Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Kedatangan Inez


__ADS_3

"Tidak! aku tidak boleh terpengaruh dengan foto-foto ini, sebelum mendapatkan penjelasan dari mas Harlan."


Dengan tubuh lemas dan perasan nyeri, Luvi menyusun pakaian itu kedalam lemari, dan menaruh Foto-foto itu didalam laci.


Luvita mengambil foto-foto itu kembali dari dalam laci, dan sengaja menaruhnya di atas kasur "Biar aku taruh disini saja, dan ingin tahu reaksi mas Harlan setelah melihat foto-foto ini."


Selesai membasuh wajahnya dan memoles bedak padat di kedua pipinya Luvita mengambil tas diatas meja rias dan melangkah keluar kamar menuruni anak tangga.


"Kasihan sekali ternyata kak Harlan memiliki wanita lain yang lebih cantik dan sempurna, ternyata kau itu di nikahi hanya untuk pelampiasan! seru Della di sela langkah Luvita berjalan melewati ruangan tamu, yang ternyata sedang duduk wanita paruh baya dan Della.


Luvita menarik nafas dalam, sebisa mungkin ia menahan emosinya dan memejamkan mata agar tidak terpancing dengan ucapan Della. ia selalu ingat kata-kata suaminya agar menghindar dari Della dan ibu asuhnya.


Tak ingin berdebat, Luvita berjalan tanpa menoleh. Pak Basir membukakan pintu untuk istri tuan nya.


Di perkantoran Vandeles. Inez turun dari taksi. Dengan percaya diri ia masuk kedalam gedung perkantoran menuju lantai 15, tempat ruangan Harlan. Banyak karyawan yang tidak menyadari perubahan pada diri Inez. Dulu bobot tubuh inez terlihat padat dan berisi dengan balutan busana ala-ala korea, blouse tunik style. Kini penampilan inez sudah berbeda dratis, berbalut baju kantor. span rok mini setinggi lutut dan blazer berwarna navy melekat anggun di tubuh Inez. high heels hitam itu berjalan cepat dan masuk kedalam lift. Saat pintu akan tertutup, Seorang Pria berlari dan masuk kedalam lift dengan tergesa.


Inez yang berdiri di posisi sebelah kanan, terkejut melihat pria yang baru saja masuk tanpa menoleh padanya.


"Pagi Tuan." sapa kedua orang wanita yang berada satu lift dengannya. pria itu hanya mengangguk pelan.


"Cih! masih saja angkuh! ucap inez dalam hati


Pintu lift terbuka di lantai 10, dua orang wanita keluar setelah berpamitan pada pria di posisi sebelah kiri. kini tinggal inez bersama Pria yang ia benci selama ini berada dalam satu lift. Tanpa Inez sadari Pria itu mencuri pandang wajah inez dengan kening mengkerut.


"Siapa wanita ini? sepertinya aku pernah melihat wajahnya tapi dimana? Pria itu mengingat dan berfikir "Wanita cantik dengan postur tubuh ideal? ahh sial, aku lupa mengingatnya." makinya dalam hati.


"Ting!"


Pintu lift terbuka, Inez membiarkan pria itu berjalan lebih dulu. Langkah kaki jenjang Inez mengikuti Pria yang berjalan di depannya. Tepat di sebuah meja Inez berhenti.


"Maaf Nona, saya ingin bertemu dengan tuan Goergie."


"Apa anda sudah janjian?" tanya Alexa menatap lekat.


"Tuan Georgie sendiri meminta saya untuk datang kerungan nya."


"siapa nama anda?


"Inez!


"Oke! Alexa beranjak dari duduknya dan mengetuk pintu. Suara pria mempersilahkan untuk masuk. Alexa membuka handle pintu.


"KREKK!


"Tuan ada seorang wanita datang mencari."

__ADS_1


"Siapa? Harlan bertanya sambil mengikuti matanya keluar pintu.


"Nona Inez!


"Ohya! silakan suruh masuk."


"Silakan Nona." ucap wanita seksi itu.


Inez masuk kedalam, Harlan persilahkan Inez untuk duduk di Sofa yang berada di ruangan Harlan.


"Wah! banyak perubahan pada dirimu Inez, kenapa istriku tidak cerita kalau kau sudah transformasi."


"Aku yang meminta Luvi tidak untuk menceritakan pada Tuan dan William. Karena bagiku itu hal yang memalukan."


"Hahahaha..." Harlan tergelak ia sungguh senang akhirnya Inez kembali ke perusahaa nya. "Baiklah Inez, kita mulai baru kontrak kerjasamanya. Kau boleh baca dulu surat perjanjian ini, bila setuju kau bisa langsung tandatangani."


Inez menerima surat kontrak kerja itu dari tangan Harlan. Dan mulai membaca isi perjanjiannya. "What 12 tahun? mata inez terbelalak sempurna.


"Kenapa kau tidak suka? bukankah itu sangat menguntungkan untukmu?"


