
Della terpaksa mundur karena tarikan tangan lupita. "Aku memeluknya sebagai seorang adik pada kakaknya." Della berargumen.
"Baiklah hari ini aku ma'afkan, karena ini hari bahagia ku, dan pelukan itu adalah untuk yang terakhir!" tekan Lupita dan merangkul tangan Harlan berjalan kearah parkiran, di ikuti Inez dan Wiliam.
Della menghentakkan kakinya dengan kedua tangan terkepal.
Di parkiran Harlan berbicara pada Inez sebelum masuk kedalam mobil.
"Inez, hari ini kau dan Wiliam datang ke hotel Horizon, ada pertemuan dengan PT Samudera. Tolong kau buat presentasi, agar mereka menandatangani kontrak kerjasama."
Inez mengangguk kecil seraya melirik Wiliam. "Baik tuan!"
"Kau gunakan sedan hitam itu, aku dan istriku naik sedan putih diantar Pak Basir."
"Ibu asuh dan Della..?"
"Mereka diantar pak kohar, supir kantor."
Setelah cipika-cipiki Lupita naik kedalam mobil, ikuti Harlan duduk di sampingnya.
Wiliam masuk kedalam sedan hitam dan duduk di depan kemudi. Inez membuka pintu mobil belakang dan duduk.
"Siapa suruh duduk di belakang? kau pikir aku supir mu? decak Wiliam.
"Hah..?! maksud Tuan..?" dahi Inez mengkerut
"Jangan pura-pura bodoh, cepat pindah ke depan!"
"Eh-iya..." Inez terlihat gugup dan membuka pintu mobil, lalu pindah di samping Wiliam.
Wiliam membunyikan klakson saat mobilnya mendahului mobil Harlan.
"Ayo Pak jalan." perintah Harlan.
"Siap Tuan!" pak Basir melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju Hotel bintang lima yang sudah di pesan Wiliam, tempat untuk sepasang pengantin sah menghabiskan waktu bersama, tanpa terganggu oleh pekerjaan dan aktivitas apapun.
"Sayang, bagaimana perasaan mu hari ini?" tanya Harlan, menarik istrinya kedalam pelukan. Aroma parfum mint sangat Lupita suka, membawanya kedalam kehangatan. Lupita mengendus aroma parfum maskulin milik suaminya.
"Hey! kau mengendus begitu seperti kucing." Harlan terkekeh.
"Entahlah Mas, aku sangat suka aroma tubuh Mas dengan parfum mint, fantasi ku semakin liar." Mata Harlan membulat. Untung saja Pak Basir tidak mendengar celotehan Lupita yang berani terang-terangan pada suaminya. Sejak masuk kedalam mobil Pak Basir sudah memakai handset, mendengarkan lagu dangdut koplo kesukaannya. Pak Basir sangat paham dan tak ingin menganggu kemesraan suami-istri di belakangnya.
"Wah, istriku semakin nakal. Jangan salahkan Mas kalau sampai nggak bisa bangun." bisiknya tersenyum penuh kemenangan.
Lupita mendelik tajam "Ap-apa..? ish jangan kejam-kejam donk Mas!" gerutu Lupita dan mencubit lengan suaminya.
"Sakit sayang..."
__ADS_1
"Abis nyeselin!" bibir merah itu mengerucut, membuat Harlan gemas dan tergoda. Harlan menarik dagu istrinya yang masih bermanja di pelukannya. Harlan meraup bibir merah Lupita, membuat Lupi melotot melihat perbuatan suaminya yang tak sabaran. Lupi sangat malu mendapat serangan mendadak, karena posisi mereka di dalam mobil. Bagaimana kalau pak Basir melihat adegan mesra itu. Namun apalah daya, ia tak bisa menolak keinginan suami bucin-nya.
Mobil sedan hitam masih melaju dengan kecepatan sedang. Terik matahari sangat menyengat, pantulan cahayanya masuk melalui kaca mobil.
"Tuan, apa saya boleh bicara..?" tanya Inez, yang sejak tadi gelisah dan ingin bertanya, Namun melihat wajah dingin Wiliam ia urungkan, pada akhirnya ia beranikan diri untuk bicara.
Wiliam menoleh sekilas "Bicara lah!"
"Apa kita akan langsung prestasi ke Hotel Horizon..?"
"Ia, jam satu siang kita sudah harus berada di sana!"
"Tapi Tuan, saya belum ganti pakaian. Masih pakai kebaya. Bisakah saya pulang dulu untuk ganti pakaian?'
"Ciiitttttt!" mobil berhenti tepat di lampu merah.
Wiliam menatap tajam "Berapa lama jarak menuju rumah mu dengan Hotel?
Inez menggeleng karena ia tidak bisa memastikan waktunya. Ditatap seperti itu, Inez menunduk.
Wiliam mengangkat tangan dan perlihatkan jam kearah Inez "Sekarang sudah jam setengah dua belas, kau lihat ini." lampu merah sudah berubah warna hijau. William melajukan mobil kembali "Butuh waktu berjam-jam untuk kerumah mu dulu, lalu ke Hotel, apa kata Cliant kalau kita tidak tepat waktu, itu akan mengurangi kwalitas kerjasama kita di mata mereka."
Inez menghela nafas panjang "Maaf!" hanya itu yang keluar dari bibir tipis Inez. Inez tahu Wiliam seorang profesional dan jam terbangnya sangat tinggi, penting baginya menjaga imej yang melekat pada dirinya. Pekerja keras, disiplin dan sangat menghargai waktu.
