
"DASAR BIADAB!!! menatap tajam Pria yang sudah melukai hatinya, bahkan pengorbanan Inez dulu sia-sia belaka, penolakan cinta telah membawa dirinya dalam petaka.
"Hiks.. hiks.. hiks... Tubuh Inez lemas dan terjatuh terduduk dilantai.
"IBUUU!!! IRA!!!! INDRA!!!
Seru Inez berteriak memanggil orang-orang yang ia sayangi.
Inez terus meratap dan meneteskan air mata, dadanya begitu sesak dan nafasnya mulai tersengal dengan tubuh terguncang. wajahnya yang tertunduk sedih terangkat lalu menatap wajah Rangga.
"Izinkan aku bicara dengan ibuku!"
Rangga menyunggingkan senyum "Oke, aku akan kabulkan, tapi hanya sepuluh menit, waktu kita tidak banyak!"
Rangga mulai mengambil ponsel milik Inez yang berada dalam saku celananya, lalu ia memberikan pada Inez untuk menghubungi ke nomor adiknya melalui Vidio call
Tuuutttt! tuuuttt! tuuuttt!
"Hallo kak! sapa seorang gadis manis dilayar ponsel.
"IRA!!! dimana ibu Dek? jerit Inez
"Kakak kemana saja? sudah hampir sebulan tidak ada kabar? ibu ada dikamar sedang tidak enak badan."
"Berikan ponselnya pada ibu! kakak Ingin bicara."
"Sebentar kak!
"Bu ada telpon dari kak Inez! terdengar suara dari ujung telepon berjalan kearah kamar.
"Inez..." terlihat wajah wanita paruh baya di layar telepon dengan raut wajah sedih.
"Ibu....!! hiks..
"Inez.. kenapa menangis Nak?
"Tidak apa-apa bu, Inez cuma kangen sama Ibu." hiks... Inez sudah tidak bisa menahan tangisannya.
"Ada apa denganmu? kenapa mau menikah tidak bilang sama ibu dulu? terlihat wajah kecewa wanita yang sudah melahirkannya.
Inez terkejut atas penuturan ibunya dan ia menoleh pada Rangga yang berdiri didepannya dengan tatapan tajam. "Siapa yang bilang begitu pada ibu.."
"Beberapa hari yang lalu mantan kekasihmu Rangga dan kedua orang tuanya datang melamar mu, dan ibu bilang terserah kau saja, karena kau yang akan menjalankan rumah tangga."
"Ap-apa?? hiks.. Inez semakin sedih ternyata semua ini sudah Rangga rencanakan tanpa sepengetahuan dirinya.
"Kenapa ibu tidak menghubungi aku?"
"Bukankah kau sudah setuju? Rangga bilang kau ingin buat kejutan dan membuat pesta di kampung setelah akad nikah. Pamanmu sudah pergi untuk wali pernikahanmu di Surabaya, ibu dan kedua adikmu tidak bisa datang dan ibu kurang sehat, tidak apa-apa kan nduk."
Inez terdiam, hanya tangisan yang terus ia perlihatkan.
"Sudah habis waktu mu untuk bicara dengan ibumu! bisik Rangga di telinga inez.
__ADS_1
"IBU... ma'afkan Inez, hiks...
"Iya nduk, kau sudah banyak berkorban untuk ibu dan sekolah adik-adik mu, sekarang waktunya kau hidup bahagia bersama orang yang kau cintai."
Inez gelengkan kepala seraya menatap iba wajah ibunya di layar telepon. "kalau gitu Inez matikan telponnya ya Bu.."
"Iya Nduk, semoga pernikahan mu lancar, dan hidup bahagia." Narti tersenyum sumringah.
"Assalamualaikum..." ucap Inez
"Wa'alaikumsalam..." balas Narti.
Klik'
"Ternyata kau sudah merencanakan semua ini! bahkan kau datang kerumah orang tuaku tanpa berunding padaku!"
"Itu salahmu! kenapa ingkar janji dan tidak pernah mau angkat telepon ku!"
"Karena Kau__
Tok! Tok! Tok!
Permisi, saya dari salon, ingin merias calon pengantin." ucapnya didepan pintu.
"Bersiaplah! dan jangan coba berontak bila kelurga mu tidak ingin menderita! ancam Rangga seraya berjalan kearah pintu.
KREKK ...!!
"Masuklah! rias calon istriku yang cantik!
"Mbak yang mau dirias? tanya wanita yang baru datang dan menaruh alat kosmetik diatas ranjang.
"Iya! Sebentar aku mandi dulu." Inez melangkah pergi masuk kedalam kamar mandi untuk bersih-bersih.
Lima belas menit kemudian Inez keluar dan duduk si kursi. Dua orang wanita yang di sewa Rangga dari salon kecantikan, mulai merias wajah inez. Inez terlihat pasrah dan menunggu sebuah keajaiban, walau dulu Ia sangat mencintai Rangga, dan ingin menikah dengannya menjadi pelabuhan yang terakhir, Namun setelah ia tahu pengkhianatan dan sifat kasar Rangga, bahkan untuk melihat wajahnya saja Inez sangat jijik, bagaimana jadinya bila pernikahan itu sampai terjadi, akankah kehidupannya akan bahagia? butir-butir air mata terus berjatuhan meratap nasibnya yang sangat buruk.
