
"Terima kasih banyak Pak RT, Maaf saya sudah buat keributan, saya jadi tidak enak dengan warga sini!."
"Ya sudah, lain kali jangan sampai terulang lagi, kasihan warga jadi terganggu. Kalau begitu Bapak pamit dulu."
"Iya Pak!
"Ayo Lupi kita masuk kedalam! Inez merangkul pundak Lupi dan masuk kedalam.
Setelah menutup pintu, Lupi duduk di sofa. Sementara Inez masuk kedalam dan kembali lagi dengan membawa gelas berisi air putih hangat.
"Minumlah dulu agar kau tenang." Inez memberikan gelas itu.
"Terima kasih Nez!
"Maaf aku pulang terlambat, untung saja aku cepat datang. Sepertinya kau tidak aman di sini, lebih baik tinggal di kontrakan aku dulu."
"Mereka bibi dan sepupuh ku, memang selalu cari ribut, sebenarnya aku sudah lelah ngadepin orang seperti mereka."
"Kenapa orang seperti mereka hanya menjadi benalu dalam hidupmu!
"Entahlah, mungkin ini adalah ujian buatku yang hanya anak yatim-piatu." ucap Lupi sedih, bola matanya berembun.
"Sudah tidak usah sedih lagi, ada aku disini yang akan menemanimu." mengusap lembut tangan Lupi.
"Terima kasih Inez, kau memang teman yang baik, padahal kita belum lama kenal."
"Karena aku tahu kamu orang nya tulus dan asyik." imbuh Inez tersenyum "Oiya, apa kau sudah kerumah sakit?
"Sudah tadi sore."
"Terus kau sakit apa? terlihat wajahmu sangat pucat dan keluar keringat dingin begini."
"Aku....! Lupita mengigit bibir bawahnya ada keraguan untuk berterus terang.
"Lupi! inez mengusap pundaknya "Katakan padaku jangan sungkan, kalau kau menganggap ku teman baik dan bisa diandalkan."
Raut wajah Lupi terlihat murung dengan wajah tertunduk dalam, butiran bening lolos begitu saja dari dari sudut matanya dan berjatuhan ke punggung tangannya.
"Lupi kenapa kau menangis? ada apa Lupi? Inez mengerutkan alisnya menatap dalam wajah Lupi yang tertunduk.
__ADS_1
Lupi tidak bisa menghentikan tangisannya, tubuhnya terguncang dengan nafas tersengal. "Aku hamil." hiks... ucap Lupi dengan suara bergetar.
Inez ikut merasakan kesedihan yang Lupi rasakan, bagi Inez Lupi sudah seperti adiknya, sebab umur inez empat tahun lebih tua dari Lupi. Lupita 22 tahun, sementara Inez 26 tahun.
Inez memeluk tubuh Lupita yang terlihat lemas dan bergetar "Sudah jangan bersedih lagi Lupi, ada aku disini yang akan menemanimu, kau seumuran dengan adikku di kampung yang seorang guru Sekolah Dasar, kau sudah seperti adikku sendiri, aku janji akan menjagamu."
"Terimakasih Inez, kini aku memiliki seorang kakak angkat, orang yang masih ada ikatan darah saja sangat membenci dan memusuhi ku, tapi kau yang tidak ada hubungan darah sama sekali dengan ku, mau mengaggap ku adik, terima kasih ya Allah telah mengirimkan wanita berhati mulia." ucap Lupita di tengah isakannya.
"Kau jangan berlebihan Lupi, aku juga manusia biasa, hanya terharu dengan kisah hidupmu yang tidak memiliki orang tua sejak kecil, ada saudara dekat namun jahat padamu."
"Mungkin nasib baik tidak akan pernah berpihak padaku, suami ku pergi tanpa kabar, aku hamil tanpa ada sosok pelindung disisi ku, sekarang aku harus apa? bagaimana gunjingan tetangga bila aku hamil tanpa seorang suami?" Hiks.. hiks.. tangisan Lupi semakin dalam dan guncangan tubuhnya semakin kuat.
Inez memeluk Lupi kembali untuk menguatkan dan memberi semangat "Ada aku yang akan menemani dan menjaga mu, Lupi! kau tidak sendirian, jangan pernah berfikir kau tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini, aku juga akan menjaga malaikat kecil dalam kandungan mu, dan aku akan bantu kamu mencari dimana suamimu berada." imbuh Inez, mengusap airmatanya yang jatuh ke pipi, Inez merasakan kepedihan hati Lupita.
Inez mengurai pelukannya setelah Lupi sedikit tenang dan tidak terguncang lagi. "Sekarang kita makan ya, aku beli ceker mercon, tapi karena kau sedang hamil tidak boleh makan pedas dulu, tapi aku juga beli ayam bakar. Kau makan ayam bakar nya, Ok."
Lupita mengangguk dan tersenyum samar. mereka berjalan menuju meja makan.
******
Sementara di Belanda. Didalam sebuah ruangan yang tertutup dua orang pria sedang berdebat hebat.
PRANKK!
PRANKK!
"Aku ingin pulang paman! dimana kau simpan paspor ku!! seru Harlan dengan amarah menggebu-gebu. Tangannya masih mengepal kuat, banyak darah berceceran di lantai dari goresan tangan Harlan.
"Rumah mu disini Georgie! ucap Alfonso santai, masih duduk di sofa dengan kaki menyilang.
