Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Murka Harlan


__ADS_3

"Tapi beneran Nyah, Bapak pulang duluan tidak apa-apa?


"Iya Pak tidak apa-apa." Luvita tersenyum getir.


Setelah Pak Basir pergi, ia memesan taksi untuk pulang kerumahnya.


Sampai depan teras Luvi membuka pintu, la dan inez sepakat memegang kunci satu-satu. Saat tiba di dalam ruangan, luvita merasakan kepalanya pusing. Ia masuk kedalam kamar dan tertidur diatas kasur empuk pembelian Inez.


"Ceklek, Ceklek!


Inez masuk kedalam rumah setelah ia membuka pintu. Saat ia melewati kamar depan melihat pintu kamar yang terbuka. Karena kamar gelap, ia tidak melihat ada seseorang sedang tertidur.


Inez masuk kedalam kamar dan membuka pakaian untuk bersih-bersih. Dua puluh menit kemudian, selesai mandi ia membuka nasi bungkus yang ia beli di jalan untuk sarapan malam. Inez terkejut saat mendengar dengkuran halus di dalam kamar. Karena penasaran ia beranjak kedalam kamar Luvita dan menyalakan lampu.


"Luvi?!" mata inez membulat, ia duduk disisi ranjang. "Luvita? Inez mengguncang pundaknya berkali-kali, ia melihat Luvita menggeliat, dengan malas Luvita membuka sedikit matanya .


"Kapan kau datang, Luv?


'Tadi sore." ucapnya malas, matanya tertutup lagi.


"Kau sudah makan belum Luv?"


"Tadi siang sudah!" jawabnya asal


"ini sudah malam Luv, apa suamimu sudah tahu kau ada disini? Jangan nanti jadi masalah lagi."


Luvita menjawab malas seraya memejamkan matanya kembali "Aku tidak enak badan, biar aku istirahat dulu sebentar, nanti aku memesan taksi untuk pulang."


"Ya sudah kalau begitu, aku tinggal ya. Mau ngerjain Desain untuk meeting besok."


Luvita hanya mengangguk pelan, tubuhnya terasa malas untuk bangun.


Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Mobil sudah masuk kedalam pekarangan mansion. Harlan baru menyadari, tidak ada sambutan dari istri tercintanya di depan teras setiap ia pulang.


"Dimana Luvi? apa dia belum pulang?"


"Sepertinya sudah Tuan, mobil Pak Basir sudah berada di bagasi." Wiliam menunjuk dengan dagu nya


"Mungkin istriku menghindari Emak dan Della. Tapi kenapa dia tidak menelpon ku, barang apa saja yang sudah ia beli." ucapnya lirih seraya keluar dari mobil dan berjalan masuk kedalam ruangan di iringi Wiliam.

__ADS_1


"Bisa jadi Nona tidak ingin mengganggu pekerjaan tuan dikantor."


Harlan mengangguk dan terus masuk kedalam melewati ruangan tamu. Namun, Della dan Mak Isah juga tidak berada di ruangan, Langkah kaki Harlan semakin cepat menaiki anak tangga, ia ingin secepatnya menemui luvita dan menanyakan barang apa saja yang sudah ia beli.


"JGLEK!"


"Sayang..." Harlan mengedarkan pandangannya di seluruh kamar, Namun. tidak menemukan istrinya "Sayang kau dimana?" membuka pintu kamar mandi, tetap tidak ada sosok yang ia rindukan. "kemana luvita? Harlan mendesah kasar. Menghempaskan bokongnya diatas ranjang seraya menelpon istrinya.


"Kenapa tidak diangkat juga? ada apa dengan Luvita? kenapa kebiasaan dia tidak pernah menghubungiku atau mengirimkan pesan." Dengan kesal Harlan melempar asal ponsel ditangannya keatas kasur. Tanpa sengaja netranya melihat sebuah foto. Tangan Harlan mengambil lembaran foto-foto itu.


"Foto ini kenapa ada disini? siapa yang sudah menaruh disini? Harlan terus berfikir dan ia membaca tulisan di belakang foto. "Ya Tuhan, apa jangan-jangan Luvita sudah melihat foto-foto ini dan membaca tulisannya?" pasti dia akan berfikir yang tidak-tidak." Dada Harlan berdebar hebat, kenangan masa lalunya mulai terusik kembali "Nadine?" Dia sudah hidup bahagia bersama Revan dan tinggal di Belanda." Harlan menggeleng kuat, ia sudah melupakan Nadine dan membuka lembaran baru bersama Luvita. "Tunggu dulu! bukankah foto ini sudah aku kirim saat aku pulang ke Belanda bersama Mak? lalu kenapa foto ini masih berada disini? apakah Mak sengaja menyimpan surat dan foto ini?" Aku harus bertanya pada Mak, dia harus menjelaskannya."


Dengan cepat Harlan beranjak dari kasur dan keluar kamar, langkahnya menuruni anak tangga dengan emosi meletup-letup.


"Mak! teriak Harlan. ia berjalan ke ruangan keluarga dan mencari keberadaan ibu asuhnya yang biasa menonton film drama.


"Kemana Mak dan Della, bisanya dia sedang menonton tv!"


"Tuan? terdengar suara bi Sumi "Apa tuan mencari Ibu Isah?"


"Iya, dimana Mak berada?"


"Ada di saung taman samping, bersamanya Mbak Della."