"Jangka kerja 12 tahun sangat mengekang hudupku, Tuan. Aku juga akan menikah dan mengurus anak-anakku kelak di rumah. Tidak mungkin selamanya aku harus bekerja. Untuk apa memiliki suami bila dia tidak bisa mencukupi anak istrinya."


"Oke, oke... aku akan buat kau karyawan ekslusif, jadi kau boleh ajukan keberatan bila jangka waktunya kelamaan, kau bisa menikah dan memiliki anak, bila ingin cuti dan mengurus anak silakan. Namun bila perusahaan meminta bantuan mu untuk membuat desain sebuah proyek kau tidak akan menolak bukan?


"Proyek apartemen ini sudah kau buat, tinggal 30% lagi finishing nya. Tolong kau selesaikan, lusa akan ada meeting para investor." Harlan menyerahkan makalah pada Inez.


"Baik Tuan, akan saya selesaikan secepatnya."


"Terima kasih Inez, kau boleh kembali ke ruangan mu."


Inez beranjak dari duduknya dan berjalan kearah pintu. Saat ia ingin membuka pintu, Wiliam sudah lebih dulu membukanya. Mata mereka saling bersitatap. Lagi-lagi Wiliam di buat takjub dan terpesona dengan wanita yang ia temui tadi. Otaknya terus berfikir siapa wanita cantik itu. Dan untuk apa ia berada di ruangan Presdir Goergie. Inez membuang wajahnya dan berjalan tanpa menyapa sama sekali.


"Tuan, siapa wanita itu? ada urusan apa ia kerungan tuan?"


Harlan terkekeh "Apa kau tidak mengenali wanita tadi?" coba kau ingat siapa wanita itu."


William menautkan kedua alisnya dan menggeleng kuat "Sudah lah, Aku tidak mengenalnya." ucapnya pasrah.


"Hari ini aku sangat bahagia. Berkat istriku, proyek kita tidak akan gagal, Desain apartemen itu sudah diambil alih oleh pemiliknya sendiri." Harlan tersenyum terbit.


"Ap-apa...? maksud Tuan proyek itu sudah diambil oleh pemiliknya. Apakah Nona Inez mau kembali datang ke perusahaan kita?"


"Tentu saja! wanita yang baru saja keluar dari ruangan ini adalah Nona Inez!"


"What ?? william sangat terkejut dengan bola mata membulat sempurna. Jantungnya bertalu-talu ikut melompat-lompat kegirangan.

__ADS_1


"Kenapa kau kaget?!


"Ta-pi..? kenapa wajahnya berubah? Wiliam terlihat tegang dan hampir tak percaya dengan perubahan inez yang dratis.


"Tolong tuan tandatangani berkas ini." Harlan membubuhkan tandatangan diatas sebuah kertas. "Kalau begitu saya permisi dulu Tuan." Wiliam berjalan keluar ruangan dengan pikiran kemana-mana.


Siang itu di dalam sebuah Mall, pikiran Luvi tak tenang. Ingin ia menelpon suaminya dan menanyakan perihal foto-foto itu, namun ia urungkan karena takut mengganggu Harlan.


Hari itu pikiran Luvi sedang kacau. Ia tidak jadi membeli perabotan untuk rumah barunya. "Lebih baik nanti saja aku beli perabotnya. Saat ini hatiku sedang tidak enak, mengingat tulisan Mas Harlan untuk wanita cantik itu, dan tadi Della pun berkata seperti itu, seperti ada yang di tutupi Mas Harlan." Luvi terus berusaha berperang melawan hatinya. Ia tidak ingin mengingat foto-foto itu lagi, namun. kenyataannya tidak bisa, hatinya begitu sakit dan terluka bila mengingat itu semua.


Luvita keluar dari Mall dan berjalan ke parkiran.


"Nyonya di mana belanjaannya? tanya Pak Basir heran, karena Luvita kita tidak membawa apapun.


"Pak! lebih baik Bapak pulang saja duluan, hari ini aku ingin pulang ke rumahku. Nanti sore aku pulang sebelum Mas Harlan sampai rumah."


Tapi Nyah? apa tidak jadi membeli perabotan nya?"


"Tidak Pak, nanti saja bersama Mas Herlan biar enak milih-milih nya." ujar Luvita menutupi kegelisahan nya.


"Ya sudah bapak antarkan saja sampai rumah nyonya?"


"Tidak usah pak, aku bisa naik taksi. kebetulan aku sedang menunggu teman ku."


"Tapi beneran Nyah, Bapak pulang duluan tidak apa-apa?


"Iya Pak tidak apa-apa." Luvita tersenyum getir.


Setelah Pak Basir pergi, ia memesan taksi untuk pulang kerumahnya.


Sampai depan teras Luvi membuka pintu, la dan inez sepakat memegang kunci satu-satu. Saat tiba di dalam ruangan, luvita merasakan kepalanya pusing. Ia masuk kedalam kamar dan tertidur diatas kasur empuk pembelian Inez.


💜💜


@Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:


💜Like


💜Vote


💜Gift


💜Komen


@Bersambung

__ADS_1


__ADS_2