"Kau buka tas kerja ku dan kau pelajari dulu materi yang sudah aku buat."
"Heh-iya! Inez mengambil tas kerja Wiliam yang berada diatas dashboard, dan membuka resleting tas kulit hitam itu.
"Map yang mana? disini banyak sekali file."
"Kau ambil map biru dan pelajari dulu isi nya. kau paham bukan?"
Inez mengeluarkan map biru "Pa-ham Tuan." ucapnya sedikit ragu. "Ta-pi.. waktu satu jam, aku nggak yakin bisa hapal semua materi ini." Inez membulak-balikan lembar demi lembar.
"Kau ambil intinya saja. Aku yakin kau pasti bisa." ucapnya lembut dan tersenyum pada Inez.
Deg! deg! deg!
Mendapat senyuman manis dari Wiliam, jantung Inez bertalu-talu bagai gendang yang sedang di tabuh. "Iy-a semoga aku bisa.'
"Astaga tampan sekali sih kalau lagi tersenyum. coba setiap hari dia tersenyum seperti ini, pasti semngat kerjaku bertambah. Eits.. apa tadi aku bilang??' ralat! aku tidak suka dengan senyuman nya, karena itu palsu! cihh! gerutu Inez dalam hati. "Aku harus kuat menahan godaan dari Tuan angkuh ini. semoga saja iman ku kuat!" desahnya, masih membaca materi dalam lembar kertas itu.
Jam setengah satu mobil masuk kedalam area Hotel Horizon. Wiliam memarkirkan mobil didepan Lobby. ia berjalan masuk kedalam room di ikuti Inez yang berjalan agak lamban. Inez sedikit repot dengan kebaya ketat yang melekat ditubuhnya.
"Sialan cepat sekali jalannya! apa dia belum sadar juga aku masih pakai kebaya. Bisa-bisa aku jatuh kalau ikuti jalannya!" gerutu Inez di sela langkahnya menuju tempat yang sudah di sepakati.
Inez terengah-engah saat sudah berdiri di belakang Wiliam untuk menunggu lift turun.
__ADS_1
"Ting!"
Pintu lift terbuka, ia masuk mengikuti langkah Wiliam. Lift berhenti di angka 18. Wiliam keluar lebih dulu saat lift terbuka, di Ikuti Inez.
"Inez!
Tiba-tiba seseorang memanggil namanya setelah keluar dari pintu lift. Inez menoleh sumber suara itu.
"Damar..?"
"Kau sedang apa kesini? look? kau cantik banget." puji Damar "Apa kau mau menghadiri undangan pernikahan."
"Bu-kan! aku mau prestasi dari perusahaan Vandeles."
"Hah! Jadi kau bekerja lagi di sana? bukankah kau sudah memutuskan kerja di perusahaan Vandeles?'
"Iya! nanti aku ceritakan. kau sendiri ada apa di sini?"
"Kau juga nanti akan tahu kenapa aku berada disini?"
"Ehem! waktu kita nggak banyak. Tolong Professional lah! tiba-tiba Wiliam sudah berdiri didepan mereka dengan tatapan tak suka.
"Asisten itu? bukankah dia yang sudah menghina mu..? jadi sekarang kau datang bersamanya ?!"
"Sudah nanti aku jelaskan. Aku kesana dulu!" Inez melangkah cepat meninggalkan Damar.
Inez masuk kedalam rooms yang sudah tersedia meja bundar dengan delapan kursi melingkar. Taplak putih mendominasi warna gold diatas meja.
"Masih ada waktu 15 menit untuk presentasi. lebih baik kau makan dulu, kita sudah melewati jam makan siang."
Inez mengangguk, kebetulan ia memang sangat lapar sejak tadi. Ia mengambil hidangan yang sudah tersedia diatas meja dan menikmati makan siang. Sesekali William mencuri pandang wajah inez, walau tadi ia sempat kesal, melihat Inez bicara pada Damar.
Tepat pukul satu siang. Semua sudah hadir di dalam ruangan. Ines baru tahu, kalau Damar sudah bergabung di PT samudera. Buktinya ia hadir di acara itu. Wiliam berdiri dan membuka kata sambutan, ia meminta maaf atas tidak kehadirannya presdir Georgie. Wiliam mempersilahkan Inez untuk presentasi. Awalnya ia gugup. Namun, dengan penuh percaya diri, Inez sanggup menyelesaikan presentasi nya di depan cliant.
Mereka bertepuk tangan dan kagum pada Inez, bahkan Inez mendapat pujian dari Direktur PT samudera. Semua terpesona pada Inez hari itu, bukan hanya pintar berbicara di depan cliant, Namun, Inez terlihat cantik dan seksi dengan balutan kebaya pink. Melihat banyak pujian untuk Inez membuat hati Wiliam panas.
Inez yang duduk di samping Wiliam, tersenyum tipis mendapat aplous dari Pak Anton, Direktur samudra yang berdiri untuknya.
"Jangan genit!" bisik Wiliam kesal, lalu menarik tangan Inez, dan menggenggam nya kuat di bawah meja. Inez terperanjat kaget walau ia tutupi dengan senyum. Tak menyangka perbuatan Wiliam yang terlihat cemburu.
💜
💜
💜
@Bersambung......
__ADS_1