"Mak!" panggil Harlan saat sudah berjalan mendekat.


"Harlan! Mak Isah terkejut dengan kedatangan Harlan tiba-tiba, terlihat sorot matanya tajam dan berkilat.


"Ada apa Nak, Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu? tanya Mak Isah bangun dari duduknya.


"Tolong Mak jelaskan padaku, perihal foto ini? Kenapa foto-foto ini berada didalam kamarku. Apa maksud dari semua ini? Apa tujuan Mak menunjukkan foto ini pada istriku!"


Mak Isah terperanjat kaget melihat foto-foto itu berada di tangan Harlan "It-u kau dapatkan dari mana Land?" wajah Mak isah terlihat gusar dan bingung.


"Nggak usah bersandiwara lagi Mak! Aku sudah paham sekarang! Kenapa Mak tega lakukan ini padaku! pasti Luvita membaca dan melihat foto-foto ini! Apakah Mak sadar sudah terlalu jauh mencampuri urusanku dengan istriku! teriak Harlan emosi.


Akhirnya bom itu meledak juga. Selama ini Harlan sudah sabar menghadapi ibu asuhnya dan Della, tapi setelah melihat foto-foto masa lalunya membuat Harlan cemas dan gusar. Ia tidak ingin Luvita terpengaruh dengan tulisan di belakang foto itu, sudah pasti itu akan melukai perasaan istrinya.


"Aku sudah mengubur masa laluku dengan Nadine! dan melupakannya dia seumur hidupku!. Bahkan Mak sendiri melarang aku berhubungan dengan Nadine, karena ia sudah bersuamikan Revan. Aku percaya pada Mak dan bisa menutupi masa laluku yang sudah terkubur lama. Setelah aku melupakan Nadine kenapa Mak tega membuka masa laluku kembali!"

__ADS_1


"Land! tolong dengar Mbak dulu pasti ada kesalahpahaman." Mak Isah memegangi tubuh Harlan yang sudah menegang "Sungguh Mak menyimpan foto-foto itu dengan baik!


"Seharusnya foto-foto ini sudah berada ditangan Nadine saat aku tergila-gila padanya! agar Nadine tidak melupakan diriku! tapi aku tidak menyangka Mak sendiri yang sudah menyimpannya dan tidak mengirimkan pada Nadin di Indonesia."


"Karena Mak, tidak ingin kau terjerumus terlalu dalam. Kau tahu bukan? Nadine itu sudah memiliki suami dan sedang hamil anak Revan. Apa kau tega ingin merebutnya? justru Mak menyelamatkan foto itu, agar tidak sampai ke tangan Nadine."


"Semua itu sudah aku kubur dalam-dalam dan melupakan Nadine, walau awalnya sangat sulit. Mak tahu? dengan kehadiran Lupita aku bisa melupakan Nadine! Lalu kenapa Mak tega memberitahu Foto-foto ini pada Luvita. Sudah pasti luvita salah paham, dan dia tidak mau pulang kerumah ini!"


Mak Isa melirik tajam ke arah Della dan berjalan mendekat.


"PLAKK!


"Lancang kau menaruh foto-foto itu kedalam kamar Harlan! Bibi begitu sayang padamu Della, Kenapa kau tega mengambil foto-foto itu didalam kotak yang bibi simpan didalam lemari! apa kau sengaja ingin mengadu domba bibi dengan Harlan!"


Della memegang pipinya yang terasa panas. "Bukan begitu maksudku Bi! aku tak sengaja menemukan foto-foto itu, aku bahkan baru tahu kalau kak Harlan mencintai kak Nadine dari cerita bibi. Tadinya aku tidak yakin, tapi setelah menemukan foto itu aku baru menyadari cinta kak Harlan hanya untuk kak Nadine yang aku kenal kalem."


"Apa maksudmu menaruh foto ini kedalam kamarku?! sudah pasti Luvita melihatnya. Apa tujuan mu Della? kau ingin menghancurkan rumah tanggaku dengan cara murahan seperti ini!" menghempaskan foto-foto itu ketanah.


"Sekarang aku tahu tujuan Emak dan Della! baiklah dalam waktu dekat ini, aku akan pindah bersama istriku! tinggallah kalian di rumah ini tanpa mengikuti jejak ku!"


"Tidak Harlan kau jangan lakukan itu! apa kau tidak sayang pada Mak lagi! menyentuh tangan Harlan erat.


Harlan melepaskan tangan ibu asuhnya "Ma'af Mak, tapi aku tidak ingin melihat istriku terluka dan menderita lagi. Kalau Mak sayang padamu, biarkan aku hidup bahagia bersama istriku!" Harlan melangkah pergi meninggalkan tempat itu tanpa menoleh.


"Harlan! Mak belum selesai bicara!"


Harlan tidak perdulikan panggilan ibu asuhnya, yang sudah ia anggap seperti ibu kandung baginya. Tapi hari ini, wanita paruh baya itu sudah menorehkan lukanya.


๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ


@Bagi yang belum baca kisah Harlan dan Nadin, bisa baca di novel "MENIKAHI KAKA TIRI YANG KEJAM"๐Ÿค—


@Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:


๐Ÿ’œLike


๐Ÿ’œVote


๐Ÿ’œGift

__ADS_1


๐Ÿ’œKomen


@Bersambung


__ADS_2