus meraba apa saja yang bisa membawanya keluar dari Cafe itu.


"Aku menyesal datang ketempat ini dan mengikuti kemauan mu untuk dinner! maki Inez masih terus meraba.


"Awwwaw...! Inez terpekik, kakinya tersandung kursi. Inez sudah tak kuat lagi, ia berjongkok sambil menutup wajahnya dan menangis sesenggukan.


"Klik!


Tiba-tiba lampu menyala terang benderang.


"Inez...."


Suara Wiliam terdengar lembut. Seketika ia meregangkan jari tangannya yang tertutup, ia mengintip dan melihat sepatu kulit hitam di depannya. Inez melepas kedua tangannya dan mendongak ke atas, ia melihat Wiliam berdiri didepannya dengan senyuman lebar, ada sebuah bucket mawar putih ditangannya.

__ADS_1


Tangisan Inez semakin pecah. Wiliam berjongkok dan meraih dagunya. Inez menepisnya "Kau jahat! sudah membuat ku takut! bagaimana kalau aku jantungan!" pekik Inez frustasi.


Wiliam terkekeh dan menarik Inez dalam pelukannya. "Ma'afkan aku sayang... aku hanya ingin memberi mu suprise."


"Itu nggak lucu Will..." Inez mencoba mendorong pelukan Wiliam "Aku itu phobia kegelapan! bisa-bisa aku mati ketakutan! umpat inez dengan nafas tersengal.


Wiliam terus merangkul tubuh inez dan memberi kecupan lembut di keningnya "I love you forever" Wiliam mengusap lembut kepala Inez dan memberikan ketenangan "Sudah donk jangan nangis lagi, aku sangat bahagia malam ini. kau pun harus bahagia, okey.."


Terdengar suara musik romantis My Love milik Westlife. Inez mulai mengatur nafasnya perlahan, Wiliam mengusap lembut sisa airmata inez yang menggantung.


"Aku ingin mengajak mu berdandan."


Inez terdiam dan masih merasakan kesal di kerjain Wiliam. Wiliam memberikan bucket mawar putih, Inez menerimanya.


"Ayo kita berdansa." mereka berdua berdiri. Cafe tampak sepi, tidak ada lagi pengunjung. Wiliam meraih tangan inez untuk ikut gerakannya.


"Aku tidak bisa berdansa." ucapnya jujur.


"Aku akan mengajari mu."


Kini mereka berdua terhanyut dalam melodi musik yang syahdu. inez membenamkan wajahnya di dada bidang Wiliam. Kedua tangan Wiliam memeluk pinggang inez, tubuh mereka mengikuti alunan musik romantis.


Suara musik My love berubah musik sifon milik Kenny G. Musik yang sangat romantis, Wiliam mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celananya.


"Inez..."


Inez mengangkat wajahnya dari dada Wiliam dan menatap pria tampan didepannya.


Inez menatap sebuah cincin putih bertahtakan berlian di tengahnya. kristal bening yang sempat berhenti kini menetes kembali.


"Maukah kau menerima cincin ini? menatap lekat wajah yang sembab dengan airmata.


"Bila kau belum siap bertunangan dengan ku, Aku tidak akan memaksa, cincin ini hanya sebagai simbol kalau kau sudah menjadi milikku."


Inez mengangguk "Iya aku mau Will.."


Wiliam bernafas lega dan memeluk kekasihnya kembali "Thank you dear, I'm so happy tonight.


"Aku juga sangat bahagia malam ini."


Mereka mengurai pelukannya. Wiliam menyematkan cincin ke jari manis Inez. "Thank you dear, I will keep your trust ( Terima kasih sayang, aku akan menjaga kepercayaan mu.)


"Cincin ini sangat pas di jari ku, darimana kau tahu ukuran jari manis ku.


"Apa kau lupa siapa Wiliam? jangankan hanya ukuran jari mu, ukuran dalaman mu saja aku tahu."


Inez membulatkan matanya "What!! dasar mesum!"


BUGK!

__ADS_1


Ines menonjok ke perut sicpack Wiliam.


"Awwwww..! sakit sayang...."


Wajah Inez memerah karena malu, Wiliam menarik dagu kekasihnya yang statusnya naik menjadi tunangannya. inez masih tak percaya secepat itu Wiliam mengikatnya. Sejak kapan ia merencanakan ini semua, padahal baru tadi pagi ia menerima cinta Wiliam.


Bibir mereka saling berpagutan. Dengan lembut Wiliam memberikan sentuhan hangat di bibir merah inez, kini Inez mulai berani membalas ciuman Wiliam. Hanya suara kecapan dari bibir keduanya terdengar di ruangan itu. Mereka melepaskan ciumannya dan meraup nafas dalam-dalam.


"Apa kita akan meneruskan makan malam lagi?" tanya Wiliam seraya menyelipkan anak rambut inez ke belakang telinga.


"Tidak Will, sepertinya ini sudah sangat larut." Inez melirik Arloji di pergelangan tangannya. "Sudah jam 12 lewat, kita pulang sekarang, masih banyak tugas yang belum aku selesaikan."


"Baiklah, Ayo kita pulang."


Didalam mobil mereka terdiam. Hanya suara deru mesin mobil yang menembus pekatnya malam. Wiliam melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali ia menoleh kekasihnya yang tersenyum sendiri sambil memainkan kelopak bunga mawar ditangannya.


"Apa kau tidak ingin membagi kebahagian mu padaku, hmm...."


"Apa kau tidak bahagia Will? sampai meminta aku membagikan kebahagiaan untuk mu?"


Wiliam terkekeh "Very...very... happy."


"Jangan pernah berkhianat di belakang ku, aku tidak akan pernah memaafkan mu."


"Tunggu will! kenapa kau bicara seperti itu? apa kau berfikir aku akan berkhianat?"


"Meybe...." Wiliam mengangkat bahunya.


"Berarti kau tidak percaya padaku? lalu buat apa kau mengajakku bertunangan, will..." Inez menatap kesal wajah Pria di sampingnya.


Seketika Wiliam menghentikan mobilnya, dan mengalihkan pandangannya pada inez


"Aku Pria pencemburu dan posesif. Aku hanya memberikan peringatan padamu, karena aku tidak ingin tunangan ku ada yang memiliki." Wiliam menggenggam tangan Inez "Aku percaya padamu sayang, aku hanya takut kau akan kembali pada mantan kekasih mu, dia begitu gigih mengejar mu kembali."


Inez menelan salivanya, wajar kalau Wiliam punya rasa cemburu pada Rangga, yang di katakan Wiliam benar, Rangga terus berusaha mengambil hati Inez.


"Sayang.. aku berjanji tidak akan mengkhianati mu, mari kita komitmen, agar tidak ada kesalahpahaman di kemudian hari."


"Okey, mari kita komitmen." Wiliam mencium bibir Inez dan melum*tnya. "Aku sangat mencintaimu, jadilah pendamping ku sampai menuju ke pelaminan."


Inez tersenyum dan mencium pipi pria tampan yang sudah sah menjadi tunangannya.


"Ayo cepat kita pulang. Kita tidak akan pernah sampai kalau kau terus menciumi ku." goda inez. keduanya terkekeh bersama.


💜


💜


💜

__ADS_1


@Terimakasih banyak atas doa kalian semua. Maaf Bunda tidak bisa balas satu persatu. Semoga do'a kalian sampai pada saudara Bunda. Dan juga do'a terbaik untuk Reader semua🙏😘😘😘


@Bersambung......


__ADS_2