"Maaf ya Mbak? jangan menangis terus, sejak tadi saya mengulang riasan Mbak, bedak dan eyeshadow nanti luntur."
"Ma'afkan ya Bu, saya hanya masih bersedih."
"Kok calon pengantinnya nangis terus, nggak baik nanti turun hujan." tegur perias pengantin, tangannya memberi polesan terakhir di wajah Inez.
Kini Inez selesai di rias dan berbalut kebaya brokat putih dengan kain jarik. Sangat cantik dan elegan, Namun wajah cantiknya terlihat murung dan sembab sisa airmata.
***
Sementara Wiliam, Alex dan anak buahnya sudah sampai di Surabaya, mereka sedang menuju lokasi.
"Kapan sampainya, sejak tadi lokasi yang kita tuju belum juga ada titik terang." gerutu Wiliam duduk di samping Alex yang sedang mengemudi.
"Sabar Tuan! Kami juga sedang berusaha."
"Coba kau lihat lokasinya yang benar! seru Alex pada temannya yang duduk di kursi belakang.
__ADS_1
"Mereka sedang berada di Gedung Serbaguna Graha Samudra Bumimoro Jl. WR. Supratman No.4."
"Seharusnya tadi kita belok kanan. kita salah jalan dan harus muter balik lagi! ujar teman Alex memberi petunjuk.
"Sial! kenapa kau tidak bilang dari tadi!" umpat Alex kesal
"Sabar bro ini jaraknya tidak terlalu jauh sekitar lima belas lagi sampai gedung Graha."
Wiliam mendesah kasar, ia menggeleng frustasi, ia sangat takut Rangga menikahi Inez, hancur sudah harapannya kalau sampai terlambat. Apalagi setelah Wiliam tahu keberadaan inez, mereka berada di gedung tempat diadakannya pernikahan.
TIINNN!!!!
TIINNN!!!
Bunyi klakson saling bersahutan, sebab ada mobil mogok ditengah jalan dan menimbulkan macet.
"SIAL!! malah macet total, padahal tinggal sedikit lagi kita sampai!" gerutu Alex memukul setir.
"Yang mana gedung nya!" tanya Wiliam, karena sepanjang pinggir jalan raya itu banyak gedung tempat penyewaan.
"Didepan Tuan! sekitar 100 meter lagi, nanti ada plang 'Graha Samudra Bumimoro'
"Kalau begitu Ayo kita keluar! kita harus secepatnya sampai gedung itu! seru Wiliam sambil membuka pintu mobil di ikuti tiga orang bodyguard di belakangnya.
"Waduh dia nekad berjalan ke gedung. Dasar bule! bisanya marah-marah dan nyusahin!" gerutu Alex.
"Jon! lo bawa nih mobil, gue mau nyusul Mr Wiliam, bisa kacau kalau dia marah."
"Oke... oke ..!"
***
Inez berjalan kearah meja dan kursi yang sudah dihiasi bunga-bunga. Tempat diadakannya prosesi ijab qobul. kedua orangtua Rangga terlihat bahagia saat melihat Inez berbalut kebaya yang sebentar lagi resmi menjadi istri Rangga anaknya. Hati Inez berdenyut nyeri, jantungnya berdebar tak karuan, keringat dingin keluar dari pori-pori kulitnya. Perasaan takut, hancur dan sakit hati menjadi satu. Apalagi saat melihat Rangga tersenyum puas, dan ia meraih tangan inez untuk duduk di depan penghulu berdampingan dengannya. Hadir juga Pamannya, adik kandung dari ayahnya yang sudah tiada, dan duduk di samping penghulu. Disisi kiri dan kanan dua orang saksi sedang menunggu acara ijab qobul.
Wajah Inez tertunduk sedih, manakala prosesi ijab qobul akan segera dimulai tanpa di dampingi ibu dan adiknya. "Ya Allah, pernikahan apa yang sedang aku jalani?aku menikah tanpa cinta dan telah di culik oleh Rangga, bahkan aku tidak bisa berontak dan membela diriku sendiri. Ibu dan adikku tidak pernah tahu kalau hidupnya telah terancam dan menjadi korban kebiadaban Rangga dengan cara mengancam ku! hiks.. butiran bening menetes kembali "Aku bisa apa ya Allah!" batinnya berdenyut pedih.
"Semua sudah siap, mari kita doa bersama untuk kelancaran prosesi ijab qobul." ucap pak penghulu seraya mengangkat kedua tangan.
Selesai berdoa.
"Baiklah sekarang Nak Rangga Adipura dengan Pak Wanda sebagai pengganti Ayah dari Nona Inez, silakan berjabat tangan dan mulai ikuti saya.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau keponakan saya Inez Wulandari binti Atmaja dengan Rangga Adipura bin Parjono dengan mas kawin Uang tunai 300 juta di bawah tunai."
"Saya terima Nikah dan kawinnya__
"TUNGGU!!!
Suara teriakan seorang pria menggema di dalam gedung. Nafasnya tersengal menahan sesak. Semua orang menoleh kearah sumber suara itu.
💜💜💜
@Bersambung....😍
__ADS_1
@Yuk terus dukung karya Bunda, jangan lupa untuk follow IG @bunda.eny_76