"Dimana hati nurani mu paman! mata Harlan menatap penuh kebencian "Kau tidak bisa mengatur hidupku semau mu! kau bukanlah Ayah kandungku, tapi hanya paman adik dari Ayahku! jadi kau tidak berhak ikut campur urusan ku! bentak Harlan lagi, kepalannya ia tinju ke dinding, tidak peduli berapa banyak rasa sakit yang ia rasakan.
Alfonso yang sedang terduduk, beranjak dari duduknya dan berjalan kearah jendela, matanya menatap langit-langit diluar gedung yang tembus dari kaca.
"Bagaimanakah bila aku membuka tabir rahasia ibu kandungmu Angelina dengan seorang pria! Alfonso mendes*h kasar "kalau sebenarnya ibumu telah berselingkuh dari Ayahmu! Alfonso membalikkan tubuhnya "Kalau kau bukanlah anak kandung dari kakakku Alfredo!"
Bagai di sambar petir, Harlan terkejut dengan penuturan Alfonso, ia begitu murka dan menatap tajam wajah Alfonso "Tutup mulutmu Paman! Jangan pernah kau menghina Ibu kandungku yang telah tiada! Jangan pernah mengatakan ibuku berselingkuh!!
"Kau butuh bukti! baiklah akan aku perlihatkan kebenarannya kalau ibumu berselingkuh di belakang Alfredo. Angelina sangat kesepian karena Alfonso jarang pulang dan sering pergi keluar kota. Seorang Pria yang menghangatkan ibumu sangat mencintainya, mereka melakukan hubungan terlarang karena saling mencintai, dan Alfredo tidak pernah tahu kalau janin yang Angelina kandung bukan lah darah dagingnya!
__ADS_1
"Kau pembohong!!! teriak Harlan frustasi
Alfredo mengambil sebuah flashdisk dari dalam laci dan memasukkan kedalam sebuah laptop. Ia menekan play pada tombol remote yang ia pegang. Mengarahkan laptop itu kearah Harlan berdiri. Mata Harlan menatap lekat pada layar monitor didepannya. Berapa detik kemudian matanya terbelalak sempurna, dadanya berdegup kencang, aliran darahnya berdesir dari ubun-ubun sampai kaki. Bagaimana tidak terkejut, Harlan melihat dengan mata kepala sendiri perbuatan ibunya sedang beradegan mesra dengan seorang pria diatas ranjang. Ia juga mendengar pengakuan ibunya kalau itu bukan anak Alfredo pria yang sudah ia anggap Ayah kandungnya selama 10 tahun hidup bersama. Yang lebih mengejutkan lagi ia melihat siapa selingkuhan ibunya.
"Kau! teriak Harlan seraya menunjuk wajah Alfonso penuh amarah.
"Kau sudah melihat dan mendengar sendiri bukan?" sekarang bukti ini sangat kuat, kalau kau adalah anak kandungku bukan anak Alfredo!"
"Cihh! Harlan meludah kesamping "Perbuatan kalian sangat memuakkan! andai aku tahu terlahir dari ibu bejat yang sudah berselingkuh dengan kau, tak sudi aku dilahirkan!! teriak Harlan dengan airmata berderai, "Sungguh aku malu mengetahui kenyataan ini! kalian sudah tidak bermoral, dan kau berani sekali berselingkuh dengan ibuku! padahal kau adalah Adik kandang dari Alfredo!! dada Harlan begitu sesak, seketika tubuhnya lemas. ia terjatuh dan terduduk dilantai.
"Karena kami saling mencintai dan saling membutuhkan, aku yang selalu melindungi dan menjaga Angelina, sementara Alfredo hanya sibuk dengan pekerjaannya tanpa peduli ibumu sangat kesepian."
"Sudah cukup! aku tidak ingin mendengar semua ini! perbuatan kalian sangat menjijikkan! Aku tidak Sudi memiliki Ayah seperti dirimu, Alfonso! lebih baik tidak pernah memiliki Ayah daripada aku terlahir dengan status anak haram!!
"Aku yang selalu melindungi dan menjaga mu, bahkan aku juga yang merawat mu dari kecil! apa kau lupa itu? kau lebih menghabiskan waktu bersama ku daripada dengan Alfredo yang kau anggap Ayahmu!
Tatapan Harlan begitu menghunus "Atau jangan-jangan kaulah yang telah membunuh kakak kandung mu sendiri!!
"Itu tidak benar! aku memang bejat telah berselingkuh dengan ibumu, tapi aku tidak sekejam itu membunuh kakak kandung ku sendiri!
"Lalu kenapa kau tidak pernah mengakui kesalahan mu pada Pria yang sudah ku anggap Ayahku! dasar pengecut!
"Aku dan ibumu sudah ingin mengatakan pada Alfredo dan mengakui semuanya. Ibumu ingin minta cerai dari Alfredo, namun, sebelum itu terwujud mereka berdua di tembak dengan orang yang tidak dikenal di sebuah ruangan kerja Alfredo!
Harlan sudah tidak ingin mendengar curhatan Alfonso, baginya semua seperti mimpi. Ia begitu malu pada dirinya sendiri yang terlahir dari anak haram, apalagi mendapati kenyataan kalau ia adalah anak Alfonso, pria yang ia sebut Paman. Harlan bangkit dari duduknya dan tertatih berjalan keluar dari ruangan.
πππ
@Walau sedang tidak fit, tetap di usahakan Up demi untuk kalian π
@Bab ini lebih panjang, Yuk ikuti terus kelanjutannya, Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:
πLike
πVote
πGift
πKomen
__ADS_1
@Bersambung........ππ